NovelToon NovelToon
RATU GEMUK MILIK RAJA BURUK RUPA

RATU GEMUK MILIK RAJA BURUK RUPA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Transmigrasi / Sistem
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Tanya Balik

masih up, cuma jarang!


Morline terlempar ke dalam novel sebagai istri gemuk sang antagonis, kehidupannya seharusnya berhenti di sana namun dia tak hidup mengenaskan sebagai karakter figuran. Morline harus bangkit, mengubah hidupnya lebih baik lagi dan lebih baik lagi.


Cedric kini mulai menyadari bahwa gadis gemuk yang selama ini dia anggap remeh ternyata memiliki rahasia yang luar biasa. perlahan dan tanpa Cedric sadari dia mulai terjerat dalam rencananya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tanya Balik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22. Rencana Edward

22.

Joseph dan Marnin berdiri di kedua sisi Cedric yang menyambut kedatangan kereta kuda.

Suara kaki kuda yang berjalan di atas lantai konblok terdengar seperti ketukan kayu yang ritmis, kemudian kuda itu berhenti saat kusir menarik tali kekangnya.

Gengi melompat dari kudanya untuk membuka pintu kereta kuda, tapi belum sempat dia berjalan mendekat. Seorang pria dengan punggung tegap dan jubah merah berjalan mendahuluinya. Pintu kereta terbuka dari dalam, tangan pria itu terulur ke depan untuk menyambut.

Morline berkedip dua kali saat melihat pria bertopeng perak mengulurkan tangannya padanya, tapi kemudian dia tersenyum manis hingga kedua matanya menyipit. "Lama tak berjumpa yang mulia, apa kabar anda baik?" Tanya Morline sembari menyambut uluran tangan Cedric, dia dengan hati-hati turun dari kereta. "Huuh, perjalanan yang melelahkan sekaligus menyenangkan."

Kemudian Nina dengan Karel turun dari kereta.

Cedric menunduk melihat seorang anak laki-laki memiliki mata dan rambut yang sama seperti Morline. Dari balik topeng, alis tebal pria itu mengkerut.

"Siapa anak ini?" Suara yang teredam topeng menjadi lebih dalam dan serak, membuat auranya seakan diliputi kabur hitam.

"Karel, yang saya ceritakan di surat. Sudah saya bilang, anda jangan terkejut saat melihatnya."

Para pelayan yang ikut menyambut kedatangan mereka mendekatkan wajah, berbisik pelan tentang anak yang ratu muda itu bawa. Memiliki rambut dan mata yang sama, jelas akan menimbulkan gosip panas.

Namun Morline justru tetap tersenyum, menggandeng tangan Cedric masuk ke dalam seolah mengabaikan bisik-bisik pelayan yang memandangnya dengan mata menyipit.

Cedric membawa Morline ke ruang kerjanya,  , Morline sudah menyuruh Nina mengantar Karel ke ruangannya.

"Apa kau tau konsekuensi dari akibat kau membawa anak itu?" Tanya Cedric.

"Tentu saja, pihak yang bersebrangan dengan anda akan memanfaatkan ini untuk menjatuhkan anda."

"Lalu kenapa kau tetap membawa anak itu kemari. Taukah kau, mereka bisa saja membuat ini semakin besar?"

Morline menarik nafas pelan, "yang mulia, anda tak perlu khawatir karena saya sudah memikirkan. Jikapun mereka membuat rumor palsu tentang saya, saya hanya perlu memberi memberi tahu mereka. Coba pikirkan, wanita mana yang melahirkan anak 10 tahun dalam waktu 2 bulan? Itu tidak masuk akal."

Dari balik topengnya, mata semerah darah itu menatap lekat tepat di manik hijau daun muda. Tidak ada keraguan, tidak ada kekhawatiran, justru sikapnya tenang seolah-seolah perbuatannya hari ini tak akan menimbulkan apapun.

Cedric mendengus dan memalingkan wajahnya, dia tahu bahwa rumor buruk akan menyebar cepat dan gadis ini entah terlalu tenang atau bodoh justru tak mengambil tindakan apapun. Kadang Cedric heran isi kepala gadis ini itu apa? Kenapa dia justru bisa bersikap seolah-olah tak akan terjadi sesuatu.

"Berbicara denganmu membuat kepalaku pusing."

"Kalau kepala anda pusing saya sarankan minum teh chamomile, itu ampuh untuk meredakan pusing karena stres."

