[ Karya pertama di NovelToon ]
[ Semua visual di dalam didapat dari apk pinterest ]
----------
Yu Lingxi adalah Nona Muda Sekte Naga Giok. Ia dipuja-puja sebagai dewi karena memiliki kemampuan diatas rata-rata para kultivator wanita luar. Namun, ada suatu masa Sekte Naga Giok runtuh, disebabkan oleh Sekte Iblis Guntur yang secara terang-terangan mendeklarasikan peperangan dadakan. Dan diakhir hanya menyisakan nyawa Yu Lingxi dan Kakek Naga—Yu Tianlong. Peristiwa itu mengakibatkan mereka terpaksa meninggalkan sekte demi keberlangsungan hidup.
Tapi, tanpa Sekte Iblis Guntur ketahui, akan ada masanya Yu Lingxi membalaskan ketidakadilan dan dosa besar yang sudah mereka lakukan terhadap Sekte Naga Giok. Yu Lingxi, akan segera datang. Tunggu saja ...
----------
[ Hasil ketik tangan sendiri ]
[ Segi dunia, kultivasi, profesi, tingkatan, kekuatan, dan lain sebagainya adalah sebuah rekayasa dari ide author sendiri. Jika ada kesalahan kalimat/typo, mohon beritahu author ]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nona cacha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Trauma #02
Suasana pada sore menjelang malam tampak lebih mencekam. Tiada angin, tiada pun hujan yang mengguyur bumi—dikala Lingxi merasakan kehampaan dan dendam kusumat yang nyata. Dadanya sesak, napasnya tercekat. Tangannya bergetar hebat dengan memegang plat yang masih dipandang sinis.
"Tidak lagi ... tidak kali ini ..."
...✦•┈๑⋅⋯ ࿔‧ ֶָ֢˚˖𐦍˖˚ֶָ֢ ‧࿔ ⋯⋅๑┈•✦...
^^^Five years ago, in the Valley of Blood^^^
Di tepi lembah yang curam, tanah yang berlumpur menjadi saksi bisu dari kepungan maut. Langit di atas lembah di ujung Benua Nian tampak mendung dan berat, seolah ikut tertekan oleh hawa membunuh yang dipancarkan oleh Huang Zhong, Jenderal Perang III Kekaisaran Nian sekaligus anggota inti Sekte Iblis Guntur.
"Cari gadis itu, segera!" perintahnya dengan suara menggelegar yang memicu getaran di udara—memecah kesunyian lembah dengan perintah yang tak terbantahkan.
Huang Zhong berdiri dengan angkuh. Seluruh tubuhnya dilapisi oleh armor tembaga kokoh yang ditempa, hasil dari perburuannya yang keji terhadap Monster Roh Raja di Lembah Neraka. Di dada bidang bagian kanan Huang Zhong, terlekat sebuah plat baja berkarat yang menjadi sumber trauma Lingxi. Menampilkan simbol Tanduk Petir yang Melilit Tengkorak. Namun, yang paling menyakitkan adalah dua kristal taring yang menempel di bahunya dengan Kilauan dingin. Sebuah harta curian dari paman Lingxi—Paman Jitian, anggota keluarga Sekte Naga Giok yang terhormat.
Sementara itu, di hadapan sang Jenderal, manusia fana sekisar dua puluh berderet rapi dengan armor baja yang memantulkan cahaya redup. Mereka membentuk dua barisan yang terorganisir. Barisan depan, sepuluh prajurit muda dengan tatapan dingin, semuanya telah mencapai Ranah Jiwa Baru Tahap Awal Level 1. Barisan belakang, sepuluh prajurit senior yang lebih kuat, berada pada Ranah Pemutusan Roh Tahap Awal Level 1.
"Baik, Jenderal!" sahut mereka serempak.
DHUAAKK!
Suara hentakan ujung tombak mereka ke jalanan tanah berlumpur menciptakan dentuman yang menggetarkan permukaan lembah, menandakan dimulainya perburuan manusia yang keji.
