NovelToon NovelToon
ISTRI SALIHAH TITIPAN KAKEK

ISTRI SALIHAH TITIPAN KAKEK

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Pengantin Pengganti
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Uswatun Kh@

Safa adalah gadis cantik nan penurut yang tampaknya selalu dimusuhi takdir. Sejak kecil, ia tak pernah mencecap manisnya kasih sayang keluarga, bahkan dari ibunya sendiri. Kesalahan di masa lalu yang bukan kehendaknya membuat Safa dilabeli sebagai "anak pembawa sial" dan dibenci seumur hidup. Puncaknya, ia dipaksa menikah dengan seorang kakek demi menyelamatkan bisnis keluarga yang nyaris bangkrut.

Namun, kenyataan tak seburuk dugaannya. Sang kakek ternyata hanya perantara, ia mencarikan istri untuk cucu laki-lakinya yang bertemperamen kaku, cuek, dan dingin. Di rumah barunya, Safa yang terbiasa disisihkan justru mulai merasakan hangatnya kasih sayang dari keluarga sang suami yang memperlakukannya dengan sangat baik. Sayangnya, benteng es di hati suaminya sendiri tetap tak tergoyahkan.

Mampukah Safa memenangkan hati pria yang menikahinya hanya karena amanah sang kakek? Ataukah pernikahan "titipan" ini akan hancur dan berakhir dengan perceraian?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uswatun Kh@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14. Di tengah hujan

Ruang dosen pagi itu cukup ramai. Para pengajar berkumpul sebelum masuk ke kelas masing-masing. Safa berdiri di ruang Miss Ama yang hanya dipisahkan oleh sekat pendek.

"Duduklah, Safa," pinta Miss Ama.

Safa menarik sandaran kursi dan duduk dengan gugup.

"Safa, tahu tidak kenapa aku memanggilmu?"

Safa menggeleng. "Maaf, Miss. Saya tidak tahu."

"Safa, apa kamu punya masalah dengan seseorang? Sekarang sudah semester akhir dan kalian akan segera magang, tapi kenapa tiba-tiba pihak yayasan ingin mencabut kuota beasiswamu?"

Deg!

Lagi dan lagi. Tepat saat ia merasa dunia mulai berpihak padanya, kebahagiaan itu direnggut kembali. Bagaimana bisa beasiswanya dicabut di saat-saat terakhir? Safa terdiam, menggigit ujung bibirnya sebagai pelampiasan rasa sesak.

"Tapi ... saya merasa tidak punya masalah dengan siapa pun, Miss. Bagaimana bisa ini terjadi?" Safa tampak panik.

Miss Ama terdiam sejenak, lalu memperlihatkan dokumen kesepakatan pimpinan yayasan.

"Aku tidak bisa membantu banyak, Safa. Sepertinya kalau kau ingin lulus, kau harus membayar semua biaya kuliah selama ini. Pihak yayasan meminta pengembalian dana, aku pun tidak paham kenapa bisa seperti itu," ungkap Miss Ama kebingungan.

Miss Ama meraih tangan Safa dan menggenggamnya erat. "Makanya aku bertanya padamu, siapa yang sudah kau singgung? Sebelum terlambat, kau bisa meminta maaf agar mereka membatalkan pencabutan itu. Sayang sekali, Safa, tinggal beberapa langkah lagi menuju kelulusanmu."

Safa mulai berpikir keras. Selama ini ia merasa tidak pernah mencari musuh. Namun, tiba-tiba bayangan Adit melintas di benaknya.

"Adit. Apa mungkin dia? Dia memang pernah mengancamku saat aku menolaknya kemarin," gumamnya lirih.

Safa enggan berurusan dengan laki-laki itu, apalagi jika harus memohon. Namun, ia juga bimbang. Dari mana ia bisa mendapatkan uang sebanyak itu?

"Safa? Kenapa melamun? Apa kamu teringat sesuatu?"

Safa menggeleng kuat. "Tidak, Miss. Saya permisi dulu, saya akan mencari jalan keluar."

"Baiklah. Segera kabari, ya. Jangan sampai kamu gagal ikut magang, waktunya tinggal beberapa minggu lagi," pesan Miss Ama.

Safa mengangguk pelan, lalu melangkah lesu menuju pintu. Setelah keluar, ia bersandar sejenak di tembok dengan wajah pucat.

"Apa yang harus aku lakukan? Mana mungkin aku memohon pada Adit," bisiknya putus asa. "Tapi ... kalau beasiswaku dicabut, semua usahaku akan sia-sia."

Safa menghela napas panjang sebelum berjalan menuju kelas. Tepat di depan pintu, ia melihat Adit berjalan dari arah berlawanan. Dari kejauhan, laki-laki itu sudah menyunggingkan senyum licik. Alih-alih menghampiri untuk memohon, Safa justru langsung masuk dan duduk di samping Farah.