"Aku tak mau tau, jika rumor atau gosip itu muncul, kau atasi sendiri. Dan anak itu, aku tak mau melihatnya."

"Yang mulia." Morline mendekat, suaranya jauh lebih lembut. "Saya sudah mengatakannya berkali-kali dalam surat agar anda bisa menerima Karel, tapi saya juga tak memaksa anda untuk menerimanya hari ini. Mungkin besok atau lusa, saya harap anda tidak membencinya, itu saja sudah cukup."

Cedric tidak membalasnya, dia hanya memperhatikan wajah Morline yang tampak berbeda. Kulitnya sedikit kecoklatan dan memerah, lalu entah hanya perasaannya saja atau memang benar, gadis ini terlihat lebih kurus dari 2 bulan lalu.

Sebenarnya apa yang terjadi di sana sampai dia kurus begini? Batin Cedric.

"Yang mulia, anda sedang memikirkan apa?"

Kelopak mata Cedric berkedip dua kali, "2 hari lari   ada demonstrasi senjata di pangkalan militer, kau dan aku harus hadir." Sengaja Cedric mengalihkan  pembicaraan tentang rumor.

"Oh, pembuatannya secepat ini? Saya jadi ingin lihat seperti apa jadinya."

"2 hari lagi kau akan tau."

"Saya juga mau menceritakan kondisi di Targus." Lalu Morline mulai menceritakan kondisi sebenarnya di Targus bahwa di sana tidak seburuk yang mereka kira karena menjadi tempat bagi kelompok radikal ekstrimis. Mereka berdiskusi panjang di ruangan itu mengenai daerah Targus.

Morline tertawa rendah, dia mengangkat dagunya tinggi, dengan senyuman lebar yang tampak pongah di mata Cedric gadis itu berkata. "Saya hebat kan? Saya bisa menyelesaikan masalah di Targus selama dua bulan? Puji saya, yang mulia. Puji bahwa saya hebat."

"Sombong sekali." Cedric justru mendengus, di balik topengnya bibirnya meregang tipis. "Kau pergilah istirahat."

"Ah!" Kedua mata Morline melebar, kedua tangannya menutup mulut dengan dramatis. Cedric heran dengan reaksinya. "Anda baru saja menyuruh saya istirahat? Astaga, saya terharu. Anda ternyata seperhatian ini pada saya. Kalau begitu yang mulia, terimakasih saya akan menuruti perintah anda untuk pergi istirahat." Dengan langkah cepat gadis itu pergi dari ruangannya, samasekali tidak terlihat anggun dan berkarisma selayaknya ratu yang Cedric tahu. Justru gadis gemuk itu tampak seperti anak kecil di matanya.

"Benar-benar aneh."

Saat menuju ke ruangannya, Morline mendapat misi baru.

Buat Karel beradaptasi di istana.

Batas waktu: 48 jam/2 hari.

Hadiah: 120 poin

Bonus jika kurang dari 48 jam: mendapat 10 ballpoint.

Melihat hadiah bonusnya hanya 10 ballpoint, Morline meremehkan sistem. Untuk apa 10 ballpoint, di sini masih ada pena bulu untuk menulis, meski ballpoint lebih praktis, tapi itu tidak terlalu berguna.

Di ruangannya, Karel sedang duduk di kursi depan meja. Ketika dirinya membuka pintu, bocah itu langsung berdiri dan menghampiri. Kedua bola matanya bergetar samar dan tangan-tangan kecilnya meremas kain bajunya sendiri hingga terlihat kusut.

Mendadak dirinya sedih, dia berlutut agar tinggi mereka setara. Morline mengelus kepalanya dengan gerakan pelan. "Kau takut?"

Karel awalnya diam tapi dia mengangguk beberapa detik setelahnya.

"Maaf ya karena aku tak bersamamu saat takut, sekarang aku di sini jangan khawatir. Di sini rumahku dan kau juga akan tinggal di sini. Apa kau melihat pria bertopeng perak itu? Dia yang selalu aku ceritakan padamu saat malam lho, kau takut padanya?"

Karel mengangguk lagi.

"Aaah takut ya." Morline tersenyum kaku. "Wajar sih, dia memang tinggi, tidak seperti manusia kebanyakan. Em, untuk saat ini kau akan tinggal di kamar yang sudah aku siapkan."

"Kau juga akan ikut?" Karel bertanya dengan suara rendah.

"Tidak, kita tak bisa tidur bersama lagi. Kau tidur di kamarmu dan aku tidur di kamarku."

