Kalau kamu butuh novel yang ceritanya manis, menggemaskan, dan ringan, untuk menemani waktu istirahat dan mengusir penat, kisah tentang Anaya dan Bos narsisnya adalah pilihan terbaik.
Setelah lima tahun bertahan menghadapi Bima—CEO muda genius, tajir melintir, dan narsisnya selangit—Anaya sang sekretaris kompeten memutuskan resign demi mengejar mimpi membuka toko kue dan toko buku kecil.
Beban finansialnya tuntas sejak adiknya sukses menjadi atlet nasional.
Namun, rencana resign itu buyar saat Mama Bima justru menjebaknya untuk menjadi menantu. Bagaimana kelanjutan nasib Anaya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35: GODAAN DI BALKON KAMAR
Deru halus pendingin ruangan dan suara deburan ombak yang konstan dari arah pantai perlahan-lahan merayap masuk ke dalam alam bawah sadar Anaya. Kelopak matanya terasa luar biasa berat. Rencana awal yang hanya ingin berpura-pura pingsan demi menghindari godaan ketampanan ilegal Bima pasca-mandi, justru berujung fatal. Rasa lelah yang menumpuk akibat kurang tidur sejak Senin lalu, ditambah jadwal keliling proyek di bawah terik matahari Bali, sukses membuat Anaya benar-benar tumbang ke alam mimpi.
Ketika Anaya akhirnya berhasil mengerjapkan mata, ruang kamar sudah diselimuti kegelapan yang temaram. Hanya ada pendar cahaya lampu tembikar khas Bali di sudut ruangan yang menyala.
Anaya refleks menegakkan tubuhnya di atas sofa, meregangkan otot-otot lehernya yang terasa agak kaku. Dia meraba-raba meja kecil di samping sofa untuk mencari ponselnya. Begitu layar menyala, angka digital menunjukkan pukul delapan lewat empat puluh lima malam.
"Hah?! Jam sembilan malam?!" Anaya memekik pelan dengan suara serak khas orang bangun tidur. Dia langsung panik. Jam makan malam sudah lewat hampir dua jam yang lalu.
"Sudah bangun, Putri Tidur?"
Sebuah suara bariton yang familier memecah keheningan dari arah sudut lain ruangan. Anaya menoleh cepat dan menemukan Bima sedang duduk santai di kursi kerja kayu jati, menatapnya dengan binar jenaka. Untungnya, pria itu sudah tidak lagi bertelanjang dada menggunakan handuk. Bima sekarang memakai kemeja linen kasual berwarna putih bersih dengan beberapa kancing atas yang sengaja dibuka, dipadukan dengan celana pendek santai.
"P-Pak Bima... Kenapa Bapak gak bangunin saya?" tanya Anaya gugup, buru-buru merapikan rambutnya yang agak berantakan.
"Saya sudah coba bangunin kamu tiga kali, Anaya. Tapi kamu cuma mendengkur halus sambil meluk bantal sofa erat banget. Saya kan jadi gak tega mengganggu simulasi pingsan kamu yang kebablasan itu," goda Bima, senyum miring andalannya langsung terpasang rapi.
Anaya mengerang frustrasi dalam hati, wajahnya kembali memanas karena malu. "Terus... Bapak sendiri sudah makan malam?"
"Belum. Saya sengaja nungguin kamu," jawab Bima santai sambil bangkit berdiri dari kursinya. Dia menyambar kunci kamar dan dompetnya yang tergeletak di atas meja. "Perut saya sudah demo dari satu jam yang lalu karena sekretaris saya malah asyik mendengkur. Ayo keluar, kita cari makan di sekitar sini. Saya gak mau ya, kamu pingsan beneran besok pagi karena kelaparan."
Anaya bergegas menuju cermin untuk membasuh muka dan merapikan penampilannya. Namun, saat dia membuka kopernya untuk mencari pakaian yang cocok, dia kembali menghela napas panjang. Pikiran logisnya benar-benar dikalahkan oleh realitas isi kopersya.
