Merasa kesal karena ada yang mengatakan bahwa dirinya tidak akan laku bahkan akan terus menjomblo seumur hidup, tidak ada satu pun pria yang tertarik padanya.
"Enak aja dia bilang begitu padaku! Awas saja kau! Akan aku buktikan diriku ini bisa memiliki seorang kekasih dan layak untuk dicintai!" geramnya wanita cantik itu.
Ia bersumpah pada dirinya sendiri, setelah mendapatkan kekasih justru ia akan langsung memamerkan kemesraannya terhadap orang yang telah berani berkata seperti itu.
"Tapi tunggu! Dari mana aku akan mendapatkan seorang kekasih!?" ia gelisah dan mondar-mandir.
"Astaga..." dirinya mengusap wajah dengan kasar.
"Hah, semoga dapat ya?" batinnya berdoa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon xeynica_10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode Lima
"Ayo, Yia.." sebuah tangan kekar terulur ke arahnya tapi Cellsyia menolak.
Wanita cantik itu langsung pergi begitu saja, dan meninggalkan Aren seorang diri tepat di dekat pintu mobil bagian depan yang masih terbuka.
"Hah..." pria itu menghela nafas, tatapan matanya menatap lengannya yang tadi ingin membantu Cellsyia keluar dari mobil, namun ia ditolak.
Segera pria itu menutup pintunya, lalu dirinya menyusul Cellsyia.
Ceklek
Kriet
Pintu rumah dibuka oleh Aren, kemudian pria itu mempersilakan Cellsyia masuk terlebih dahulu lalu diikuti oleh dirinya dari belakang, dan pintu rumah ia kunci.
"Wah, besar juga nih rumah" batinnya Cellsyia berdecak kagum sambil menatap ke sekeliling.
Sementara itu Aren, pria itu setia mengikuti langkah Cellsyia.
Wanita itu mulai duduk di sofa single dan Aren duduk di seberangnya, sebelum dimulai pembicaraan pria itu menawari sesuatu.
"Yia, kamu mau minum? Biar aku buatkan untukmu" tanya Aren.
"Air putih saja" jawab Cellsyia tanpa menatap ke arah Aren.
Aren bangkit dari duduknya, pria itu berjalan mengarah ke dapur, dan sementara Cellsyia sedang bergumam dalam batinnya.
"Harusnya aku menolak ketika Aren mengajakku pergi, astaga! Dan mengapa aku mengiyakannya sih!? Aaaaa...."
"Bangun tidur kesiangan, sampai toko bunga pukul 10, mana langsung aku beres-beres dan tutup toko"
"Yasudah lah, lagian sudah terjadi juga. Mana bisa di putar ulang waktunya"
"Ini silakan diminum, Yia" ujar Aren setelah mengambilnya dari dapur.
"Hm" karena tenggorokan kering habis menangis tadi langsung saja Cellsyia minum sampai tak tersisa sedikit pun.
Aren yang melihatnya dari seberang ia tersenyum tipis.
"Kayaknya kamu haus banget ya, Yia?" pikirnya Aren.
Suara dentingan kaca terdengar kala Cellsyia menyimpan gelas tersebut ke meja di depannya.
"Baiklah, kamu sudah selesai minumnya aku akan menceritakannya padamu"
"Memang aku ini dulunya ketika Sekolah Menengah Atas selalu cuek, dingin, dan tidak peduli ke semua orang, termasuk ke cewek juga" ucap pria itu.
"Kamu tahu tidak kenapa aku seperti itu?" tanya Aren dibalas gelengan kepala oleh Cellsyia.
"Karena aku..." perkataan Aren sengaja terjeda.
"Cepat lanjutkan" batinnya Cellsyia dengan tidak sabarnya.
"Menyukai seseorang, tapi bertambah naik menjadi level mencintai dirinya" kata pria itu yang tanpa mengalihkan pandangannya dari Cellsyia.
"Oh, ceritanya lagi jatuh hati nih?" batin Cellsyia.
"Lalu apakah sampai sekarang masih ada rasa terhadapnya?" tanya Cellsyia.
"Ya, masih, tapi aku belum berani untuk mengungkapkannya langsung di depannya" jawab Aren.
"Oh" balas singkat Cellsyia.
"Langsung katakan saja ke orangnya, daripada entar diambil pria lain tuh" saran Cellsyia.
Namun jawaban Aren membuat Cellsyia terdiam membisu.
"Cellsyia Wielthama Azka, mau kah kamu menjadi kekasihku?"
Deg
"Ken..kenapa jadi seperti ini?" batinnya Cellsyia bertanya-tanya.
"Hahaha, Aren, kamu bercandanya lucu banget" celetuk Cellsyia.
Dengan cepat pria itu berpindah tempat di sebelah Cellsyia, sontak wanita itu terkejut.
"Yia..." panggil Aren.
Ya, keduanya saat ini tengah bertatapan dari jarak sangat dekat.
"Aku benar-benar mencintai kamu" ungkap Aren.
Cellsyia, wanita itu sudah mengetahui bahwa Aren seorang bule tidak langsung memberikan jawaban, ia akan menanyakan suatu hal.
"Tapi, mengapa harus aku, Ren?" tanya Cellsyia.
"Di luar sana banyak loh wanita cantik, kaya raya, bahkan dari berbagai kalangan. Sedangkan aku hanya seorang pemilik toko bunga"