Untuk visualnya, silahkan kunjungi Instagram noer_azzura16
Kakak Bella ditemukan dalam keadaan mabukk dan menyebabkan kecelakaan yang merenggut nyawa Lusi, adik Leo. Membuat ibu dan ayah Leo terpukul hebat.
Sementara Bella dan Leo baru saja kembali dari bulan madu. Kebahagiaan itu hancur seketika, melihat keluarga yang akhirnya menatap Bella sebagai seorang adik dari pembunuhh orang yang mereka cintai.
Setelahnya Bella bahkan tidak bisa menatap cinta itu lagi di mata suaminya. Meski kakaknya bahkan di penjara. Dia masih harus menanggung akibat dari apa yang dilakukan kakaknya itu.
Dua orang yang tadinya saling mencintai, dendam telah mengalahkan cinta mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6- CKOD 6
Di penjara, beberapa orang suruhan Oscar, asisten pribadi Leo sudah berada di sel tahanan Bagas. Seorang pria yang tubuhnya sebenarnya besar, cukup tinggi dan dari wajahnya, sama sekali tidak terlihat seperti orang yang bisa berada di penjara.
Wajah pria itu tampak teduh. Tatapannya juga tidak seperti orang jahat.
Ketika tiga orang itu masuk, dia menoleh dengan sorot mata penuh tanya.
"Hajar dia!" pekik salah satunya.
Sementara Oscar yang mendapatkan perintah mendokumentasikan hal itu memegang ponsel dan merekamnya.
Dua orang datang bersama mendekat ke arah Bagas. Bagas yang terkejut berusaha untuk bangkit. Tapi, belum sempat dia bangkit berdiri. Salah satu pria yang berada di kanan menendang kakinya dengan sangat kuat.
Brukk
Lutut Bagas membentur lantai dingin penjara itu.
"Siapa kalian? kenapa memukulku?"
"Banyak bacott!"
Bugh
Dukk
Pukulan dan tendangan kembali mendarat di perut Bagas. Bagas tersungkur memegang perutnya yang sakit. Orang yang berteriak tadi, mendekati Bagas. Tatapan matanya mengerikan.
Pria itu tampak seperti algojoo yang siap menuntaskan Bagas yang sudah meringkuk kesakitan.
"Rasakan ini!"
Dugh
Dugh
Kepala Bagas di tendangg dengan sangat keras. Sampai membentur dinding yang ada di belakangnya. Suaranya keras sekali, Bagas bahkan langsung tidak sadarkan diri.
Mirisnya, ketika Bagas terjatuh karena tak sadarkan diri. Di dinding tempat kepalanya terbentur tadi, cairan mereka mengalir perlahan.
"Bos!"
Salah satu dari dua orang yang ada di samping pria itu tampak panik.
Oscar menghentikan perekaman itu.
"Lapor petugas, bawa dia ke rumah sakit!" perintah Oscar.
**
Sementara itu, di dalam mobil. Bella masih sangat gelisah. Dia sungguh takut terjadi sesuatu pada kakaknya. Kakaknya sudah amnesia. Lantas bagaimana lagi keadaannya kalau disiksaa. Dia sekarang malah menyalahkan dirinya sendiri. Kenapa dia berani berpikir untuk kabur?
Pikirannya sungguh kacau. Dia takut sekali kakaknya disakiti oleh Leo.
Dan setelah beberapa menit dari klinik. Leo menerima pesan video itu dari Oscar.
Leo sengaja mengeraskan volume pendeknya, ada suara Bagas disana.
'Siapa kalian? kenapa memukulku?'
Bella tahu itu suara kakaknya, Bella segera menoleh ke arah Leo.
"Mas..." lirih Bella dengan mata yang sudah kembali berkaca-kaca.
Namun tanggapan Leo justru begitu santai.
"Mau lihat?"
Dada Bella sesak, Leo sungguh bukan lagi Leo yang dia kenal dulu.
Dengan santainya juga, Leo memperlihatkan video dimana orang-orang suruhannya memukul dan menendang Bagas sampai tersungkur kesakitan.
Air mata Bella mengalir dengan begitu deras. Wanita yang sadar dirinya sama sekali tidak berdaya itu melipat kedua telapak tangannya di depan Leo.
"Tolong jangan lakukan itu mas, hentikan mas. Aku yang salah, aku janji tidak akan kabur lagi. Berpikir untuk kabur lagi pun aku tidak akan melakukannya. Tolong jangan siksa kakakku, mas. Tolong!"
Leo mematikan layar ponselnya. Dia melihat situasinya sudah tidak seperti yang dia perintahkan pada Oscar. Tapi melihat Bella yang tak berdaya. Leo mendengus pelan.
"Aku bisa perintahkan Oscar membawa kakakmu ke rumah sakit setelah ini. Tapi tergantung bagaimana kamu bisa membujukku!"
Deg
Dada Bella kembali terasa sesak. Bahkan Leo mengatakan hal seperti itu? saat dirinya dalam keadaan lemah tak berdaya seperti sekarang. Kenapa Leo jadi seperti itu? Bella merasa sungguh tidak sedang berada di samping seorang manusia.
