Mau menyimpan bangkai serapat apa pun, pada akhirnya akan tercium juga.
Niat hati memberi kejutan untuk suami tercinta di tahun ke 2 pernikahan. Nyatanya aku, yang di beri kejutan yang menjadi awal runtuhnya kepercayaan dan hancurnya hati ku. Hingga perpisahan gak lagi bisa ku hindari. Dari pada hidup bersama pria yang sudah menghianati.
Di balik ruang kebesaran Joseph.
"Pelan pelan, sayang!"
"Gak bisa, mas! Aku udah gak sabar pengen piton kamu!"
"Kamu ini, selalu saja pandai memu4skan ku! Kamu agresif, inisiatif, aku suka itu!"
"Siapa dulu dong, Karin! Kekasih mu! Karena aku, kamu bisa berada di posisi ini! Ingat itu! Aku pahlawan mu, mas!"
"Dan sayangnya aku harus berkorban menikahi si Jenny. Wanita bodoh, manja, menyusahkan, dan gak bisa apa apa!" gerutu Joseph.
Ceklek.
"Je- Jenny, ka- kamu ngapain ke sini?"
Hingga aku di pertemukan kembali, dengan bocah yang mampu mengusik hidup ku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahlina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
🌻🌻🌻🌻🌻
Plak.
Jenny menepis tangan Alan dari kepala nya.
“Jangan makin kurang ajar ya bocah! Fokus aja sana udah sama jalan! Aku gak ingin ya! Karena kecerobohan mu! Hilang fokus mu dari ruas jalan, bikin aku jadi mati konyol!” cerocos Jenny dengan mata melotot galak.
Kedua tangan Alan kembali fokus pada setir kemudi.
“Sekarang aja bilang nya kurang ajar, tapi nanti! Mbak sendiri yang gak bakal mau jauh jauh dari aku!” celetuk Alan dengan nada kelewat santai.
Jenny bergidik, lalu duduk dengan memunggungi Alan. Netra nya fokus pada ruas jalan yang ia lihat dari jendela mobil.
“Najong! Amit amit cabang bayi! Mimpi apa aku semalam, bisa jalan bareng sama bocah gak punya malu modelan situ!” cibir Jenny.
Jenny refleks mengetuk kepala nya sendiri dengan kepalan tangan kanan nya. Sesekali wanita itu bah kan menoleh ke arah Alan.
‘Jangan sampai keturunan ku kelak bisa sepede tingkat dewa modelan bocah tengil kaya Alan!’ jerit batin Jenny, menatap Alan dengan horor.
Sementara Alan sendiri, cukup terhibur dengan tingkah Jenny.
“Ahahahaha astaga! Sumpah, kamu kocak bangat sih mbak! Ngapain coba pake ketuk kepala mu sendiri? Di kata kepala mbak itu kuat seperti batu?”
“Bukan cuma kepala ku yang kuat! Tapi mental ku juga kuat! Aku bukan wanita lemah yang mengalah ketika di perlakukan tidak adil oleh suami ku sendiri!” seru Jenny tanpa saringan.
Alan menggeleng gak percaya, dengan nada mengejek, “Aku tau itu, mental mbak cantik kuat setelah 2 tahun pernikahan? Itu nama nya menyerah mbak.”
“Aku … i- ini rumah siapa? Kenapa kamu membawa ku ke tempat ini bocah?” beo Jenny penuh tanya. Menyadari Alan menghenti kan laju mobil nya di sebuah halaman rumah yang tampak megah di hadapan nya.
“Turun aja dulu! Nanti juga mbak bakal tau sendiri!” Alan melepa5 sabuk pengam4n pada tubuh Jenny, usai melepa5 sabuk itu dari diri nya.
“Jangan bilang kamu mau perko5a aku di rumah mu? Benar kan? Itu rumah mu?” cecar Jenny dengan tatapan was pada pada Alan. Ia menyilang kan kedua tangan nya di depan dada.
Alan menghembus kan nafas nya dengan kasar, “Itu bakal jadi rumah kita, mbak! Tapi nanti setelah aku resmi memiliki mbak! Mbak bisa tinggal di sini bersama ku kalo mbak mau!”
Jenny terperangah saat mendengar Alan mengatakan nya.
‘Sumpah, demi apa! Ini bocah tingkat menghayal nya udah gak ketolong! Makin lama aku deket nih bocah! Bisa makin keracunan akut otak aku sama pikiran nya! Gak bisa! Aku harus pulang! Kalo perlu menghilang dari pandangan nya!’ jerit batin Jenny.
Alan mengelus pipi Jenny dengan lembut, “Mbak cantik gak akan salah memilih berpisah dengan Joseph!”
