" Gue suka sama lo...lo harus jadi pacar gue!!" Suara berat seorang pria membuatnya cukup gugup.
"Maaf, tapi gue suka nya sama orang lain." Mirra dengan penuh keberanian menolak pria tinggi tegap yang berada di hadapannya.
"Nggak bisa, lo harus jadi pacar gue, titik!!!" Tegas pria itu sambil mendekatkan wajahnya pada wajah Mirra.
Mirra Afessya, gadis belia yang baru saja duduk di bangku kelas satu SMA itu harus dihadapkan dengan pria yang ternyata diam-diam dan pura-pura mengagguminya.
Akankah Mirra menerima pengakuan paksa itu? Ataukah Mirra akan menolaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila Kylla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sia- sia
Sementara Mirra, dia tampak masih sedikit kesal, Mirra bahkan mengintip melalui jendela kamarnya.
"Emang harus banget ya mereka berdua berdebat soal gue di depan gue? Angkasa juga kenapa sih? Tumben banget dia sikapnya kayak bocah, biasanya dia bisa lebih dewasa dari kak Zian." Gumamnya lalu kemudian Mirra kembali menutup tirai gorden kamarnya.
Dia juga kembali membaringkan tubuhnya, dan kali ini di atas ranjangnya sendiri.
"Apes banget sih gue hari ini, mana pake ketiduran pules banget di rumahnya kak Zian...Mirra...Mirra...besok gimana ya? Apa mereka bakal nyerang gue lagi? Hemmm, gue musti waspada dan gue juga harus buat strategi buat ngadepin para cegil nya kak Zian." Gerutunya seorang diri.
*****
Keesokannya.
Hari ini cuacanya sangat cerah dan tidak seperti kemarin, Mirra sudah selesai sarapan, lalu dia keluar dari rumahnya. Mirra berjalan dengan santainya dan dia melupakan ponsel genggam miliknya yang saat ini masih tergeletak di atas meja makan.
Mirra tidak menyadarinya, dan saat ini ponselnya itu terus saja berdering karena Zian tengah menghubungi Mirra.
"Ya kali ni anak marah sama gue? Tapi kenapa? Gue ke rumahnya nggak ya? Ntar kalo ada mama nya, abis gue...ahhh si Mirra, susah bener di telfon." Keluh Zian kesal.
Sedangkan Mirra, dia masih saja berjalan, dan saat sudah hampir dekat dengan halte busway, tiba-tiba motor Angkasa berhenti tepat di hadapannya.
"Ayo bareng.." Ajaknya.
Mirra masih memberikan ekspresi wajah kesalnya pada Angkasa." Sa, please nggak usah cari gara-gara, kalo gue berangkat bareng lo, yang ada ntar kak Zian debat lagi sama lo, capek tau gue liat nya. Udah, gue naik busway aja..." Tolak Mirra lalu kembali berjalan meninggalkan Angkasa.
Angkasa pun turun dari motornya, lalu dia mengejar Mirra dan meraih lengan tangan Mirra sehingga Mirra menghentikan langkah kakinya.
"Mirr, soal kemarin, gue minta maaf ya, lo nggak marah kan?" Tanya Angkasa yang takut jika Mirra akan marah padanya .
Mirra menggelengkan kepalanya, "Nggak!!! Gue nggak marah, gue cuma sedikit kesel aja sama lo, tapi ya sebatas itu doang, sebenernya kemarin lo kenapa sih? Tiba-tiba banget begitu?"
"Makasih ya karena lo nggak marah sama gue, kemaren tuh gue kesel aja sama Zian, gue denger kalo ada yang ngerjain lo, dan dia cewek yang suka sama Zian."
"Astaga Angkasa...cuma gara-gara itu? Lagian gue juga nggak apa-apa kok, dan lo nggak harus ngelakuin hal kayak kemaren."
"Sorry...tapi serius lo mau naik busway aja, nanti di sekolah kalo lo ketemu sama cewek itu lagi gimana? "
"Ya gue emang sedikit was-was sih, tapi gue kan punya lo sama yang lainnya, dan hari ini gue bakal lebih waspada, kalo mereka deketin gue, gue bakal langsung teriak."
"Tapi tetep aja gue khawatir."