Bella menyeka air matanya dengan kedua tangan yang masih gemetaran. Bella membuka sendiri kancing blouse yang dia pakai satu persatu.
"Pak Arman, cari tempat menepi. Dan keluar dari mobil!" seru Leo pada supir pribadinya, pak Arman.
"Baik tuan?"
Mobil itu sudah menepi. Dan pak Arman sudah keluar dari dalam mobil, berjaga tak jauh dari mobil itu terparkir.
Di dalam mobil, Bella juga sudah tidak menggunakan apapun lagi. Dia melepaskan jas yang dipakai oleh Leo dengan wajah itu, wajah yang memang tidak punya pilihan apapun. Wajah pucat tanpa ekspresi, yang memang tidak tahu harus apa, selain mengikuti kemauan Leo.
"Lama sekali..."
Leo menepis tangan Bella, dan melepaskan sendiri pakaiannya. Pria itu meraih dagu Bella dan menciumnya dengan sangat kasar.
Pria itu segera mendorong Bella, menghujamnya berkali-kali hingga membuat mobil mewah itu sedikit berguncang.
Sepuluh menit, dua puluh menit, akhirnya guncangan dari dalam mobil berhenti. Pak Arman menoleh, tapi belum berani mendekat kalau Leo belum memberikan perintah.
Sementara Bella yang benar-benar sudah lemas. Langsung mengenakan pakaiannya dengan cepat. Lalu duduk di pojok sekali, berusaha duduk sangat jauh dari Leo.
Di lantai mobil itu, banyak sekali tissue kotor yang tergeletak dimana-mana.
Leo membuka kaca jendela.
"Pak Arman! kita pulang!"
"Baik tuan!"
Pak Arman bergegas masuk ke dalam mobil. Dari banyaknya tissue yang ada di bawah. Dia sudah bisa menebak seperti apa kasarnya permainan tuannya itu pada istrinya.
Mobil kembali berjalan ke arah kediaman Alexander. Begitu sampai, dan mobil berhenti. Bella membuka pintu mobil itu dengan perlahan. Kakinya masih lemas, tapi dia tahu, kalau dia bergerak dengan lambat ke dalam rumah. Maka itu akan menjadi satu kesalahan lagi, dimana dia pasti akan mendapatkan hukuman lagi nanti.
Bibi Okta yang melihat Bella kembali, merasa begitu sedih.
'Nona...' lirihnya dalam hati.
Dan dari kondisi Bella yang sangat lemas. Dia yakin kalau sebenarnya Bella belum disarankan keluar dari klinik, tapi sudah di suruh pulang.
"Non..." bibi Okta menghampiri Bella.
Matanya melebar, sebelum ke klinik. Tidak ada tanda merah di leher Bella. Tapi sekarang, bibi Okta melihat banyak tanda merah di leher Bella, bahkan bukan merah lagi, sudah kebiruan.
"Kurung dia di kamar. Tanpa ijinku, dia tidak boleh keluar!" pekik Leo yang sepertinya tak punya niat untuk masuk ke dalam rumah.
"Baik tuan" sahut bibi Okta.
Begitu bibi Okta membantu Bella masuk. Leo memang pergi lagi, dengan mobil yang berbeda.
"Non, pelan-pelan saja...."
"Bagus ya!" pekik Vivian yang membuat bibi Okta dan Bella menghentikan langkah mereka.
Vivian dan Desy segera mendekati Bella. Bahkan langsung mendorongnya.
Brukk
Tubuh lemah itu, kembali terjatuh di lantai.
"Non..."
"Kenapa Leo bisa sampai mengantar kamu? kamu ngadu apa sama Leo?" marah Vivian.
"Nyonya, yang telepon tuan bukan non Bella. Non Bella tidak bawa ponsel..."
"Diam kamu!" sela Desy memekik.
Mendengar keributan itu, pak Bidin yang memang berada di dekat pintu utama, memberanikan dirinya masuk.
"Maaf nyonya, yang menghubungi tuan tadi itu saya. Saya disuruh isi formulir, saya tidak paham. Makanya saya telepon tuan!" jelas pak Bidin.
"Tetap saja, kesalahan kamu menghilangkan bola Davin harus mendapatkan hukuman. Berlutut di teras seperti biasanya! cepat!" pekik Vivian.
"Nyonya, tapi kata tuan Leo..."
"Kamu mau dipecat?" pekik Desy pada bibi Okta.
"Aku berlutut!" sela Bella, "aku akan berlutut!" ujarnya terbata-bata karena dia memang merasa sangat lemah saat ini.
Bella tak mau bibi Okta dipecat. Dia berjalan sendiri ke teras samping. Dan berlutut di sana, dengan hati yang sangat terluka.
***
Bersambung...
Author, boleh ngamuk gak, sama suami & keluarga nya..?
Karena menurut ku keluarga suaminya ada gila²nya.. 🤭
Pengen aja jadi psikopat jika di posisi si Bella..
Biar di babat habis mereka semua.. 🤭
mudah mudahan ada penolong 🤲
mimpi aja kamu Leo 🤭
Nicklas
niklas🙈