Takdir membawa seorang gadis yang polos harus mengorbankan masa mudanya demi kesembuhan sang nenek.
Tawaran dari majikan tempat ia bekerja sangat menggoda. Dengan berbagi pertimbangan gadis itu menyetujui tawaran majikanya.
"Lahirkan seorang cucu buat saya."
"Cucu, bagaiman caranya nyonya?" tanya gadis yang bernama Laras.
"Meniakh dengan putra saya."
"Tapi tuan muda bukanya sudah punya istri nyonya, harusnya yang melahirkan seirang anak itu istrinya." sanggah Laras.
"Kalau dia mau saya tidak akan menawari kamu."
Laras yang sangat membutuhkan uang untuk biaya pengobatan neneknya menandatangi kontrak dari majikanya.
Apakah hidup Lars akan bahagia atau sebaliknya.
Di tunggu komentar dari kk² semua😘😘🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ima susanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
"Ibu, aku mau kekantor tuan." ujar Laras.
"Ngapain nona kesana?" tanya bibik.
"Aku mau anter makan siang buat tuan."
"Baik, kalau gitu saya suruh pelayan siapkan. " ujar bin Siti.
"Ga usah bik, biar aku yang masuk sendiri." ini Siti tak bisa melarang keinginan Laras, bibik hanya bisa mengawasi bosnya memasak. Beberapa menu sudh siap di oleh Laras dan sudah di susun untuk di antar ke kantor suaminya.
"Bik, aku mau siap - siap dulu." Laras bergegas kekamar untuk bersih - bersih dan memakai baju terbaiknya agar sedap dipandang.
Dafa sangat bahagia dengan kedatangan istri dirinya itu. Dafa tersenyum sambil memperhatikan istrinya menata makanan di meja.
"Banyak amat, ini semua kamu yang masak?" tanya Dafa merasa takjub dengan menu yang istrinya bawakan. Apalagi ini semua adalah hasil masukannya sendiri.
"Hmmm....." angguk Laras.
"Tapi ini hanya menu kampung, tidak semewah makana yang biasa tuan makan. Moga cocok di lidah tian." ucap Laras sambil tersenyum manis.
"Kaya enak, udah ga sabar pengen menyicipinya." air liur Dafa terasa subjektif meliaht makanan yang menggugah seleranya.
"Tuan mau makan sekarang?" tanya Laras.
"Aku maunya makan kamu dulu, boleh ga?" goda Dafa.
"Tapi saya lapar tuan, dedeknya juga lapar." ucap Laras malu - malu.
"Baiklah kalau begitu, tapi aku maunya makan di suapin ya." rengek Dafa seperti anak kecil.
Laras mengambil nasi dan beberapa lauk yang ia bawa meletakan di piring lalu menyerahkan pada Dafa.
"Lah, kan aku maunya di suapin ?" protes Dafa.
"Tuan aja yang suapain aku. Aa...kkk." Laras membuka mulutnya menunggu suapan dari suaminya. Dafa yang kesal terpaksa mengikuti kemuan istrinya. Mereka berdua makan satu piring dan tak terasa makanan yang di bawa Laras habis tak bersisa.
"Alhamdulillah, kenyang." ucap Laras yang telah selesai merapikan kotak bekal yang kosong kembali ke tempatnya.
"Kamu tunggu, saya di sini. Saya ada meeting sebentar. Bik temanin Laras selama saya meeting." rumah Dafa lalu berlalu bersama asistennya.
Laras susuk di sofa di temanin bik Siti. Mereka ngobrol agar tak bosan menunggu.
"Bik, wanita hamil itu kalau banyak keinginannya wajar ga sih?" tanya Laras iseng.
"Wajar sih, non. Apalagi nona kalau meminta sesuatu pada tahun pasti akan di penuhi. Tuan muda itu sangat kaya, jadi permintaan nina yang kecil tidka akan mengurangi hartanya." uajr bik Siti lembut.
"Tapi aku takut ibu?"
"Takut kenapa, non?" tanya bibik.
"Aku nanti tak mau hidup selalu bergantung pada tuan, aku takut nanti tidak siap tanpa dia saat kami harus berpisah." Laras mencoba tersenyum tapi di senyumnya nampak ada luka. Bik Siti yang mendengarnya merasa turut merasakan apa yang Laras rasakan.
Keduanya nampak asik ngobrol tentang banyak hal mulai dari yang bis buat tertawa hingga cerita yang menyedihkan.
Obrolan kedua terhenti saat pintu terbuka. Laras dan bibik reflek memutar kepala mereka melihat kearah pintu siapa yang ada di sana nantinya.
"Eh, ada babu ternyata di sini." sindir Mila sarkas.
"Nyonya tolong perkataannya di jaga." ini Siti berdiri sebagai tameng bagi Laras.
"Geser." Mila mngibaskan tanganya agar Laras pindah duduknya.
"Nona Laras tetap disana. " perintah Bik Siti.
"Maaf nyonya status kalian berdua sama."
"Kata siapa? dia itu hanya istri siri sedangkan aku ini adalah istri yang sah secara agama dan negara." ucap Mila membagaakan statusnya.
"Saman saja nyonya, mau istri sah ataupun siri sama - sama istri tuan muda." tegas buk Siti membuat Mila makin geram.
"Dasar jongos gatau diri, kamu berani ngomong itu sama saya. Kamu tau status kamu, hanya jongos rendahan sama seperti babu sialan ini." hina Mila denagn tatapan kebencian.
"Jangan emosi nyonya, ingat tuan muda pasti akan sangat marah jika tau nyonya menekan nona Laras." perkataan ini Siti menyadarkan Mila dan seketika nyalinya mendadak ciut. Mila menatap tajam istri siri suaminya dan kebetulan Laras juga tengah menatap dirinya. Apa yang akan dilakukan Mila selanjutnya?
...****************...
Assalamualaikum kk
Di tunggu saran dan masukannya serat jangan lupa tinggalkan jejak berupa like dan komen serta vote yang banyak biar thor semakin semangat untuk melanjutkannya bab berikutnya 💪😘🙏🙏