"Di Perusahaan ini, saya adalah hukum. Hukum tidak mengenal kata MAAF" Adrian Bramantyo.
Adrian adalah CEO dingin yang hidup seperti robot. Kesalahan sekecil apapun adalah tiket menuju pemecatan dan berakhir menjadi pengangguran di black list semua perusahaan. Namun saat sistem logistik bernilai miliaran rupiah lumpuh, seorang admin gudang yang berantakan justru muncul sebagai penyelamat dengan buku catatan kumal yang dimilikinya.
Gisel Amara, gadis pemberani yang hobi mendumel, mendadak ditarik paksa menuju lantai 40 menjadi sekertaris pribadi Adrian yang merupakan "Beruang Kutub".
Akankah Gisel bertahan di ruangan bersuhu minus tanpa beku?
Atau Gisel yang akan mencairkan hati sang CEO yang sudah lama membeku di titik Minus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tim Operasional dan Logistik
Setelah kepergian Rendi, suasana di ruangan operasional dan logistik makin mencekam. Iwan, Maya dan Budi berdiri di dekat meja masing-masing sambil tatap dengan pikiran yang menerawang dengan sejuta tanya dibenak mereka tentang nasib mereka setelahnya.
Iwan menyandarkan punggung ke kubikel sambil melipat tangannya. "Tamatlah sudah, setelah ini entah apa yang akan terjadi" ucapnya
"Siap-siap saja kita akan menerima lowongan kerja Manager operasional baru di LinkedIn" ucap Budi dengan gaya kemayunya.
Maya mendengar ucapan Budi matanya langsung berkaca-kaca menatap layar monitor yang hitam tertulis Connection Error.
"Kok kamu gitu sih Bud ngomongnya, Pak Rendi itu orang baik loh, Hanya saja Pak Rendi kena sial karena sistem error, selebihnya pekerjaan pak Rendi baik-baik dan tidak ada masalah" ucap Maya lirih.
"Baik menurut kita jeng Maya, bukan berarti baik buat Manusia Kutub, Jeng Maya You Knowlah Baik nggak akan bikin angka hijau di lantai 40. Di lantai 40 baik itu nggak masuk ekspektasi untuk si Manusia Kutub. Si Manusia Kutub itu butuh hasil Jeng, bukan orang baik. Look He's Face jeng tadi seperti apa Pak Rendi, seperti akan mengantarkan Pak Rendi ke tiang gantungan nggak sih" ucap Budi
Hening sesaat.
"Oo, Sh****ttt harusnya kita dampingi Rendi tadi, bukan membiarkan dia pergi sendirian ke ruang eksekusi lantai 40.Kita timnya Rendi, harusnya kita dampingi dia, justru kita membiarkan Rendi dibantai sendirian tanpa data apapun" ucap Iwan menahan emosinya.
"Kita dampingi Pak Rendi mau ngapain Bang, mau dibuat mental kita hancur berantakan berkeping-keping? atau mau kena pecat sekalian iya gitu bang? Aduh amit-amit bang, kebutuhan eyke masih banyak. Gini amat nih hidup" ucap Budi kemudian melipat salah satu tangan dan meraih map sambil dibuat untuk kipas manual.
"AC di sini saja nggak bisa berfungsi dengan baik atau gimana sih" lanjutnya masih dengan gaya khasnya membuat map plastik sebagai alat kipas dan duduk di kursi sofa.
Maya melepas nafas dengan pelan " Hufft kamu benar Bud, gini amat nih hidup" ucap Maya lirih.
"Kalau eyke jadi pak Rendi, eyke akan meletakkan ID Card eyke di atas meja ini, dan pergi dengan mental yang aman" ucap Budi
"Itu lari dari tanggungjawab Maduri" ucap Maya ketus. Budi mendengus kesal.
"Tapi 200 unit barang yang siap dikirim itu benaran ada kan? Kita semua tahu itu barangnya ada. ini semacam nggak adil buat Pak Rendi. Hanya karena kesalahan sistem server pusat nggak bisa diakses masa harus berakhir dengan pemecatan segala" ucap Maya lirih tahu ending dari kesalahan yang dilakukan oleh manager.
"Semoga saja ada keajaiban May" ucap Iwan dengan nada lemah.
Budi menggebrak meja tiba-tiba membuat Maya dan Iwan terkejut.
"Gila ya emang tu Manusia Kutub" ucap Budi kesal
"Bos kita itu manusia nggak sih? Sebel deh eyke. Tahu nggak manusia Kutub itu algoritma yang pake jas mahal" ucap Budi menyebabkan Iwan tersenyum.
