NovelToon NovelToon
PAK USTADZ JANGAN GODAIN SAYA

PAK USTADZ JANGAN GODAIN SAYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: wanudya dahayu

Zahra dijodohin sama Rayan karena wasiat almarhum Ayah Zahra yang sahabatan sama Abah Rayan. Zahra _ngamuk_ karena ngerasa nggak pantes jadi istri ustadz. Rayan juga _shock_ karena harus nikah sama cewek bertato yang nggak bisa baca Al-Fatihah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wanudya dahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35: USTADZ RAYAN NGAMUK

Hari ke-51 di Ndalem. Jam 13.30. Status Zahra Almira: Bu Nyai Yang Liat Suaminya Istighfar... Tapi Tangannya Ngepal.

HP Ustadz Rayan masih di meja. Layar nyala. WA dari Arya Putra. Foto aku-Tadz Rayan jarak 35 cm. Caption: "Cepet amat move on. Apa karena Ustadz lebih kaya? –A.P."

Ustadz Rayan dorong aku pelan. Cuma sejengkal. Biar bisa liat mataku.

Matanya... merah. Tapi bukan sedih. Ini marah. Marah yang selama 34 bab dipendem. Marah Ustadz yang istrinya diusik. Marah laki-laki yang harga dirinya diinjek.

"Zahra," katanya. Suaranya rendah. Kayak dalem sumur. "Dia di Jakarta. Bukan?"

Aku angguk. Takut. "Iya, Tadz..."

"Bagus," jawab Rayan. Dia ambil HP. Buka kontak. Cari nama. "Kang Haris."

Kang Haris. Santri senior. Sekaligus... punya travel.

"Assalamualaikum, Kang," kata Tadz Rayan di telepon. Tenang. Terlalu tenang. "Besok Subuh. Satu mobil. Tujuan Jakarta. Cozy Corner Brews. Saya mau silaturahmi."

Silaturahmi. Kata-kata orang marah.

Aku pegang tangan Tadz Rayan. "Tadz... nggak usah. Jauh, Tadz. 14 jam. Capek. Nanti..."

Ustadz Rayan nutup telepon. Nengok aku.

"Zahra," potongnya. Pelan. "Kalau aku diem, dia mikir aku takut. Kalau aku chat, dia mikir aku cemen. Laki-laki itu... selesaikannya ketemu. Tatap mata. Bukan ketik-ketik."

Bunda Aisyah dari dapur nyamperin. Denger. "Nak... kamu yakin? Jakarta itu... jauh. Nanti kenapa-kenapa..."

Ustadz Rayan senyum. Tapi matanya nggak senyum. "Bun, doain aja. Saya nggak mau ngamuk. Saya cuma mau... ngomong. Empat mata. Sebagai suami. Sebagai laki-laki."

Satu Ndalem hening. Soalnya... ini Tadz Rayan. Tadz Rayan yang selalu ngalah. Tadz Rayan yang selalu "udah, biarin". Sekarang... dia mau nyamperin. 800 km.

"Tadz, aku ikut," kataku. Genggam tangannya. Erat. "Kalau Tadz kenapa-napa di sana... aku juga."

Ustadz Rayan natap aku. Lama. Terus angguk. Sekali. "Kita berangkat abis Subuh. Kamu siapin mental. Soalnya... aku nggak janji bakal adem."

---

*Hari ke-52. Jam 04.00. Perjalanan Dimulai.*

Pajero item keluar gerbang Ndalem.

Sopir: Kang Haris. Penumpang: Rayan, aku, Bunda Aisyah. Bunda maksa ikut. Katanya, "Kalau anak Bunda perang, Bunda harus di belakang. Bawa senjata tajam. Doa dan Tasbih."

14 jam. Lewat tol. Lewat pantura. Ustadz Rayan diem. Sepanjang jalan. Cuma istighfar. Sama... genggam tasbih. Erat. Sampai buku jarinya putih.

Aku di sampingnya. Nggak berani ngomong. Soalnya... auranya beda. Ini bukan Ustadz Rayan yang ngajar ngaji. Ini... Rayan. Suami. Yang istrinya diusik.

Jam 18.00, masuk Jakarta. Macet. Panas. Gerah. Tapi di mobil... lebih gerah.

Jam 19.30, sampe. Cozy Corner Brews. Kemang. Lampu estetik. Rame.

Ustadz Rayan buka pintu. "Kang Haris, Bunda, di mobil aja. Saya sama Zahra turun."

"Tadz..." Aku takut.

Ustadz Rayan nengok. Genggam tanganku. Sekali. Kuat. "Kamu di belakangku, Zahra. Jangan jauh. Apapun yang terjadi... kamu istriku. Titik."

Kami turun.

Ustadz Rayan jalan duluan. Kopiah hitam. Baju koko putih. Sarung. Sendal jepit. Simple. Tapi langkahnya... berat. Kayak mau ke medan perang.

Aku di belakang. Jarak 30 cm. Paling deket seumur-umur.

Satu kafe nengok. Pengunjung diem. Barista bengong. Soalnya... nggak biasa ada Ustadz masuk kafe estetik malem-malem.

Dari dalem, Arya keluar. Kemeja hitam. Jam mahal. Senyum. Senyum ngeremehin.

"Wah... Ustadz Rayan," katanya. Tangan dilipat. "Jauh-jauh dari Jatim. 800 km. Demi... klarifikasi?"

Ustadz Rayan berhenti. Jarak 2 meter. Napasnya... teratur. Tapi matanya... ngebakar.

"Arya Putra," katanya. Pelan. Satu kafe denger. Soalnya... suaranya berat. "Saya ke sini 14 jam bukan mau ngopi. Saya ke sini mau nagih."

