Alawiyah yang nekad menyusul suaminya ke kampung halaman yang terletak dilereng Gunung Kawi, membuat ia dihadapkan pada teror yang mengerikan.
Desa yang ia bayangkan penuh kedamaian, justru menjadi mimpi buruk yang mengerikan.
Rahasia apa yang sedang disembunyikan suaminya?
Ikuti kisah selanjutnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Novita
Alawiyah yang berdiri tepat dibagian barisan depan, diam membeku. Ia berusaha mengumpulkan sisa tenaganya dan suaranya seperti tercekat ditenggorokan.
"Mas Bayu!" pekik Alawiyah, akhirnya kalimat itu meluncur dari mulutnya.
Ia memastikan, jika itu adalah suaminya, saat melihat siapa yang terbaring diatas sebuah tikar dengan kasur yang melepek.
Teriakannya membuat orang-orang menoleh ke arahnya. Merasa penasaran tentang siapa yang sedang berteriak menyebut nama pria itu, dan—tentunya dengan perut yang membuncit.
Novita yang ikut mendengarnya, berubah drastis rona wajahnya. Apalagi saat melihat Alawiyah duduk bersimpuh disisi kiri Bayu.
"Mas, Mas Bayu. Bangunlah. Ini aku, Mas. Aku datang sengaja mencarimu, tetapi kenapa kondsimu seperti ini" cecaran pertanyaan yang tak dapat dijawab satupun oleh Bayu.
Alawiyah terisak, bahkan ia tak peduli dengan tatapan keheranan dari para warga, termasuk Ratih sang pemilik rumah.
"K—Kamu siapa?" Ratih terlihat bingung, dengan wanita muda yang ada dihadapannya.
Alawiyah mengangkat wajahnya, ia mengusap bulir bening yang jatuh disudut matanya, hatinya hancur, sebab melihat kondisi suaminya yang sangat miris.
"Saya istrinya, dan Mas Bayu pergi pulang kampung, janji mau balik lagi ke kota," ucapannya tergantung ditenggorokannya.
Ia mengusap ingus yang keluar dari hidungnya, lalu melanjutkan kembali kalimatnya. "Tetapi tidak ada kabar, dan saya memutuskan untuk mencarinya, sesuai alamat yang pernah ia sebutkan," Alawiyah menjelaskan siapa dirinya.
"A—Apa? Kamu istri Bayu? Kenapa dia tidak pernah cerita kalau sudah menikah?" Ratih tampak terkejut, dan menatap wajah wanita muda yang tak lain adalah menantunya.
Tak hanya Alawiyah, bahkan Novita juga merasa seperti syok saat mendengarnya. Ia memilih berjalan mundur, dan meninggalkan rumah Ratih yang dipenuhi hal sangat rancu.
Alawiyah juga bingung untuk menjawabnya. Sebab selama menikah dengan Bayu, ia tak pernah dikenalkan sekalipun dengan anggota keluarganya.
"Si Mbok siapanya Mas Bayu?" kali ini, Alawiyah balik bertanya.
"Kamu menantuku," jawab Ratih datar, wajahnya tak menggambarkan sedikitpun rasa bahagia, saat melihat kedatangan menantu yang membawa sekaligus calon cucu.
Sontak saja, peristiwa itu mendapat perhatian dari para warga yang berada diruangan tersebut.
"Mbok?" Alawiyah mengulurkan tangannya, dan menyalim tangan wanita tersebut. Ia sangat bahagia, sebab akhirnya bertemu dengan ibu mertuanya.
Ratih menyambutnya dengan wajah datar, dan bergegas melepaskannya.
Tentu saja itu berbeda dengan ekspektasi Alawiyah, yang berharap mendapatkan sambutan hangat, namun semua berbanding terbalik.
Diantara para tetangga, hampir semua diantaranya mereka sedang menatap perut Alawiyah yang membuncit cukup besar, dan tatapan mereka terlihat begitu sangat dalam dan juga dingin, membuat ia langsung bergidik ngeri.
"Siapa nama—?" tanya Pak Tresno.
"Maaf, tolong panggilkan Ki Priyono, cepat," potong Ratih dengan cepat, seolah tak memberi kesempatan pada Alawiyah untuk menyebutkan namanya.
"Nduk, kamu masuk ke kamar dulu, jangan keluar sebelum Mbok panggil. Kamu istirahat. Kamar Bayu sebelah sana." Ratih meminta Alawiyah untuk segera masuk ke dalam kamar.
Meskipun saat tadi sikapnya dingin, tapi kali ini, ia terlihat sangat tegas, dan tak memberi kesempatan Alawiyah untuk membantah
"Tapi Mas—"
"Biar Mbok yang menangani," potong Ratih dengan tatapan perintah, dan sedikit tajam, membuat Alawiyah merasa sangat takut.
