"Menikahlah dengannya, atau kamu pergi dari rumah ini tanpa membawa apa pun!"
Tepat dua hari sebelum pernikahan adiknya, Aira dipaksa menikah dengan pria kusam dari ujung desa demi membuang sial. Dewa, pria yang hanya bermodalkan motor tua dan pakaian lusuh, menjadi suaminya dalam semalam.
Aira sudah bersiap hidup melarat. Namun, saat ia mulai tulus mencintai sang suami di tengah kemiskinan, sebuah iring-iringan mobil mewah datang menjemput.
Siapa sangka, pria yang dihina keluarganya sebagai fakir itu ternyata pemegang tahta tertinggi di kota ini. Saat topeng terbuka, mampukah Aira bertahan di dunia suaminya yang penuh intrik, atau justru ia yang akan berbalik meninggalkan kemewahan itu?
Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Sultan Desa.
By - Miss Ra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Ketegangan di depan pintu kontrakan itu terasa mencekik. Dewa berdiri mematung, sementara Aira menatapnya dengan mata yang menuntut penjelasan. Detik demi detik berlalu, hingga akhirnya Dewa menarik napas panjang, mencoba menenangkan debar jantungnya.
"Satu koma dua triliun?" Dewa tertawa kecil, sebuah tawa yang dipaksakan untuk mencairkan suasana. "Aira, kamu pasti baru bangun dan masih mengantuk. Aku tadi sedang menonton video motivasi di ponselku, ada seorang pengusaha yang sedang membicarakan angka itu. Aku hanya bergumam mengikutinya karena merasa lucu mendengarnya di tengah gang seperti ini."
Aira mengernyit, matanya masih menyipit penuh selidik. "Tapi, Mas... tadi kamu bicara seperti sedang memerintah seseorang."
"Aku hanya berandai-andai, Aira. Menghibur diri sendiri supaya tidak terlalu stres dengan keadaan kita," Dewa melangkah maju, memegang lembut bahu Aira. "Ayo masuk, di luar dingin. Kamu bisa masuk angin."
Aira masih tampak ragu, namun kelelahan fisik dan mental membuatnya tidak mampu berdebat lebih panjang. Ia membiarkan Dewa menuntunnya kembali ke kasur.
Namun, di dalam hati Aira, sebuah benih kecurigaan telah tertanam. Suara Dewa tadi tidak terdengar seperti orang yang sedang berkhayal, suara itu terdengar seperti suara seorang pemimpin.
Pagi harinya, suasana gang sempit itu sudah riuh. Aira keluar rumah untuk mencuci pakaian di sumur umum yang terletak di depan kontrakan. Ia membawa ember berisi baju-baju mereka, termasuk kemeja batik Dewa yang sudah memudar.
Di sana, sudah ada Bu RT dan dua tetangga lainnya, Bu Lastri dan Bu Siti, yang sedang asyik mengobrol sambil mengucek cucian. Begitu melihat Aira, percakapan mereka mendadak mengecil, lalu berubah menjadi bisik-bisik yang sengaja dikeraskan.
"Eh, pengantin baru sudah bangun," sindir Bu Siti sambil melirik ember Aira. "Katanya suaminya kuli ya? Kok jam segini masih di rumah saja? Jangan-jangan pengangguran terselubung?"
"Iya, kemarin aku lihat motornya mogok di jalan raya. Kasihan si Aira, cantik-cantik dapetnya yang... ya gitu deh," timpal Bu Lastri dengan nada sok prihatin.
Aira mencoba mengabaikan mereka. Ia mulai menimba air, namun sindiran itu semakin menjadi-jadi.
"Dengar-dengar maharnya cuma seratus ribu ya, Ra?" Bu RT ikut menimpali sambil tertawa kecil. "Duh, di zaman sekarang uang segitu cuma dapat bakso dua porsi. Apa nggak malu orang tuamu punya menantu yang modalnya cuma dengkul?"
