Audrea Dena Prasella, siswi yang terkenal sebagai ratu bully sekolah sekaligus pacar ketua geng motor ternama, suatu hari melakukan kesalahan fatal setelah merundung seorang siswi pindahan yang ternyata adalah adik dari pemilik sekolah yang baru.
Grerant Alvaro Yubel, CEO muda tampan yang baru sebulan membeli sekolah itu, ternyata mengetahui rahasia besar Dena yang selama ini terus ditutupinya, dan karena kasus Dena yang telah merundung adiknya. Alvaro memberinya pilihan mengejutkan: menikah diam-diam dengannya, atau identitas rahasianya terbongkar?
Dena tak menyangka satu kesalahan bisa membuat hidupnya jadi semakin rumit. Di saat ia harus menjalani peran sebagai istri sah Alvaro demi menjaga rahasianya. Sementara Dyo Artha—pacarnya, selama ini hanya memanfaatkanya.
Dan di antara dua rahasia besar itu, manakah yang akan lebih dulu terbongkar... status Dena sebagai istri rahasia sang CEO, atau sifat Dyo sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Duluan Aja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ibu Tiri
Kring!
Setelah bel masuk berbunyi. Siswa-siswi Harina langsung pada lari-larian, buru-buru masuk ke dalam kelas.
Dan setelah masing-masing kelas, semua muridnya telah dipastikan lengkap.
Biasanya sebelum pelajaran dimulai, mereka diberi kebebasan waktu untuk literasi—membaca buku, membaca artikel, berita atau apapun itu, asalkan ada tulisannya, boleh mereka baca.
Waktunya juga cukup lama, sekitar lima belas menitan. Dan apa yang mereka baca harus langsung dirangkum pada sebuah buku laporan.
Nantinya, buku itu bakal diserahkan ke guru bahasa setiap satu bulan sekali. Untuk mengambil nilai tambahan.
Nah, pagi itu Rola terlihat asik sedang membaca buku komik.
Judulnya 'Pendekar Dan Pedang Ular'
Bercerita tentang seorang pendekar tukang mabuk yang terdampar di sebuah pulau terpencil—satu hari salah mengira ular yang sedang pingsan gara-gara kepleset dari dahan, adalah pedangnya yang telah lama hilang di lautan.
Nggak usah heran, nggak salah kok kalau kalian mengira cerita komik ini aneh.
Karena pada dasarnya, ya memang aneh.
Tapi, tidak bagi Rola, yang menganggap cerita seperti itu lah yang menurutnya justru seru dan lucu.
Rola aja sampai ketawa-ketawa sendiri pas bacanya, apalagi pas di bagian panel ketika pendekarnya itu kena patuk ular. Itu menjadi bagian terfavoritnya.
Bahkan, komik itu sudah dibacanya sampai ke halaman enam puluh lima, dan kurang sedikit lagi akan segera tamat.
Tapi Rola sengaja berhemat-hemat, nggak mau cepet-cepet tau endingnya.
Walaupun, spoilernya sih Rola udah pernah denger dari kakaknya, katanya, ular itu bakal mati kegencet pohon yang tiba-tiba rubuh kena angin puting beliung. Padahal sang pendekar dan ular itu udah saling sahabatan.
Sementara Rola yang takut bersedih hati karena nggak tega melihat ular itu mati.
Wajahnya langsung murung sebelum tiba di chapter-chapter terakhir.
Sementara Micin ada di sebelahnya.
"Komik yang dari kemarin lo baca, emang apa bagusnya sih, Rol?" cebik Micin.
Tapi Rola yang masih sibuk membaca tersedu-sedu, nggak langsung ngasih jawaban.
Cuek.
Micin jadi heran, kok bisa-bisanya Rola suka baca komik model beginian.
Apalagi sampai mendalaminya sedalam itu. Apa iya cerita komik kayak gitu sampai bisa menusuk jiwa?
Padahal, bagi Micin bacain koran justru lebih asik, lebih banyak hal yang menarik. Seperti yang setiap pagi Micin lakukan—membaca koran hanya di bagian kisah misteri.
Kata Micin baca kisah misteri di koran itu ngeri, bikin bulu-bulu roma yang tak kasap mata seketika berdiri, walau terkadang ceritanya emang suka ngawur juga sih.
Seperti edisi koran hari ini.
Judulnya 'Arwah Abang Becak Di Jalanan Becek'.
Ngawur kan?
Dan tadinya Micin memang sempat ragu buat bacain, judulnya aja kayak gitu—nggak ada serem-seremnya, malah cenderung konyol.
"Masak iya ada arwah di jalanan becek!" Micin mecucu.
Makanya Micin nggak mau langsung baca kisah itu, dan malah sibuk baca-baca info ramalan cuaca.
Tapi begitu Micin kembali ke laman hiburan, gara-gara masih penasaran, di kisah misteri itu tertulis becaknya warna ijo.
"Ijo?"
Bengong sebentar, Micin langsung mendengus-dengus.
"Ye! Kenapa nggak bilang-bilang sih kalau becaknya ijo! Itu kan warna favorit gue!" rutuknya.
