Di puncak keabadian, saat semua makhluk tunduk pada namanya… dia justru memilih turun.
Seorang Immortal yang telah menembus batas ranah, mencapai puncak keabadian, bahkan secara tak langsung menjadi penjaga keseimbangan semesta, tiba-tiba membuat pengumuman yang mengguncang seluruh alam.
“Aku pensiun.”
Istana Surga terdiam. Para dewa tercengang. Para raja iblis waspada. Dunia fana gemetar—bukan karena perang, melainkan karena satu kenyataan yang tak masuk akal:
sosok yang selama ini menjaga garis takdir… memilih pergi.
Bukan karena kalah.
Bukan karena terluka.
Namun karena… bosan.
Ribuan tahun berlalu dalam siklus yang sama: menekan kekacauan, mengadili pelanggar langit, menutup retakan dimensi, mengulang hari-hari tanpa rasa. Hidup abadi yang sempurna justru terasa seperti penjara paling sunyi.
Maka sang Immortal turun ke dunia, meninggalkan singgasana langit, dan memilih sesuatu yang dianggap remeh oleh para dewa:
Membuka sebuah restoran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Radapedaxa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 – Nama yang Mengguncang, Pikiran yang Menyimpang
Ruangan itu kembali sunyi.
Namun kali ini, bukan karena ketegangan seperti sebelumnya—melainkan karena kebingungan yang benar-benar nyata.
Lu Qiang berdiri terpaku.
Mulutnya sedikit terbuka, namun tidak ada kata yang keluar.
Tatapannya tertuju pada Zhao, mencoba mencari tanda-tanda… apa pun—lelucon, sindiran, atau mungkin niat tersembunyi.
Namun tidak ada.
Wajah Zhao benar-benar… bingung.
Bukan pura-pura.
Bukan dibuat-buat.
Melainkan kebingungan murni, seperti seseorang yang baru saja mendengar cerita absurd untuk pertama kalinya.
Tidak mungkin…
Lu Qiang menelan ludah.
Ia ingin tertawa dan menganggap ini hanya candaan. Bahwa Zhao sedang mengujinya, atau mungkin sengaja berpura-pura bodoh.
Namun—
Melihat ekspresi itu…
Ia tidak bisa.
“Anda…” suaranya ragu, bahkan terdengar sedikit serak, “sungguh tidak tahu semua itu, tuan?”
Zhao menggeleng pelan.
“Aku baru mendengarnya darimu.”
Sederhana.
Datar.
Tanpa beban.
Namun—
Kalimat itu seperti petir yang menyambar kepala Lu Qiang.
Ia tertegun.
Benar-benar tertegun.
Beberapa detik ia hanya bisa menatap Zhao, seolah mencoba memastikan bahwa dunia ini masih masuk akal.
Lalu ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan dirinya sendiri.
“Bagaimana… mungkin…” gumamnya pelan, lalu menatap Zhao lagi, kali ini dengan campuran heran.
“Bagaimana anda tidak tahu tentang cerita menyeramkan yang telah diketahui seluruh benua Tianhuang?”
Zhao tidak menjawab.
Ia hanya menyandarkan tubuhnya, memberi isyarat agar Lu Qiang melanjutkan.
Dan Lu Qiang pun berbicara.
“12 pilar iblis… bukan sekadar kelompok kultivator sesat,” katanya perlahan. “Mereka adalah eksistensi gelap… yang bahkan keberadaannya saja sudah cukup membuat banyak sekte besar memilih diam.”
Nada suaranya berubah.
Lebih dalam.
Lebih berat.
“Bahkan kaisar sendiri… tidak berani mengusik ketenangan mereka.”
Zhao mengangkat sedikit alisnya.
Namun tidak menyela.
“Para kultivator yang sudah mencapai puncak ranah di dunia ini…” lanjut Lu Qiang, “…juga ragu untuk bergerak.”
Ia mengepalkan tangannya.
“Kalaupun mereka ingin menyerang, mereka harus memikirkan matang-matang.”
Ia menatap Zhao.
“Karena jika salah satu langkah saja salah…”
Ia berhenti.
“…benua ini bisa tamat.”
Kata-kata itu jatuh seperti batu besar.
Berat.
Dingin.
Namun Zhao tetap diam.
Matanya tenang, mendengarkan setiap detail.
Melihat itu, Lu Qiang menarik napas lagi, lalu melanjutkan dengan nada yang sedikit lebih rendah, seolah takut didengar sesuatu yang tak terlihat.
“Bahkan… ada rumor…”
Zhao sedikit condong ke depan.
“…bahwa 12 pilar iblis adalah bawahan langsung dari raja iblis dari dunia atas.”
Ruangan itu seakan membeku.
Angin yang tadinya samar berhembus kini terasa berhenti.
“…yang turun ke dunia mortal ini… untuk menguasainya.”
Zhao mengerutkan dahi.
Namun bukan karena takut.
Melainkan—
Bingung.
12 pilar adalah bawahan raja iblis? batinnya.
Ia menatap kosong ke meja di depannya.
Raja iblis yang mana yang punya bawahan seperti mereka?
Pikirannya mulai berputar.
Cepat.
Analitis.
Namun juga… agak nyeleneh.
Aku baru tahu ada raja iblis yang punya bawahan dengan panggilan narsis seperti itu…
Alisnya sedikit berkedut.
“12 pilar”? Serius? Kenapa tidak sekalian “12 tiang penyangga dunia” saja…
Ia menghela napas kecil.
Dalam pikirannya, daftar nama-nama eksistensi dari dunia atas mulai bermunculan satu per satu.
Namun—
Tidak ada yang cocok.
Perasaan… selain Archduke Demon dan Hell Knight… tidak ada yang lain…
Ia menyipitkan mata.
