Elfesya terjebak perjodohan paksa dengan Ravion Arshaka, CEO angkuh yang terus menghinanya. Luka semakin dalam saat Elfesya tahu ayah Ravionlah yang menghancurkan bisnis ayahnya. Ia melarikan diri ke pesisir, hidup nestapa sebagai buruh ikan demi harga diri.
Sadar akan dosanya, Ravion melepaskan kemewahan demi menyusul Elfesya ke gubuk reyot. Di tengah bau laut dan kemiskinan, ego sang CEO runtuh demi meraih kembali hati sang sekretaris. Ini adalah kisah tentang pengkhianatan korporasi, penebusan dosa yang perih, dan cinta yang akhirnya berlabuh di dermaga ketulusan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cahaya di ujung penantian
Fajar menyelinap malu-malu melalui celah gorden, membasuh kamar itu dengan warna abu-abu kebiruan yang tenang. Panas di tubuh Ravion perlahan surut, meninggalkan rasa lemas yang luar biasa, namun kesadarannya kembali dengan jernih. Hal pertama yang ia rasakan adalah beban hangat di lengan kanannya.
Ravion membuka matanya perlahan. Jantungnya berdesir hebat saat melihat Elfesya.
Istrinya itu tertidur dalam posisi duduk yang tidak nyaman di kursi kayu samping ranjang. Kepalanya bersandar di sisi kasur, tepat di atas lengan Ravion yang masih ia genggam erat. Rambutnya yang sedikit berantakan menutupi sebagian wajahnya yang tampak sangat lelah namun damai. Di atas nakas, terdapat baskom berisi air yang sudah dingin dan tumpukan handuk kecil—saksi bisu perjuangan Elfesya melawan demam suaminya sepanjang malam.
Ravion tidak berani bergerak. Ia menahan napas, takut jika gerakan sekecil apa pun akan memecahkan momen rapuh ini. Ia menatap wajah Elfesya dengan tatapan yang begitu mendalam, seolah ingin merekam setiap garis lelah di sana.
"Kamu tetap di sini..." bisik Ravion dalam hati. Suaranya hilang di tenggorokan, tersumbat oleh rasa syukur yang membuncah.
Ia ingat samar-samar igauan buruknya semalam, rasa takutnya akan kehilangan Elfesya, dan bayangan masa lalu yang kelam. Namun, kehadiran Elfesya di sini, dalam posisi yang begitu menjaganya, adalah jawaban dari segala doanya.
Ravion menggunakan tangan kirinya yang bebas untuk menyingkirkan sehelai rambut yang menempel di pipi Elfesya dengan gerakan yang sangat lembut—selembut embun pagi. Ia melihat map cokelat berisi audit Winda Jaya yang kini tergeletak di lantai, seolah memberi tahu Ravion bahwa Elfesya sudah tahu segalanya.
Tiba-tiba, Elfesya terusik. Kelopak matanya bergetar sebelum akhirnya terbuka perlahan. Ia tampak linglung sejenak, sampai matanya bertemu dengan tatapan teduh Ravion yang sudah terjaga.
"Pak... Pak Ravion? Bapak sudah sadar?" Elfesya langsung tegak, suaranya serak khas orang baru bangun tidur. Ia segera menyentuh dahi Ravion dengan punggung tangannya. "Syukurlah, panasnya sudah turun."
"Elfesya..." suara Ravion parau, berat karena sisa sakit namun penuh dengan kerinduan. "Kenapa kamu tidak tidur di kamar? Punggungmu pasti sakit."
Elfesya terdiam sejenak, menyadari posisinya yang masih memegang tangan Ravion. Ia perlahan menarik tangannya, wajahnya sedikit merona namun ia tidak lagi menunjukkan tatapan dingin seperti kemarin.
"Bapak mengigau terus. Saya tidak bisa meninggalkan Bapak dalam keadaan seperti itu," jawab Elfesya sambil menunduk, merapikan handuk di atas meja. "Nenek Lastri datang semalam. Beliau menceritakan semuanya. Tentang alasan pernikahan ini... dan tentang kesalahpahaman Bapak di awal pertemuan kita."
Ravion berusaha duduk, meski kepalanya masih sedikit berdenyut. Ia menatap punggung Elfesya. "Lalu? Apakah kamu tetap akan pergi setelah tahu aku hanya pria pengecut yang mencoba menebus dosa ayahku lewat kamu?"
Elfesya berbalik. Matanya yang sembab menatap Ravion lurus-lurus. Tidak ada lagi kabur ingatan di sana; sorot matanya menunjukkan bahwa ia sudah mengingat bagaimana pria di depannya ini merendahkan martabatnya di kantor, namun juga mengingat bagaimana pria ini menarik keranjang ikan di bawah terik matahari demi dirinya.
"Aku melihat map itu, Ravion," ucap Elfesya, kali ini tanpa embel-embel 'Pak'. "Aku melihat bagaimana kamu mencoba melawan ayahmu sendiri untukku. Nenek bilang kamu menghinaku karena kamu takut hatimu luluh. Itu alasan yang sangat bodoh, kamu tahu?"
Ravion tersenyum getir, sebuah tawa kecil lolos dari bibirnya yang pucat. "Memang. Aku pria paling bodoh yang pernah ada karena membiarkan wanita sepertimu menangis karena kata-kataku."
Elfesya mendekat, duduk di tepi ranjang. Ia menatap tangan Ravion yang masih melingkar cincin pernikahan mereka.
"Aku belum sepenuhnya memaafkan masa lalu keluarga Arshaka," bisik Elfesya jujur. "Tapi aku ingat bagaimana rasanya saat kita di pesisir. Aku ingat bagaimana kamu menjagaku di bawah atap yang bocor. Ingatanku mungkin belum kembali utuh seratus persen, tapi hatiku ingat siapa pria yang membuatku merasa aman belakangan ini."
Ravion meraih tangan Elfesya, kali ini Elfesya tidak menariknya. "Beri aku waktu, Elfesya. Aku akan mengembalikan Winda Jaya padamu. Aku akan membersihkan nama ayahmu. Setelah itu, jika kamu tetap ingin pergi, aku tidak akan menahanmu. Tapi sampai saat itu tiba, izinkan aku menjagamu."
Elfesya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menjadi pelangi setelah badai panjang. "Sembuhlah dulu, Tuan Arshaka yang sombong. Elric akan sedih kalau tahu Kakak ipar jagoannya hanya bisa berbaring lemah seperti ini."
Mendengar kata 'Kakak ipar', Ravion merasa seolah-olah seluruh sisa sakitnya menguap. Ia menarik tangan Elfesya dan mencium punggung tangannya dengan penuh khidmat. Pagi itu, di dalam kamar yang hangat, mereka tidak lagi bicara soal kontrak atau hutang darah. Mereka bicara tentang kesempatan kedua yang sedang tumbuh di sela-sela luka.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...