“Gila!” umpat Jenny, sebelum ke luar dari mobil dan menutup pintu nya dengan kasar.
Brak.
Alan terkesiap, hembusan angin dari pintu mobil yang di tutup Jenny segera menyadar kan nya.
“Lah dia malah pergi! Aku salah apa lagi?” gumam Alan, buru buru ke luar dari mobil.
Alan mengejar Jenny yang berjalan ke arah pagar rumah, meski butuh beberapa kilometer untuk sampai ke sana.
“Mbak! Pintu masuknya di sana!” beo Alan setengah berteriak, menunjuk ke arah pintu utama rumah pribadi nya yang di belakang nya.
“Siapa bilang aku mau ke rumah mu! Melihat nya aja aku gak mau! Anggap ini pertemuan kita yang terakhir, bocah! Aku gak mau lagi bertemu dengan mu! Bocah gila!” gerutu Jenny tanpa menghenti kan langkah nya.
Rambut panjang Jenny yang terurai ikut berkibar mengikuti langkah nya yang cepat. Pandangan nya fokus ke depan gerbang besi berwarna coklat, menjulang tinggi. Membatasi halaman rumah Alan dengan jalan raya.
Alan tersenyum sinis, hanya beberapa langkah di belakang Jenny.
“Jangan mimpi bisa ke luar dari gerbang rumah ini, mbak!! Justru ini awal dari hubungan kita yang serius!” seru Alan dengan tegas, penuh penekanan.
Jenny menggigit bibir bawah nya, tangan nya yang dingin mencengkram kain dress yang membalut tubuhnya. Ia mati matian menyembunyi kan rasa takut yang seketika menyergap.
Nafas Jenny ngos ngosan, seakan detak jantungnya ikut terpompa lebih cepat. Mengajak nya menghindar dari Alan yang menjelma bak orang jahat di mata nya kini.
‘Astaga! Kenapa dengan ku! Alan, bocah itu pasti cuma menggertak! Mana mungkin aku yang lebih dewasa darinya, bisa terjebak dengan hubungan yang mustahil serius!’ jerit batin Jenny.
Grap.
“Akkhhh!” pekik Jenny.
Langkah Jenny terpak5a terhenti, saat tangan Alan mencekal pergelangan tangannya dengan erat. Lalu menarik nya hingga wanita itu berbalik menghadap ke arah nya.
“Lepas!” seru Jenny penuh penekanan, ia bah kan sampai mendongak untuk dapat menatap wajah Alan yang memiliki tubuh lebih tinggi dari nya.
Alan menaikkan satu alis nya. Tanpa permisi, tangan Alan yang lain bergerak di punggung Jenny, mendorong nya lebih dekat dengan nya.
“Aku kan udah bilang! Mbak gak akan pernah bisa ke luar dari rumah ini tanpa seizin ku! Dan aku belum mengizin kan mbak untuk meninggal kan rumah ini!” ujar Alan, lalu memanggul tubuh Jenny di bahu nya bak karung beras.
“Akkhhh! A- apa yang kamu laku kan bocah! Cepat turun kan aku!” jerit Jenny dengan kaki nya menendang angin, ia bah kan mencengkram punggung Alan.
Alan terus melangkah menjauh dari pagar rumah, dengan mantap menuju pintu utama rumah mewah milik nya.
“Udah pasti gendong mbak lah! Aku mau perlihat kan pada mbak, seperti apa rumah masa depan kita!” timpal Alan dengan bangga.
Jenny menimpali nya dengan penuh emosi, “Aku gak mau punya masa depan dengan bocah seperti mu! Aku gak percaya ini rumah mu! Ini pasti rumah orang tua mu! Kamu itu gak jauh beda dengan mas Jo! Tukang tipu!”
Plak.
Dengan lancang nya, Alan menepuk pant4t Jenny, saking gema5 nya mendengar tuduhan wanita itu.
Jenny berjingkat kaget, “Eh kurang ajar kamu bocah! Jangan pernah tepuk pant4t ku! Itu nama nya pelecehan akut!”
Alan menggeleng, dengan nada dingin, “Aku suka dengan gaya bicara mu mbak! Tapi aku gak suka terus kamu samakan dengan mantan brengsek mu itu!”
“Tolong, ada penculi kan wanita dewasa!” jerit Jenny makin kalap, saat Alan menaiki anak tangga menuju teras rumah yang super megah.
Alan terkekeh, “Ahahahaha mana ada penculi kan wanita dewasa! Orang aku mau ajak mbak seneng seneng!”
Kreeeeek.
Bersambung…