Alin dikirim ke negara asing untuk menjadi tenaga sukarelawan, negara berbentuk monarki. Terlibat percintaan yang dalam dengan sang pangeran. Pangeran yang mencintainya dengan sepenuh hati dan jiwanya. Namun takdir harus memilih antara tahta dan wanita. Disaat sistem monarki menuntutnya meneruskan kerajaannya, namun Alin hanya ingin hidup bebas tanpa terikat norma dan adat dibalik tembok besar. Akankah cinta mereka berakhir bersama atau justru melepaskan satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuan La, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 35 : Pengakuan Pangeran
Mendengar itu, Rei menghentikan langkahnya sejenak. Ia menarik Alin lebih dekat hingga dada mereka bersentuhan. Intensitas di matanya berubah menjadi lebih gelap dan serius. Tangan yang berada di punggung Alin kini merapat, menekan tubuh wanita itu agar tidak ada lagi celah di antara mereka.
"Maka beritahu aku, Alin," gumam Rei, suaranya kini terdengar sangat rendah di dekat telinga Alin. "Apa yang harus kulakukan agar kau berhenti melihatku sebagai 'Pangeran yang sempurna'? Apa aku harus mengabaikan semua adan dan norma kerajaan agar kau percaya bahwa saat ini, pria yang memelukmu hanyalah seorang pria biasa yang sedang jatuh cinta?"
Alin merasakan jantungnya berdegup kencang. Ia bisa merasakan kehangatan tubuh Rei menembus pakaiannya. Jemari Alin yang berada di bahu Rei perlahan naik, menyentuh tengkuk pria itu, merasakan helaian rambut halus di sana.
"Rei..." Alin berbisik, suaranya sedikit bergetar. "Gerakanmu... caramu menatapku... itu sudah lebih dari cukup untuk membuatku lupa siapa dirimu di luar sana."
Rei kembali membawa Alin berputar, namun kali ini ia sengaja memperlambat tempo. Gerakannya kian cair, menanggalkan segala kekakuan protokol istana yang selama ini membelenggunya. Dalam satu gerakan yang mulus, Rei menarik tubuh Alin hingga punggung wanita itu merapat sempurna pada dadanya.
Ia mendekap Alin dari belakang, sebuah posisi yang terasa jauh lebih intim dan intens. Jemari Rei yang semula menggenggam tangan Alin kini perlahan terlepas, hanya untuk berpindah dan melingkar sepenuhnya di pinggang ramping wanita itu. Ia mendekapnya posesif, menyandarkan dagunya di bahu Alin sambil menghirup aroma rambutnya yang menenangkan.
Rei menarik napas panjang, mencoba menenangkan debar jantungnya yang kian liar.
"Alin... tetaplah di sisiku. Bukan sebagai dokter yang kubayar, bukan sebagai orang asing yang kebetulan lewat di hidupku. Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu hingga rasanya menyesakkan saat memikirkan kau akan pergi menjauh."
Alin tertegun akan ungkapan seorang pangeran agung yang tiba-tiba, tangannya tanpa sadar menyentuh lengan Rei yang masih memeluknya posesif. Ia bisa merasakan kejujuran dalam setiap kata yang diucapkan Rei.
"Aku tahu ini egois," lanjut Rei, suaranya kian rendah. "Aku tahu duniaku penuh duri. Tapi aku berjanji, selama aku masih bernafas, aku tidak akan membiarkan satu duri pun menyentuhmu. Bisakah kau... memberiku kesempatan untuk menjadi tempatmu pulang?"
Rei tetap tidak melepaskan dekapannya. Ia seolah ingin membeku dalam momen itu, menunggu jawaban Alin dengan perasaan yang berkecamuk antara harapan dan ketakutan akan penolakan.
