NovelToon NovelToon
MENGANDUNG BENIH SANG CEO DINGIN

MENGANDUNG BENIH SANG CEO DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Hamil di luar nikah / Diam-Diam Cinta / Office Romance
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: yuningsih titin

"Satu malam yang salah, satu rahasia yang terkunci rapat, dan satu pertemuan yang tak terelakkan."

Bagi Naira, malam di dalam mobil mewah lima tahun lalu adalah sebuah kutukan sekaligus anugerah yang tak sengaja. Terjebak dalam situasi yang tak terkendali bersama seorang pria asing yang dingin, Naira kehilangan mahkotanya. Ketakutan akan kehancuran nama baik keluarganya membuat Naira melarikan diri ke pelosok Jombang, membawa rahasia besar di dalam rahimnya.

Lima tahun ia berjuang sendirian menjadi ibu tunggal bagi Arkana, putra kecilnya yang cerdas namun terus menanyakan sosok ayah. Demi menyambung hidup, Naira terpaksa kembali ke Jakarta dan bekerja sebagai Office Girl di sebuah perusahaan raksasa, Wiratama Group.

Namun, dunia Naira runtuh saat ia pertama kali mengantarkan kopi ke ruang CEO. Pria yang duduk di kursi kebesaran itu adalah Nevan Adhiguna Wiratama—pria yang sama dengan pria di mobil malam itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ciuman Terlarang

"Sudah selesai kan, Naira? Tugas kamu masih banyak di luar. Jangan kelamaan di sini," ucap Nevan dengan nada bicara yang tiba-tiba berubah dingin dan otoriter.

Naira yang merasa tidak enak hati segera mengangguk. "Maaf, Pak. Saya permisi dulu. Mari, Pak Dimas."

Setelah pintu tertutup, Dimas menatap Nevan dengan heran. "Bapak kenapa sih? Tadi kayaknya lagi happy banget, kok tiba-tiba jadi galak lagi? Kasihan itu OG baru, manis lho anaknya."

Nevan mendelik tajam ke arah asistennya. "Fokus ke laporan kamu, Dim. Jangan banyak komentar soal staf kebersihan. Cepat selesaikan tugasmu dan keluar!"

Dimas mengangkat bahu, merasa aneh dengan perubahan sikap bosnya yang begitu cepat. Sementara itu, Nevan kembali menyandarkan tubuhnya, hatinya dongkol. Ia tidak suka ada pria lain yang memuji Naira, bahkan asisten kepercayaannya sendiri pun tidak boleh.

Sore itu, suasana kantor Wiratama Group mulai sepi. Naira sudah merapikan perlengkapan kebersihannya dan bersiap untuk pulang ke kost kecilnya. Namun, tepat saat ia hendak melangkah menuju lift, interkom di meja depan berbunyi. Panggilan dari ruangan CEO.

Naira masuk dengan ragu. Di dalam, Nevan duduk dengan santai, jasnya sudah tersampir di sandaran kursi. Ia menyodorkan sebuah amplop cokelat tebal ke arah Naira.

"Ini bonus buat kamu. Anggap saja tanda terima kasih karena sudah menyelamatkan nyawa saya tadi pagi," ucap Nevan dengan nada datar, namun matanya menatap tajam.

Naira tertegun, tangannya gemetar. "Mboten, Pak... eh, maaf, maksud saya tidak usah, Pak. Itu sudah kewajiban saya membantu sesama. Saya ikhlas."

Nevan menaikkan sebelah alisnya, tatapannya tidak terbantahkan. "Saya tidak terbiasa menerima penolakan, Naira. Ambil, atau saya anggap kamu tidak menghargai saya."

Terpaksa, Naira menerima amplop itu dengan perasaan campur aduk. "Terima kasih banyak, Pak. Bapak baik sekali."

Karena merasa kikuk dan ingin segera keluar dari ruangan yang atmosfernya terasa semakin menyesakkan itu, Naira berbalik dengan terburu-buru. Namun, sial. Ujung sepatunya tersangkut kaki meja sofa yang rendah.

"Aaa!"

Tubuh Naira limbung. Nevan yang sigap langsung berdiri untuk menangkapnya, namun dorongan tubuh Naira terlalu kuat hingga mereka berdua ambruk ke atas sofa mewah tersebut. Posisi Naira tepat berada di atas tubuh tegap Nevan, dengan kedua tangan Nevan mendekap pinggangnya erat agar tidak terjatuh ke lantai.

