"Menikahlah dengan ku dan berikan aku keturunan. Aku akan memberikan semua yang kamu inginkan, termasuk kesejahteraan,"
Anjani tidak menyangka di usianya dua puluh tahun, harus menghadapi tawaran gila dari pria konyol yang dia bantu. Di sisi lain ia ingin memperbaiki hidup, sedangkan di sisi lain ia tidak ingin melakukan hal bodoh itu.
Namun melihat pengorbanannya Arya, keputusan besar akhirnya ia ambil untuk mereka berdua, bersiap menikah dan memberikan Arnold keturunan. Akankah mereka berdua berubah pikiran dan menjalin hubungan tanpa aliansi apapun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putrichou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TELEPON DARI DESA
Kepulangan Arya dan Anjani dari kota, menyita perhatian sebagian warga desa. Beberapa warga berbondong-bondong untuk membantu Arya dan sedikit memberikan sayur-mayur dan ucapan syukur kepada Anjani.
"Masaklah dengan nikmat, pasti kamu lelah karena merawat Kakak kamu, Anjani."
Anjani menatap bingung kepada Ibu-ibu yang selalu bergosip tentangnya, ia tidak biasa menerima perlakuan baik secara tiba-tiba tanpa ada maksud lain.
"Terima kasih Buk, atas perhatian kalian kepada kami."
Dua Ibu-ibu berdaster mengangguk dan menatap Arya yang bersandar di teras rumahnya. Mereka ingin mencari tahu apa yang terjadi yang sebenarnya.
"Kakak kamu baik-baik saja kan, apa kata Dokter di Rumah Sakit kota?"
Anjani melirik Arya yang masih diam, tampak gadis itu menghalang nafas dan mencoba tersenyum. "Keadaan Kakak jauh lebih membaik sekarang, karena berkat Ibu-ibu dan warga yang telah mendoakan kami."
Ibu-ibu berdaster tersebut tersenyum tipis, "Oh ya jelas, karena doaku yang paling didengar oleh Tuhan."
Mendadak Anjani bingung harus merespon bagaimana, ia juga tidak menyangka kalau respon Ibu-ibu berdaster di depannya jauh dari ekspektasi. Tak lama Ibu-ibu berdaster itu pergi meninggalkan rumah Anjani yang hampir roboh. Kebanyakan rumah di desa semi permanen ada juga yang terbuat dari bambu dan anyaman bambu.
"Kak ayo masuk ke rumah, Kakak harus istirahat."
"Kamu masuklah dulu, Kakak akan kembali bekerja."
Anjani spontan menaruh sayur mayur yang diberikan oleh Ibu tadi, menatap kesal kepada sang Kakak. Mereka baru saja pulang dari kota, dan Arya sudah berencana untuk pergi bekerja.
"Aku tidak akan membiarkan Kak Arya bekerja, aku akan berbicara kepada Juragan."
"Kalau aku tidak bekerja, apa yang akan kita makan untuk besok dan hari-hari berikutnya."
"Kak jangan memikirkan hal itu, aku yang akan bekerja untuk sementara waktu."
Arya menghela nafas dan berjalan tertatih sedikit ke dalam rumah mereka. Sepertinya pria itu masih terlihat kecewa dengan keputusan sepihak dari sang Adik. Gadis desa itu memperhatikan rumahnya yang reog, tanaman hias yang sebelumnya Anjani perawat sudah layu bahkan rusak.
"ANJANI!"
Teriakan dari seseorang membuat Anjani terkejut, ternyata itu sungguh kencang. Seorang wanita paruh baya datang dengan tergesa-gesa sembari membawa sebuah buku kecil. Anjani membisu, wanita yang datang ke rumahnya adalah pemilik warung di dekat rumahnya.
"Akhirnya pulang juga kamu, Ibu datang untuk menagih hutangmu yang sudah menumpuk."
Wanita paruh baya itu melempar buku yang berisi hutang belanjaan dari Anjani, sayur-mayur yang Anjani pegang pun terjatuh ke lantai. Gadis itu tidak memiliki pilihan lain selain memungut buku yang bertulisan namanya.
"Kapan kamu mau membayar, aku butuh uang untuk memutar modal warung." kata wanita paruh baya itu dengan tatapan sinis.
Anjani membolak-balikkan lembaran demi lembaran, nominalnya tidak terlalu besar tapi cukup membuat Anjani tidak berkutik. Pinjaman yang diberikan oleh Pak Kades sudah habis tak tersisa, bahkan biaya di rumah sakit jauh lebih mahal dari yang ia bayangkan. Pegangan yang ia bawa hampir tidak membiarkan mereka pulang, kalau Arnold tidak datang dan membantunya.
"Buk, ... bisakah ibu memberikan saya waktu untuk mendapatkan uang? Saya janji akan melunasi semua hutang saya kepada Ibu." ucap Anjani dengan wajah memelas.
Wanita paruh baya itu mutar matanya malas, "mau sampai kapan kamu terus menunggak bayar hutang, saya ini juga butuh uang untuk di dapur pribadi. Kalau kamu tidak membayar hutangmu, aku akan memukulmu."
