Malam sebelum pernikahan yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan Ambar berubah menjadi mimpi buruk saat ia memergoki Jayden, calon suaminya, berkhianat dengan Gea, adik tirinya sendiri. Alih-alih mendapat pembelaan, Ambar justru diusir dalam kehinaan oleh ayahnya yang menganggapnya "wanita kuno" dan tidak becus menjaga pria.
Di titik nadir kehidupannya, di atas sebuah jembatan kelam, Ambar bertemu dengan Baskara Mahendra, seorang pria di kursi roda yang nyaris mengakhiri hidup karena merasa tak berharga. Dalam sisa-sisa harga diri yang hancur, Ambar menawarkan sebuah kesepakatan nekat: sebuah pernikahan kontrak untuk saling menyelamatkan.
Ambar tidak tahu bahwa pria lumpuh yang ia selamatkan adalah penguasa tunggal keluarga Mahendra yang sangat disegani. Kini, tepat di jam yang sama saat mantan kekasih dan adiknya merayakan pesta mereka, Ambar siap kembali—bukan sebagai korban, melainkan sebagai istri dari pria yang kekuasaannya mampu meruntuhkan segalanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Mobil mewah keluarga Wijaya berhenti tepat di depan lobi hotel bintang lima yang dijaga ketat oleh barisan pengawal berseragam hitam.
Hendra turun dengan angkuh, disusul oleh Shinta yang memamerkan kalung berliannya, serta Jayden yang menggandeng pinggang Gea dengan penuh kebanggaan.
Namun, langkah mereka terhenti seketika saat pandangan mereka tertumbuk pada layar LED raksasa yang menutupi hampir seluruh fasad gedung hotel.
Di sana, terpampang foto seorang wanita dalam balutan gaun merah marun yang sangat megah, bersanding dengan pria berwibawa di kursi roda.
"Lho, itu kan... Ambar?" Shinta memekik, matanya terbelalak hingga nyaris keluar.
"Kenapa wajah Ambar terpampang di sana?! Apa yang dilakukan anak sialan itu? Apa dia menyelinap dan berfoto di properti Mahendra untuk mempermalukan kita?" bentak Hendra, wajahnya memerah padam.
Gea mencengkeram lengan Jayden erat-erat. "Nggak mungkin, Pa! Itu pasti editan! Mbak Ambar nggak mungkin punya akses ke tempat semegah ini!"
Jayden terdiam, jantungnya tiba-tiba berdegup tidak karuan saat membaca tulisan besar di bawah foto tersebut: "The Grand Wedding of Baskara Mahendra & Ambar Mahendra."
Dengan rasa penasaran yang bercampur amarah, mereka merangsek masuk ke dalam gedung.
Mereka mengacungkan kartu undangan yang mereka dapatkan dari relasi bisnis, merasa bahwa mereka punya hak untuk berada di sana.
Penjaga pintu membiarkan mereka masuk, namun dengan tatapan yang sangat dingin—seolah sedang melihat mangsa yang masuk ke lubang singa.
Begitu pintu ballroom utama terbuka, kemegahan yang luar biasa menyambut mereka.
Ribuan kristal menggantung di langit-langit, dan aroma bunga lily yang mahal memenuhi udara.
Di ujung ruangan, di atas panggung yang ditinggikan seperti singgasana, duduklah pasangan utama malam itu.
Baskara Mahendra duduk tegak di kursi roda peraknya yang berlapis emas, tangannya menggenggam erat tangan wanita di sampingnya. Dan di sana, Ambar duduk dengan anggun seperti seorang ratu.
Gaun backless-nya memamerkan parut luka bakar yang kini berkilau emas, bukan lagi sebagai aib, melainkan sebagai simbol kekuasaan yang baru.
Ambar sedikit memiringkan kepalanya. Dari atas singgasananya, ia melihat empat sosok yang sangat ia kenal sedang mematung di tengah kerumunan tamu undangan.
Ayahnya, Hendra, tampak pucat pasi seolah baru saja melihat hantu.
Shinta gemetar hebat hingga tas mahalnya terjatuh ke lantai.
Gea menatap gaun Ambar dengan rasa iri yang menghancurkan, sementara Jayden hanya bisa menelan ludah, menyadari bahwa wanita yang ia buang kini adalah wanita yang bisa menghancurkan hidupnya hanya dengan satu jentikan jari.