Naira terkesiap. Jarak wajah mereka hanya beberapa senti. Ia bisa merasakan deru napas Nevan yang hangat di kulit wajahnya. "Ma-maaf, Pak... saya tidak sengaja. Saya permisi..." Naira mencoba berontak pelan, berusaha melepaskan diri, namun pelukan Nevan justru mengencang.

Nevan tidak melepaskannya. Ia menatap lekat mata jernih Naira, seolah ingin menembus masuk ke dalam jiwa gadis itu. Jemari tangan kanan Nevan perlahan naik, membelai lembut helai rambut Naira yang berantakan, lalu menyelipkannya ke belakang telinga. Sentuhan itu begitu halus, membuat jantung Naira berdegup hebat—getaran yang sama seperti malam yang tak bisa ia ingat dengan jelas itu.

Naira terhenyak. Sentuhan Nevan terasa begitu menenangkan sekaligus membakar. Tanpa sadar, Naira memejamkan matanya, menikmati belaian lembut di wajahnya yang membuat pertahanannya runtuh.

Melihat Naira yang pasrah dengan mata terpejam, Nevan tak lagi bisa menahan gejolak di dadanya. Ia menarik tengkuk Naira perlahan, lalu melumat bibir manis itu dengan lembut namun menuntut.

Awalnya Naira mematung, kaget dengan serangan tiba-tiba itu. Namun, rasa hangat yang menjalar dari bibir Nevan seolah menghipnotisnya. Perlahan, Naira mulai membalas, mengikuti irama ciuman Nevan yang semakin dalam dan penuh gairah. Di dalam ruangan kedap suara itu, hanya terdengar suara napas mereka yang saling memburu, menyatukan dua insan yang sebenarnya sudah terikat oleh takdir malam itu.

Suasana panas yang menyelimuti sofa itu seketika pecah saat pintu besar ruangan CEO terbuka dengan kasar. Dimas, asisten sekaligus sahabat Nevan, melangkah masuk tanpa mengetuk, tangannya sibuk membolak-balik berkas laporan.

"Nevan, ini laporan audit yang lo minta tadi..." Kalimat Dimas terputus di udara. Matanya membelalak sempurna melihat pemandangan di depannya. Bosnya yang dingin sedang bergulat gairah dengan seorang OG di atas sofa. "ASTAGA! Sorry, gue nggak tahu kalau lo lagi... rapat 'internal'!" teriak Dimas reflek karena kaget.

Nevan tersentak dan terpaksa melepaskan pagutan bibirnya dari Naira. Sementara itu, Naira seperti tersengat listrik. Ia langsung melompat berdiri dari atas tubuh Nevan, merapikan seragamnya yang sedikit kusut dengan tangan gemetar hebat. Wajahnya merah padam sampai ke telinga.

"Ma-maaf, Pak! Saya... saya permisi dulu!" ucap Naira terbata-bata tanpa berani menatap mata siapa pun. Ia berlari secepat kilat meninggalkan ruangan itu, menyisakan keheningan yang canggung.

Dimas masih mematung di ambang pintu, lalu perlahan ia masuk dan menutup pintu rapat-rapat. Ia berjalan mendekat, memincingkan mata curiga ke arah Nevan yang justru duduk dengan santai di sofa, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan sambil tersenyum lebar—senyum paling tulus yang pernah Dimas lihat.

"Gila lo, Van. Sejak kapan lo doyan main di kantor? Dan... tunggu, itu kan OG baru?" tanya Dimas heran sambil duduk di hadapan Nevan. "Pantesan lo dari pagi senyum-senyum sendiri kayak orang sinting."

Nevan bersandar pada sandaran sofa, matanya berbinar penuh kemenangan. "Itu dia, Dim."

"Dia siapa?"

"Gadis itu. Gadis malam itu, yang gue cari ke seluruh Jakarta," jawab Nevan mantap. "Naira. Ternyata dia sudah ada di sini sejak kemarin."

Dimas terdiam seribu bahasa, mulutnya sedikit menganga karena tidak percaya. "Maksud lo... OG yang tadi lo cium itu adalah cewek yang punya kalung perak itu? Cewek yang bikin lo nggak tidur semalaman?"

Nevan mengangguk pasti. "Iya. Tapi dia sama sekali nggak ngenalin gue. Dia pikir gue cuma bos galak yang kebetulan dia tolong kemarin."

Dimas akhirnya tertawa lepas sambil menggelengkan kepala. "Pantas saja! Sekarang gue paham kenapa lo tadi cemburu pas gue puji kopi buatannya. Lo beneran jatuh cinta ya, Van? Sampai-sampai nggak peduli status dia cuma staf kebersihan?"

