Ah, sialan!
Liga berusaha tetap terlihat biasa saja walau kenyataannya perasaannya sangat gugup sekarang. "Aku hanya mengunjunginya saja dan tidak melakukan apapun. Tapi di--"
"Mengunjungi?" Mafia menyela, menatap Liga cukup intens, membuat ucapan Liga terhenti dan berganti anggukan.
"Iya. Aku hanya ingin mengunjunginya saja. Tap--"
"Sejak kapan kamu suka mengujungi tahanan?" sela Mafia lagi yang tanpa diketahui berhasil membuat jantung Liga berdebar kencang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Taurus girls, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4
Dua hari berlalu.
Ruangan yang gelap, sarang laba laba bergelantungan disudut sudut ruangan, bahkan bau amis darah menyeruak diindra penciuman, membuat Liga yang ditugaskan untuk memberi makanan para tahanan, sekuatnya menutup hidungnya dengan dua jarinya supaya bau tidak sedap itu tidak dia hirup.
Kedua mata Liga mengedar melihat kebeberapa sel tahanan yang berisi manusia yang berpenampilan buruk. Tentu saja penampilannya buruk. Secara, mereka disiksa terus terusan tanpa ampun. Bahkan, mereka tidak pernah diizinkan untuk mandi dan pakaian tidak diizinkan ganti. Makanan pun hanya berisi nasi putih campur garam.
Ouhhh, benar benar sungguh tak layak. Tapi, itulah Mafia. Pemuda tampan yang sudah terkenal dimana mana akan kekejamannya.
"Makan...!"
Liga menaruh sepiring nasi berlauk garam itu disetiap sel tahanan yang masing masing sel berisi sepuluh orang. Dan bisa dibayangkan betapa sempitnya didalam sana karena ukuran setiap sel hanya berukuran tiga kali tiga cm.
Tapi disel yang paling ujung sana terlihat sangat berbeda. Satu sel hanya berisikan satu wanita saja. Liga tersenyum sambil mendekat kesana. Membuka gembok sel dan menaruh sepiring nasi yang hanya berlaukan garam diatas tikar kusut.
"Makan,"
Liga lebih masuk lagi kedalam sel, tidak lupa menguncinya supaya si wanita tidak bisa kabur. Membuat si wanita dan si Liga berada didalam satu sel yang sama saat ini.
Wanita yang tidak lain adalah Vair, menatap tajam pada Liga, gerakan tubuhnya terlihat berwaspada. Walaupun Vair tahu jika Liga tidak ada apa apanya dibandingkan Mafia dan dirinya tetapi hati hati itu perlu.
"Mau apa kamu?!" sentak Vair.
Vair membuang muka saat tangan Liga terangkat dan akan menyentuh wajahnya. Liga berdecih saat tangannya hanya mendapat angin lalu karena Vair membuang muka.
"Aku perhatikan, ternyata kamu cantik juga ya. Sayang banget kan kalo wanita cantik kaya kamu malah dianggurrrin aja didalam sel. Hahahaaa..." tawa Liga memenuhi ruangan sel membuat Vair kembang kempis menahan kemarahan.
Ingin rasanya Vair membunuh Liga detik ini juga tapi Vair tidak mau melakukan itu. Misi awalnya hanya ingin menyelamatkan adik kandungnya, itu saja. Tapi pertahanan Vair untuk tidak membunuh Liga gagal ketika tangan besar Liga meremas bo.kongnya.
"Arghhh... Le-lepaskan tanganmu wani-ta jadi jadian!" suara Liga terbata ketika tangan kecil Vair mencekiknya kuat.
Liga benar benar tidak menyangka jika dia akan mendapat serangan tiba tiba dari Vair. Liga pikir Vair tidak akan berani mencekiknya seperti ini. Mengingat begitu mungilnya si wanita yang sedang mencekiknya ini. Tapi ternyata Liga salah, tangan yang terlihat begitu kecil justru bisa membuat hampir mati.
Vair menyeringai sinis melihat wajah Liga yang sudah memerah, terlihat kelabakan dan terlihat hampir kehabisan napas. Dan ini kesempatan emas untuk membuat Liga yang sudah berani melecehkannya mati.
Vair menekan leher Liga semakin kuat, dia tidak peduli jika akan dihukum seberat beratnya. Namun satu hal yang terpenting, Vair sudah berhasil membuat lelaki yang berani melecehkannya meregang nyawa.
Setidaknya jika Vair mati ditangan Mafia. Vair mati dengan tenang. Tidak dihantui dengan rasa dendam pada si otak mesum ini.
Cuih
"Hei...!"
"Apa yang kamu lakukan, hah?!"
"Dia bisa mati..!"
Mendengar suara dari arah lain membuat Vair melepas cekikan dileher Liga. Liga yang sudah tak berdaya pun ambruk kelantai tahanan.
Sedangkan Haru dan Kasim terkejut melihat tangan kanan tuannya tidak sadarkan diri didalam sel tahanan. Mereka tentu bertanya tanya kenapa tuan Liga ada didalam sana. Tetapi ada yang lebih penting dari rasa penasaran dan kebingungannya.
Tuan Mafia. Beliau harus tahu akan kejadian ini.