Ambar menoleh ke arah Baskara, lalu tersenyum tipis—sebuah senyum kemenangan yang mematikan.
"Lihat, Bas," bisik Ambar, suaranya terdengar merdu namun tajam.
"Tamu spesial kita sudah datang. Haruskah kita mulai acaranya?"
Baskara membalas genggaman tangan Ambar, matanya menatap tajam ke arah Hendra yang kini mulai melangkah mundur karena ketakutan.
"Tentu saja, Sayang," sahut Baskara dengan suara bariton yang menggema.
"Mari kita tunjukkan pada mereka, apa yang terjadi pada orang-orang yang berani menyentuh milik Mahendra."
Suasana ballroom yang tadinya riuh rendah dengan musik klasik mendadak sunyi senyap, seolah-olah oksigen di ruangan itu tersedot habis.
Ribuan pasang mata tamu undangan kini tertuju pada panggung utama, tempat sebuah drama keluarga yang paling memalukan sedang tersaji secara langsung.
Ambar menyesap napas dalam-dalam, membiarkan aroma parfum mahalnya memberikan ketenangan.
Ia menatap lurus ke arah Hendra yang kini berdiri di bawah panggung dengan wajah merah padam, antara malu dan murka.
"Selamat malam, Papa..." Ambar menjeda kalimatnya, lalu menyunggingkan senyum paling sinis yang pernah ia tunjukkan. "...oopps, maksudku, mantan Papa."
Kata-kata itu bagaikan tamparan keras yang mendarat tepat di wajah Hendra di depan kolega bisnis kelas atasnya.
Hendra tidak bisa lagi menahan diri. Rasa angkuh yang selama ini ia pelihara meledak.
Ia melangkah maju, mencoba naik ke anak tangga panggung sebelum dihentikan oleh dua pengawal bertubuh kekar.
"Jangan kurang ajar kamu, Ambar!" teriak Hendra, suaranya bergetar karena amarah.
"Berani-beraninya kamu bicara begitu setelah semua yang Papa berikan padamu! Kamu pikir dengan duduk di samping pria lumpuh itu, kamu sudah jadi penguasa?"
Gea dan Shinta di belakangnya ikut mendekat, wajah mereka penuh kebencian.
"Mbak Ambar, sadar diri dong! Kamu itu cuma wanita buangan! Jangan bikin malu keluarga Wijaya di sini!" seru Gea dengan nada melengking.
Baskara, yang sejak tadi hanya diam memperhatikan dengan tangan bertaut di atas pangkuan, perlahan mengangkat wajahnya.
Tatapan matanya yang tajam dan dingin seketika membuat Hendra membeku di tempat.
Aura intimidasi yang dipancarkan Baskara begitu kuat hingga membuat bulu kuduk Shinta meremang.
"Tuan Hendra," suara bariton Baskara menggema pelan namun sangat berwibawa melalui mikrofon kecil di jasnya.
"Sepertinya Anda lupa di mana Anda berdiri sekarang. Ini adalah wilayah Mahendra. Dan wanita yang Anda sebut 'kurang ajar' ini adalah istriku, pemilik sah dari setengah kekayaan yang Anda lihat malam ini."
Baskara menyeringai, sebuah seringai yang menjanjikan kehancuran.
"Lagipula, Anda bicara tentang 'pemberian'?" Baskara memberi kode pada asistennya.
Detik berikutnya, layar raksasa di belakang panggung berubah.
Bukan lagi foto romantis, melainkan foto medis punggung Ambar yang penuh luka bakar rokok dan siraman air panas—tindakan keji Hendra di masa lalu.
Para tamu undangan tersentak ngeri. Suara bisik-bisik menghujat keluarga Wijaya mulai terdengar seperti lebah yang marah.
"Ini pemberian Anda, bukan?" tanya Baskara dingin.
"Siksaan yang Anda berikan pada putri Anda sendiri? Mulai malam ini, setiap senti luka di punggung istriku akan aku bayar dengan satu aset perusahaanmu yang akan aku sita secara paksa."
Wajah Hendra seketika pucat pasi. Ia menatap layar itu, lalu menatap Ambar yang kini berdiri tegak di samping kursi roda suaminya, memamerkan punggungnya yang bersinar dengan bangga.