"Padahal nih yah semalaman kita nyiapin laporan ini biar perfect, dia gak peduli kalau kita nggak tidur semalaman, demi apa coba, demi kerjaan yang membuat otak dan mental kita rusak, itu saja dia nggak peduli. Yang bermasalah itu adalah sistem ITnya yang super kuno. yang dia tahu hanya marah dan marah dan tidak menerima alasan apapun " ucap Budi
"Yang dia tahu mana barangnya? Mana datanya? Lengkap nggak, pikir pake otak cari solusi" ucap Budi kesal dengan nada setengah teriak, Maya ikut tersenyum mendengar ocehan Budi dengan gaya kemayunya.
"Gini amat ya punya bos killer" ucap Maya lesu.
"Selamat datang di Realita Bud, di perusahaan ini, kalau kamu nggak punya data yang real dan masuk akal dan telat kasihnya sama tu Bos Kulkas, kamu itu nggak kelihatan di mata Adrian, ibaratnya kamu itu makhluk astral" ucap Iwan
"Emang sudah Astral bang dari sononya" ucap Maya menyebabkan Iwan tertawa.
"Sinting luu Maryati" ucap Budi melemparkan map plastik ke arah Maya. "Eyke santet juga lama-lama tu Manusia Kutub" ucap Budi kesal namun ditanggapi dengan senyuman oleh Maya dan Iwan.
"Ngomong-ngomong Gisel kemana yah? " tanya Maya "Kok nggak kelihatan, kalau lagi urgent gini biasanya dia yang paling rusuh" tanya Maya.
"Katanya tadi ke gudang ada barang yang harus dikirim pagi tadi, pas lu sama Rendi ke Lantai 40" ucap Iwan kepada Budi. "Dan lu belum datang May" ucap Iwan.
"Ow, " ucap Maya lalu menyandarkan punggungnya ke kursi kerja.
"Daripada eyke stres di sini, mending buat kopi dulu di pantri, sapa tahu dapat cowok ganteng mirip Dilan" ucap Budi membuat Iwan tertawa.
"Ingat Kodrat Bud" ucap Iwan lalu mengambil map di depannya lalu membaca perlahan.
"Mmm.. yey nggak ikutan Jeng? " Tanya Budi kepada Maya
"Nggak akh, malas ngapa-ngapain" ucap Maya
"Ya udah Bye" Budi berputar sambil melambaikan badanya dan meninggalkan ruangan operasional dan Logistik.
***
Dalam struktur perusahaan Bramantyo Logistic hubungan antara Gisel dan devisi Rendi sangat erat namun memiliki kasta yang berbeda.
Rendi sebagai manager operasional adalah otak yang mengatur jadwal, rute, dan target pengiriman di kantor pusat. Tak heran kalau Rendi mendapat tekanan dari Adrian langsung jika terlambat dalam eksekusi barang.
Maya dan Iwan adalah staf analisis operasional, mereka bertugas di depan komputer di kantor pusat, mengelola data digital yang masuk dari lapangan.
Budi sebagai koordinator lapangan bertugas menjadi penghubung antara kantor pusat dan orang yang berada di gudang (Gisel). Budi acap kali bolak balik antara gedung berAC kantor pusat yang dingin dan debu di gudang yang panas.
Gisel sebagai admin gudang yang menjadi ujung tombak di lapangan. Gisel satu-satunya orang yang mengusai barang masuk dan keluar di gudang. Kinerja yang sangat baik dan terarah menyebabkan Rendi dan kawan-kawan menyukai nya, ditambah lagi dengan piawai Gisel yang sederhana dan tidak neko-neko dalam bertindak.
Sejak saat Gisel ditempatkan pada admin gudang mereka berlima saling bekerja sama dan koordinasi dengan baik.
Gisel yang merasa lelah berjalan menuju pantri dan mulai mengambil kopi instan untuk diseduh.
"Akhirnya bisa santai sejenak" ucap Gisel setelah menyeduh kopi dan duduk di bar minimalis dekat pantri. Ia mengambil ponselnya sambil memperhatikan GPS pergerakan truk-truk yang sudah keluar gudang menuju klien-klien pemesan barang. Senyum puas pun terukir di bibir manisnya.
"Hey Jeng" ucap Budi menepuk pelan pundak Gisel.
"Astaga Bang Budi, kaget saya" ucap Gisel hampir menumpahkan kopi yang hendak disruput.
"Heheee Maaf Sel" ucap Budi dengan gaya Kemayunya lalu duduk di samping Gisel lalu melepas nafas resah.
