Suatu hari sikap Maya mendadak berubah seratus delapan puluh derajat. Dia yang tadinya gadis pendiam dan lemah, kini memiliki tatapan tajam mematikan. Semua itu terjadi setelah pingsan yang dia alami. Semua orang terkejut dengan perubahan Maya. Julukan psiko mulai tersemat pada dirinya.
Abang tirinya yang mesum dan geng yang sering membully Maya di sekolah sekarang hanya bisa tercengang. Jika dahulu Maya hanya pasrah hingga bahkan tak berani menatap, maka kini dia malah berkata, "Aku akan sobek mulutmu jika berani menyentuhku!"
Apa yang terjadi pada Maya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 34 - Ending
Maya melangkah pergi meninggalkan koridor sekolah. Di belakangnya, Pak Darto masih duduk sendirian di ruang guru dengan wajah pucat dan pikiran yang terus dihantui ketakutannya sendiri.
Maya tidak menoleh lagi. Baginya, urusan itu sudah selesai. Tidak semua orang harus dihancurkan dengan kekerasan. Kadang rasa takut yang terus hidup di dalam kepala seseorang jauh lebih menyiksa daripada hukuman apa pun.
Waktu berlalu dengan cepat. Hari demi hari berganti menjadi minggu. Minggu berganti menjadi bulan. Tanpa terasa, masa liburan sekolah akhirnya tiba. Setelah sekian lama, Maya tidak memiliki masalah besar yang harus dihadapi. Hidup terasa tenang. Aneh memang. Tetapi Maya mulai menyukainya.
Suatu pagi, Bobby datang ke rumah besar itu dengan mengenakan kemeja pantai warna mencolok yang membuatnya terlihat seperti turis tersesat.
Begitu Maya membuka pintu, dia langsung memegangi dahinya.
"Apa itu yang lu pakai?"
Bobby melihat bajunya sendiri. "Kenapa?"
"Lu kayak om-om yang habis menang arisan."
"Ini fashion!"
"Fashion gagal."
Bobby mendengus. "Lagian lu suruh gue siap-siap liburan."
"Iya."
"Ya gue siap."
"Siap dipermalukan publik."
Bobby langsung menunjuk Maya. "Nanti kalau gue terkenal gara-gara baju ini, jangan nyesel."
"Mustahil sih."
Mereka akhirnya berangkat menuju bandara beberapa jam kemudian. Tujuan mereka sederhana, Bali.
Awalnya Bobby mengira Maya hanya bercanda ketika mengatakan ingin pergi berlibur. Namun ternyata gadis itu benar-benar serius. Bahkan semua tiket, hotel, dan transportasi sudah disiapkan jauh-jauh hari.
"Enak jadi orang kaya ya," celetuk Bobby saat mereka duduk di pesawat.
Maya meliriknya. "Kalau iri, kerja."
"Jahat amat lu!"
"Realistis aja!"
Bobby menghela napas panjang. Namun beberapa saat kemudian dia justru tersenyum. Karena jujur saja, dia ikut senang melihat perubahan Maya. Gadis yang dulu selalu terlihat tegang sekarang mulai bisa tertawa lebih sering.
Mulai bisa menikmati hal-hal sederhana. Mulai terlihat normal. Begitu tiba di Bali, Maya langsung memahami kenapa begitu banyak orang menyukai tempat itu.
Langitnya cerah. Pantainya indah. Udara laut terasa menenangkan. Hari pertama mereka habiskan di pantai.
Bobby langsung berlari ke arah laut seperti anak kecil yang baru pertama kali melihat air. "MAYA!"
"Apa?"
"AIRNYA ASIN!"
Maya memandangnya datar. "Itu laut."
"OH IYA JUGA."
Maya memutuskan pura-pura tidak mengenal laki-laki itu. Beberapa turis bahkan sempat menoleh karena teriakan Bobby yang terlalu keras.
Hari itu mereka bermain sampai sore. Makan seafood. Berjalan di tepi pantai. Melihat matahari tenggelam, dan untuk pertama kalinya sejak kematiannya sebagai Priska, Maya benar-benar merasa damai.