Aira berhenti menyikat. Tangannya gemetar menahan amarah. Ia menoleh ke arah ketiga wanita itu dengan tatapan yang tajam namun tetap tenang.
"Maaf, Ibu-ibu," suara Aira terdengar jernih dan tegas. "Mahar seratus ribu itu memang kecil di mata manusia, tapi sah di mata Tuhan. Suamiku mungkin belum punya mobil mewah atau rumah besar sekarang, tapi dia pria yang bertanggung jawab. Dia tidak pernah membiarkan aku kelaparan, dan dia bekerja keras dengan caranya sendiri."
"Halah, kerja keras apa? Dari pagi cuma di dalam rumah. Paling juga cuma numpang hidup sama kamu, Ra!" seru Bu Siti sinis.
Tepat saat itu, Dewa keluar dari rumah dengan pakaian sederhananya, berniat membawakan Aira jemuran tambahan. Ia berhenti di balik tembok, tak sengaja mendengar perdebatan itu.
"Suamiku bukan pengangguran!" suara Aira meninggi, wajahnya memerah karena membela kehormatan suaminya. "Apa pun pekerjaannya, entah itu kuli atau tukang sapu sekalipun, aku bangga padanya. Dia pria yang baik, yang menjaga kehormatanku saat keluargaku sendiri membuangku. Jadi, tolong jangan hina suamiku lagi. Karena jika Ibu-ibu menghina dia, itu artinya Ibu-ibu juga menghina pilihanku!"
Ketiga wanita itu terdiam sesaat, kaget dengan keberanian Aira yang biasanya pendiam. Mereka mencebikkan bibir dan kembali mencuci dengan gerutu yang tidak jelas.
Di balik tembok, Dewa memejamkan mata. Dadanya bergemuruh. Selama hidupnya, ia dikelilingi oleh wanita yang memujanya karena hartanya, karena statusnya sebagai pewaris tunggal.
Namun hari ini, untuk pertama kalinya, ada seorang wanita yang membelanya habis-habisan saat ia dianggap sebagai pria paling tidak berdaya di dunia.
"*Aira... kamu benar-benar tidak tahu siapa yang sedang kamu bela*," batin Dewa.
Rasa sayang yang kini mulai tumbuh menjadi cinta yang kuat membuat Dewa merasa bahwa ia harus memberikan sesuatu pada istrinya. Aira berhak mendapatkan kebahagiaan, meskipun ia belum siap mengungkap identitasnya secara total.
Sore harinya, Dewa mendekati Aira yang sedang melipat baju di atas kasur.
"Aira, nanti malam kita keluar sebentar ya? Aku ingin mengajakmu makan di luar," ucap Dewa lembut.
Aira menoleh dengan cemas. "Mas, uang kita kan terbatas. Lebih baik disimpan untuk bayar kontrakan bulan depan."
"Jangan khawatir. Aku baru saja mendapat... bonus dari kerjaku kemarin. Kita hanya makan di kedai biasa, tapi aku ingin merayakan pernikahan kita dengan benar," Dewa meyakinkan.
Aira akhirnya setuju. Ia mengenakan gamis terbaiknya yang masih tersisa di koper. Meski sederhana, kecantikan alaminya tetap terpancar. Dewa menatapnya tanpa kedip, membayangkan betapa indahnya jika Aira mengenakan gaun rancangan desainer Paris di sebuah pesta dansa.
Saat mereka sedang bersiap-siap di teras depan, suasana gang yang biasanya bising oleh suara anak-anak mendadak sunyi. Suara mesin mobil yang sangat halus namun bertenaga besar terdengar mendekat.
Mobil-mobil di gang ini biasanya hanya mobil tua atau pick-up pengangkut sayur. Namun, suara ini berbeda. Suara mesin yang sangat mahal.
Sebuah mobil sedan hitam mewah, Rolls-Royce Phantom dengan kaca yang sangat gelap, perlahan memasuki gang sempit itu. Mobil itu berjalan sangat pelan, hampir menyerempet jemuran warga, namun terus merangsek maju hingga debu-debu di gang itu beterbangan.