Musik mulai melambat, menyisakan denting piano yang tipis di udara. Rei tidak lagi menggerakkan kakinya, ia memaku posisinya, mendekap Alin dari belakang dengan erat—seolah jika ia melepaskan sedikit saja, keberanian yang sudah ia kumpulkan akan menguap bersama dinginnya salju di luar.
Rei membenamkan wajahnya di antara pundak dan leher Alin. Di sana, tanpa harus menatap mata Alin yang selalu membuatnya kehilangan kata-kata, ia mulai bicara.
Suaranya serak, sedikit bergetar, jauh dari kesan pangeran yang biasanya memerintah dengan tegas.
"Alin... aku tidak pernah merasa sepayah ini," bisik Rei. "Aku bisa menghadapi ribuan prajurit dan perdana menteri, tapi di hadapanmu, lidahku mendadak kelu. Aku takut jika aku mengatakannya sambil menatapmu, aku akan melihat keraguan di matamu dan itu akan menghancurkanku."
Rei menarik napas panjang, dekapannya semakin posesif namun sarat akan permohonan. "Aku mencintaimu. Aku ingin kau menjadi orang terakhir yang kulihat sebelum tidur, dan orang pertama yang kulihat saat aku membuka mata. Bisakah kau... tidak pergi?"
Alin terdiam. Mungkin inilah alasan Rei tak ingin menatap wajah Alin secara langsung, wanita itu penuh keraguan bukan karena tidak yakin akan perasaan sang Pangeran, namun status yang diembannya sungguh berat untuk ia sanggupi.
...****************...
Di tengah heningnya malam dan pengakuan cinta yang baru saja terucap, telinga Rei yang terlatih tiba-tiba menangkap suara yang tidak asing. Krak. Bukan bunyi kayu bakar, melainkan ranting salju yang patah di luar jendela samping.
Rei tidak langsung melepaskan dekapannya. Ia justru mempererat pelukannya pada Alin, namun kali ini bukan karena gugup, melainkan sebagai peringatan. Wajahnya yang semula lembut dan rapuh seketika berubah menjadi dingin dan setajam silet.
"Alin," bisik Rei, suaranya sangat rendah, nyaris tidak terdengar. "Jangan bersuara. Pergi kekamar itu dan kunci rapat pintunya."
"Ada apa, Rei?" Alin mulai merasa cemas, merasakan ketegangan yang merambat dari otot-otot lengan Rei.
Belum sempat Alin mencerna keadaan,
PRANG!
Jendela kaca di sudut ruangan hancur berkeping-keping. Sebuah anak panah melesat tepat ke arah tempat mereka berdiri sedetik yang lalu. Dengan gerakan refleks yang luar biasa, Rei menarik Alin jatuh ke lantai, berguling di balik sofa kulit yang tebal.
"Tiarap!" perintah Rei tegas. Ia tidak lagi terlihat seperti pria yang tadi gugup menyatakan cinta. Kini, ia adalah seorang predator yang sedang menjaga wilayahnya.
Dari balik bayangan, tiga pria berpakaian hitam legam masuk melalui jendela yang hancur. Di tangannya berkilat bilah pedang panjang yang memantulkan cahaya.
Pembunuh bayaran itu bergerak tanpa suara, seolah-olah dia adalah bagian dari kegelapan malam.
Rei meraih sebilah kayu besar dari tumpukan perapian di dekatnya. Ia menoleh ke arah Alin sejenak, memastikan wanita itu berada di tempat yang aman.
"Siapa yang mengirimmu?" suara Rei menggema, dingin dan penuh otoritas, seolah ia sedang berada di ruang pengadilan istana, bukan di sebuah pondok terpencil. "Keluarlah."
Si pembunuh tidak menjawab. Ia justru melesat maju dengan kecepatan luar biasa. Rei bangkit dengan tangkas. Pertarungan pecah di tengah ruangan yang remang-remang. Suara benturan kayu dan logam terdengar kasar di antara deru napas mereka. Rei bertarung dengan gaya yang sangat efisien—setiap gerakannya bertujuan untuk melumpuhkan, bukan sekadar menangkis.
