NovelToon NovelToon
Alvaro

Alvaro

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mafia
Popularitas:941
Nilai: 5
Nama Author: Patmandari Nugraheni

Alvaro Zaidan Alexander adalah anak ketiga dari empat bersaudara, ia adalah anak tengah yang hampir terlupakan oleh keluarganya sendiri semenjak sang mamah meninggal, keluarganya yang dulunya harmonis dan hangat sekaranh hanya keluarga dingin dan juga kaku.
Dan ada satu kejadian yang membuatnya berubah yaitu musuh bebuyutan sang Papah yang mengincarnya yang membuat sang Papah dan 3 saudaranya berubah seketika...

Apa yang di inginkan oleh musuh Papah kepada Alvaro?
Apakah mereka berhasil melindungi Alvaro atau tidak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Patmandari Nugraheni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 4 Pelindungan di Balik Bayangan

[Ruang Kelas Alvaro - Pukul 09.00 WIB]

Jam istirahat pun bunyi

Kringgggg

Kringggg Kringggg

"Ok anak-anak jam istirahat sudah berbunyi kalian bisa istirahat sekarang" ucap guru tersebut karena sudah waktunya istirahat.

"Baik bu" jawab mereka semua serentak

"Oy kau sini" ujar seseorang itu

"Iy-iya ada apa Vano?" jawab siswa itu, ya orang memanggil siswa tersebut adalah Elvano dan teman-teman gengnya.

"Alvaro ada gak?" tanya Elvano dengan nada dingin.

"Ada, kenapa? Mau aku panggilkan?" jawab siswa tersebut.

"Ooh ok, gak usah" ujar Elvano

Di sampingnya terdapat lima temannya yaitu Rayvan Alvian Lesmana (Vian) hanya bisa melihat siswa tersebut yang ketakutan, ada Darren Fadhlan Azura (Darren) yang hanya melihat hpnya dan tidak peduli dangan sekitarnya, ada Arion Reifansyah Adhitama (Arion) yang hanya melihat siswa tersebut dari belakang tubuhnya, dan di sebrang kelas Alvaro ada dua orang yang sedang berdebat siapa yang di cari oleh Elvano di kelas ini tidak lain dan tidak bukan adalah Aksa Yuan Prasetya (Aksa) dan juga Baskara Putra Mahendra (Bara).

Lalu Elvano masuk ke dalam kelas tanpa salam atau permisi dan semua orang yang melihat itu kaget karena Elvano masuk tanpa permisi atau salam.

"Bro, Elvano cari siapa di kelas ini?" tanya Aksa.

"Gue juga gak tau bro, kayaknya ceweknya" jawab Bara asal

"Seinget gue dia gak punya cewek deh, kan semua cewek yang mau jadi pacar Vano di tolak Vano Bar masak lo lupa sih" ujar Aksa dengan nada heran karena temannya ini menjawab dengan asal.

"Gue juga gak tau Sa kalau mau tau tanya sama orangnya dong" jawab Bara dengan nada yang sudah tinggi.

"Hey kalian berdua gak usah debat 1 menit saja bisa gak" ucap seseorang yaitu Darren yang merasa terganggu.

"Iya sorry" jawab mereka berdua kompak.

Di dalam kelas Alvaro

"Var ayo ke kantin kau ajak teman-temanmukan" ucap Elvano.

Alvaro dan para sahabatnya pun kaget karena kedatangan sang kembaran yang terbilang tiba-tiba, karena ia tidak mendengar orang bilang permisi saat masuk ke dalam kelasnya.

"Iy-iya, sebentar aku mau membereskan sedikit alat tulisku dulu" jawab Alvaro sedikit gugup dan sabil membereskan alat tulisnya dengan cepat.

"Ok sudah, ayo teman-teman" ujar Alvaro.

"Ayo" jawab mereka.

Merekapun berjalan menuju keluar kelas untuk pergi ke kantin sekolah.

"Guys ayo ke kantin" ucap Elvano kepada teman-temannya yang ada di luar kelas tadi.

"Bro yang di samping lo itu siapa? Kok mirip sama lo tapi lebih pendek aja" ujar Aksa.

"Apa yang kamu bilang tadi? Kau mengataiku" jawab Alvaro tak terima kalau ia di bilang pendek.

"Tenang Var kau emang pendek dan ia tak salah" ujar Alan yang ada di belakangnya.

"Terserah deh bad mod aku" jawab Alvaro

"Dia kakak kembar gua guys nanti gua jelasin, ayo kekantin dulu" ucap Elvano.

Sesampainya di kantin mereka ber dua belas pun mencari bangku yang agak pojok supaya tidak dilihat banyak siswa maupun siswi.

"Sekarang jelasin yang sebenar-benarnya Van" ucap Aksa.

