Setelah menikah, Anin banyak menemukan banyak hal yang janggal di rumah mertua nya. Anin sering mendengar ibu mertua nya menangis dan dia juga sering melihat tubuh ibu mertua nya di penuhi oleh lebam.
Hingga suatu hari Anin melihat dengan mata kepala nya sendiri ayah mertua nya sedang melakukan hubungan terlarang dengan ipar nya. Anin bertekad untuk membongkar semua kebusukan mereka di depan semua orang, dan membuat ayah mertua nya dan juga ipar nya mendapat kan hukuman atas perbuatan mereka.
Ikuti kisah kisah selengkap nya di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
05
Anin menyiapkan makan malam untuk semua orang setelah selesai sholat magrib, bu Ela juga ikut membantu Anin menyiapkan hidangan makan malam.
"Bapak kemana bu? Kok aku gak lihat sejak tadi!" Anin bertanya pada ibu mertua nya.
"Ada tuh di luar, baru pulang!" Jawab bu Ela.
"Baru pulang dari mana bu?" Tanya Anin dengan heran.
"Dari kebun, sekarang panggil kan Dirga kita makan malam!" Bu Ela terkesan mengalihkan pembicaraan agar Anin tidak banyak bertanya lagi.
"Baik bu!" Anin pun segera melangkah kan kaki nya menuju ke kamar nya, saat ini sang suami berada di kamar mereka.
"Mas, makan malam nya sudah siap. Ayo kota makan malam, sudah di tungguin sala ibu!" Anin berkata pada suami nya.
"Iya, ayo dek!" Dirga menggandeng tangan sang istri menuju ke meja makan.
Ketika tiba di meja makan, Anin melihat pak Johan sudah duduk di sana. Bu Ela sedang sibuk melayani suami nya. Anin dan Dirga segera mengambil tempat duduk, dengan sigap Anin melayani sang suami sama seperti ibu mertua nya.
Mereka makan malam dalam diam, tidak ada suara sama sekali. Yang terdengar hanya lah dentingan sendok dan piring yang saling beradu.
"Kalian sudah makan rupa nya!" Tiba - tiba dari arah ruang keluarga muncul Tika dan dia membuat kaget semua orang.
"Iya nak, ayo makan bersama!" Bu Ela pun menawarkan pada menantu nya itu untuk ikut makan bersama.
"Gak bu, aku makan di rumah saja sama anak - anak dan suami ku. Aku bawa pulang aja deh!" Tika berkata sambil memasuk kan berbagai lauk pauk ke dalam sebuah piring hingga penuh dan menggunung.
"Mbak, kami belum selesai makan, jangan di bawa semua!" Anin mulai kesal dengan tingkah kakak ipar nya tersebut.
"Emang ini semua punya kamu? Aku minta sama ibu, bukan sama kamu!" Jawab Tika dengan sewot dan ketus.
"Mbak, memang nya mbak tidak masak ya di rumah? Hingga untuk makan malam suami dan anak - anak mbak harus mengambil semua nya dari sini?" Dirga bertanya pada istri kakak nya tersebut.
"Dirga, udah nak biar kan saja!" Bu Ela menengahi perdebatan antara anak dan menantu nya.
"Dirga, dia kakak ipar mu, jangan kurang ajar kamu!" Pak Johan memarahi Dirga.
"Pak, mas Atar udah bekerja keras dan dia mampu memenuhi semua kebutuhan anak dan istri nya, bahkan lebih dari cukup. Kenapa mbak Tika harus mengambil semua nya dari sini setiap hari!" Dirga sudah mulai tersulut emosi dengan kelakuan kakak ipar nya.
"Kalian itu bersaudara, apa salah nya saling membantu!" Pak Johan membela Tika di hadapan anak dan istri nya.
"Tidak seperti bapak, apakah bapak pernah memberikan nafkah pada ibu? Apakah bapak perduli dengan semua kebutuhan di rumah ini?" Dirga sudah tidak mampu lagi menahan emosi nya.
"Sudah, sudah nak. Biar kan saja. Tika bawa semua yang kau ingin kan dan pergi dari sini!" Bu Ela menenangkan Dirga dan mengusir Tika dari sana.