Adit mengepalkan tangan. Lagi-lagi ia diabaikan. Ia mengira dengan menyabotase beasiswa Safa, gadis itu akan berlutut di depannya. Ternyata, Safa tetap angkuh.

Farah yang menyadari gelagat sahabatnya langsung menoleh dengan tatapan menyelidik. "Ada apa? Pasti ada masalah lagi, kan?"

Tak ingin membuat Farah cemas, Safa menggeleng. Ia segera mengeluarkan buku, berpura-pura sibuk. Farah hanya bisa menghela napas, ia tahu Safa sedang enggan bercerita.

Begitu jam pelajaran usai, Safa langsung melenggang pergi, menolak ajakan Farah ke kantin. Langkahnya membawa Safa ke sebuah halte bus. Pikirannya melayang, air mata mulai menggenang di pelupuk mata. Tak ada sandaran, tak ada tempat mengadu. Keluarga pun tak akan sudi membantunya.

Rintik hujan mulai membasahi bumi, menguarkan aroma tanah yang khas. Seolah seluruh penderitaan tumpah sekaligus, Safa menangis sambil meringkuk. Halte yang sepi sore itu menjadi saksi bisu isak tangisnya di bawah derasnya hujan.

Tak! Tak! Tak!

Suara langkah kaki mendekat. Dari posisinya yang menunduk, Safa melihat sepasang sepatu pantofel hitam mengkilap berhenti tepat di depannya. Perlahan ia mendongak dan terkejut melihat suaminya berdiri di sana sambil memayunginya.

"Apa kau akan terus menangis di sini?" tanya Arlan dengan nada datar. Satu tangannya terulur ke arah sang istri. "Bagaimana kalau Kakek tahu kau menangis sendirian di sini? Aku yang akan kena semprot orang tua itu."

Safa menatap lekat pria di hadapannya. Sorot mata itu terlihat tulus, berbeda dari pertemuan pertama mereka. Perlahan, ia meraih tangan Arlan.

"Apakaumu memang secengeng ini? Kenapa kamu lebih kekanak-kanakan dari anak TK?"

Safa menyentak tangannya kasar. Dengan bibir mengerucut, ia menatap tajam sang suami.

Arlan justru merasa lucu melihat tingkah Safa, ia harus sekuat tenaga menahan tawa agar istrinya tidak tersinggung. Melihat lelehan air mata di pipi Safa, tanpa sadar Arlan mengusapnya dengan lembut.

"Sudah, jangan menangis lagi. Ayo masuk ke mobil," ajak Arlan sambil membimbingnya.

Dengan sabar, Arlan memasangkan sabuk pengaman Safa, lalu melajukan mobil menembus hujan. Merasa terharu, Safa justru menangis semakin kencang. Perlakuan Arlan terasa seperti sosok ayah sekaligus kakak yang sangat ia rindukan.

Melihat istrinya terisak hebat, Arlan menepikan mobil. Ia panik. Saat ingin menyentuh Safa, ia sempat ragu, sebelum akhirnya kembali menggenggam tangan gadis itu.

"Kenapa lagi? Ngomong dong. Bagaimana aku tau apa yang sudah menimpamu kalau kamu gak cerita?" tanya Arlan cemas.

Safa mengusap air matanya dengan punggung tangan. "Aku tidak menyangka Mas akan menjemputku. Biasanya aku selalu sendirian. Aku bingung harus bagaimana sekarang ..."

Arlan tertegun. Ia telah menyelidiki latar belakang Safa dan tahu betapa tragis hidup istrinya sejak kematian ayah dan kakaknya—kejadian yang sebenarnya tidak sengaja disebabkan oleh Safa, namun membuat ibu dan kakak perempuannya memperlakukannya seperti pembantu.

Tiba-tiba, Safa merangsek maju, menarik kerah jas Arlan dan mendekapnya. "Aku pinjam dadamu sebentar saja, Mas. Aku tidak tahu harus melakukan apa lagi."

Arlan terkejut, namun akhirnya pasrah. Perlahan, ia mengusap puncak kepala Safa, membelainya dengan lembut.

"Tenanglah. Mulai sekarang, kau bisa menceritakan apa pun padaku. Aku akan mendengarkan dan membantumu."

Seolah mendapat kekuatan baru, Safa mendongak. Arlan membelalak, dalam jarak yang begitu dekat, ia bisa melihat dengan jelas manik mata yang berbinar di balik sisa air mata itu.

Tanpa sadar, Arlan perlahan mendekat. Mata Safa membelalak saat menyadari jarak mereka semakin tipis. Napasnya terasa tercekat, hingga ia merasa sulit untuk menghirup udara.

Kenapa Mas Arlan semakin maju? Apa mungkin ...