Mereka juga tidak akan memakai nama seaneh itu…
Sementara itu—
Lu Qiang yang terus memperhatikan ekspresi Zhao justru salah paham.
Dari sudut pandangnya…
Zhao terlihat diam, merenung, dan sedikit mengernyit.
Dia… pasti terkejut…
Lu Qiang menarik napas, lalu berbicara dengan nada yang lebih lembut.
“Anda tidak perlu khawatir, tuan.”
Zhao sedikit mengangkat kepala.
“Hm?”
“Untuk saat ini… 12 pilar iblis tidak akan muncul ke dataran ini,” lanjut Lu Qiang, mencoba menenangkan. “Mereka tidak ingin menimbulkan perang besar yang justru merugikan pihak mereka sendiri.”
Zhao hanya mengangguk samar.
Namun pikirannya masih melayang.
“Dan meskipun kultus pemuja mereka tetap bergerak,” tambah Lu Qiang, “aliansi murim ortodoks juga terus menekan kejahatan mereka.”
Ia berhenti sejenak.
“Selama keseimbangan ini masih ada… kita masih aman.”
Namun—
Zhao tidak benar-benar mendengar bagian akhir itu.
Pikirannya masih terjebak di satu hal.
Raja iblis yang mana…
Ia mengetuk meja pelan.
Satu kali.
Dua kali.
Lalu—
Ia mengangkat kepala.
“Apakah kau tahu nama para pilar iblis ini?”
Pertanyaan itu membuat Lu Qiang terdiam.
Wajahnya berubah sedikit canggung.
“Aku… hanya tahu satu nama, tuan,” jawabnya pelan. “Maafkan aku.”
Zhao mengangguk.
“Tidak masalah. Katakan.”
Lu Qiang menarik napas dalam-dalam.
Entah kenapa, menyebut nama itu saja membuat tenggorokannya terasa kering.
“Pilar iblis yang dilayani oleh Mad Dog dan kultusnya adalah…”
Ia berhenti.
Detik itu terasa lebih panjang dari biasanya.
“…Hu Mo.”
Sunyi.
Benar-benar sunyi.
Zhao berkedip.
Sekali.
Dua kali.
Lalu—
“Hu Mo?”
Nada suaranya… datar.
Namun ekspresinya—
Aneh.
Ia memiringkan kepala.
“Namanya jelek sekali.”
“…?”
Lu Qiang membeku.
“Serius,” lanjut Zhao tanpa beban. “Kau yakin dia salah satu bawahan langsung raja iblis?”
Ia bersandar santai.
“Bukan iblis nyasar yang kebetulan kuat saja?”
…
Otak Lu Qiang seolah berhenti bekerja.
Beberapa bandit di belakangnya juga ikut terpaku.
Angin berhembus pelan dari jendela yang setengah terbuka.
Dan entah kenapa—
Suasana yang tadi mencekam…
Berubah jadi… canggung.
Sangat canggung.
Lu Qiang berkedip.
“Tu—tuan…” suaranya gemetar, bukan karena takut, tapi karena bingung harus bereaksi bagaimana. “Itu… itu adalah nama yang ditakuti di seluruh wilayah utara…”
Zhao mengangkat alis.
“Ah yang benerrr?”
“Sa—sangat serius!”
Zhao mengangguk pelan.
Namun ekspresinya tetap sama.
Tidak ada rasa kagum.
Tidak ada rasa takut.
Yang ada hanya… sedikit rasa tidak puas.
“Hm…”
Ia menyilangkan tangan.
“Namanya tidak punya aura.”
“…?”
“Kau bayangkan,” lanjut Zhao, kini sedikit bersemangat, “kalau aku dengar ‘Hu Mo’, reaksiku bukan takut.”
Ia menunjuk kepalanya sendiri.
“Tapi mikir… ini siapa? Penjual tahu goreng?”
“…!!”
Beberapa bandit langsung menutup mulut mereka.
Menahan tawa.
Lu Qiang hampir tersedak napasnya sendiri.
“Tu—tuan! Itu tidak sopan!”
Zhao mengangkat bahu.
“Aku hanya jujur.”
Ia menghela napas kecil.
“Kalau memang dia bawahan raja iblis, setidaknya punya nama yang lebih… mengintimidasi.”
Ia menatap ke langit-langit, berpikir.
“Seperti… ‘Penguasa Neraka Pembantai Langit’ atau semacamnya.”
“…itu terlalu panjang, tuan,” gumam salah satu bandit tanpa sadar.
Zhao langsung menoleh.
“Ya juga.”
Ia mengangguk setuju.
“Baiklah, kita pendekkan. ‘Pembantai Langit’ saja.”
Lu Qiang menutup wajahnya.
Ia tidak tahu harus menangis atau tertawa.
Di satu sisi—
Ia baru saja menceritakan tentang eksistensi yang bahkan kaisar pun tidak berani sentuh.
Di sisi lain—
Orang di depannya malah mengkritik… nama mereka.
Namun—
Di balik semua itu…
Ada sesuatu yang perlahan ia sadari.
Zhao tidak takut.
Bukan karena tidak tahu.
Tapi…
Karena ia benar-benar tidak menganggapnya sesuatu yang besar.
Kesadaran itu membuat jantung Lu Qiang berdegup lebih cepat.
Ia menatap Zhao dengan ekspresi baru.
Bukan lagi sekadar hormat.
Tapi…
Kagum.
Dan sedikit… ngeri.
Sementara itu, Zhao sendiri masih tenggelam dalam pikirannya.
Hu Mo…ya?
Seriusan dia dan kawan kawannya bawahan raja iblis yang mana anjir!??
Ia mengusap dagunya kaku.