"Sepuluh tahun lalu, ayahku menjualku. Dan malam ini, sang pembeli datang menjemputku."
Alana mengira hidupnya sempurna, sampai ia diseret ke Rusia oleh Alexei Dragunov seorang Tsar mafia yang dingin dan berbahaya. Alana bukan datang sebagai pengantin, melainkan sebagai aset yang telah dibayar lunas oleh Alexei untuk menutupi hutang ayahnya.
Di tengah badai salju Saint Petersburg, Alana terjebak di antara dua pria paling berkuasa, Ayah kandung yang menjadikannya barang dagangan, dan suami mafia yang menjadikannya tawanan obsesi.
Saat rahasia darahnya mulai terungkap, Alana menyadari, Di dunia Alexei, tidak ada jalan keluar. Ia harus memilih, hancur sebagai korban, atau bangkit menjadi Ratu di samping sang iblis.
"Kau adalah milikku, Alana. Hidup atau mati, kau tetap dalam genggamanku."
-Alexei Dragunov-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. DEBU DAN KENANGAN
Jakarta menyambut mereka dengan hawa panas yang membakar kulit dan deru kemacetan yang tidak pernah tidur. Namun, bagi Alana, udara ini terasa seperti racun yang akrab. Di dalam mobil Rolls-Royce Cullinan hitam yang telah disiapkan tim pendahulu Alexei, Alana menatap gedung-gedung pencakar langit yang menjulang di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman.
Di sampingnya, Alexei duduk dengan kaki bersilang, jari-jarinya yang panjang mengetuk ritmis di atas lututnya. Ia mengenakan setelan jas abu-abu arang yang dipesan khusus, tanpa dasi, memberikan kesan penguasa yang santai namun mematikan. Matanya yang biru terus mengamati setiap sudut jalanan dengan kewaspadaan seorang pemangsa di wilayah baru.
"Kota yang berisik," gumam Alexei, suaranya berat dan rendah. Ia meraih tangan Alana, mengaitkan jemari mereka dengan posesif. "Terlalu banyak mata di sini, Alana. Aku tidak suka caramu menatap ke luar jendela seolah kau merindukan tempat ini."
Alana menoleh, menatap Alexei dengan senyum tipis yang dingin. "Aku tidak merindukannya, Alexei. Aku hanya sedang mengingat di mana letak lubang-lubang yang akan kugunakan untuk mengubur ayahku hidup-hidup."
Alexei menarik tangan Alana ke bibirnya, mencium punggung tangannya dengan intensitas yang dalam. "Bagus. Karena aku tidak akan membiarkanmu memiliki ruang untuk merindukan apa pun selain diriku."
Mereka tiba di The Grand Atmadja, salah satu hotel bintang lima paling prestisius di Jakarta yang ironisnya merupakan salah satu aset di mana Naratama Corp memiliki saham mayoritas. Alana sengaja memilih tempat ini. Ia ingin Wira tahu bahwa putrinya telah kembali, bukan melalui ketukan pintu, melainkan melalui bayang-bayang kekuasaan yang mulai merayap di bawah kakinya.
Lobi hotel itu sangat megah, dengan pilar-pilar marmer dan aroma melati yang mewah. Mikhail dan dua pengawal Rusia lainnya berjalan di belakang mereka, mengenakan setelan jas gelap yang menyembunyikan otot-otot baja mereka. Kehadiran Alexei dan Alana segera menjadi pusat perhatian, mereka tampak seperti pasangan bangsawan Eropa yang tersesat di jantung Jakarta.
"Tuan Dragunov, Nona Volskaya, selamat datang. Suite Kepresidenan sudah siap untuk Anda," ucap manajer hotel yang membungkuk rendah, berkeringat dingin karena aura intimidasi yang terpancar dari Alexei.
Saat mereka berjalan menuju lift privat, langkah Alana mendadak melambat. Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat. Di ujung lobi, dekat area restoran mewah yang terbuka, ia melihat sesosok pria.
Pria itu sedang berdiri membelakangi mereka, sedang berbicara dengan seorang pelayan. Bahunya tegap, rambutnya tertata rapi, dan meskipun ia mengenakan kemeja batik sutra yang elegan, Alana mengenali postur itu. Postur pria yang dulu selalu melindunginya dari kemarahan Wira. Pria yang ia tinggalkan tanpa kata demi menyelamatkan nyawanya.
Elian berbalik saat mendengar suara langkah kaki rombongan Alexei yang berat. Mata mereka bertemu. Dunia seolah membeku. Gelas air yang dipegang Elian hampir saja terlepas dari tangannya.
"Alana?" bisik Elian, suaranya penuh dengan ketidakpercayaan, kerinduan, dan rasa sakit yang bertumpuk selama beberapa tahun.
