Riana terpaksa menjadi Sekertaris Zayn Abimanyu yang gila kerja dan sangat ketat karena Sekertaris sebelumnya memilih Resign karena tak kuat menanggung beban kerjanya. Namun bukan hanya itu masalahnya, Riana menemukan sesuatu yang lebih gila dari Bosnya itu.
Lima kepribadian dalam satu tubuh. Zayn, Ares, Dewa, Rayan dan Bram, setiap nama punya karakter masing-masing.
Dewa si penggoda ulung - Miss I Love You.
Ares - Kakak cantik, tubuh Kakak wangi sekali.
Rayan - si culun yang pemalu.
Bram - Ketua Geng motor rahasia.
Sedang Zayn, si bos dingin yang entah sejak kapan mulai tertarik dengan Riana, wanita yang menjadi pelindungnya, pemegang rahasianya yang seluruh dunia tidak boleh tahu, termasuk keluarganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Whidie Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35- Panas?
“Kamu tuh gak ada takut-takut nya ya sama bos sendiri, saya pecat baru tahu,” Ucap Zayn dengan nada ketus.
“Kalau Bapak pecat saya, siapa yang jagain Bapak pas jadi orang lain,” seringainya penuh kemenangan, jelas Riana sang pemegang kunci membuat Zayn tentunya tak bisa berkutik sama sekali.
Mereka menghentikan perdebatan kecil itu saat sampai di ruang rapat.
Siang harinya Riana dan Rara tengah makan siang di kantin kantor, sementara Zayn makan sendirian di ruangannya.
“Ra, di gedung apartemen lu, ada unit kosong gak? Gue mau cari hunian,” ucap Riana sambil mengunyah bakso seukuran bulatan jari jempol.
“Kayanya udah pada penuh deh. Lagian ngapain lu nyari rumah bukannya lu tinggal bareng Bos,” Rara melemahkan suaranya di ujung kata.
“Hush, lu ati-ati kalau ngomong. Kalau sampai ada yang denger gimana,” tepis Riana segera, matanya teredar waspada.
“Sorry, sorry, gak sengaja,” dia nyengir kuda.
“Gue gak bisa lama-lama tinggal disana Ra, apa lagi sebentar lagi dia tunangan, bisa berabe kalau itu Nona gurita tahu gue tinggal disana, entar dikiranya gue ada apa-apa lagi ama dia,” Riana sengaja memakai kata 'dia' agar tidak terlalu kentara tengah membicarakan Zayn.
“Iya juga sih, entar deh gue coba cariin. Lu mau nyewa atau nyicil?”
“Cash dong, gue udah punya tabungan sekarang.”
“Cailah. Oke-oke, nanti gue bantu cariin lu mau type rumah kaya gimana?”
“Yang bagus dan nyaman lah pastinya harganya juga masih masuk akal di kantong gue.”
Ponsel Riana mendapat pesan yang ternyata dari Max, ‘Riana apa kita bisa bertemu lagi ada yang mau aku omongin sama kamu,’ bunyi pesannya.
“Max, ada apa lagi?”
“Cie, siapa tuh Max?” Rara ikut membaca pesan di ponsel Riana.
“Abang tiri gue, lu kira siapa, ck.”
“Oh Abang tiri, tapi vibes-nya ko kaya chat sama pacar, eh.” Rara menutup mulut dengan ujung-ujung jarinya.
“Apaan sih, jangan ngaco deh lu Ra. Maxim itu udah gue anggap Kakak sendiri, tapi emang dia baik sih, perhatian pula.” tambahnya.
“Dan ganteng kan, hayo ngaku,” ledek Rara.
“Hooh sih,” Riana terkekeh, “tapi sayang dia Kakak tiri gue, padahal dia tuh masuk sama kriteria cowok Idaman gue, ganteng, lembut, perhatian dompetnya juga tebel, hehe.”
“Bisa sih bisa, toh cuma Abang tiri kan.”