Karel tak mengatakan apapun selain menatap Morline dengan mata hijau tuanya. Anak itu seolah memikirkan banyak hal di balik matanya dan Morline tak mau repot menganalisa satu-persatu, yang jelas dia menginginkan anak ini tumbuh menjadi pribadi yang baik.

Maka dari itu, Morline mengajak Karel ke kamar yang sudah dibersihkan oleh pelayan. Kamar itu berada di bangunan sayap kanan, tempatnya tinggalnya, juga dekat dengan kamar Morline agar sewaktu-waktu Morline bisa mengawasinya.

"Nah, ini kamarmu kau akan tinggal di sini." Morline membawa Karel duduk di atas kasur yang dia minta jangan terlalu empuk, tidak menggunakan selimut beludru atau barang mewah lain. 

Morline meminta pelayan untuk tidak memberikan barang-barang mewah pada Karel, dan dia juga meminta jangan perlakukan Karel istimewa selayaknya bangsawan, perlakukan dia sebagai anak kecil pada umumnya karena Morline takut jika dia memperkenalkan kemewahan pada Karel, pikiran bocah itu akan menyimpang sama seperti kisah masa lalunya.

"Kamarnya terlihat sederhana, tapi semua ini aku yang minta khusus untukmu. Kau nyaman di sini?"

Karel menjawab dengan gelengan kepala, wajahnya tampak murung.

Morline segera mengelus kepalanya, lembut dan pelan. "Tidak apa-apa, kau hanya belum beradaptasi." Morline mengambil buku di rak, meski rak itu masih kosong karena Morline perlu memfilter bahan bacaan untuk Karel, tapi ada tiga buku bacaan untuk anak-anak di sana. "Aku dongeng untukmu ya."

Meski tak menjawab, tapi Karel menunggu. Morline membacakan cerita dengan ekspresi dan intonasi yang membuat Karel terhanyut mendengarkan.

Karena Cedric tidak bisa makan malam bersama, Morline memutuskan untuk makan malam sederhana bersama Karel di ruang baca.

Pelayan di minta hanya mengantarkan troli makanan sampai depan pintu dan selebihnya, biar Morline yang urus. Dia membawa troli itu masuk dan berhenti didekat meja. "Karel bisa bantu aku susun piringnya?"

"Ya." Karel berdiri, dia mengambil piring dengan sangat hati-hati lalu melihat Morline meletakkan piring dan gelas ke meja, diapun mengikuti.

Melihat Karel menirunya dengan baik, Morline berharap dia tumbuh menjadi anak yang tak memiliki hati gelap.

"Hebat, Karel membantuku menyusun piring. Terimakasih ya. Sekarang ayo kita makan."

Mereka berdua duduk berhadapan, Karel masih tampak kaku memegang sendok dan Garpu. Morline mengajarinya perlahan dengan penuh kesabaran.

Selama dua hari, Morline menghabiskan sebagai besar waktunya untuk membuat Karel bisa beradaptasi di istana ini, mengenal pelayan dan lingkungan istana, terutama mengenal Cedric.

Kadang ketika malam, Morline akan berdiskusi dengan Cedric di gazebo miliknya. Mereka membicarakan berbagai masalah wilayah dan para pejabat yang semakin hari semakin rakus.

....

2 hari kemudian.

(Sistem)

Misi terselesaikan, anda mendapatkan reward.

120 poin.

Misi berikutnya akan hadir dalam 3 hari.

Morline hanya melihat poinnya dan tersenyum karena dengan poin-poin itu dia bisa membeli barang yang dirinya mau dari sistem.

Bertepatan dengan selesainya misi, hari ini Morline harus berdandan rapih untuk pergi ke pangkalan militer utama karena senjata api akan dipamerkan untuk pertama kali.

Menurut Cedric, sejauh ini tak ada kendala, senjata api yang mereka buat berfungsi normal.

Pagi ini, dengan menggunakan gaun beludru hijau dan rambut hitamnya disanggul, Morline menuruni tangga. Nina dan Chasi menyambutnya, memuji dirinya cantik.

"Terimakasih, kalian tak perlu banyak memuji karena aku tak akan menaikkan gaji."

"Kami memuji dari hati yang mulia."

"Anda keterlaluan menganggap kami penjilat, kami tulus."

"Yaah, aku tau kalian tulus karena kalian dayangku. Ayo pergi, yang mulia raja pasti menunggu."

Cedric sedang berbincang dengan Arnad ketika dia mendengar suara ketukan sepatu yang berat, ketika menoleh mata dibalik topeng itu melebar.

