NovelToon NovelToon
Ning Moza

Ning Moza

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:517
Nilai: 5
Nama Author: blue_era

Ning Moza yang mendapatkan biasiswa sampai ke jenjang atas dan semuanya terasa tiba tiba ketika Gus Alvaro hadir mengkhitbahnya dan menghalalkan dalam ikatan sakral. Dan masalah seketika menjadi ombak dalam iktan sakral, dengan hadir nya masa lalu keduanya. Gus Alvaro dan Ning Moza.
Bagaimanakah kisah tentang Ning Moza dan Gus Alvaro?!.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blue_era, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

44 dan 45

Gus Alvaro Pov

Bukan maksudku marah, atau benci dengan Ning Moza bukan, aku hanya ingin tau apakah Ning Moza memang benar-benar akan minta cerai dariku. Aku berharap Ning Moza berubah pikiran, namun apa daya jika Abah dan Umik pun setuju dengan keputusan Ning Moza.

Kemarin ketika Ning Moza di panggil mbak Zahra untuk bertemu Abah, aku sangat khawatir jika Abah mendukung keputusan Ning Moza.

Aku hanya berdoa, karena sepenuhnya aku tidak bisa menahan Ning Moza, itu seperti halnya aku bahagia di atas penderitaan Ning Moza. Ketika aku yang sangat brsyukur menjadikan Ning Moza sebagai pendamping hidup, dan penyempurna sebagian dari agama ku. Namun, sedangkan Ning Moza sangat menentang pernikahan ini. Apa aku bukan termasuk orang yang egois?!.

"Mas Varo" panggilnya Ning Moza mengejutkan ku yang tengah menatap langit malam

"Dalem Ning" jawabku dengn mencoba tetap tersenyum, walaupun di dalam sebenarnya tak baik-baik saja.

"Angin malam nggak baik untuk kesehatan" katanya dengan menghampiri ku

"Iya nanti mas masuk, njenengan masuk dulu" kataku dengan menatap lurus kedepan

"Mas sampun minum obat?"tanyanya Ning Moza

"Nanti mas minum sebelum tidur" jawabku yang masih belum menatap Ning Moza yang tengah duduk disampingku

"Mas sampun dahar?" tanya Ning Moza

"Nanti" jawabku singkat

"Kenapa harus nanti? Sekarang kan bisa" kata Ning Moza

"Njenengan masuk dulu, sampun dalu." kataku dengan melihat kearah Ning Moza sekilas

"Harusnya Mas, bukan aku. Mas masih sakit" katanya Ning Moza

"Mas masih mau disini. Ning masuk dulu saja" kataku

Tanpa kuduga Ning Moza berdiri dari duduknya, tanpa pamit atau izin Ning Moza langsung masuk kamar.

*****

Setelah Ning Moza masuk kamar. Aku sangat merasa bersalah. Disini bukan Ning Moza yang salah tapi aku, seharusnya aku tidak bersikap seperti itu pada Ning Moza.

Aku yakin kalau Ning Moza sedang menangis, ya aku sangat yakin.dari suara Ning Moza ynag tadi bicara dengan ku tempat bergetar. Namun aku pura-pura tidak menyadari, karena itu akan semakin sakit ketika aku harus memeluk nya erat. Karena itu akan membuat keegoisan ku semakin tinggi.

YaAllah jangan Engkau berikan rasa egois ini, luluhkan keegoisan ku ini. Aku tidak maau kehilangan Ning Moza, tapi aku juga tidak mau jauh dari Ning Moza.

Ku lirik jam tangan di lengan ku,jarum pendek dan panjang nya tengah menunjukkan pukul 00.00 berarti sudah jam 12 malam, Sebenarnya aku masih enggan untuk bangkit. Tapi angin malam tidak baik untuk kesehatan. Jadi lebih baik ku masuk kekamar.

Saat ku masuk kamar, kudapati Ning Moza sedang tertidur dengan Memunggungiku

"Mas minta maaf, sayang" ucapku dengan pelan

Lalu ku baring kan tibubku disamping Ning Moza yang tengah Memunggungiku.

____________________________________________

Ning Moza Pov

"YaAllah maafkan Hamba-Mu ini YaAllah.jika mas Varo yang Engkau kirimkan untuk hamba, makan tetapkanlah hati ini untuk tetap menjaganya. Pantaskan lah hamba untuk bersanding dengan nya. Dan hamba mohon jaga pernikahan ini YaAllah" adu ku dalam tangisku. Aku tak tahu harus mengadu pada siap selain Tuhanku?. Allah.

Setelah cukup lama akhirnya aku segera melepas mukena ku dan ku edarkan pandangan ku tak ku temui mas Varo di kamar, ohh mungkin di balkon kamar.