"Kamu semakin kurang ajar Dirga, aku ini bapak mu!" Ujar Pak Johan sambil menggebrak meja makan dengan keras.
Seketika makan malam itu pun terhenti, sementara orang yang menyebabkan kekacauan itu sudah pergi dengan membawa semua masakan itu ke rumah nya.
"Sudah pak, sudah. Tidak baik bertengkar di depan makanan!" Bu Ela menenangkan suami nya.
"Aku sudah tidak bernafsu untuk makan lagi, aku makan di rumah Atar saja dan tolong nasihati putra mu agar bersikap sopan terhadap bapak nya!" Pak Johan pun pergi meninggal kan meja makan meninggal kan anak, istri, dan juga menantu nya.
Anin cukup terkejut dengan apa yang di lihat nya barusan, makan malam keluarga ini harus kacau karena kedatangan istri dari kakak pertama nya Dirga. Anin tidak mengerti sebenar nya apa yang terjadi di dalam keluarga ini.
"Ibu ke kamar dulu nak!" Dengan suara lemah bu Ela pun ikut meninggal kan meja makan.
Anin masih terpaku di tempat duduk nya, entah kenapa dia merasa ada yang tidak beres dengan keluarga suami nya. Dirga pun tampak terpekur di meja makan dan tidak berniat untuk menerus kan makan malam mereka.
"Mas ke kamar dulu ya dek!" Dirga pamit pada istri nya.
"Iya mas!" Jawab Anin lemah sambil mengangguk kan kepala nya.
Kini tinggal lah Anin sendiri di meja makan, tidak ada yang menyelesaikan makan malam mereka malam ini. Anin pun bergegas memberes kan meja makan, dia lalu mencuci semua peralatan makan yang kotor. Setelah semua nya selesai, Anin menyusul suami nya ke kamar.
Anin berhenti sejenak ketika dia melewati kamar mertua nya, di lihat nya pintu kamar itu tertutup rapat. Anin berniat untuk mengetuk nya dan menanyakan keadaan ibu mertua nya, tapi mendadak di urung kan niat nya.
'Ah, sebaik nya aku bertanya pada mas Dirga saja!' Batin Anin di dalam hati.
Anin lalu bergegas menyusul suami nya ke dalam kamar, di lihat nya Dirga sedang memainkan ponsel nya sambil bersandar di sandaran tenpat tidur.
"Mas,,,!" Panggil Anin lembut dan dia duduk di samping suami nya.
"Iya sayang!" Dirga pun meletakkan ponsel nya di atas nakas dan dia melihat ke arah istri nya.
"Maaf kan aku ya, karena aku kalian jadi bertengkar!" Anin meminta maaf pada suami nya.
"Bukan salah mu sayang, sudah jangan menyalahkan diri mu sendiri!" Dirga lalu membawa tubuh sang istri ke dalam pelukan nya.
"Jika tidak gara - gara aku menegur mbak Tika tadi, mas Dirga dan ibu tidak akan bertengkar dengan bapak!" Anin berkata dengan nada yang penuh rasa bersalah.
"Kamu tidak salah dek, bapak dan mbak Tika yang sudah keterlaluan!" Dirga berkata sambil mengelus puncak kepala istri nya.
"Apa maksud nya bapak dan mbak Tika yang keterlaluan mas?" Tanya Anin penasaran.
Anin lalu melepas kan pelukan dari tubuh suami nya, dia menatap mata Dirga dengan penuh tanda tanya.
Dirga menarik nafas berat, dia tampak ragu harus menceritakan atau tidak pada Anin apa yang sebenar nya terjadi di dalam keluarga nya.
"Mas, katakan pada ku ada apa sebenarnya?" Tanya Anin lagi sambil menatap mata suami nya.
"Tapi sebelum nya kau harus berjanji pada mas, bahwa kau tidak boleh membicarakan nya di depan ibu!" Dirga berkata sambil menggenggam erat tangan istri nya.
"Iya mas, aku janji!" Anin pun mengangguk kan kepala nya di hadapan suami nya.
Anin sudah tidak sabar lagi untuk mendengar kan cerita suami nya tentang keluarga nya, Anin sendiri merasa ada yang aneh dengan keluarga ini sejak pertama kali dia datang dan tinggal di rumah ini.