"Napa bang? Susah amat kayaknya? " ucap Gisel
"Sel.. " panggil Budi sambil memanyunkan bibirnya.
"Kenapa Drama Beruang Kutub Lagi? " tanya Gisel yang sudah tahu drama keseharian di devisi Operasional dan Logistik.
"Iya Sel" ucap Budi Lesu.
"Halah, dah biasa drama Bang Rendi sama Beruang Kutub" ucap Gisel dengan gaya khasnya masa bodoh lalu kembali menyeruput kopinya yang masih mengepul dengan pelan.
"Tapi kali ini beda Gisel Amara" ucap Budi kesal
Gisel tertawa mendengar Budi memanggilnya dengan nama panjangnya.
"Bedanya di mana Bang? Pasti seperti biasanya kan data selisih dikit. Gitu aja dipermasalahkan. Emang tu ya Beruang kutub rada bengkok otaknya. Katanya lulusan luar negeri segitu aja pemikirannya" ucap Gisel
"Bukan itu Hayati, gimana sih eyke jelasinnya" ucap Budi kesal.
"Gisel Amara, You Know tadi di ruang rapat pak Rendi presentasi tuh" ucap Budi disambut tawa oleh Gisel
"Ok Presentasi, terus? " ucap Gisel sambil menahan tawa.
"Sementara presentasi tiba-tiba tu manusia kutub bilang grafik yang pak Rendi jelaskan seperti monitor orang mati you Know" kata Budi dengan semangat membuat Gisel tertawa.
"Napa yey tertawa nggak lucu Onah" ucap Budi membuat Gisel semakin melepas tawanya.
"Lah masalah grafik aja buat bang Budi Panik, sono cuci muka, biar fresh, ntar mukanya keriputan nggak guna kan pake skincare mahal-mahal" ucap Gisel
"Bisa serius dikit gak sih Sel" Budi memukul lengan Gisel dengan pelan sambil menahan kesal.
"Ok.. Ok serius" ucap Gisel menarik nafasnya pelan lalu menghembuskannya.
"Kamu sih Sel, andaikan yey ada di ruangan rapat tadi melihat wajahnya pak Rendi seperti mayat hidup, putih pucat yang di kasih bedak tabur kebayakan You know" ucap Budi antusias
"Gimana-gimana jadi ini kejadian di ruang rapat, banyak orang gitu bang" ucap Gisel penasaran
"Iya syantik, eyke kan menemani pak Rendi menghadap manusia kutub, ngalahin menghadap Tuhan tau nggak sih seramnya" ucap Budi
"Astagah Bang sudah pernah menghadap Tuhan? " tanya Gisel dengan gaya khasnya
"Sel, bisa serius nggak sih" ucap Budi kesal lalu menjitak kepala Gisel dengan keras
"Aw sakit Bang" ucap Gisel mengelus kepalanya.
"Syukurin jadi orang yey kebangetan sih" ucap Budi kesal. "Orang lagi serius ngomong malah di bercandain Sel"
"Lah terus masalahnya di mana Bang, kan emang tu beruang kutub udah stelan pabrik seperti itu, maunya perfeksionis" ucap Gisel.
"Itu dia Sel, Pak Rendi diminta mengulang laporan karena dua hari tidak mengirim barang ke klien " ucap Budi
"Dah biasa itu bang, nanti juga bakalan tetap dikirim kan barangnya. Lagian cuaca akhir-akhir ini gak bersahabat bang" ucap Gisel
"Gak peduli si manusia Kutub Sel, mau hujan, letir, badai, topan, angin puting beliung, ombak besar menyambar tsunami nggak ngaruh buat Adrian.
Si Manusia Kutub nggak mau tau Sel, dia memberi waktu 50 menit devisi operasional dan logistik untuk memperbaiki laporan tanpa lembur, gila eyke lama-lama Sel" ucap Budi dengan gaya Kemayunya.
"50 menit? "
"Iya" Budi menganggukkan kepalanya dengan gaya Kemayunya sambil menyelipkan jari telunjuk ke belakang telinga.
"Mana bisa bang seperti itu" ucap Gisel protes
"Bisa mah Sel, buat si manusia kutub" ucap Budi
"Tapi selesaikan bang? " tanya Gisel tau kinerja rekan-rekannya.