Alin hanya bisa menahan napas di balik sofa, jantungnya berdegup kencang melihat Rei yang biasanya elegan kini bertarung dengan beringas demi melindunginya. Sebilah pedang panjang milik pembunuh yang telah ia tumbangkan kini berhasil di raih Rei.
Pertempuran di dalam pondok yang sempit itu menjadi semakin liar. Rei bertarung bagaikan badai; gerakannya cepat dan mematikan, namun fokusnya terbagi karena harus memastikan Alin tetap berada dalam jangkauan perlindungannya.
Si pembunuh bayaran menyadari titik lemah sang pangeran. Ia sengaja mengayunkan pedangnya ke arah sofa tempat Alin bersembunyi.
"Alin, awas!" teriak Rei.
Demi melindungi Alin, Rei melepaskan pertahanannya sendiri. Ia menerjang maju, memeluk Alin dan memutar tubuh mereka di lantai. Srett! Bilah pedang yang dingin itu merobek bagian belakang kemeja Rei, meninggalkan luka sayatan yang dalam di punggungnya. Darah segar seketika merembes, membasahi pakaiannya.
Rei mengerang tertahan, namun ia tak membiarkan dirinya tumbang.
“Rei!!!” Pekik Alin saat pembunuh itu kembali beraksi, namun dengan sigap Rei menghadap bilah pedang itu dengan pedang ditangannya. Suara aduan pedang mengalir cepat ditelinga Alin yang berada didalam dekapan sang Pangeran.
Namun, gerakan pedang si pembunuh sangat cepat. Ujung bilahnya sempat menyambar lengan atas Alin saat mereka berguling. Alin meringis kesakitan, merasakan sensasi panas yang membakar.
"Kau terluka..." bisik Rei dengan napas tersengal, matanya berkilat penuh amarah saat melihat darah di lengan Alin. Padahal, lukanya sendiri jauh lebih parah.
Alin hanya meringis kesakitan, tak pernah ia mendapati luka separah itu. Bahkan luka terbuka yang terbesar pernah ia miliki adalah saat jatuh dari sepeda.
“A—aku tidak apa, punggung mu—-“
Belum sempat Alin menyelesaikan kalimatnya, si pembunuh kembali bangkit. Namun, sebelum ia sempat menyerang lagi, suara menderu dari helikopter dan derit ban mobil yang mengerem mendadak terdengar dari luar.
Yuchen datang dengan para pengawal kerajaan.
BRAK!
Pintu depan pondok hancur ditendang dari luar. Sosok Yuchen muncul dengan pistol terhunus, diikuti oleh pasukan elit pengawal kerajaan yang bergerak dengan taktis dan tanpa suara.
"Amankan area! Jangan biarkan dia lolos hidup-hidup!" perintah Yuchen, suaranya menggelegar penuh otoritas.
Hanya dalam hitungan detik, si pembunuh bayaran sudah terkunci. Yuchen segera berlari menghampiri Rei dan Alin yang masih terduduk di lantai. Wajah Yuchen yang biasanya sedingin es kini tampak pucat pasi saat melihat genangan darah di punggung tuannya.
"Yang Mulia! Saya terlambat, mohon ampuni saya," ucap Yuchen sambil berlutut, tangannya gemetar saat mencoba memeriksa luka Rei.
Rei hanya mengangkat tangannya lemah, menolak bantuan Yuchen untuk sementara. Ia justru menoleh pada Alin, menyentuh luka sayatan kecil di lengan wanita itu dengan jemari yang mulai mendingin.
"Obati dia dulu, Yuchen... itu perintah," gumam Rei sebelum kesadarannya perlahan menipis akibat kehilangan banyak darah.
Alin, meski lengannya perih, segera menguasai dirinya sebagai seorang dokter. "Yuchen, bantu aku. Kita harus menekan pendarahan di punggungnya sekarang juga!"