Gadis itu memakai gaun beludru hijau, rambutnya disanggul memperlihatkan lehernya dan dadanya yang penuh. Jika biasanya dia terlihat seperti anak kecil di mata Cedric, kali ini penampilannya membuat gadis itu tampak seperti wanita.

Saat Morline berada di dekatnya, Cedric baru tersadar. "Ayo pergi."

"Ya, kalian tak perlu ikut, jaga Karel. Dan jangan biarkan para pelayan menindas nya atau melayaninya, ingat perlakuan dia seperti anak kecil, jangan mengistimewakannya."

"Baik yang mulia ratu."

Cedric menggandeng tangan Morline, dia menatap wajahnya dengan mata yang melirik ke bawah. "Kau begitu perhatian ya pada anak itu."

Morline mendongak membuat mata mereka saling menatap. "Apa salah? Saya hanya ingin anak itu tumbuh menjadi pria hebat, dan lagi saya sudah mengurus surat adopsinya, anda jangan melarang saya."

"Kau itu aneh dan menyebalkan." Kata Cedric dengan nada memendam kesal. "Kau tau bahwa membawa anak itu ke sini akan menimbulkan rumor, tapi kau keras kepala ingin mengadopsinya? Disaat yang bersamaan kau juga mempermalukanku. Kau tau?"

"Yaah sebenarnya saya juga sadar akan hal itu, sih. Tapi saya tak bisa meninggalkan dia di luar pengawasan saya, Karel sudang mempercayai saya dan saya tak mungkin mengkhianati kepercayaannya." Mereka berjalan ke kereta kuda sambil mengobrol, di sebelah Cedric Arnad berusaha untuk tidak mendengar.

"Anda tahu bukan latar belakang anak itu, saya sudah menuliskan di surat. Jadi biarkan saya menjaga kepercayaannya dengan merawatnya hingga dia cukup umur untuk mengerti, ya yang mulia?"

"Kau...."Cedric menghela nafas, dia membantu gadis itu naik ke kereta kemudian masuk. "Benar-benar membuat kepalaku pusing."

Di pangkalan militer.

Saat mereka sampai di sana, sudah banyak orang yang hadir. Cedric keluar dan membantu Morline turun, pemandangan itu dilihat oleh semua orang, sebagian bangsawan yang tak menyukai Morline menatap keharmonisan itu tak suka, para Nyonya bangsawan berbisik tentang rumor yang mereka dengar dua hari lalu.

Cedric berjalan berdampingan dengan Morline, gadis itu melempar senyum saat matanya bertatapan dengan nyonya bangsawan yang dia kenal.

Mereka membungkuk memberi salam penghormatan padan Cedric, pria dengan topeng perak yang mengkilat di bawah sinar mentari pagi yang terik meminta mereka untuk duduk.

Cedric duduk di kursi paling depan bersama Morline, di samping pria itu ada Arnad dan di samping Morline ada Edward yang turut hadir, pria itu duduk tegak dengan tatapan mata kedepan tanpa terlihat sedikipun tertarik pada Morline.

Awan putih yang tebal melayang pelan di atas mereka, sejenak menutupi hangatnya sinar mentari yang menerpa lapangan itu, untuk sesaat suasana menjadi teduh, semilir angin dari utara menyejukkan mereka. Di ujung lapangan, para prajurit sudah bersiap dengan senjata api di meja, sengaja tidak di susun untuk menunjukkannya pada semua orang bagaimana cara kerja senjata itu.

Para nyonya mengipaskan wajah mereka yang tampak memerah karena panas, berbisik pelan karena merasa tak nyaman, pria-pria bangsawan hanya bisa menahan diri di saat panas kembali menyorot mereka.

Cedric sedang berdiskusi dengan Arnad mengenai persiapan demonstrasi senjata ini, sementara Morline fokus menatap para prajurit yang sedang bersiap, terlihat tak sabar melihat senjata itu digunakan. Edward di sisinya diam-diam melirik, tersenyum tipis lalu menatap kedepan kembali.

Ketika komandan berteriak, ke empat prajurit itu berdiri tegap. Sang komandan membawa senjata api yang sudah di rakit dan mendekatkannya pada mereka, menjelaskan betapa hebatnya senjata itu jika diproduksi masal untuk kepentingan negara.