Saat duduk di pasir sambil memandangi matahari yang perlahan tenggelam, Maya tiba-tiba teringat taman bunga itu. Teringat Maya asli. Teringat senyum tenang gadis tersebut.
"Hiduplah dengan bahagia."
Kalimat itu kembali muncul.
Kali ini Maya tersenyum. "Mungkin gue mulai ngerti."
"Apa?" tanya Bobby.
"Nggak ada."
"Kalau nggak ada kenapa senyum-senyum sendiri?"
Maya mengambil segenggam pasir lalu melemparkannya ke arah Bobby.
"Woy!"
"Kebanyakan tanya lu!"
Bobby langsung membalas.
Beberapa menit kemudian mereka malah saling lempar pasir seperti anak SD. Hari-hari berikutnya terasa jauh lebih menyenangkan.
Mereka mengunjungi berbagai tempat wisata. Mencoba makanan baru. Bahkan Bobby berhasil membuat Maya tertawa berkali-kali hanya karena tingkah bodohnya.
Di sebuah restoran, Bobby pernah mencoba memesan makanan menggunakan bahasa Inggris yang sangat buruk. Hasilnya, dia malah memesan tiga porsi makanan pedas yang tidak sanggup dia habiskan sendiri.
Maya tertawa sampai hampir tersedak minuman.
"Kenapa liatin terus!" tukas Bobby.
"Gue bakal ingat ini seumur hidup," sahut Maya.
"Temen macam apa lu?"
"Temen yang bahagia."
Untuk pertama kalinya, Maya bisa mengatakan hal yang sama. Dia juga bahagia. Kebahagiaan karena hidup. Hal-hal yang dulu tidak pernah benar-benar dia hargai. Namun tentu saja, masa lalu tidak pernah benar-benar menghilang.
Pada suatu malam, saat Maya berdiri sendirian di balkon hotel dan memandangi laut yang gelap, sebuah nama kembali muncul di pikirannya.
Yasmin, wanita yang telah membunuhnya. Wanita yang menusukkan pisau berkali-kali ke tubuhnya hingga kematian datang.
Dulu, setiap kali mengingat nama itu, amarah selalu muncul. Namun malam ini terasa berbeda. Maya bersandar pada pagar balkon. Angin laut berembus pelan. Entah sejak kapan, rasa dendam itu mulai berkurang. Bukan hilang. Tetapi tidak lagi menguasai seluruh pikirannya.
Mungkin karena sekarang hidupnya mulai memiliki hal lain selain kebencian. Mungkin karena Maya asli benar. Seseorang tidak bisa hidup hanya dengan dendam. Tapi ada satu hal yang tetap tidak berubah. Priska belum memaafkan Yasmin dan mungkin tidak akan pernah benar-benar memaafkannya.
Maya menatap laut yang gelap. Mengingat malam kematiannya. Mengingat rasa sakit itu. Mengingat pengkhianatan yang mengakhiri hidup lamanya. Lalu perlahan ia mengembuskan napas.
"Sekarang belum waktunya."
Karena saat ini ada sesuatu yang lebih penting. Menjalani hidup yang akhirnya berhasil dia dapatkan. Membalas Yasmin bukan prioritasnya sekarang. Bukan karena dendamnya padam. Tetapi karena Maya ingin menikmati kebahagiaan yang ada di depannya.
Yasmin tidak akan ke mana-mana. Cepat atau lambat, jalan mereka pasti akan bertemu lagi.
Ketika hari itu tiba, Priska akan memutuskan sendiri apa yang harus dilakukan. Dia tersenyum. Lalu kembali masuk ke kamar hotel. Karena besok pagi Bobby sudah berjanji akan mengajaknya melihat matahari terbit.
...~SELESAI~...
*Guys, cerita maya sampai di sini ya. Aku ucapkan makasih buat yang udah baca sampai sini. Dan maaf kalau cerita dan endingnya tidak memuaskan 😌. Sampai jumpa di karyaku yang lain ya! Yang terbaru ada fotografer p|us-p|us!