"Malam ini bukan perayaan untukmu, Hendra," bisik Ambar dari atas panggung.
"Malam ini adalah upacara pemakaman bagi bisnismu yang busuk itu."
Suara bisik-bisik di dalam ballroom yang megah itu mendadak senyap saat Baskara mengangkat tangannya.
Seorang asisten dengan setelan hitam sempurna melangkah maju, menyerahkan sebuah map cokelat tebal ke tangan Baskara.
Hendra Wijaya tertegun. Matanya membelalak menatap map itu.
Bentuknya, warnanya, bahkan talinya sangat identik dengan dokumen yang ia robek-robek dengan angkuh di aula pernikahan Gea kemarin malam.
Baskara mengangkat dokumen itu tinggi-tinggi, memamerkannya di bawah sorot lampu kristal yang berkilau.
"Tuan Hendra, apakah Anda ingat ini?" suara Baskara tenang, namun tajam bagaikan sembilu.
"Kemarin, Anda merobek dokumen yang sama tanpa membacanya. Anda menyebutnya kertas sampah. Anda tertawa seolah-olah sedang membuang kotoran."
Baskara membuka map itu perlahan, mengeluarkan lembaran kertas yang masih berbau tinta segar.
"Sayangnya, salinan asli dokumen ini tersimpan rapi di brankas firma hukum Mahendra," lanjut Baskara dengan senyum tipis yang mematikan.
"Dan hari ini, saya tidak butuh persetujuan Anda untuk membacakannya di depan seluruh saksi di ruangan ini."
Baskara menyerahkan dokumen itu kepada Ambar.
Ambar menerimanya dengan tangan yang mantap, tidak ada lagi getaran ketakutan.
Ia berdiri tegak di samping kursi roda suaminya, menatap tajam ke arah ayahnya, Shinta, Gea, dan Jayden yang kini berdiri mematung di bawah panggung.
"Berdasarkan akta pengalihan aset nomor 402, seluruh saham perusahaan Wijaya Group yang dijaminkan atas hutang masa lalu telah berpindah tangan sepenuhnya kepada Mahendra Corp," suara Ambar bergema melalui pengeras suara, jernih dan penuh otoritas.
"Dan per jam delapan malam ini," Ambar melirik jam dinding besar di ballroom, "seluruh aset bergerak dan tidak bergerak milik keluarga Wijaya, termasuk rumah mewah di kawasan elit dan kendaraan yang Anda gunakan untuk datang ke sini, telah resmi disita."
Hendra menggelengkan kepalanya dengan liar. "Tidak mungkin! Itu penipuan! Jayden, lakukan sesuatu!" teriaknya histeris.
Jayden mencoba maju, namun langkahnya terhenti saat pintu besar ballroom terbuka lebar.
Sekelompok pria berseragam petugas kurator dan kepolisian masuk dengan langkah tegap. Mereka membawa surat perintah resmi yang berstempel merah.
"Tuan Hendra Wijaya?" pimpinannya bertanya dengan nada dingin.
"Kami di sini untuk melaksanakan perintah sita jaminan. Seluruh rekening bank Anda telah dibekukan. Mulai detik ini, Anda tidak diperkenankan menyentuh satu sen pun dari harta yang bukan lagi milik Anda."
Shinta menjerit histeris, jatuh terduduk di lantai marmer hingga tas bermereknya terlempar.
Gea mulai menangis sesenggukan, menyadari bahwa gaun megah yang ia banggakan mungkin adalah hal terakhir yang bisa ia miliki.
"Kertas sampah itu kini menjadi surat kematian bagi bisnismu, Papa," bisik Ambar dari atas panggung, matanya menatap tanpa belas kasihan.
Baskara menggenggam tangan Ambar, menariknya sedikit lebih dekat.
"Jangan menangis untuk mereka, Sayang. Mereka tidak pantas mendapatkan air matamu. Petugas, silakan bawa mereka keluar. Udara di sini mulai terasa kotor."
Para petugas segera menggiring keluarga Wijaya keluar dari ballroom di bawah sorot kamera wartawan yang terus menyambar tanpa henti.
Jayden sempat menoleh ke belakang, menatap Ambar dengan tatapan penuh penyesalan, namun Ambar sudah memalingkan wajahnya ke arah Baskara—pria yang telah mengubah nasibnya.