Warga gang keluar dari rumah mereka masing-masing. Bu RT, Bu Siti, dan Bu Lastri berdiri di depan pintu dengan mulut ternganga. Mobil semewah itu tidak seharusnya ada di lingkungan kumuh seperti ini.
"Wah, mobil siapa itu? Tamu Pak RW ya?" bisik warga.
Mobil itu terus melaju, hingga akhirnya berhenti tepat di depan pagar berkarat rumah kontrakan Dewa dan Aira.
Aira memegang lengan Dewa dengan erat. "Mas... itu mobil siapa? Kok berhenti di sini?"
Dewa menatap mobil itu dengan rahang yang mengeras. Ia mengenal mobil itu. Itu adalah mobil koleksi ibunya. Jantungnya berdegup kencang. Jika ibunya turun dari sana sekarang, semua sandiwara ini akan meledak berkeping-keping.
Pintu belakang mobil itu terbuka. Seorang pria berjas rapi, Hans, asisten pribadi ibu Dewa, turun dengan sikap yang sangat formal. Ia memegang sebuah payung hitam meskipun tidak ada hujan, lalu membukanya di depan pintu mobil.
Seorang wanita paruh baya dengan pakaian couture dan perhiasan mutiara yang berkilau turun dari mobil. Wajahnya cantik namun sangat angkuh. Ia menatap lingkungan sekitar dengan pandangan jijik, seolah-olah udara di tempat itu beracun baginya.
Wanita itu melangkah menuju pagar berkarat rumah Dewa. Warga gang menahan napas. Bu Siti sampai menjatuhkan gelas kopinya.
"Dewa!" suara wanita itu melengking tajam, penuh amarah. "Berhenti bermain-main di tempat sampah ini dan ikut Ibu pulang sekarang!"
Aira mematung. Ia menatap wanita itu, lalu menatap Dewa. "Ibu? Mas... dia ibumu?"
Dewa tidak bisa mengelak lagi. Sebelum ia sempat menjawab, Hans melangkah maju dan membungkuk 90 derajat di depan Dewa, tepat di hadapan Aira dan seluruh tetangga yang menonton.
"Selamat sore, Tuan Muda Dewa. Nyonya Besar meminta Anda segera kembali ke kediaman utama. Pesawat pribadi sudah disiapkan di bandara."
Dunia seolah berhenti berputar bagi Aira. Kalimat *Tuan Muda, Nyonya Besar, dan Pesawat Pribadi* menghantamnya seperti tsunami. Ia melepaskan pegangan tangannya dari lengan Dewa, melangkah mundur dengan wajah pucat pasi.
Tetangga yang tadinya menghina, kini hanya bisa berdiri kaku seperti patung. Bu Siti hampir pingsan menyadari bahwa pria yang ia sebut pengangguran itu adalah seseorang yang dijemput dengan mobil yang harganya bisa membeli seluruh kecamatan mereka.
Dewa menatap Aira dengan tatapan penuh permohonan. "Aira, aku bisa jelaskan..."
"Jadi benar?" suara Aira bergetar hebat, air mata mulai mengalir di pipinya. "Semua ini... rumah bocor ini, mi instan semalam, motor mogok itu... semuanya hanya bohong?"
Ibu Dewa melangkah masuk ke teras sempit itu tanpa permisi, menatap Aira dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan menghina.
"Jadi ini wanita desa yang membuatmu gila, Dewa? Hans, beri dia cek sepuluh miliar sekarang juga dan suruh dia menghilang dari kehidupan anakku!" Aira menatap cek yang disodorkan Hans, lalu menatap Dewa yang terdiam kaku.
Akankah Aira menerima uang itu sebagai balasan atas penipuan Dewa, ataukah ia akan melakukan sesuatu yang tak terduga untuk mempertahankan harga dirinya di depan sang Sultan?
...----------------...
**To Be Continue** .....