Selama bekerja di Bimantara Group, perjalanan dinas bersama Bima selalu memiliki satu pola yang pasti: kerja, rapat, tinjauan lapangan, dan kembali kerja sampai larut malam. Tidak ada dalam kamus Bima untuk menjadwalkan aktivitas santai atau liburan sejenak di sela-sela urusan kantor. Karena itu, isi koper Anaya didominasi oleh kemeja kerja, celana kain formal, dan satu-satunya baju santai yang dia bawa hanyalah kaos ayam jago serta piyama sutra merah kiriman Ibu Ambar yang sudah dia kubur dalam-dalam di dasar koper.
Akhirnya, dengan sangat terpaksa, Anaya melangkah keluar dari kamar mandi dengan memakai celana kulot hitam formal dan kemeja katun bergaris biru-putih yang biasa dia pakai untuk hari Jumat di kantor pusat. Rapi, sopan, dan... sangat terlihat seperti orang yang mau presentasi anggaran di depan dewan direksi.
Bima yang sudah menunggu di dekat pintu lobi vila langsung menaikkan sebelah alisnya begitu melihat penampilan Anaya. Pria itu memandang Anaya dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan tidak percaya.
"Anaya, kita mau cari makan santai di pinggir pantai Bali, bukan mau menghadiri rapat pleno dadakan dengan investor asing," komentar Bima, tangannya terlipat di dada.
"Saya gak bawa baju santai yang layak, Pak. Biasanya kan perjalanan dinas dengan Bapak itu isinya cuma kerja, kerja, dan kerja tiada henti sampai tipes. Siapa yang menyangka kalau kali ini Bapak mendadak mau bersikap agak relaks begini?" balas Anaya membela diri dengan nada santai namun penuh sindiran.
Bima terkekeh rendah, suara tawanya terdengar renyah. alih-alih kesal karena disindir, pria itu justru melangkah mendekati Anaya. "Oh, jadi kamu protes karena saya terlalu gila kerja? Baik, khusus untuk malam ini, saya akan tunjukkan kalau bos kamu ini juga tahu caranya menikmati hidup. Ayo."
Malam itu, Bima benar-benar membuktikan ucapannya. Dia tidak mengajak Anaya ke restoran formal di dalam resort yang suasananya kaku. Sebaliknya, Bima membawa Anaya berjalan kaki menyusuri pedestrian pantai menuju sebuah kedai makan lokal semi-terbuka yang menyajikan hidangan laut bakar khas Jimbaran.
Di bawah temaram lampu gantung dan alunan musik akustik yang santai, mereka menikmati ikan bakar, kerang saus padang, dan es kelapa muda langsung dari batoknya. Suasana mengalir begitu saja tanpa ada pembahasan mengenai grafik laba rugi atau tenggat waktu laporan proyek. Obrolan mereka beralih menjadi lebih kasual, di mana Bima menceritakan masa kecilnya yang sering dipaksa ikut kursus bisnis oleh sang ayah, sementara Anaya menanggapi dengan cerita-cerita lucu saat dia masih menjadi mahasiswa baru yang sering salah masuk kelas. Untuk pertama kalinya, Anaya melihat sisi lain dari Bima yang tidak melulu narsis, melainkan sosok pria dewasa yang menyenangkan dan hangat.
Sekitar pukul sebelas malam, mereka kembali ke Presidential Suite. Angin laut malam bertiup sedikit lebih kencang, membawa aroma garam yang khas dan udara malam yang sejuk namun sedikit lembap. Rasa kenyang dan suasana yang relaks membuat Anaya merasa enggan untuk langsung tidur. Dia melangkah menuju balkon kamar yang luas, yang langsung menghadap ke arah hamparan laut lepas yang gelap gulita namun dihiasi oleh kerlip lampu perahu nelayan di kejauhan.