Sambil akhirnya Micin membaca kisah misteri edisi hari itu, dan nggak pake lama langsung jadi edisi paling favoritnya.
Rola yang sebelumnya ditanya tapi belum sempat menjawab karena masih sendu, baru menoleh sekarang setelah pada akhirnya ia tau ending ceritanya.
Endingnya ya sama seperti di spoiler. Ularnya memang beneran mati gara-gara kegencet pohon.
Duh kasihan...
"Yang pasti masih bagusan ini dibanding apa yang lo baca!" cibir Rola setelah melirik bacaan Micin.
Di mata Rola, Micin yang suka banget bacain koran, jadi terlihat kayak bapak-bapak, cuma kurang sangkar burung sama secangkir kopinya aja. Tinggal duduk-duduk di teras, Micin udah terlihat sama persis katanya.
Micin langsung nyungut-nyungut. Tak acuh, lalu lanjut baca.
"Lo baca apaan sih, Mi?" tanya Rola kali ini penasaran.
"Berita... atau info kenaikan bahan pangan?" terkanya.
"Enggak dua-duanya!" jawab Micin.
"Lagian pun ngapain juga gue baca berita yang palingan isinya cuma berita politik!" katanya.
"Lah kenapa, politik bukannya seru," cibir Rola yang padahal juga mengaggapnya tidak menarik.
"Seru cuma buat yang tertarik aja, sedangkan untuk sekarang gue masih belum tertarik!" ujar Micin.
"Apalagi info tentang kenaikan harga bahan pangan, orang kayak kita kan nggak pernah belanja. Dan kalau pun belanja juga jarang banget lihat harga," imbuhnya.
"Terus yang lo baca apaan?"
Micin refleks menoleh, lalu nyengir, nunjuk apa yang dibacanya.
"Kisah misteri," jawabnya.
Rola mencebik, baru tau sekarang sahabatnya itu kerap membaca kisah yang seperti itu.
"Emangnya serem?" ragunya.
Micin menggeleng cepat, "Ya nggak selalu serem sih, tapi khusus edisi hari ini gue suka banget."
Rola menyerngit keheranan, "Suka banget?"
"Iya...soalnya di kisah misteri edisi hari ini, ada warna ijonya, Rol," bisik Micin tak lama sambil ngikik-ngikik.
Sedangkan Rola yang dibisikin ya ngangguk-ngangguk aja. Sudah sedari lama ia tau, Micin emang paling demen sama warna itu. Yang kalau ada warna itu muncul dimana pun, Micin pasti langsung kegirangan.
Tapi untuk kisah misteri, cerita macam apa yang sampai melibatkan warna ijo di dalamnya.
"Cerita tentang buto ijo?" terkanya.
Micin menggeleng. "Bukan, Rol!"
"Terus?"
"Tentang arwah Abang tukang becak." Micin membenarkan.
Hening.
"Hah?" kaget Rola seraya merebut koran itu dari tangan Micin.
"Di bagian mananya yang ijo? Abangnya?" Rola mencari-cari.
Micin spontan nyengir, lalu menunjuk satu kalimat di dalamnya.
"Ini, di becaknya..." ujar Micin terkikik.
Tidak ada sedetik, Rola langsung bengong. Nyaris, separuh pikirannya langsung kosong.
"Astaga!"
Tak lama Micin menoleh lagi, "Nggak usah sok kaget deh, emang bagusnya komik lo di bagian apa?" tanyanya balik.
Rola yang tadinya bengong langsung ikutan nyengir, lalu ngomong, "Dibagian karakter utamanya yang dipatuk ular. Nggak tau kenapa gue suka aja ngeliat itu," jawabnya.
"Ngeliat pendekarnya dipatuk?"
Rola ngangguk-ngangguk, "Lucu kan, apalagi pas dipatuknya kebetulan lagi telanjang," kikiknya.
"Telanjang?"
"Iya pas lagi mandi, dan untung yang dipatuk nggak itunya..."
Sekarang jadi Micin yang gantian bengong.
Hihihi.
Sementara itu di meja guru yang kebetulan gurunya juga belum datang, Elsa terlihat duduk anteng di sana sambil merangkum hasil bacaannya pagi itu.
Kalau dia nggak usah ditanya deh. Dia mah selalu bener kalau disuruh literasi.
Elsa membaca buku dasar-dasar seni bela diri, soalnya dia itu tertarik banget sama yang begituan, udah beberapa kali latihan juga, dan sekarang pengen belajar lagi katanya.
Enggak kayak dua manusia tadi, yang bacanya malah buku komik sama kisah misteri.
Sebenarnya sih ya nggak apa-apa. Cuma, masalahnya baru datang begitu mereka harus merangkum.
"Lo udah bisa ngerangkum?"
"Belum..."
Dan yah, keduanya langsung bengong mendadak kosong.
...***...
Ceklek...
Saat suasana sedang mengalir sepi, pintu kelas tiba-tiba terbuka sendiri.
Oh, tidak...
Rupanya itu Dena, yang membuka pintu kelas karena dia memang baru datang—setelah menghabiskan waktu literasinya, untuk berkeliling sekolah tanpa henti.