Para prajurit itu segera berpencar, namun tak satu pun dari mereka menyadari betapa dekat gadis kecil berusia sebelas tahun yang sedang mereka cari berada begitu dekat dengan keberadaan mereka. Di balik dinding kayu yang sudah melapuk pada sebuah paviliun kumuh di desa terpencil itu, seorang gadis kecil berusia sebelas tahun sedang meringkuk.
Dari celah kayu paviliun, ia bisa melihat kilatan armor tembaga Huang Zhong dan simbol Tanduk Petir yang mengerikan itu. Setiap detak jantungnya terasa seperti lonceng kematian yang bisa mengkhianati persembunyiannya kapan saja. Genangan air di pelupuk matanya sudah tidak bisa dibendung lagi. Perlahan tapi pasti, air itu merembes jatuh dari pelupuk netra menuruni pelipis hingga bergelantung di dagu. Isak tangis sesekali terlepas. Yu Lingxi kecil duduk memeluk lututnya erat-erat di sudut ruangan yang gelap dan berdebu. Kedua tangannya yang mungil menangkup mulutnya sendiri dengan sangat rapat, berusaha meredam isak tangis maupun suara napasnya yang menderu ketakutan.
Kakek Naga ... Kakek Naga, Lingxi takut ...! batin Lingxi dengan jantung berdetak kencang.
Hanfu lusuh yang awalnya putih bersih, kini sudah dilumuri bau tanah basah dan kotoran sampah yang menyengat indra penciuman. Tak hanya baju, surai putihnya pun ikut merasakan penderitaan pahit—seperti banyaknya telur kutu bermunculan akibat tinggal di tempat yang lembab selama seminggu lima hari lamanya.
Lingxi kecil bertubuh kerdil tidak bisa berbuat apa-apa selain bersembunyi. Tubuhnya bergetar hebat, dengan diselingi keringat dingin mengucur deras membasahi sekujur tubuh.
Berapa lama lagi Lingxi harus menunggu ...? ucapnya dalam hati. Bau menyengat ini, Lingxi ... Lingxi tidak tahan ...! tangan kecil bergetar—tengah menahan mual yang terus menerus mengacak-acak hidungnya.
Dengan napas yang terengah-engah dan dada yang terasa sesak oleh ketakutan, Lingxi kecil tidak lagi sanggup berdiam diri dalam kegelapan paviliun. Instingnya meneriakkan satu nama—Kepala Desa. Ia segera merangkak keluar dari persembunyiannya, mengabaikan debu yang mengotori wajahnya, lalu berlari secepat yang bisa dilakukan oleh kaki-kaki mungilnya menuju gubuk tua di ujung desa.
Di tengah pelarian yang penuh kepanikan itu, fokus Lingxi terpecah oleh suara dentuman tombak prajurit yang semakin mendekat.
DUGH!
Tiba-tiba saja, ujung kakinya menghantam bebatuan kecil yang menonjol dari permukaan jalanan berlumpur. Tubuh kecilnya jatuh tersungkur ke depan dengan keras. Lutut sebelah kanannya menghantam batu dengan telak, menciptakan luka robek yang seketika mengalirkan darah segar ke atas tanah. Sementara itu, lutut bagian kirinya terseret di atas kerikil tajam, meninggalkan bekas gesekan kemerahan yang perih. Rasa sakit yang tajam menusuk sarafnya, membuat Lingxi meringis tertahan sambil berusaha bangkit kembali dengan kaki yang gemetar.
Sialnya, suara jatuh Lingxi dan aroma darah yang baru saja tertumpah tidak luput dari indra tajam para prajurit elit Kekaisaran Nian. Hawa dingin menyergap ketika teriakan-teriakan dari kejauhan mulai mengarah tepat ke posisinya. Informasi tentang keberadaannya tersebar secepat kilat dari satu prajurit ke prajurit lainnya.
Tidak ... jangan sekarang ... kumohon, kaki bergeraklah! Lingxi membatin dengan air mata yang sudah membasahi kedua pelipisnya.