"Udah ah, nanti telat gara-gara ngobrol terus sama lo, sekarang lo mending langsung ke sekolah, ngebut kalo bisa, jadi pas gue nyampe lo udah ada di sekolah, dan lo bisa ngawasin gue dari kejauhan."
"Iya deh, emang susah ngebujuk lo Mirr."
"Itu lo tau, udah ya gue duluan, bye...jangan lupa ngebut ya biar cepet sampe sekolahan." Ucap Mirra sambil berlalu pergi meninggalkan Angkasa.
@Sekolah.
Benar saja, Angkasa sudah sampai lebih dulu, dan kini dia sengaja menunggu Mirra di lorong sekolah.
Sedangkan Mirra, dia yang baru saja turun dari busway langsung di hadang oleh Zian yang memang sengaja menunggunya di gerbang sekolah.
"Kenapa telfon gue nggak di angkat? Lo mau foto itu gue sebar?" Tanya Zian sambil mengancam.
Kedua mata Mirra langsung memelototi Zian." Emang lo nelfon gue?"
"Coba cek aja hp lo."
Mirra membuka tas ranselnya, dan dia tampak mencari-cari ponsel nya, namun Mirra tidak dapat menemukan ponselnya, bahkan dia sudah membuka semua kancing tasnya.
"Astaga, hp gue ketinggalan." Keluhnya.
"Pantes aja gue telfon nggak di angkat-angkat, yaudah ayo masuk, bareng gue aja biar si Melly nggak gangguin lo lagi."
"Ya..."
Mereka pun mulai berjalan melewati halaman sekolahan, dan dari kejauhan Angkasa dapat melihat keduanya.
"Ternyata Mirra udah sama Zian, yaudahlah, gue balik ke kelas aja." Gumamnya, dan saat dirinya berbalik badan, Angkasa melihat Ajun, Angkasa yang masih merasa heran dengan sikap Ajun belakangan ini pun langsung menghampiri Ajun."Ajun..."Panggilnya sehingga Ajun menghentikan langkah kakinya.
"Kenapa?" Tanya Ajun dengan tatapan tidak senangnya.
"Apa yang lo rencanain?" Tanya Angkasa tanpa berbasa-basi.
"Apa? Gue ngerencanain apa emang?"
"Nggak usah pura-pura, gue tau...ini soal Sandra."
"Oh soal Sandra? Kenapa? Gue cuma mau bantu temen gue buat sadar aja kok."
"Maksud lo?"
"Zian, dia harus sadar kalo dia itu belum bisa move on dari Sandra, dan Mirra, asal lo tau ya, Mirra cuma pelarian."
"Jangan asal lo kalo ngomong ya...gue udah mastiin sendiri, dan gue yakin kalo kali ini Zian juga serius sama Mirra."
"Lo yakin?"
"Iya..."
"Yaudah, kita liat aja nanti, Zian pasti bakal balik ngejar-ngejar Sandra lagi, dan lo, semoga lo bisa nanganin Sandra yang cinta mati sama lo, abis itu gue tinggal leluasa deh ngedeketin Mirra." Ungkapnya.
"Oh, jadi lo juga suka sama Mirra, dan lo jadi punya akal licik kayak gini cuma buat ngedapetin Mirra? Denger ya Jun, Mirra bukan cewek gampangan, dan kalau pun nanti dia putus sama Zian, lo nggak bakalan gampang deketin dia."
"Ya...ya...ya, kita liat aja nanti." Ucap Ajun sambil berlalu pergi begitu saja meninggalkan Angkasa.
*****
Jam istirahat.
"Mirr, gue belum sempet nanya-nanya sama lo, tadi mau nanya udah keburu masuk, lo juga gue chat nggak bales-bales." Celoteh Raya yang amat begitu penasaran dan punya berbagai macam pertanyaan untuk Mirra.
"Lo mau nanya apa? Sambil kantin yuk, gue udah laper nih."
"Yaudah, Je, Sa, ke kantin nggak kalian?"
"Iya..."Jawab Jeje lalu Angkasa dan Jeje pun dengan bersamaan beranjak dari bangku mereka masing-masing.
Dan begitu mereka sampai kantin, setelah mereka memesan makanan dan sudah duduk di sebuah bangku, Raya pun kembali bertanya pada Mirra.