Cedric yang pertama kali memegang senjata itu, memeprhatikan setiap strukturnya, menyamakannya dengan gambar dalam buku. Lalu menyerahkannya pada Morline, Morline hanya memeriksa bahwa senjata itu sesuai.

"Boleh aku pegang?" Edward meminta dengan suara berat yang lembut.

"Silahkan." Morline membrikannya.

Edward menatap senjata itu, dia belum pernah melihatnya tapi mendengar penjelasan sang komandan Edward merasa jika senjata ini cukup destruktif.

Komandan berteriak lagi. "BERSIAP SEMUA!" 4 prajurit di sana tampak dalam posisi siap, ketika komandan berteriak "MULAI!"

Ke empat prajurit itu dengan gerakan cepat merakit senjata hingga suara peraduan logan dan besi itu memenuhi lapangan. Edward dan Cedric memperhatikan dengan baik, sementara Morline membandingkan gerakan 4 prajurit itu dengan prajurit modern yang jauh lebih cepat.

Satu persatu prajurit menyelesaikan rakitan senjata laras panjang itu, memegangnya di pundak dan menatap lurus pada target putih berjarak 15 meter.

"TEMBAK!" Instruksi sang komandan.

seketika suara ledakan nyaring menggema, sebagian orang menutup kuping mereka, tampak terkejut dan takut. Morline hanya memejamkan mata dan menutup kupingnya karena terkeju. Edward dan Cedric hanya mengerutkan wajah mereka.

Tembakan itu berulang hingga  peluru di habis, kemudian sang komandan menjelaskan kembali tentang senjata itu pada para bangsawan dan pejabat. Cedric tersenyum bangga di balik topengnya.

Berbeda dengan Edward, pria itu merasa jika senjata yang diciptakan sungguh sangat membunuh. Jika benar peluru kecil itu bisa menembus kepala manusia maka senjata itu bisa sangat berbahaya.

"Aku akan mendanai  produksi senjata itu."Kata Edward yang membuat suasana hening, semua orang menatapnya termasuk Morline, alis gadis itu mengkerut. "prokduksi senjata ini pasti membutuhkan biaya besar, aku akan menjadi donatur utama." Katanya.

Edward kembali bicara, "dan aku juga ingin membeli hak eksklusif untuk mengatur siapa saja yang akan menggunakan senjata ini."

Morline berdiri, wajahnya tampak tak berhasabat. "Pangeran apa anda berniat mengambil keuntungan dari sini?" Dengan gamblang Morline menuduh Edward, mata hijau daun mudanya menatap lurus pada manik gelap pria itu.

Dengan sengaja, Edward melangkah mendekat, menundukkan wajahnya hingga dia bisa mencium aroma vanilla yang sangan Edward kenali. "Oh apakah ratu muda ini tidak setuju? Kalupun saya mengambil keuntungan tak mungkin saya membeli hak ekslusifi tu, saya minta produksi massal dan jual belikan senjata itu." Bisiknya di telinga Morline, tubuh gadis itu menegang sesaat.

Para bangsawan yang menonton mengerutkan alis mereka, mempertanyakan apa isi percakapan kedua orang di sana.

Cedric yang miliki pendengaran tajam tentu saja mengetahuinya, dari balik topeng peraknya yang mengkilap Cedric menatap dingin pada adik tirinya itu.

senjata itu memang membutuhkan banyak biaya untuk memproduksi besar-besarnya sementara anggaran meraka tak cukup untuk itu. Mendengar Edward dengan suka rela menawarkan diri untuk menjadi donatur, sebenarnya itu tawaran menarik bagi Cedric.

maka dari itu, Cedric membawa edward dan morline ke tenda tertutup agar para bangsawan rubah tak mendengar percakapan mereka.

"Kak," ketika edward memanggilnya dengan sebutan itu, jelas dia sedang mempesisikan dirinya sebagai saudara Cedric. "sangat disayangkan jika kakak menolak tawaranku, bagaimanapun produksi masal bisa menolong negara ini dari jajahan kerajaan lain."

"Soal hak eksklusif, kau serius hanya menginginkan itu?"

"Tentu saja."

Morline di tengah-tengah mereka tak setuju, dia takut jika edward di berikan hak ekslusif maka dia akan memonopoli senjata itu. "tunggu dulu, saya tak yakin pangeran edward tak mengambil keuntungan dari ini. setiap orang pasti menginginkan keuntungan."