"Boro-boro selesai Jeng, komputer langsung connection error ke server pusat yang di Singapura" ucap Budi
"Haaa, kok bisa? " tanya Gisel
"Bisalah Sel, wong jaringannya error" ucap Budi. "Parahnya data yang ada di jeng Maya 200 unit barang yang siap disetujui dan divalidasi seakan-akan hilang entah kemana" ucap Budi
"Bukannya saya sudah infokan kepada bang Budi semuanya aman, dengan supir minta uang lembur? "
" Manusia kutub nggak mau kita lembur ya say, dia maunya kita padamu negeri" ucap Budi kesal
"Oklah dia nggak mau kasih uang lembur, tapi kan Itu kan masalah sistem bang, nggak ada sangkut paut dengan bang Rendi dan itu semua tidak terduga dan di luar kendali kita bang" ucap Gisel.
"Gak ngaruh sel, buat manusia Kutub, kalau sampe asistennya bertindak maka kelar hidup kita, seperti sebelumnya you Know lah kan black folder? " tanya Budi
"Kalau sampai yey dapat kiriman black folder udah keluar tamat Gisel"
"Apa sih bang, bisa nggak usah pake bahasa Alien " ucap Gisel
"Yey nggak merhatiin grup? Jika seseorang dapat Black Folder seperti manager kita sebelum Pak Rendi? " tanya Budi
"Kerjaanku banyak bang, bukan hanya mengurus Black Folder segala. Kalau dari namanya Folder berarti berkas kan bang" ucap Gisel dengan nada polosnya. "Kenapa harus takut dengan black folder, ya kali isinya hantu bukan sih bang? "
"Susah ngomong sama orang bekas ODJ"
"Waras saya bang" ucap Gisel tersenyum manis.
"Nona Gisel amara, black folder itu berisi tentang surat pemecatan, jika seseorang menerima black folder dari asistennya yang juga kulkas dua pintu itu, maka tamat riwayat kita. Nah sekarang, Pak Rendi sudah di lantai 40 untuk mempertanggungjawabkan laporan yang harus direvisi diberi batasan waktu 50 menit gak selesai " ucap Budi.
"Secara nih ya, tinggal kita klik ok untuk validasi ke server pusat, taunya connection error, dan jumlahnya tidak sedikit ya, 200 unit" lanjut Budi.
"Kalau sampe black folder itu di tangan Adrian, maka bye bye sudah hidup pak Rendi, dan kita akan dapat pemberitahuan lowongan kerja untuk manager operasional dan logistik di LinkedIn, kita akan punya manager baru jika dalam satu jam pak Rendi tidak kembali" ucap Budi
Sejenak Gisel diam mencerna ucapan Budi.
" Tunggu bang, serius ngomongnya?" Tanya Gisel dengan nada serius yang hanya dijawab dengan anggukan kepala oleh Budi.
"Bang Rendi mau dipecat cuma gara-gara sistem error, dengan jumlah barang 200 unit, yang sebenarnya ada hanya saja tinggal divalidasi dan terbaca tidak terdaftar di komputer doang? " tanya Gisel.
"Sayangkuh cintaku, sudah pasti ya eyalah. Bagi manusia kutub barang nggak ada di sistem \= barang ilang. Barang Ilang \= Pak Rendi nggak becus kerja. Nggak becus kerja \= pecat. Gitu aja rumus manusia kutub. Simpel tapi bikin sengsara" ucap Budi
BRAKK
Tiba-tiba Gisel menggebrak meja dengan luapan emosi.
"Emang dasar ya tu beruang kutub, nggak ngotak sama sekali. Apa dia nggak tau bang Rendi nggak pulang lembur rela nggak dibayar, demi pengiriman itu? Sekarang gara-gara sistem error, dia mau pecat saja"
"Makanya itu Syantiek, memang aneh otaknya. Kelebihan suhu dingin di bawah nol derajat Celsius akhirnya gitu, telat mikir dan nggak menghargai jerih payah orang kerja" ucap Budi
"Sekarang jam berapa? " tanya Budi kepada Gisel
"12.45 " jawab Gisel seadanya sambil melirik jam tangannya.
"Aduh 15 menit lagi Sel, menuju kiamat kecil di lantai 40. Eyke hanya bisa berdoa semoga pak Rendi nggak pingsan di depan tu manusia kutub. Secara Pak Rendi bilang ke kita kalau dia nggak kembali dalam waktu satu jam setelah dieksekusi oleh Adrian, itu artinya dia sudah bukan bos kita lagi sel" ucap Budi sedih.
"Wah nggak bisa dibiarin kalau seperti ini bang Budi, Saya harus bantu Pak Rendi" ucap Gisel berdiri meninggalkan pantri.
"Astagah Sel, main tinggal aja" ucap Budi dengan tingkah manjanya.
"Tungguin woi" seketika suara Budi berubah ke setelan aslinya dan mengejar Gisel.
*To Be Continue*