"Kasim, cepat kamu panggil Tuan Mafia. Beliau harus liat ini, cepat!" Kasim panik dia pasti akan kena imbas dari kejadian disel ini. Astagaaa...
Sebenarnya yang ditugaskan untuk memberi makanan seluruh tahanan adalah Kasim, tetapi diujung tangga sana, Liga datang merebutnya. Kasim sudah berusaha untuk menolak tapi Kasim hanya seorang bawahan jadi dia tidak bisa berbuat banyak. Dan sekarang? Kasim sangat yakin, tuan Mafia pasti akan memarahinya bahkan menghukumnya.
Ck,
Inilah resiko menjadi seorang bawahan.
*
Mafia sedang duduk dikursi taman dengan dua pelayan yang mengipasinya disisi kanan kirinya. Dan kedua tangannya sedang dipijat oleh pelayan dimasing masing tangannya. Sungguh, benar benar sudah terlihat seperti raja yang begitu berpengaruh.
Mafia membuka mata, menatap pelayan yang memijat tangannya dengan ekspresi tidak puas. "Cukup,"
Pelayan-pelayan itu segera berhenti dan mundur, pergi dari sana. Mafia mengambil rokok dari saku jubahnya dan menyalakannya, menghembuskan asap keudara.
Kasim berlari kearahnya, napasnya terengah-engah. "Tuan... Tuan Mafia... ada... ada sesuatu yang terjadi,"
Mafia menatap Kasim. "Ngomong yang jelas!" sentaknya membuat Kasim gemetar.
"Tuan Liga... dia... dia diserang oleh tahanan disel," Kasim memberanikan diri untuk melanjutkan setelah berada tepat dihadapan tuannya.
Mafia mengangkat alisnya, ekspresinya berubah menjadi marah. "Apa?! Siapa yang berani menyerang Liga, hah?!" teriaknya, membuat pelayan yang masih mengipasinya ketakutan.
Kasim menelan ludahnya. "T... tahanan wanita itu, tuan. Vair..." Kasim menunduk takut.
Mafia menghempaskan rokoknya ketanah dan berdiri, matanya berkobar-kobar dengan amarah. "Bawa aku ke sana. Sekarang!"
Mafia melangkah dengan cepat, meninggalkan taman dan menuju kearah penjara bawah tanah. Kasim berlari untuk mengikuti langkahnya, mencoba untuk mengimbangi kecepatan Mafia.
Saat mereka tiba dipenjara, Mafia langsung menuju ke sel Vair. Liga masih terbaring dilantai, tidak sadarkan diri. Mafia menatap Vair dengan garang.
"Apa yang kamu lakukan, Vair?!" teriak Mafia, suaranya menggema diseluruh penjara. "Kamu berani menyerang Liga?! Kamu tahu apa konsekuensinya?!"
Vair menatap Mafia dingin, tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun. "Aku tidak peduli dengan konsekuensinya. Aku hanya ingin membalas atas apa yang dia lakukan padaku."
Mafia tersenyum sinis.
Mafia mengangkat tangan dan memberi isyarat kepada Kasim. "Bawa Vair keruang interogasi. Aku akan mengurusnya sendiri."
Kasim segera mendekati Vair dan membawanya keluar dari sel. Mafia menatap Liga yang masih terbaring dilantai, lalu menoleh kearah Haru.
"Haru, bawa Liga kekamar medis. Pastikan dia selamat,"
Haru segera mendekati Liga dan membawanya keluar dari sel. Mafia menatap Vair yang sedang dibawa keluar.
"Kamu harus membayar untuk ini, Vair,"
Mafia melangkah keruang interogasi, menatap Vair sedang diikat dikursi. Vair menatap Mafia datar.
"Kamu berani menyerang Liga, Vair," kata Mafia tenang, tapi terdengar mengancam. "Kamu tahu apa konsekuensinya?"
Vair tersenyum sinis. "Aku tidak peduli. Aku hanya memberi perhitungan sama orang yang sudah berani melecehkanku!"
Mafia mengangkat alisnya. "Melecehkan? Apa aku nggak salah dengar, Vair? Sahabatku nggak mungkin seperti itu,"
Vair melengos, merasa percuma bicara yang sejujurnya karena Mafia tidak akan percaya padanya. Mafia pasti hanya akan percaya pada si Liga itu.
Mafia mengambil pisau dari meja dan mendekati Vair. "Aku akan membuatmu merasakan apa yang dirasakan sahabatku."
Vair menatap pisau itu datar. "Aku siap," walau dalam hatinya dia berdo'a agar kebenaran cepat terungkap. Bukan dirinya yang harus mendapat ini semua tapi si Liga itu.
Mafia tersenyum sinis, mulai menggerakan pisau itu kearah Vair. Tiba-tiba, suara pintu terbuka dan seseorang masuk kedalam ruangan.
"Tuan Mafia...!"
Mafia menoleh kearah orang itu, alisnya terangkat mengisyaratkan akan tanya.
Haru mendekati Mafia, berbisik ditelinganya. Mafia menatap Vair lalu menoleh kearah Haru.
Mafia meninggalkan ruangan, meninggalkan Vair yang masih diikat dikursi. Haru mendekati Vair dan melepaskan ikatannya, membuat tanya besar dibenak Vair.