Edward menatap Morline dengan sorot mata yang dalam, dia tersenyum. "memang, saya juga memikirkan keuntungan, keuntungan untuk negara ini. JIka produksi senjata ini tak di awasi maka senjata semenghancurkan ini akan menjadi pedang bermata ganda untuk kita, jadi saya di sini bertugas mengawasi penyebarannya dan siapa saja tangan-tangan yang boleg memegang senjata ini."

Morline tak membalas, tapi dia masih takut jika Edward sengaja membeli hak eksklusif itu agar bisa membekali kelompoknya dengan senjata itu.

Berbeda dari tuduhan Morline pada dirinya, sebenarnya Edward sudah kehilangan minat untuk menggulingkan Cedric ketika 3 pilarnya terbunuh, dan hari ini ketika dia melihat senjata api yang didemonstrasikan, Edward tak bisa menyembuyikan rasa terpukau sekaligus rasa takutnya.

Bagaimanapun senjata api ini adalah senjata yang langsung membunuh orang, efeknya bukan luka kecil atau hanya membuat lawan pingsan. Jika mereka mempunya senjata seperti ini, Edward takut senjata ini di gunakan oleh orang-orang yang tak bertanggungjawab. Jadi sebelum para bangsawan menawarkan diri untuk menjadikan senjata ini komersial, Edward tanpa pikir panjang mengajukan diri membeli hak ekslusif itu.

Namun masalahnya, ratu kecil ini sepertinya tak setuju atas idenya. Sungguh menggemaskan, Edward rasanya ingin melihat isi kepalanya untuk mengetahui apa yang gadis ini pikirkan.

Memikirkan tawaran Edward, sebenarnya Cedric cukup tertarik apalagi ketika dirinya sadar bahwa kas negara tidak cukup untuk membiayai produksi masal senjata ini.

Dia juga setuju Edward menjadi pengawas produksi senjata agar senjata ini tak disalah gunakan oleh pihak tak bertanggungjawab.

"Baiklah, aku setuju."

Edward tersenyum senang. Morline dibelakang, melotot pada Cedric. Sementara pria itu tidak tahu apa yang sebenarnya Morline khawatirkan.

Morline mendengus kecil, bibirnya mengerucut lalu melangkah dengan langkah lebar keluar tenda.

Menyadari suasana hati MOrline berubah, Cedric pergi menyusul. Edward menatap mereka yang menghilang dibalik pintu tenda, manik gelapnya semakin gelap di bawah tenda itu.

1
Uthie
Wahhh... ternyata Edy baik juga 😍👍👍
Uthie
Selalu setiap menanti kelanjutannya kembali 👍👍👍👍😍
Uthie
ditunggu Lagii 👍👍👍
kiu kiu
lanjut thor..jgn terlalu lama updatenya...
kiu kiu
kpn upnya thor
Tanya Balik
guys aku nulis tiap bab-nya minimal 2000 kata, banyak lho itu. Jadi maklum aja ya lama up-nya. 🙏🙏😄
kiu kiu
morline sangat baik terhadap karel.suatu saat karel akan tumbuh besar dan akan menjadi pelindung utk morlin...cerita ini mengisahkan kasih sayang ibu dan anak.tp berbeda dg apa yg di alami morline.yg sudah menganggapnya keluarga.
Uthie
lagiiii 🤩🔥🔥
kiu kiu
jgn terlalu lama updatenya thor...ak penasaran dg gadis gemuk ini.apa yg akan dia lakukan di daerah targus itu. apa lagi eddy selalu mengawasi.
Uthie
Ditunggu lagiiii 🔥🔥🔥
Uthie
Lanjutttt lagiii...
setia menunggu up berikut nya 😁👍
kiu kiu
lanjut thor...updatenya jgn jarang jarang.
Uthie
Di tunggu lagiii aksi nyata dari Ratu Morline 😍👍

lanjuuttttt lagiiii 💪💞
kiu kiu
masih update nggk thor...
Tanya Balik: masih, tapi up-nya memang jarang2 di tunggu aja ya😄🙏
total 1 replies
Uthie
Wahhhh.... lagi seru-serunya baca soal Morline... malah udahan aja 🤩🤩

Jangan lama-lama up nya lagiiii yaaa Thor 😘🤗🙏
Uthie
Morline ratu yg baik 👍👍😇
Uthie
Sukkkaaa ceritanya 👍👍👍👍👍
Uthie
Sukkkkaaa ceritanya 👍👍👍👍👍👍
lanjut lagiiii 👍👍👍😍
Uthie
Wahhh... ada yg kesengsem sama Morline 😂👍
Uthie
seruuu 👍😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!