Nevan hanya tersenyum tipis, sorot matanya yang tajam menunjukkan obsesi yang semakin dalam. "Status nggak penting buat gue, Dim. Yang penting, sekarang dia sudah dalam jangkauan gue. Dan gue nggak akan biarkan dia lari lagi."

Di dalam kamar kostnya yang sempit dan pengap, Naira duduk bersandar di dinding semen yang dingin. Ia berkali-kali menepuk dahinya sendiri, mencoba mengusir bayangan ciuman panas di ruangan CEO tadi sore.

"Gusti... kenapa rasanya mirip banget sama ciuman di mobil malam itu?" bisik Naira pelan. Sentuhan bibir Pak Nevan, aroma parfumnya yang maskulin, hingga cara pria itu membelai rambutnya—semuanya terasa sangat familiar. Namun, Naira segera menggeleng keras. "Nggak mungkin. Pak Nevan itu orang besar, kaya raya, mana mungkin dia mau menolong gadis desa kayak aku di pinggir jalan malam-malam? Itu cuma perasaanku saja karena aku masih trauma."

Naira kemudian teringat amplop cokelat pemberian Nevan. Dengan tangan gemetar, ia membukanya. Matanya membelalak sempurna, jantungnya serasa berhenti berdetak melihat tumpukan uang berwarna merah di dalamnya. Sepuluh juta rupiah!

"Sepuluh juta? Ini... ini banyak banget," gumam Naira dengan mata berkaca-kaca. Baginya, uang ini adalah mukjizat. "Aku bisa cari tempat tinggal yang lebih layak. Aku nggak mau sakit karena tidur di lantai terus."

Malam itu juga, Naira memutuskan untuk mencari kost yang lebih manusiawi. Beruntung, ia menemukan sebuah kamar kost yang bersih, lengkap dengan kasur empuk dan lemari kayu, tak jauh dari gedung Wiratama Group. Meskipun harganya satu juta rupiah per bulan, harga yang sangat mahal bagi seorang OG, Naira tidak keberatan. Ia butuh rasa aman.

Saat pertama kali merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk itu, Naira mendesah lega. "Akhirnya... terima kasih, Gusti."

Karena merasa butuh perlengkapan mandi dan sedikit makanan, Naira keluar menuju supermarket terdekat. Namun, baru saja melangkah di area pertokoan mal, jantungnya seolah melompat keluar. Dari kejauhan, ia melihat Keanu Mahesa, pria yang telah menjebaknya, sedang berjalan dengan angkuh.

Naira refleks bersembunyi di balik pilar besar, tubuhnya gemetar ketakutan. Dari tempat persembunyiannya, ia melihat Keanu sedang menggandeng mesra seorang wanita cantik dan elegan, Anastasia Valerie, mantan kekasih Nevan.

Tak jauh dari sana, Nevan muncul dengan langkah tegap, hendak masuk ke dalam mal yang sama. Saat berpapasan, Keanu sengaja mengeratkan rangkulannya pada Anastasia, menatap Nevan dengan pandangan penuh kemenangan seolah ingin memamerkan bahwa ia telah berhasil merebut wanita milik Nevan.

Namun, Nevan hanya menatap mereka dengan dingin, bahkan cenderung tidak peduli. Ia melangkah melewati mereka begitu saja seolah mereka hanya angin lalu. Nevan tidak tahu bahwa beberapa meter di belakang pilar, Naira sedang menahan napas, menyaksikan drama kaum elit itu dengan perasaan campur aduk.

Naira merasa sangat kecil di dunia mereka, namun di sisi lain, ia merasa ada ikatan yang tak terlihat antara dirinya dan pria yang tadi sore melumat bibirnya itu.

Setelah memastikan Keanu dan Anastasia menghilang di balik pintu kaca mall, Naira mengembuskan napas lega. Dadanya masih berdegup kencang karena ketakutan. Ia segera keluar dari balik pilar dan melangkah cepat masuk ke dalam supermarket, berharap bisa segera membeli kebutuhan dan kembali ke keamanan kamar kost barunya.

Naira berjalan menuju deretan troli besi. Namun, tepat saat jemarinya hendak menyentuh pegangan troli, sebuah tangan besar dengan jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangan yang kokoh lebih dulu menarik troli itu.

"Eh, maaf..." Naira mendongak dan seketika jantungnya seolah berhenti berdetak. "Pa-Pak Nevan?"

1
yuningsih titin
naira mau dipaksa kawin jadi istri ke empat tuan Tommy...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!