Saat pikirannya sedang kacau, tiba-tiba hidungnya terasa gatal dan ...

"Hasyuuu!"

Bersin Safa yang tiba-tiba mengejutkan Arlan hingga ia cepat-cepat mundur dan memalingkan wajah karena salah tingkah.

"Maaf, Mas!" Safa yang panik segera mengambil tisu dan mencoba mengusap wajah suaminya. Arlan yang merasa malu langsung menyambar tisu itu dan mengusap wajahnya sendiri.

"Tidak usah, biar aku saja," ujarnya tanpa menoleh.

Safa meringis, merasa sangat bersalah karena telah merusak suasana.

Arlan dengan cepat membuka jasnya, lalu memakaikannya ke bahu Safa. Ia hampir menyemburkan tawa saat melihat jas itu tampak sangat kedodoran di tubuh mungil istrinya.

Safa yang menyadarinya langsung memukul pelan lengan Arlan. "Mas menertawakanku, ya?"

"E-enggak. Siapa juga yang menertawakanmu," elak Arlan, meski sudut bibirnya berkedut menahan tawa.

Melihat istrinya sudah kembali tenang, Arlan mulai menyalakan mesin mobil. Namun, saat ia hendak menginjak pedal gas, suara keroncongan dari perut Safa seketika menarik perhatiannya.

Safa tersipu dan memegangi perutnya erat. Dengan senyum malu-malu, ia berbisik, "Mas, aku lapar."

Arlan hanya tersenyum tipis. "Baiklah, kita cari makan dulu. Setelah itu, aku ingin dengar kenapa kau menangis sesenggukan tadi."

Safa mengangguk patuh. Mobil pun melaju, membelah derasnya hujan yang tak kunjung reda sore itu.

1
🏡⃟ªʸ SAKURA🌸
siapa sih yg sering wa mas Arlan
Siti Anisa
bagus novelx suka
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦Fhˢ⍣⃟ₛᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☠️⃝🦐
hahhahaha.. aku ngakak ngebayangin ekpresi nya si Arlan🤣🤣🤣
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦Fhˢ⍣⃟ₛᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☠️⃝🦐
ganjalannya pasti tentang perasaan masing-masing🥺🥺
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦Fhˢ⍣⃟ₛᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☠️⃝🦐
nggak ada.. nggak punya/Tongue//Tongue/
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦Fhˢ⍣⃟ₛᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☠️⃝🦐
ya ampun, siapa itu😬😬😬😬
🏡⃟ªʸ SAKURA🌸
aq g absen hari di mana mana krn khusus buat baca novel🤭
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©Luo Yi⧗⃟: hok O di maratonin ma aunty🤭
total 1 replies
🏡⃟ªʸ SAKURA🌸
safar cerita aja ttg hendra ke suami kamu ya
🏡⃟ªʸ SAKURA🌸
uhuk uhuk
🏡⃟ªʸ SAKURA🌸
idih gtau aja klo safa it istri bos kamu, klo sampe tau bs mati mendadadak riana😂
🏡⃟ªʸ SAKURA🌸
edgar sama farah aja thori, klo author g jodohin edgar sama farah, kalo gitu edgar sama aq aja gimana setujuh kan?
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©Luo Yi⧗⃟: ihh aunty mah.. 🤣🤣
Berondong itu aunty, mau kah aunty🤭🤭
total 1 replies
🏡⃟ªʸ SAKURA🌸
heronya safa dateng🫶😂
🏡⃟ªʸ SAKURA🌸
siapa ya
🏡⃟ªʸ SAKURA🌸
blm tau aja suami safa orang keyong
🏡⃟ªʸ SAKURA🌸
sampe trauma begitu
🏡⃟ªʸ SAKURA🌸
arlan klo kamu tau safa sprti apa di rumah nya pasti kamu kasian
🏡⃟ªʸ SAKURA🌸
adit ini bener bener mulutnya seperti omprengan
𝓐𝔂⃝❥ ⃟🥑⃟ Sᴇɴᷢᴀͥᴀͥ☠️⃝⠀
mampir thor 🤔
Shankara Senja
safa itu bodoh bngt ya..apa apa diem..lebih baik dihajar abis sm mama lo dari pd dihajar abis diranjang sm bpk tiri lo.masa depan lo hancur ..kabur ,kek,takut bngt ga nemu makan..apa pengen ngancurin masa depan lu di perkosa bapak tiri lo..lo hancur jg keluarga lo ga perduli
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©Luo Yi⧗⃟: Iya mungkin kabur lbih enak. Tapi ada sebagian orang gak akan berani kak. Mereka selalu memikirkan bakti dan takut akan hal-hal yang belum pasti. 🤧
total 1 replies
🏡⃟ªʸ SAKURA🌸
ingat safa selalu tutup pintu dan kunci klo perlu gembok
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!