"Jadi gini gua jelasin yaa, jadi itu ada yang ngincar Varo kakak gua entah itu siapa tapi orang itu ngincar Varo karena Varo itu mirip sama mendiang mamah kita, jadi papah, abang, kakak dan terutama gua itu jaga dia supaya orang itu tidak bisa mengincar Varo gitu, dan mungkin teman-temannya Varo udah di jelasin sama Varo." penjelasan dari Elvano dan semua mengangguk paham dan teman-temannya Alvaro mengangguk setuju karena mereka sudah di jelaskan oleh Varo tadi bagi.

"Oo gitu ya bro" ucap Bara sebagai perwakilan dari mereka berempat.

"Kita berlima juga mau ngelindungi Varo dari penculik itu kok tapi bukan cuma dari penculik itu salah satunya juga dari para pembully Varo juga" ucap Arvin di angguki oleh keempat temannya.

"Kita juga rela ngelindungi Varo kok bro bukan cuma lo sama temen-temennya Varo aja tapi kita berlima juga sanggup kok" jelas Vian.

"Thanks ya kalian semua udah mau jaga aku" ujar Alvaro dengan senyum lembutnya.

"Santai aja Var kitakan keluarga" jawab Alan dan di angguki semuanya.

"Guys kalian masuk pesen apa?" ucap Arion.

"Samaain aja makanannya Rion kita semua, ini uangnya gua yang traktir" jawab Elvano.

"Makasih ya No" ujar Alvaro dan di angguki semuanya.

Sesampainya makanan sampai, merekapun memakan dengan suasana yang santai dan hangat. Selesainya mereka memakan makanan yang tadi mereka pesan mereka semua pun ingin kembali ke kelas mereka.

"Vano aku sama temen-temenku mau langsung kekelas dulu ya" ucap Alvaro.

"Mau kita antar gak Var" jawab Elvano.

"Gak usah jalan menuju kelas kita aja beda" ujarnya.

"Ya sudah, oh ya kalian aku titip Varo ya kekalian" ucapnya.

"Tenang Van kita bakal jaga Varo kok kitakan sudah kayak keluarga, iya gak guys" ucap Ervon.

"Iya santai aja Van kita bakal jaga Varo kok" ujar Clara lagi.

"Y, yang penting kalian tetap berhati-hati" jawab Elvano

"Oh ya, kenapa kita gak bikin grub aja biar gampang kalau ada sesuatu yang aneh iya gak?" usul Darren.

"Aku setuju aja, gimana dengan kalian?" ucap Alan.

"Aku setuju" ujar Ervon

"Terserah" jawab Elena dan yang lain hanya mengangguk mengiyakan.

"Kalau nama grubnya Twelve Ties gimana? Kan kita ada 12 orang di sini" usul Alvaro dan di angguki semuanya yang ada di sana.

"Ok semua sudah masuk semua kan?" tanya Darren dan mereka pun melihat ke arah hp mereka masing-masing.

"Iya sudah ini" jawab Bara dan mereka hanya mengangukkan kepala mereka.

"Ya sudah ya kita ke kelas duluan" ujar Alvaro.

Setelah kesepakatan pembuatan grup WhatsApp bernama Twelve Ties itu terbentuk, Alvaro melambaikan tangannya ke arah Elvano dan gengnya. Langkah kaki Alvaro diikuti oleh kelima sahabatnya Alan, Arvin, Ervon, Elena, dan Clara menyusuri koridor sekolah yang mulai ramai karena bel tanda masuk akan segera berbunyi.

Namun, baru saja mereka melewati belokan menuju blok kelas MIPA, suasana yang tadinya hangat mendadak berubah dingin langkah Alvaro terhenti. Di depan mereka, berdiri tiga orang siswa kelas dua belas yang terkenal sering membuat onar, dipimpin oleh seorang laki-laki bertubuh tegap bernama Raka.

"Wah, lihat siapa ini. Si anak kesayangan yang selalu dikawal ketat," ejek Raka sambil melipat tangan di dada.

Matanya menatap Alvaro dengan sinis. "Tadi di kantin gaya banget ya, duduk bareng gengnya Elvano. Merasa hebat karena punya kembaran jagoan?" ujarnya lagi.

Alvaro menarik napas panjang, mencoba tetap tenang. "Kami cuma makan siang, Rak dan gak usah ganggu kita deh. Dan tolong beri jalan kami mau masuk kelas sekarang."

"Kalau gue nggak mau gimana?" ucap Raka menantang sambil melangkah maju, mempersempit jarak di antara mereka.

Alan dan Arvin segera pasang badan di depan Alvaro, namun Raka hanya tertawa meremehkan.

"Kalian pikir kalian bisa jagain anak ini selamanya? Elvano nggak bakal ada di sini setiap detik." ucap Raka tanpa di ketahui Raka di saku seragamnya, ponsel Alvaro bergetar.

Rupanya, secara insting, Darren yang masih berada di koridor bawah bersama geng Elvano yang sesungguhnya yaitu Iron Serpents telah mengaktifkan pelacak lokasi yang baru saja ia tanam saat mereka masuk ke grup tadi."Ada yang nggak beres," bisik Darren sambil menatap layar ponselnya.

"Posisi Varo berhenti di koridor MIPA. Ada tiga titik lain yang ada di sana yang bukan bagian dari kita." ujarnya lagi.