Ketakutan yang luar biasa kini mencengkeram jantungnya jauh lebih kuat daripada rasa sakit di lututnya. Harapan untuk lari seolah pupus saat lima bayangan tinggi muncul dari balik kabut. Lima prajurit elit dengan Ranah Jiwa Baru Tahap Awal Level 1 kini berdiri melingkar, mengunci setiap jalan keluar bagi Lingxi kecil. Armor baja mereka berkilat dingin—mengeluarkan hawa membunuh yang sangat tinggi.
Napas Lingxi tersengal, menatap sekeliling dengan mata biru yang berkaca-kaca. Jangan takut ... Papa pernah berkata, ketakutan adalah makanan bagi iblis. Lingxi harus berdiri! gumamnya lirih.
Meskipun rasa perih dari lutut yang terluka mulai menggelitik dan menyengat sarafnya, Lingxi memaksakan diri untuk tegak. Dengan kaki yang masih bergetar hebat, ia mencoba berdiri kokoh di atas tanah yang licin. Dengan sisa-sisa tenaga yang tersisa dari tubuh sebelas tahunnya, ia menarik napas dalam dan memasang posisi kuda-kuda tempur yang sempurna—sebuah gerakan yang ia pelajari secara rahasia dari aula pelatihan sekte.
Melihat para prajurit itu mulai merendahkan tombak mereka untuk meringkusnya, Lingxi meledakkan seluruh Qi yang tersisa di nadinya.
"Jangan sentuh Lingxi! Teknik Kedua, Delapan Belas Pukulan Penghancur Rembulan!"
Secara mengejutkan, serangan itu melesat lebih cepat dari yang diperkirakan para prajurit tersebut. Lingxi memusatkan targetnya pada satu prajurit muda yang berada tepat di depannya.
Pertama, hantaman pembuka. Lingxi melesat rendah, menghantamkan kepalan tangannya yang mungil tepat ke arah tulang kering prajurit itu, membuatnya kehilangan keseimbangan sesaat.
Kedua, serangan beruntun. Memanfaatkan posisi lawan yang membungkuk, ia meluncurkan pukulan bertubi-tubi ke arah ulu hati dan rusuk kiri yang tak terlindungi sempurna oleh armor.
Ketiga, tendangan berputar. Dengan satu tumpuan kaki yang terluka, ia memutar tubuhnya dan menyarangkan tendangan tumit ke arah dagu lawan, memaksa kepala prajurit itu tersentak ke belakang.
Keempat, pukulan puncak. Saat prajurit itu terhuyung, Lingxi melompat kecil dan menghujamkan tinju terakhirnya tepat ke tengah pelindung dada logam lawan.
BRAKK!
Prajurit elit muda itu terpental dua langkah ke belakang, jirah bajunya penyok akibat hantaman tenaga dalam yang murni meski berasal dari tubuh seorang anak kecil. Teman-temannya yang lain tertegun sesaat, tidak menyangka bahwa gadis berusia sebelas tahun memiliki teknik tempur tingkat tinggi milik keluarga inti.
Prajurit satu terbatuk-batuk sambil memegangi dadanya yang sesak. "Ugh ... b-bocah tengik ini, tekniknya ... itu benar-benar gaya bertarung Sekte Naga Giok!"
Prajurit dua menyeringai keji seraya mencengkeram tombaknya lebih erat. "Bertahanlah, sobat. Jika kita menangkapnya hidup-hidup, Jenderal Huang Zhong pasti akan memberikan kita hadiah yang besar."
Lingxi kembali ke posisi kuda-kuda, meskipun kini darah dari lututnya semakin banyak yang mengalir ke tanah. Wajahnya pucat pasi, namun sorot mata biru berliannya tetap memancarkan bara api yang tak kunjung padam.
"Kemarilah, Lingxi tidak akan menyerah!"
...✦•┈๑⋅⋯ ࿔‧ ֶָ֢˚˖𐦍˖˚ֶָ֢ ‧࿔ ⋯⋅๑┈•✦...
...…To Be Continued…...
Nggak sia-sia bacanya, harap-harap alurnya juga semantep visualnya/Kiss//Rose/