Anaya bersandar pada pagar pembatas balkon, membiarkan rambut panjangnya terbang lembut tertiup angin malam. Dia memejamkan matanya sejenak, menikmati ketenangan yang jarang dia dapatkan di hiruk-pikuk kota Jakarta.
SRET.
Suara geseran pintu kaca balkon membuat Anaya menoleh. Bima keluar dengan membawa dua buah gelas berisi air putih hangat. Pria itu menyodorkan salah satu gelas kepada Anaya, yang langsung diterima dengan senyuman tipis.
"Terima kasih, Pak," ujar Anaya pelan, lalu menyesap air hangat tersebut untuk mengusir rasa dingin yang mulai menggigit kulitnya.
Bima tidak langsung menjawab. Dia memilih untuk duduk di sofa rotan panjang yang ada di balkon, menyandarkan punggungnya dengan santai. Kakinya yang panjang disilangkan, menampilkan kesan maskulin yang begitu alami. "Duduk sini, Anaya. Angin di dekat pagar terlalu kencang, nanti sekretaris saya malah masuk angin beneran."
Anaya sempat ragu selama beberapa detik, namun akhirnya dia melangkah dan duduk di ujung sofa rotan yang sama, memberikan jarak yang cukup aman di antara tubuh mereka. Dia kembali menatap lurus ke arah lautan luas.
"Pak Bima," panggil Anaya memecah keheningan. "Sebenarnya... apa yang Bapak katakan ke para staf finansial di pantry kemarin itu... benar-benar bikin saya kaget."
Bima menolehkan kepalanya, menatap profil samping wajah Anaya yang diterangi oleh cahaya rembulan malam. "Kaget karena apa? Karena saya bilang kalau saya menyukai hal yang alami?"
"Bukan itu," Anaya menoleh, menatap mata elang Bima dengan serius. "Bapak sengaja memperkeruh suasana tahu, gak? Sekarang satu kantor pasti mikir kalau kita... kita punya hubungan khusus."
Bima tidak langsung membantah. Dia justru menggeser posisi duduknya secara perlahan, mengikis jarak aman yang sudah dibuat oleh Anaya sebelumnya. Jantung Anaya langsung kembali menabuh ritme panik saat menyadari tubuh tegap Bima kini hanya berjarak beberapa sentimeter saja dari lengannya.
"Anaya," suara Bima merendah, berubah menjadi sangat intim dan kasual, kehilangan seluruh formalitas seorang atasan. Pria itu memajukan wajahnya secara perlahan, mendekati sisi wajah Anaya hingga gadis itu bisa merasakan kehangatan napas Bima di kulit pipinya.
"Kamu tahu kenapa Mama cuma pesen satu kamar untuk perjalanan dinas kita kali ini?" bisik Bima tepat di dekat telinga Anaya, membuat bulu kuduk gadis itu meremang seketika.
Anaya menahan napasnya, tidak berani bergerak sedikit pun karena wajah Bima terlalu dekat. "K-Kenapa, Pak?"
Bima mengulas senyum tipis yang sarat akan makna mendalam, tatapannya terkunci lekat-lekat pada sepasang mata Anaya yang membulat panik namun terlihat sangat cantik di bawah sinar bulan.
"Karena Mama tahu," bisik Bima lagi, suaranya terdengar begitu lembut namun penuh dengan keyakinan mutlak. "Saya gak bakal biarin kamu tidur jauh-jauh dari pelukan saya malam ini."
Detik itu juga, waktu seolah berhenti berputar di balkon kamar Presidential Suite tersebut. Anaya hanya bisa terpaku dengan jantung yang berdegup gila-gilaan, menyadari bahwa dinding pertahanan hatinya yang dia bangun dengan susah payah selama ini, malam ini benar-benar berada di ambang kehancuran total akibat pesona nyata sang bos narsis.
ternyata pada masih
malu" kucing...
lanjut Thor ceritanya
di tunggu updatenya
cerita kelanjutannya, Thor
mungkin Anya belum merasakan benih" cinta pak...
pak Bima juga seperti itu
kerjaan melulu yg di fikirkan...