Kisah ini mengikuti perjalanan Raka Pratama, seorang mantan prajurit pasukan khusus Indonesia yang harus meninggalkan dinas militer karena kejadian berbahaya yang disembunyikan pemerintah. Tanpa tujuan dan terjebak dalam hutang, ia akhirnya bergabung dengan salah satu Perusahaan Militer Swasta (PMS) terbesar dan paling rahasia di dunia: "Garuda Security International".
Apa yang dimulai sebagai pekerjaan untuk bertahan hidup, perlahan mengungkap jaringan rahasia yang mengendalikan perang, politik, dan ekonomi dunia. Raka dan rekan-rekannya akan berhadapan dengan musuh dari negara saingan, organisasi bayangan, hingga pemimpin dunia sendiri. Dari misi penyelamatan sederhana hingga menjadi kunci penyelamatan kemanusiaan dari kehancuran total.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dena gusdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Kekuatan Gabungan
Udara terasa berdenyut kencang. Cahaya biru yang memancar dari tubuh Raka kini tidak lagi terlihat kasar atau tak terkontrol seperti sebelumnya — ia mengalir halus, menyelimuti seluruh kubah pertahanan, memperbaiki retakan-retakan yang ada, dan membuat perisai itu kembali bersinar bahkan lebih terang dari semula. Para Penjaga Elemen yang tadinya tertekan kini merasakan aliran energi segar masuk ke dalam tubuh mereka, memulihkan tenaga yang hampir habis.
Ketiga Panglima Langit di luar sana tertegun. Mereka yang selama ini merasa tak terkalahkan, kini menatap pemuda di bawah sana dengan pandangan campuran kaget dan curiga.
"Mustahil..." gumam Panglima yang bertubuh besar, matanya yang menyala kuning menyempit tajam. "Sumber Unggul... seharusnya hanya bisa dikumpulkan dalam jumlah besar, tidak bisa dikuasai sehalus itu oleh makhluk rendahan!"
Panglima kedua, seorang wanita berambut perak panjang dengan sayap tipis berwarna keemasan, melangkah maju selangkah. Suaranya dingin dan menusuk: "Jangan terburu-buru. Itu hanya trik sementara. Kekuatan itu pasti akan segera menguras habis nyawanya."
Tapi kata-katanya seolah tidak mempan. Raka masih melayang di udara, tubuhnya tegak dan stabil. Ia menatap ketiga musuh itu tanpa rasa takut sedikit pun. Di belakangnya, ribuan pasukan manusia dan para Penjaga berdiri siap, menyalurkan keyakinan mereka padanya.
"Kalian salah besar," ucap Raka, suaranya bergema jelas ke seluruh penjuru. "Kekuatan ini bukan milikku saja. Ia adalah milik bumi, milik semua makhluk yang hidup di sini. Selama kami bersatu, selama kami saling mendukung... energi ini tidak akan pernah habis!"
Ia menoleh sekejap ke arah Kakek Aran dan para Penjaga, lalu ke arah Jenderal Agus dan pasukannya. "Bersama-sama... kita bisa melakukannya!"
Kakek Aran tersenyum lebar, lalu mengangkat tongkat kristalnya tinggi-tinggi. "Benar sekali! Para Penjaga — salurkan kekuatan kalian ke dalam aliran Sumber Unggul! Jangan menahan, biarkan energi kita menyatu menjadi satu!"
Seketika itu juga, lima puluh Penjaga Elemen serentak mengangkat tangan mereka. Energi berwarna-warni mengalir dari tubuh mereka, menyatu dengan cahaya biru yang memancar dari Raka, membentuk pusaran energi raksasa yang berputar perlahan di tengah medan pertempuran. Tekanan udara menjadi semakin kuat, membuat tanah bergetar dan awan di langit terpecah menjadi dua.
Di sisi lain, Jenderal Agus juga memberi perintah tegas: "Semua pasukan! Salurkan daya tembak ke pusat penyerangan! Serang sesuai arahan aliran energi! Kita akan menyerang sebagai satu kesatuan!"
Ratusan laras senjata berat diarahkan serentak. Kali ini, bukan hanya peluru biasa yang keluar — mereka menyalurkan energi dari generator khusus yang disesuaikan dengan frekuensi Sumber Unggul, sehingga tembakan mereka kini berubah menjadi aliran cahaya yang menyatu dengan serangan elemen alam.
Ketiga Panglima Langit akhirnya sadar bahwa situasi tidak lagi sama seperti sebelumnya. Wajah mereka berubah menjadi marah dan waspada.