“Kampret lu.”
Sore hari, Riana masuk kembali ke ruangan Zayn. Tampak Pria itu tengah sibuk dengan tumpukan berkas di hadapannya.
“Pak, malam ini saya mau minta ijin lagi,“ gerakan jemari Zayn langsung terhenti, dia menatap tanpa mendongak.
“Ijin lagi, kemana?” pertanyaan itu keluar begitu saja tanpa Zayn sadari.
“Masih acara keluarga Pak. Soalnya besok Kakak saya mau pulang,” terpaksa Riana menjelaskan.
Zayn mendengus pelan, dia sudah bisa menebak siapa yang akan Riana temui lagi kali ini, gak puas apa mereka berduaan semalaman, geramnya dalam hati.
“Terserah kamu,” kata itu yang keluar dari mulut Zayn, meski otaknya mengatakan hal lain.
“Makasih Pak, saya janji akan pulang cepat.”
“Gak perlu cepet-cepet pulang, nginep aja di luar gak papa ko,” sahutnya terdengar dingin, namun Riana tak menyadari itu.
“Hehe makasih Pak, kali ini saya gak akan sampai nginep ko, saya janji,” Riana mengangkat dua jarinya membentuk huruf v.
Zayn mengibaskan tangannya menyuruh Riana pergi. Setelah pintu tertutup, dia menyandarkan punggungnya ke belakang, dasi ia longgarkan, tiba-tiba ruangan ini terasa menyempit, udaranya pun berubah panas, dia kembali menurunkan suhu ruangan tapi tetap saja tak mampu menyingkirkan hawa panas dalam dirinya. Bahkan otaknya kini tak lagi fokus untuk bisa bekerja alhasil dia pun pulang.
Dia melempar jasnya sembarang arah, dia pulang karena ingin mendapatkan ketenangan namun semakin lama justru perasaanya semakin aneh, otaknya hanya berisi Riana Riana dan Riana.
Apa yang Riana lakukan, pergi kemana dia, apa yang mereka bicarakan. Sial, Zayn bisa benar-benar gila lama-lama jika terus begini.
Dia mengambil sebuah buku, kemudian menuliskan alamat Restoran yang semalam dia kunjungi, bisa jadi dia kembali bertemu Max disana.
Dia mengambil obat tidur dengan dosis lemah, berharap seseorang mengambil kesadarannya, kali ini dia sendiri yang menginginkannya karena tak punya keberanian lebih seperti yang lain untuk menghentikan Riana.
Riana pergi menemui seorang Pria, jika kalian peduli hentikan dia, alamat Restorannya, ××××.
Bunyi catatan yang Zayn tulis, kemudian ia pun tertidur.
riana kan pawang zayn..
🤣🤣😄😄💪💪❤😍😍
❤❤❤😍😍😍
itu bukan ketergantungan..
tapi ..
cemburu berat...
🤣😄😄😍😍❤💪💪💪❤❤
😍😍❤❤💪💪💪
zayn cemburuuuu..
😄😄😍❤💪💪
akankah Riana ninggkain zayn saqt ada mamanya..
😍😍❤❤💪💪💪
jadi senyum2 bacanya..
😄😄😄😄😄😍😍❤💪💪💪
zayn mulai ada rasa..
mereka berdua deh..
😄😄😍😍❤💪💪💪
😍😍❤💪💪
bener2..
kasihan zayn..
dirawat tapi diundat2...
😍😍😍❤❤💪💪
klai gk takut..
minggat aj azayn..
😄😄❤❤💪💪
❤😍😍💪💪💪
❤❤😍💪💪💪
spesies baru lagi ini..
😄😄😄😄❤❤😍💪1
❤❤❤❤❤❤😍😍😍😍😍💪💪💪
🤣🤣😄😄❤❤😍💪💪
❤❤😍😍💪
🤣🤣😄❤❤😍💪
bukan aruna ya kak..
😄❤😍💪
😄😄😄