"Lo kemaren tuh kemana aja Mirr? Lo sengaja bolos ya sama kak Zian? Kalian ngapain aja? Mana chat gue sama yang lainnya nggak di bales, sebucin itu lo sama kak Zian sampe bela-belain bolos?"
"Sembarangan lo Ray kalo ngomong, gue kemaren hampir mati kedinginan tau, dikurung di toilet samping gudang sama cewek-cewek gila nya si kak Zian." Jelas Mirra sehingga Raya dan Jeje yang tidak mengetahuinya dan baru saja tau itu langsung terbelalak.
"Lo serius? Berapa banyak cewek-cewek itu? Trus lo diapain aja?" Tanya Jeje shock.
"Tiga doang, kayaknya sih yang suka sama kak Zian cuma satu, trus yang dua cuma antek-anteknya doang, gue nggak sampe di hajar sih, cuma mereka nyiram gue sampe basah kuyup dengan kondisi mulut gue di lakban terus tangan gue juga diiket." Jelas Mirra.
"Tiga lo bilang doang, ngelawan tiga orang aja lo nggak bisa Mirr...kalo gue tau, udah gue hajar tuh cewek-cewek gilanya kak Zian." Ucap Raya dengan nada emosinya.
"Tapi lo nggak apa-apa kan Mirr?" Tanya Jeje khawatir.
Mirra sedikit tertawa mendengar ucapan Raya, lalu dia mengangguk membalas pertanyaan dari Jeje." Iya gue nggak apa-apa, untungnya kak Zian sama temen-temen nya cepet nemuin gue."
Jeje dan Raya merasa sedikit lega setelah tau jika Mirra baik-baik saja, lalu Jeje melihat ke arah Angkasa."Sa, kok lo biasa aja? Jangan-jangan lo udah tau tapi lo sengaja nggak ngasih tau kita?"
"Ya, kemarin gue cari tau, dan gue nggak ngasih tau kalian karena gue takut nanti kalian jadi khawatir."
"Lo kok gitu sih Sa, seharusnya kan lo ngasih tau kita Sa..." Omel Raya.
"Udah-udah, niat Angkasa baik, dia cuma nggak mau kalian khawatir, yang penting kan sekarang gue nggak apa-apa. Udah mending kita makan aja, jangan bahas soal kemaren." Lerai Mirra.
Raya dan Jeje pun hanya mengangguk lalu mereka kembali melakukan aktivitas makan mereka.
Dan setelah mereka selesai makan siang, tiba-tiba saja Zian yang tadinya berada cukup jauh dari mereka beranjak dari duduknya, lalu dia menghampiri Mirra.
"Sayang, kamu udah kan makan nya? Ikut aku bentar ya..." Ucapnya sambil meraih pergelangan tangan Mirra.
Mirra pun beranjak dari duduknya dan kemudian dia mengikuti langkah kaki Zian.
"Mau kemana?" Tanya Mirra kemudian.
"Mau nganter lo ke toilet."
"Ngapain? Gue nggak lagi mau ke toilet kak."
"Udah, mending lo ke toilet sekarang, dari pada nanti kalo nggak ada gue lo di kerjain lagi sama si Melly."
"Kenapa lo nggak labrak aja sekalian tu si Melly-Melly itu, ngapain juga pake cara-cara kayak gini, lo jadi cowok yang gentle dong kak."
Zian terlihat tersinggung, lalu dia melepaskan genggamannya dari pergelangan tangan Mirra.
"Gue bukan banci yang main ngelabrak cewek, kalo cowok udah pasti gue hajar, lagian kalo lo nggak selemah ini, mungkin gue juga nggak bakal kayak gini, percuma juga ya gue nge khawatirin lo, ternyata nggak ada gunanya, sia-sia doang." Zian kemudian pergi begitu saja meninggalkan Mirra.
Sementara Mirra, dia sedikit merasa bersalah karena apa yang baru saja Zian katakan ada benarnya.
"Apa omongan gue keterlaluan ya? Dia akhir-akhir ini emang sikapnya baik sih ke gue, nggak seharusnya juga gue ngomong kayak tadi, tapi yaudahlah bodo amat, kadang kak Zian juga nyebelin." Gumam Mirra lalu dia pun mulai berjalan menuju kelasnya.