AUDREY DIRA ADIWANGSA, terlahir dari keluarga cemara yang memiliki sifat berani dan spontan.
Gadis itu dijodohkan oleh Papanya, Adiwangsa, dengan putra dari seorang Konglomerat yang bernama Wira Aldrian Bimasena. Namun ternyata keluarga calon suami nya itu Toxic, jauh berbeda sekali dengan kehidupan yang dijalani Audrey bersama keluarganya.
Akankah Audrey mampu menghadapi mereka ataukah Audrey akan kalah dan menyerah lalu kembali pada kehidupan nyamannya bersama keluarga besar Adiwangsa ??
Happy Reading...
Enjoy guys 💜
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ratu_halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 13
Selain karena terpaksa menerima pemberian Ayah mertuanya, Audrey juga memang butuh kendaraan. Tidak enak juga selalu menumpang di mobilnya James setiap dia kunjungan ke tempat KKN, ya meskipun Audrey tau James tidak merasa keberatan. Tapi setidaknya Audrey harus tau diri.
"Baiklah, Yah. Aku pilih yang itu saja." Audrey menunjuk salah satu mobil mewah berjenis SUV asal Inggris yaitu Range Rover berwarna putih susu.
"Tunggu sebentar Ayah ambil kunci nya." Ayah mertuanya berjalan ke arah nakas untuk mengambil kunci mobil tersebut.
"Ini...Kamu pakai saja hari ini, bahan bakarnya sudah terisi penuh."
Audrey menerima kunci mobil dari tangan Ayah Andreas.
"Terimakasih, Yah." Audrey hendak memeluk Ayah Andreas sebagai bentuk ungkapan terimakasih nya, namun pergerakkan Audrey langsung di tahan oleh sepasang tangan kekar milik seseorang.
"Mau ngapain kamu ?" Tanya Wira terdengar jelas tidak suka.
"Meluk Ayah-lah, apalagi ?" Jawab Audrey yang akan melanjutkan kembali niatnya tadi.
Ayah Andreas menahan tawanya yang hampir meledak. Melihat si sulung yang mulai terbakar api cemburu lumayan menghibur.
Grep!
Audrey sudah memeluk Ayah Andreas. "Makasih banyak ya, Yah, hadiahnya...Semoga rezeki Ayah mengalir terus kaya air zam-zam." Ucap Audrey berdoa dengan tulus.
Kedua tangan Ayah Andreas sudah terangkat untuk membalas pelukan Audrey, namun Wira menepisnya kasar dengan mata yang melotot tajam, tak lupa dia juga menarik tubuh Audrey agar menjauh dari sang Ayah.
"Jangan berlebihan! Aku juga bisa memberikanmu mobil yang lebih bagus dari itu!!" Tukas Wira tak mau kalah.
"Bohong!" Sela Audrey menatap Wira dengan sinis.
"Aku tidak bohong! Sekarang sebutkan kau mau mobil jenis apa ? Ayo...Aku pastikan hari ini juga mobil yang kau inginkan sudah terparkir di mansion."
"Tidak perlu, aku sudah punya mobil baru hadiah dari Ayah mertuaku tercinta. Iya kan, Yah ?" Tanya Audrey dengan nada paling manis bin polos sedunia.
Ayah Andreas tersenyum sambil mengangguk,
"Yaudah Yah, aku berangkat dulu ya. Sekali lagi makasih loh buat mobil barunya.. Bye Ayah..." Audrey melambaikan tangan sambil berjalan ke arah mobil baru nya. Sementara Wira di buat takjub dengan tingkah sang istri yang benar-benar di luar ekspektasinya.
"Gimana istri pilihan Ayah ? Luar biasa kan ? Hahaha..Ayah sudah bilang kamu tidak akan menyesal menerima perjodohan itu," Ayah menepuk bahu Wira, setelah itu pergi meninggalkan Wira sendirian di basement
Sampai di rumah orang tuanya, Audrey langsung di sambut Mama Ruby.
"Ya ampun sayang, kamu kok pulang nggak bilang-bilang sih ? Suami mu mana ?" Mama Ruby melongok ke belakang tubuh Audrey, mencari keberadaan Wira.
"Nggak ada, dia nggak ikut!" Jawab Audrey ketus lalu menyambar jus jeruk di tangan Mama nya.
"Aku mau packing dulu ya, Ma." Audrey naik ke lantai atas menuju kamar nya.
Tanpa Audrey sadari Mama Ruby mengekor dibelakangnya.
"Kamu kok datang sendirian sih ? Suami mu belum datang lagi loh setelah pernikahan kalian..Apa hubungan kamu dan Wira baik-baik saja, nak ?"
Audrey memutar bola mata malas, "Baik-baik dari hongkong! Mama tau nggak sih, ternyata si Wira itu nggak normal."
"Heh, nggak sopan! Dia itu lebih tua dari kamu. Lagian nggak normal gimana ?"