Mendengar itu, raut wajah Elvano langsung mengeras. "Aksa, Bara, Vian, Arion! Ikut gue sekarang!"

Kembali lagi ke koridor MIPA, ketegangan pun memuncak.

Raka baru saja hendak menarik kerah seragam Alvaro ketika sebuah suara dingin menggelegar dari ujung koridor.

"Lo sentuh dia satu senti saja kedua tangan lo nggak bakal bisa lo gunain besok dan lo bakal cacat selamanya" ucap Elvano dan Raka pun tersentak sekaligus menoleh ke arah Elvano dan teman-temannya.

Di sana, Elvano berjalan perlahan dengan tatapan yang bisa membekukan darah siapapun yang melihatnya. Di belakangnya, sembilan orang lainnya menyusul dengan formasi yang mengintimidasi.

Kehadiran Twelve Ties secara lengkap di koridor itu membuat siswa maupun siswi lain yang lewat langsung menepi karena takut.

"Vano..." bisik Alvaro lega

Elvano berdiri tepat di samping kembarannya, menepis tangan Raka yang masih menggantung di udara. "Gue udah bilang kan? Jangan cari masalah sama keluarga gue.

"Gue... gue cuma mau ngobrol sama Alvaro aja" kilah Raka.

Nyalinya pun menciut melihat Vian yang sudah mengepalkan tangan dan Arion yang menatapnya seperti predator.

"Ngobrol dengan cara kayak gitu? Gaya lo kuno, Rak" sahut Bara sambil bersedekap dan Darren maju selangkah di depan mereka semua sambil memegang ponselnya.

"Gue udah rekam semuanya dari CCTV koridor yang baru aja gue retas. Lo mau ini sampai ke ruang kepala sekolah, atau lo pergi sekarang dan jangan pernah muncul lagi di depan Varo?" ujar Darren.

Raka dan dua temannya tidak punya pilihan lain. Mereka mundur perlahan sebelum akhirnya lari terbirit-birit meninggalkan koridor tersebut.

Suasana kembali tenang, Elena menghela napas lega sambil membenarkan letak kacamatanya.

"Gila, baru lima menit grup dibentuk aja fungsinya sudah langsung kerasa cuy." ucap Ervon kepada kembarannya.

Alvaro menatap satu per satu temannya dan sekaligus teman-teman Elvano.

"Maaf ya, gara-gara aku kalian jadi harus balik lagi ke sini." ujar Alvaro Vian pun merangkul bahu Alvaro sambil tertawa kecil.

"Kan tadi sudah dibilang, Var. Kita ini keluarga. Lagian, nama Twelve Ties itu bukan cuma pajangan. Ikatan dua belas orang ini nggak bakal putus cuma gara-gara preman kelas teri kayak tadi."jawab Vian sambil menenangkan Alvaro yang dari tadi mengucapkan kata maaf kepada mereka semua.

"Bener tuh Var gak usah merasa bersalah gitu." tambah Clara sambil tersenyum manis.

"Kita jaga lo bukan karena lo lemah, tapi karena lo berharga buat kita semua." ucap Elvano mengacak rambut Alvaro pelan.

"Masuk kelas sana bel udah bunyi pulang sekolah nanti tunggu di parkiran dan gak usah kemana-mana kita semua pulang bareng-bareng." ujarnya lagi.

Di dalam kelas Alvaro

"Untung ya Elvano sama teman-temannya cepat datang ke sini, kalau enggak gak tau jadinya kalau mereka gak datang tepat waktu" jelas Arvin.

"Iya juga ya, tapi aku masih kesel sama Raka sumpah" ujar Clara dan semua mengangguk setuju kecuali Alvaro.

"Tenangin dirimu dulu ya Var, kami tau kamu ketakutan" ucap Clara.

"Iy iya" jawab Alvaro.

"Oh ya sebaiknya kita duduk guru sudah jalan kesini" ujar Elena sambil melihat ke arah jendela dan semuanya pun duduk di bangkunya masing-masing.

"Ingat ucapanku Alvaro jangan merasa kamu itu lemah enggak kamu itu kuat salah satu temenku yang sangat kuat untuk melawan dunia yang kejam ini Alvaro" jelas Alan dan penjelasan Alan membuat Alvaro tersadar.

" Benar juga ya, aku harus lebih berhati-hati mulai sekarang" batin Alvaro.

"Makasih ya Alan sudah mau jadi temenku" ucap Alvaro.

" Gak perlu terimakasih Alvaro kamu bukan cuma temenku tapi kamu juga saudaraku kita semua adalah keluarga bukan" jawab Alan sambil tersenyum tipis

"Iya kita semuakan keluarga"ujar Alvaro dengan senyum cerianya dan teman-teman Alvaro yang mendengar pembicaraan mereka berdua pun hanya bisa tersenyum senang dan bertekat untuk melindungi Alvaro dari orang-orang jahat itu yang menginginkan Alvaro suatu hari nanti.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!