Alana merasakan cengkeraman tangan Alexei di pinggangnya mengeras seketika. Alexei merasakan perubahan suhu tubuh Alana. Ia mengikuti arah pandang wanita itu dan menemukan sosok Elian yang menatap Alana seolah sedang melihat hantu.
"Siapa dia?" suara Alexei berubah menjadi desisan maut yang hanya bisa didengar oleh Alana.
Alana mencoba menenangkan detak jantungnya. Ia harus tetap menjadi predator. "Hanya orang asing dari masa lalu, Alexei. Jangan hiraukan."
Namun, Elian tidak bisa menahan diri. Ia melangkah maju, mengabaikan tatapan membunuh dari Mikhail dan pengawal lainnya. "Alana, ini benar-benar kau? Kau menghilang... aku mencarimu ke mana-mana. Ayahmu bilang kau..."
Elian terhenti saat Alexei melangkah maju, memposisikan dirinya di depan Alana. menghalangi pandangan Elian sepenuhnya. Alexei jauh lebih tinggi dan lebih besar, auranya menelan keberadaan Elian dalam sekejap.
"Siapa kau yang berani menyebut nama istriku dengan begitu lancang?" tanya Alexei, suaranya tenang namun mengandung ancaman yang bisa membuat orang biasa gemetar ketakutan.
Elian mengerutkan kening, ia menatap pria asing di depannya dengan keberanian yang nekat. "Istri? Alana tidak mungkin menikah dengan pria sepertimu. Alana, apa yang terjadi?"
Alexei tertawa, sebuah tawa dingin yang mengerikan. Ia menoleh sedikit ke belakang, ke arah Alana, tanpa melepaskan tatapan tajamnya pada Elian. "Sepertinya serangga ini butuh pelajaran tentang sopan santun di Jakarta, Alana. Haruskah aku mematahkan lidahnya sekarang, atau kau ingin aku menunggu sampai kita di dalam kamar?"
"Alexei, hentikan," Alana melangkah maju, menyentuh lengan Alexei. Ia menatap Elian dengan tatapan yang sangat datar, seolah pria itu tidak lebih dari pajangan di lobi tersebut. "Elian, aku bukan lagi Alana yang kau kenal dulu. Pergilah. Jangan pernah mendekatiku lagi jika kau masih ingin bernapas besok pagi."
Elian tertegun. Ia melihat mata Alana yang dulu lembut kini menjadi sedingin es. Ia melihat bekas luka psikologis yang dalam di balik kemewahan yang ia kenakan. "Alana, apa yang pria ini lakukan padamu? Sebelumnya Kau tidak seperti ini..."
"Dia adalah segalanya bagiku, dan aku adalah miliknya," ucap Alana dengan suara yang mantap, meskipun di dalam hatinya ada bagian yang perih. "Pergilah, Elian. Sebelum suamiku kehilangan kesabarannya."
Alexei menarik Alana mendekat, merangkul bahunya dengan sangat erat hingga Alana bisa merasakan detak jantung Alexei yang cepat karena cemburu yang membara. Alexei menatap Elian untuk terakhir kalinya sebuah tatapan yang menjanjikan kematian jika pria itu berani muncul lagi.
"Mikhail, pastikan pria ini tidak pernah menginjakkan kaki di radius satu kilometer dari hotel ini lagi," perintah Alexei dingin.
Tanpa menunggu jawaban, Alexei menyeret Alana masuk ke dalam lift yang baru saja terbuka. Begitu pintu lift tertutup, Alexei langsung menyudutkan Alana ke dinding lift, mengurungnya dengan kedua tangannya.
"Jadi itu dia?" desis Alexei, wajahnya hanya beberapa inci dari wajah Alana. "Pria yang kau cintai sampai kau rela meninggalkannya demi keselamatannya? Pria yang membuat matamu bergetar tadi?"
"Alexei, itu sudah berakhir bertahun-tahun lalu," sahut Alana, mencoba membela diri.
"Tidak baginya! Dia menatapmu seolah kau adalah dunianya!" Alexei mencium Alana dengan kasar, sebuah ciuman yang penuh dengan kemarahan dan klaim kepemilikan. Ia ingin menghapus jejak ingatan Elian dari bibir Alana. "Ingat ini, Alana. Di Jakarta, di Finlandia, atau di neraka sekalipun... kau adalah milik Alexei Dragunov. Jika pria itu muncul lagi, aku tidak akan peduli pada hukum apa pun di negeri ini. Aku akan menghancurkannya berkeping-keping di depan matamu."
Alana menatap mata biru Alexei yang kini dipenuhi kegilaan obsesif. pertemuannya dengan Elian bukan hanya membuka luka lama, tapi juga memicu sisi paling berbahaya dari Alexei.
Lift berdenting saat mereka sampai di lantai suite. perang melawan Wira mungkin sulit, tapi menjaga Alexei agar tidak membantai semua orang yang mengenalnya di masa lalu akan menjadi tantangan yang jauh lebih berat.