"Masa Mama nggak ngerti sih, ya nggak normal Ma, nggak normal,"
Mama diam sejenak,
"La-Gi-Be-Te maksud kamu ?" tebak Mama Ruby dan langsung di jawab dengan jentikkan jari oleh Audrey.
"Bingo," Ucapnya.
"Hushh! Kamu jangan bicara sembarangan, masa sih suami mu kaya gitu ?"
Audrey mengedikkan kedua bahu nya, "Kalau Mama nggak percaya yaudah."
Setelah memasukkan semua kebutuhannya selama KKN nanti, Audrey pun hendak pamit lagi pada Mama nya.
"Ma, doain ya semoga KKN aku lancar, nggak terjadi hal yang aneh-aneh. Oh ya, jangan lupa bilang Papa kirim uang."
Mama Ruby spontan mengangkat alis, "Kirim uang ?"
Audrey mengangguk, "Iya, kirim uang. Emang ada yang salah dengan kata-kataku, Ma ?" Tanya Audrey memasang wajah polos.
"Tentu saja salah. Kamu kan sudah punya suami, seharusnya Wira yang mengirim uang sebagai kewajibannya memberi nafkah pada istri nya."
"Ma, bisa nggak sih jangan bahas dia mulu. Sudah ah, pokoknya bilangin Papa kirim uang ke rekening biasa. Di jalan aku mau beli peralatan tulis untuk anak-anak di desa."
"Yasudah, nanti Mama ngomong sama Papa."
Setelah itu Mama Ruby mengantar putri nya sampai depan.
Di teras rumah mata Mama Ruby menyipit tajam. Menatap lurus ke depan.
"Loh, kamu bawa mobil siapa, sayang ?"
"Ini mobil baru aku dari Ayah Andreas. Bagus kan, Ma ?"
"Hah ? Mobil baru ? Dalam rangka apa Ayah mertua mu membelikan mobil ?"
"Hadiah pernikahan katanya. Sudah ya Ma. Cupp. Bye Ma, Love you" Audrey kemudian pamit sambil mengecup pipi kanan dan kiri Mama nya.
Audrey melajukan roda empat nya perlahan meninggalkan rumah masa kecilnya menuju kampus.
Sesampainya disana, Lula, James dan Dean sudah menunggu, sementara enam teman yang lain sudah berangkat duluan ke tempat KKN.
"Wuihhh....Mobil siapa ni cok ?" Mata James berbinar menatap mobil baru Audrey.
"Mobil gue lah." Jawab Audrey jumawa.
"Seriously ??" Mata Lula melebar sempurna, nyaris tak percaya.
"he'em. Hadiah dari mertua gue. Ya beginilah hidup. Kalau kata ci Miha, hidup gue kadang di atas, kadang di atasnya lagi, hahaha." Audrey tertawa renyah membuat Lula dan James pun ikut tertawa, sementara Dean tetap stay di motor gedenya sambil sibuk main hape. Dean sama sekali tak melirik bahkan ikut nimbrung seperti Lula dan James.
"Kalau kalian masih mau disini, gue berangkat duluan." Suara dingin Dean membuat Audrey, Lula dan James tersentak.
Audrey menatap Dean yang kini sudah memakai helm full facenya.
"Tidak bisa di biarkan!" Batin Audrey. Sebelum Dean benar-benar pergi, Audrey berjalan cepat dan berdiri tepat di depan motor gede milik pria itu.
Sepersekian detik waktu seakan berhenti tepat di antara mereka berdua.
"Turun lo!" Audrey menunjuk Dean tepat ke wajah pria itu. Namun Dean bergeming.
Audrey yang sudah kesal dari kemarin di acuhkan oleh salah satu sahabat baiknya menjadi tak sabaran. Audrey menarik tangan Dean hingga terpaksa Dean pun turun dari motornya.
"Buka helmnya!" Titah Audrey lagi dengan wajah memerah menahan marah.
Dean menurut. Dia tau jika sudah bicara dengan nada begitu Audrey benar-benar marah.
"Lo itu kenapa sih, hah, dari kemaren gue perhatiin lo ngehindarin gue terus ? Emang gue punya salah apa sama lo, Dean ? Ngomong, jangan malah diemin gue kaya gini,"
Dean terpaku ketika melihat wajah Audrey dengan sangat jelas setelah beberapa hari menghindarinya. Jantungnya berdegup lebih keras dari sebelumnya.
Audrey maju lagi selangkah, "Gue nggak bisa kaya gini, Dean. Kalau orang lain yang nyuekin gue pasti gue nggak perduli. Tapi ini ELO, sahabat gue!!" Sambung Audrey dengan penuh penekanan.
"Sahabat ? Gue nggak mau jadi sahabat lo, Drey.." Batin Dean dengan tangan yang terkepal kuat di samping tubuhnya.
"Drey, Dean...Udahlah, kenapa kalian jadi ribut begini.. Malu tuh di lihatin orang!" Lula dan James yang melihat keributan mereka langsung melerai. Meski yang ribut hanya dari sisi Audrey sebab Dean hanya diam saja sambil menatap Audrey begitu dalam.