"Baiklah... jika kalian menginginkan kematian yang lebih cepat, maka kami akan penuhi!" teriak Panglima ketiga, seorang pria berwajah tajam dengan baju zirah hitam pekat. "Kita serang bersama! Jangan beri mereka kesempatan untuk menyempurnakan kekuatan itu!"
Ketiga sosok itu serentak mengumpulkan energi raksasa di tangan mereka: bola cahaya kuning terang, gelombang angin tajam berwarna keperakan, dan kilatan petir hitam yang mematikan. Mereka melemparkannya bersamaan, menciptakan serangan gabungan yang cukup untuk meratakan sebuah kota besar dalam sekejap.
"Serangan Gabungan: Badai Penghancur!"
Tiga kekuatan itu menyatu menjadi satu pusaran kematian raksasa, bergerak menuju kubah pertahanan dengan kecepatan yang sulit dihindari. Suara gemuruhnya begitu keras hingga telinga terasa nyeri.
Namun, Raka tidak mundur sedikit pun. Ia mengangkat kedua tangannya ke depan, dan seluruh aliran energi yang terkumpul — dari Sumber Unggul, dari para Penjaga, dan dari kekuatan militer manusia — mengalir bersamaan, membentuk perisai dan tombak energi raksasa berwarna biru keemasan yang berdenyut hebat.
"Pertahanan dan Serangan: Gabungan Cahaya Bumi!"
Dua kekuatan raksasa bertabrakan tepat di tengah udara. Ledakan yang dihasilkan menciptakan gelombang kejut yang mendorong awan dan debu terbang ribuan meter. Cahaya yang menyilaukan menutupi seluruh wilayah, membuat siang berubah menjadi putih bersih selama beberapa detik.
Saat cahaya perlahan mereda, terlihat jelas: kubah pertahanan masih berdiri kokoh. Serangan gabungan ketiga Panglima berhasil ditahan sepenuhnya. Bahkan lebih dari itu — energi yang tersisa dari pertemuan kedua kekuatan itu berbalik arah, melesat kembali menuju ketiga Panglima dengan kecepatan dua kali lipat lebih cepat.
Ketiga Panglima tidak sempat menghindar. Mereka terlempar mundur dengan keras, menabrak lambung kapal induk raksasa di atas sana, dan akhirnya terjatuh dengan berat di atas tanah yang retak-retak. Baju zirah mereka retak, darah keemasan menetes dari sudut mulut mereka, dan wajah mereka penuh ketidakpercayaan yang mendalam.
"Tidak mungkin..." gumam Panglima besar itu, terbatuk darah. "Bagaimana bisa... kekuatan gabungan semacam ini..."
Di dalam kapal induk, suasana menjadi hening seketika. Para penasihat dan petinggi saling pandang dengan wajah pucat. Sosok tua berjubah putih di singgasana kini berdiri tegak, matanya menyala penuh kemarahan yang tak tertahankan.
"Jadi begini..." gumamnya pelan namun dingin. "Mereka tidak hanya memiliki kekuatan warisan... mereka juga berhasil menggabungkan teknologi dan kekuatan alam. Itu tidak bisa dibiarkan terus berlanjut."
Ia mengangkat tangannya, memberi perintah terakhir: "Aktifkan seluruh armada. Kirimkan pasukan elit dan seluruh senjata berat. Kita tidak akan membiarkan benih perlawanan ini tumbuh lebih besar lagi. Hancurkan semuanya — tanah, udara, segala sesuatu yang ada di sana. Biarkan tidak ada jejak yang tersisa."
Di bawah sana, Raka melihat ribuan pesawat tambahan mulai turun dari kapal induk, lebih banyak dan lebih kuat dari sebelumnya. Namun, ia tidak merasa takut. Ia merasakan kekuatan di sekelilingnya, dukungan dari teman-temannya, dan semangat yang berkobar di dada setiap orang yang berdiri bersamanya.
Ia menoleh ke belakang, tersenyum tipis, lalu berteriak dengan suara lantang yang didengar semua orang:
"Mereka mau kirim lebih banyak? Tidak masalah! Selama kita bersatu, tidak ada kekuatan yang bisa mengalahkan kita! Siap untuk bertarung sampai akhir?!"
"SIAP!!"
Terorakan ribuan orang bergema bersamaan, mengguncang langit dan bumi. Para Penjaga mengangkat senjata mereka, pasukan manusia mengokang senjata, dan Raka kembali melayang lebih tinggi, bersiap menghadapi gelombang serangan berikutnya.
Perang ini masih jauh dari selesai. Tapi untuk pertama kalinya dalam ribuan tahun... umat manusia dan penghuni bumi lainnya tidak lagi hanya menunggu kematian. Mereka kini memiliki harapan, kekuatan, dan keberanian untuk melawan kembali.