Ancaman dari wanita perubahan itu semakin memuat Anjani kebingungan, merebut buku yang dipegang Anjani dan menginjak sayur-mayur yang ada di lantai. Hadis itu tidak bisa melakukan apapun selain menatap nanar sayur-mayur yang sudah kotor.
"Rasakan ini, aku menunggu kamu bayar hutang sampai nanti sore."
...****************...
Di kota metropolitan, seorang pria menatap sebuah berkas yang sungguh menyita perhatiannya sejak tadi. Arnold, pria itu menatap wajah gadis yang sungguh membuatnya tertarik.
Arnold memandangi wajah gadis polos itu dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. sekretarisnya yaitu Kelvin, bahkan tidak percaya kalau sang atasan memintanya untuk mencari data gadis desa yang tidak ia kenal.
"Tuan, sebenarnya siapa gadis desa ini dan mengapa Anda meminta saya mencari tahu tentangnya?" tanya Kelvin dengan rasa penasaran yang besar.
Di Perusahaan pusat milik Arnold, posisi Kelvin bukanlah di bawah Arnold tapi setara dengan sang atasan. Kelvin adalah orang yang cukup dihormati setelah Arnold. Ia juga memiliki hak yang sama walaupun tidak sebesar hak Arnold di perusahaan.
"Dia gadis yang merawatku saat di rumah sakit kemarin."
Kelvin mengangguk mengerti dan tidak bertanya apapun kembali. Ia senang bahkan jauh lebih senang setelah mengetahui kalau Arnold tertarik dengan seorang Gadis. Itu artinya opini publik yang buruk pada sang atasan, akan segera terhapus bersih.
"Itu kabar yang sangat baik, apakah saya harus memberitahu Tuan dan Nyonya Besar?"
Arnold meletakkan kertas tersebut dan menatap Kelvin dengan serius. "Aku akan menunggu telepon dari Anjani lebih dahulu, karena keputusan ada di tangannya."
"Saya tidak mengerti,"
"Aku menawarkan pernikahan kepada Anjani,"
Kelvin membulatkan matanya terkejut dan tidak menyangka kalau Arnold akan melakukan hal itu. Ia mengira kalau Arnold sudah lebih dahulu menjalin hubungan dengan gadis bernama Anjani.
"Apakah itu artinya kalian menjalin pernikahan kontrak dan akan mengakhiri pernikahan setelah mencapai tujuan masing-masing?" tanya Kelvin dengan wajah yang sangat serius. Dia berharap kalau ana tidak melakukan pernikahan kontrak dan benar-benar menjalin hubungan yang seharusnya.
Arnold menggeleng membantah, ia sudah memantapkan tujuannya untuk memiliki pernikahan yang permanen, ia tidak mengatakan kepada Anjani bahwa pernikahan ini adalah pernikahan kontrak.
"Kami ...."
DRTTT ....
Arnold melirik ponselnya dan memperlihatkan nomor asing. "Telepon dari desa," gumam Arnold dengan seulas senyuman. Tak lama pria itu mengangkat dan membuat Kelvin yang penuh tanda tanya.
"Katakan yang ingin kamu katakan, Anjani."
Arnold mengisyaratkan telepon untuk keluar dan membiarkan dirinya berbicara dengan Anjani melalui panggilan telepon. Pria itu tentu saja menurut. Setelah kepergian sama Sekretaris, Arnold memandangi kota metropolitan dari gedung atas perusahaannya.
"Tuan, apakah tawaran itu masih berlaku?"
Arnold tersenyum tipis dan mengetahui apa yang ingin Anjani katakan. "Ya, tawaran itu masih berlaku Anjani."
"Aku ... aku menerima tawaran pernikahan ini."
Arnold kali ini benar-benar tidak bisa menyembunyikan senyuman lebarnya,ini pertama kalinya seorang gadis membuat artinya berdebar-debar setelah sekian lama.
"Aku sangat senang mendengar jawaban kamu. Besok saya akan mengunjungi kamu, kita harus segera membicarakannya dengan serius."
Mendengar tidak ada jawaban dari seberang, Arnold memutuskan untuk menutup telepon. Ia senang bercampur bahagia, karena dengan alasan ini ia bisa menolak semua ajakan nikah yang ditawarkan oleh ibunya.
"Kelvin, hubungi Mama dan Papa, kalau aku akan pulang untuk membicarakan sesuatu yang sangat penting." ucap Arnold dari sambungan telepon di ruangannya.
Kelvin yang mendengar hal tersebut langsung hubungi orang tua Arnold. "Apakah ini ada hubungannya dengan Anjani?"
"Benar, aku akan memberitahu mereka tentang Anjani."
Kevin turut senang mendengarnya, iya harap kali ini Arnold benar-benar serius menjalin hubungan dan tidak mengecewakan orang tuanya lagi. Kelvin mengetahui semua tentang permasalahan Arnold selama ini, pria itu bukan tipikal pria yang suka memainkan perasaan wanita dan justru wanitalah yang memainkan perasaannya. Karena hal itu, Arnold enggan untuk menjalin hubungan lagi dengan wanita manapun. Karena rasa takut yang besar akan dikhianati lagi.
Kelvin jadi penasaran, seperti apa wajah Anjani hingga mampu membuat Arnold menawarkan pernikahan. Ia ingin melihat secara langsung seperti apa warta dan sikap gadis desa ini.