Dan benar setelah ku lipat mukena dan kukembalikan pada tempatnya, segera ku Mengahapiri balkon, dan mas Varo sedang terduduk dengan menatan langit male

"Mas Varo" panggil ku dengn Mengahapiri mas Varo yang tengah menatap ku sekilas, laut kembali menatap lurus kedepan

"Dalem Ning" jawabnya membuatku tertegun. Apa? Ning? Sejak kapan Mas Varo memanggilku Ning?.sejak kapan?. Hatiku seakan terhantam batu yang sangat keras hingga membuatku seakan mati rasa.

"Angin malam nggak baik untuk kesehatan" kataku dengan suara yang sudah bergetar namun aku tetap menyembunyikan suaramu agar tidak membuat mas Varo tersadar bahwa aku tidak sedang baik-baik saja.

"Iya nanti mas masuk, njenengan masuk dulu" katanya dengan menatap lurus kedepan.

Sakit? Ya tentu saja sakit. Hati siapa yang tidak sakit ketika kalian sedang mencoba untuk membuka hati, dan saat kamu perlahan membuka hati untuk ny tapi ai seakan-akan malah menjauh.

"Mas sampun minum obat?" tanyaku lagi. Lagi-lagi aku selalu bertanya agar Mas Varo berbicara dengan ku.karena setelah pulang dari rumah sakit kemarin Mas Varo seakan berubah.

"Nanti mas minum sebelum tidur" jawabnya Mas Varo yang masih belum menatap-ku sama sekali

"Mas sampun dahar?" tanyaku lagi. Aku tidak peduli kalau Mas Varo bosan atau bahkan marah karena pertanyaan yang ku lontarkan

"Nanti" jawabnya singkat membuat ku meremas jemariku dan ku gigit bibirku agar aku tak menagis

"Kenapa harus nanti? Sekarang kan bisa" kataku sedikit sengit karena aku harus mencari pertanyaan yang bisa Mas Varo jawab dengan panjang

"Kenapa harus nanti? Sekarang kan bisa" kataku sedikit sengit karena aku harus mencari pertanyaan yang bisa Mas Varo jawab dengan panjang

"Njenengan masuk dulu, sampun dalu. " katanya dengan melihat kearah ku sekilas

"Harusnya Mas, bukan aku. Mas masih sakit" kataku dengan suara bergetar.

Gagal. Gagal Moza. Gagal. Ya gagal menyembunyikan tangismu di depan Mas Varo. Aku tahu pasti Mas Varo akan mengetahui kalau aku menangis dalam diamku.

"Mas masih mau disini. Ning masuk dulu saja" katanya. Lagi-lagi dengan sebutan Ning. YaAllah. Kenapa sakit?.

Dengan terpaksa aku harus bangkit dari duduk ku, tampan harus meminta izin atau apa aku langsung nyeleonong pergi meninggalkan Mas Varo, dengan cepat aku masuk kamar.

Aku sudah tidak bisa menahan tangisku. Sungguh sakit sekali.

Sampai nya di kamar aku langsung menangis, aku tak bisa menyembunyikan tangisku di depan Mas Varo,

Sebenarnya apa yang terjadi dengan semua ini?! Kenapa dengan tiba-tiba Mas Varo bersikap seolah-olah aku tak dianggap?

*****

Sekarang tidak ada lagi pangilan

"Sayang-sayangan " dari Mas Varo, semuanya sudah berubah. Bahkan senyum yang selalu menghiasi wajah Mas Varo kini tengah hilang ditelan bumi.

Aku ingin marah, tapi marah pada siapa?. Aku benci dengan semua ini. Aku benci.

"Dek" panggilnya mbak Nadia membuatku tersadar dari lamunanku

"Eh-iya mbak wonten nopo?"

"Kamu ada masalah apa sama Gus Varo?" tanya Mbak Nadia membuatku tertegun

"Nggak ko mbak" bohong ku dengan tetap tersenyum

"Jujur dek, mbak tau kamu." kata mbak Nadia

"Mbak aku kataku dengan suara ku yang bergetar.

"Mbak tahu dek, mbak tahu. Kalo kamu tidak sedang baik-baik saja" kata mbak Nadia dengan membawa ku dalam pelukan ku

Aku menangis dalam pelukan mbak Nadia. Aku tidak tahu aku harus ngomong apa? Aku tidak tahu.

"Mas Varo mbak" tangisku

"Mas Varo jahat, mas Varo udah berubah. Mas Varo tidak seperti dulu lagi. Mas Varo jahat mbakkk" kataku dalam tangisku

"Mas Varo berubah, mas Varo bukan seperti yang aku kenal.senyum mas Varo tidak pernah ada lagi, semaunya udah berubah mbakk

"Dekk orang itu pasti berubah, mungkin Gus Varo sedang tidak ingin di ganggu dulu"

"Setidaknya ngomong ke aku mbak. Apa salah ku? Aku nggak tahu Apa-apa tiba-tiba setelah pulang dari rumah sakit mas Varo berubah."

"Jangan pernah punya pikiran untuk pergi. atau meninggalkan Gus Varo dek, dengan sikap Gus Varo yang seperti ini berarti akamu harus bisa membuat Gus Varo percaya bahwa kamu pantas untuk nya"nasihat mbak Nadia

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!