Arya angkat alis. "Nagih apa, Tadz? Utang? Perasaan Bu Nyai yang utang budi ke saya."

Plak.

Bukan tamparan. Tapi kata-kata Ustadz Rayan.

"Saya nagih harga diri istri saya," jawab Tadz Rayan. "Yang kamu injek pake foto. Pake video. Pake transfer 50 juta. Kamu pikir... jarak bikin kamu aman?"

Satu kafe hening. Ada yang ngerekam. Dari jauh. Diam-diam.

Arya ketawa. Tapi garing. "Walah, Tadz. Baper amat. Itu kan cuma kenangan. Saya sama Zahra dulu temen kerja. Wajar dong masih simpen foto?"

"Wajar," potong Tadz Rayan. Selangkah maju. Jarak 1 meter. "Kalau niatnya baik. Kamu kirim ke saya. Malam-malam. Pake caption ngajak ribut. Itu namanya... pengecut."

Arya diem. Senyumnya ilang.

Aku merinding. Ini Tadz Rayan. Ustadz Rayan yang ceramah adem. Sekarang... mulutnya pedang.

"Zahra udah balikin uangmu," lanjut Tadz Rayan. Selangkah lagi. Jarak 50 cm. "Udah block kamu. Udah anggep kamu... masa lalu yang selesai. Tapi kamu... kamu kayak setan. Nggak rela orang lain bahagia."

Arya maju juga. Dada sama dada. "Jaga omonganmu, Tadz. Ini kafe saya. Saya bisa usir kamu."

"Silakan," jawab Tadz Rayan. Senyum. Dingin. "Usir. Terus besok... satu Jakarta tau, Arya Putra ngusir Ustadz sama istrinya karena ketauan neror. Mau?"

Satu kafe bisik-bisik. HP udah pada naik. Tapi nggak ada yang berani terang-terangan.

Arya ngepal. "Kamu... kamu pikir kamu siapa? Cuma Ustadz kampung. Sok suci."

"Aku," jawab Tadz Rayan. Pelan. "Suaminya Zahra Almira. Dan suami... wajib bela istrinya. Walau harus nempuh ratusan kilo meter. Walau harus... ninggalin santri. Walau harus... kotorin tangan di tempat kayak gini."

Deg.

Aku nangis. Nggak suara. Soalnya... ini kalimat paling mahal yang pernah aku denger seumur hidup.

Bunda Aisyah di mobil istighfar. Kenceng. Kedengeran sampe luar.

Arya mundur selangkah. Kalah aura. Tapi mulutnya masih jalan.

"Fine," katanya. "Kalian menang. Tapi inget, Tadz. Zahra itu... dia pernah ketawa sama aku. Pernah bertahun-tahun sama aku. Pernah..."

"UDAH!" bentakku. Maju. Berdiri samping Tadz Rayan. Pertama kali. Sejajar. "UDAH, ARYA! CUKUP! Aku ketawa dulu karena aku BODOH! Aku akui itu! Dan sekarang aku udah nikah sama Ustadz Rayan, dia RUMAHKU SEKARANG! KAMU CUMA... MASA LALU YANG SUDAH KUKUBUR DALAM-DALAM, SUDAH KUBAKAR JADI ABU!"

Satu kafe tepuk tangan. Nggak sengaja. Soalnya... nampol.

Arya pucet.

Ustadz Rayan nengok aku. Kaget. Terus... senyum. Beneran senyum. Bangga.

Dia gandeng tanganku. Pertama kali. Di depan umum. Di depan musuh. Di depan satu kafe.

Hangat. Kuat. Nyata.

"Ayo pulang, Zahra," katanya. Pelan. "Udah cukup. Sampah nggak perlu diladenin lama-lama. Bau."

Kami balik badan. Jalan ke Pajero putih. Dimana Bunda Aisyah masih merapalkan doa.

Dari belakang, Arya teriak: "INI BELUM SELESAI, RAYAN! AKU MASIH PUNYA KARTU AS!"

Ustadz Rayan nggak nengok. Cuma jawab, tanpa berhenti jalan: "Silakan. Tapi inget. Kartu As kamu... cuma masa lalu. Kartu As aku... masa depan sama dia."

Aku remes tangan Tadz Rayan. Kenceng.

Di mobil, pas pintu ketutup, Tadz Rayan baru lepas napas. Panjang. Gemeter.

Tangannya masih megang tanganku. Nggak dilepas.

"Tadz..." lirihku. "Tadz tadi... keren banget ... 14 jam perjalanan jauh demi aku."

Ustadz Rayan nengok. Senyum. Capek. "14 jam nggak ada apa-apanya, Zahra. Dibanding... 2 hari liat kamu nangis karena dia."

Aku nyender ke bahunya. Nggak peduli Kang Haris sama Bunda di depan.

Ustadz Rayan kaku. Sedetik. Terus... kepalanya nyender ke kepalaku. Pelan.

Bunda Aisyah di depan bisik-bisik: "Ya Allah... akhirnya. Jarak 0 meter. Di Jakarta pula."

1
hasatsk
setelah di baca terus menerus ternyata ceritanya seru.....💪💪
wanudya dahayu: makasi kak 🙏. lagi nyari ide lagi, biar bisa menuhi syarat kontrak. doain ya kak. 🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Di Dia
tokoh aryanya cpt"di singkirin ...
Titik Sofiah
awal yang menarik ya Thor moga konfliknya nggak trllau berat 😍😍😍
wanudya dahayu: iya kak, semoga suka, mohon dukungannya 😍🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!