Dengan rasa takut bercampur sungkan, ia akhirnya patuh menuju kamar, dan sesungguhnya ia sangat lelah, sebab baru saja dari perjalanan yang cukup jauh.
Saat memasuki kamar Bayu. Ia merasakan energi negatif yang cukup kuat, dan membuatnya bergidik ngeri.
Akan tetapi, rasa lelah membuatnya ingin segera tidur, meskipun sejujurnya ia ingin melihat kondisi suaminya yang tampak sekarat.
"Apa yang terjadi pada Mas Bayu?" Alawiyah sangat penasaran. Sebab ia masih mengingat saat sebelum pulang kampung, tubuh suaminya cukup berisi dan juga tampan.
Tapi saat ini, ia begitu kurus, seperti sakit yang cukup lama, dan cairan pekat darah masih melekat dipakaiannya.
"Bayu, sadarlah," suara Ratih kembali terdengar pilu. Rasa penasaran, membuat ia mengintip dari lubang kunci pintu.
"Hah!" Alawiyah tersentak kaget, saat melihat tubuh Bayu yang tadi ia lihat pucat pasi, berubah menjadi batang pisang, dan membuatnya terkejut.
"Astaghfirullah," ucapnya dengan nada tercekat ditenggorokan.
Saat ia melihatnya kembali, tubuh itu kembali seperti Bayu semula, terbujur diatas pembaringan, dengan mata yang tertutup dan tak bergerak sama sekali.
"Apa yang terjadi?" Alawiyah tampak kebingungan, dan tanpa sebab, ia seperti diserang rasa kantuk yang cukup hebat, dan semakin lama, ia tak dapat menguasainya, lalu memilih untuk berbaring, dan dengan cepat ia tertidur lelap.
Sementara itu, Ki Priyono, seorang dukun sakti yang dikenal didesa itu datang ke rumah Ratih, pakaiannya serba hitam, dan ia menggunakan ikat kepala dengan warna yang sama.
"Ki, Bayu kembali muntah darah, tolonglah, Ki. Sudah sangat lama ia menderita," Ratih memohon dengan sangat penuh harapan.
Ki Priyono mencoba memejamkan kedua matanya, ia merapalkan mantra yang berniat untuk menyembuhkan Bayu, dan ini sudah yang ke empat kalinya, tetapi tak juga membuahkan hasil.
Sesaat ia membuka matanya kembali, dan nafasnya cukup tersengal. Lalu menatap Ratih dengan perasaan yang galau—ada rasa putus asa yang tergambar cukup jelas.
"Saya akan coba, tetapi saya gak janji berhasil!" ungkap Ki Priyono.
"Tolonglah, Ki. Berapa biayanya, saya akan coba cari, yang penting anak saya sembuh," Ratih tampak memohon.
"Dia meminta pertukaran," nada bicara Ki Priyono cukup gemetar.
"Maksudnya?" Ratih tampak khawatir. Wajahnya pucat.
Ki Priyono menghela nafasnya dengan berat, lalu berbisik pada Ratih.
"Hah! Gila!" pekik Ratih dengan tubuh gemetar.
"Maaf, Ratih. Saya tidak bisa. Sebaiknya kamu cari dukun yang lebih hebat." pria itu angkat tangan untuk mengobati Bayu yang sedang terbaring tak berdaya.
Ratih terlihat lemas. Beberapa warga mulai memberikan semangat. "Sabar, ya—Tih." Ratna mengusap punggung Ratih, yang mana wanita itu terdiam menatap tubuh puteranya yang terbaring tanpa respon apapun.
Satu persatu, warga mulai meninggalkan rumah Ratih, dan kembali ke rumah mereka masing-masing.
Hari mulai tampak senja, ia hanya mampu meratapi penyakit puteranya.
"Bagaimana dengan Bayu, Mbok?" seorang wanita berusia tiga puluh tahun dengan dua orang anak yang masih berumur delapan tahun dan juga empat tahun nyelonong masuk ke rumah Ratih.
"Rin, apakah kamu tau dukun yang paling sakti? Ki Priyono sudah gak sanggup menangani penyakit mas-mu." sahut Ratih dengan wajah yang tampak lesu.
Rini diam membeku. Ia sepertinya sudah mendatangi semua dukun sakti yang ada, tetapi tetap saja tak berhasil.
"Mau dicari kemana lagi, Mbok? Semua sudah saya datangkan," wajah Rini juga tampak lesu. Sebab bukan saja hanya tenaga yang terkuras untuk merawat Bayu, tetapi juga biaya yang cukup banyak.
Ratih terduduk lesu, ia menoleh ke arah kamar, tempat dimana Alawiyah—menantunya sedang beristirahat, membuat ia semakin gelisah.
Diantara kekacauan yang terjadi dirumah Ratih, Ratna dan Novita sedang berada di sebuah kamar kosong, bersama ayam cemani, dan beberapa alat sesaji.
pkoknya lebih lucu setannya dripda org orgnya 🤣🤣