Dari meja guru Elsa spontan menoleh, lalu tersenyum senang ketika sahabatnya itu akhirnya kembali bersekolah. Rola dan Micin juga langsung nyengir.
Menyapa Dena silih berganti.
"Eh, belum juga kita jadi jenguk! Udah sembuh lo Mak?" seru Micin dari bangkunya di pojok kiri.
"Udah sembuh, apa sebenarnya emang nggak sakit?" cibir Rola tertawa renyah.
"Iya, lo beneran udah sembuh apa emang nggak bener-bener sakit sih, Den?" sapa Elsa manis sendiri, penuh senyum dari jarak yang lebih dekat.
Tapi Dena malah manyun, agaknya gadis itu seperti mendadak badmood, gara-gara pacarnya hilang kabar, ia jadi mengabaikan mereka.
"Ye!"
"Ditanya kok diem aja?" gerundel Elsa banjur bangun, lalu ngikutin langkah Dena ke arah bangkunya.
Spontan, Rola langsung pindah karena sejak tadi dia duduk di bangku Dena.
"Ngapa lo? Udah sembuh kok masih kusut!" Kini giliran Rola yang bertanya.
Dan Dena masih aja nggak mau jawab, begitu duduk Dena langsung membenamkan wajahnya pada meja.
Micin refleks menyentuh tengkuk Dena.
"Normal?" desis Rola penasaran.
"Iya, cuma agak anget karena abis jalan aja kayaknya," kata Micin walau agak terheran-heran, saat ia menyadari bau parfum Dena agak beda, dan anehnya bau parfum cowok. Salah beli apa ya?
Sementara Rola dan Elsa tersenyum lega.
"Berarti si bangsat ini emang udah sembuh, Mi," kata Rola senang sekali.
"Ya emang!" Dena tiba-tiba mendongak cepat.
"Kan dari semalem gue juga udah bilang, hari ini gue mau berangkat!"
"Itu artinya ya gue emang udah sembuh!" dengus Dena.
Galak.
Seperti biasa.
Rola jadi nyengir, lalu teringat sesuatu. Sebuah pertanyaan yang sedari tadi memang sudah ia siapkan, bilamana Dena benar-benar jadi berangkat.
"Oh iya, soal yang semalem..." kata Rola sambil duduk di bangku depan Dena, tapi tubuhnya menghadap ke belakang.
Dena yang mau nunduk lagi jadinya nggak jadi.
"Setelah kita bertiga pulang, perempuan itu masih nungguin lo atau pulang juga, Den?" tanyanya.
Micin juga turut bertanya, tentang kenapa perempuan itu Dena hindari, dan kenapa Dena membencinya.
"Iya, cerita dong! Kita pengen tau nih..." imbuh Micin.
Sedangkan Elsa bertanya dengan agak berbeda, sebab, si bondol itu sebenarnya sudah tau sejak lama, selama ini Dena sering menghindar dari perempuan itu—ibu tirinya.
Dan baru semalam Elsa melihatnya langsung.
Meski, Elsa masih belum tau, atas dasar apa ibu tiri dan anak itu sampai kucing-kucingan.
"Sebelumnya, dia nggak pernah tau alamat kos lo kan?" tanya Elsa.
Dena menghela napas panjang, dari sebelum bertemu mereka pun, ia sudah tau akan mendapat pertanyaan itu.
"Nggak tau," jawabnya asal ngomong.
Ketiganya ya langsung bengong.
"Karena gue emang sengaja nggak mau ketemu dia," jawab Dena pada akhirnya serius.
Ia lalu menatap mereka.
"Tapi, kalau lo pada pengen tau kenapa hidup gue seblangsak ini. itu ya gara-gara dia," imbuhnya.
"Dia itu perempuan yang semalam?" tanya Rola yang sampai dititik ini, ia bahkan belum tau kalau perempuan itu adalah ibu tiri Dena.
Karena Elsa yang walaupun sudah tau, selama ini juga tidak pernah membahas soal itu.
Selain karena ia tidak mau ikut campur urusan keluarga orang. Elsa sepertinya sadar Dena memang sengaja merahasiakannya.
Dena mendongak dengan mukanya yang makin kusut.
Bengong lama, sebelum akhirnya menghela napas panjang.
"Iya.." Dena menjawab pelan.
Rola dan Micin sontak saling pandang.
"Emang dia siapa?" tanya keduanya nyaris barengan.
"Ibu tiri gue," kata Dena terus terang, lagian pun otaknya yang pagi ini sudah kenyang terjejali hal-hal di luar ekspektasi. Jadi lumayan sukar untuk merangkai sebuah alasan untuk menutupi rahasianya.
Dan lagi teman-temannya sudah bertemu, atau setidaknya melihat langsung sosok ibu tirinya.
Jadi, berusaha menutupi-nutupinya dari mereka, rasanya tidak ada gunanya.
Hening.
Bahkan, Micin yang biasanya paling berisik, langsung diem. Sedangkan Rola yang tadinya mau nyeletuk, juga langsung kikuk.
Dan cuma Elsa yang tetap tampil tenang, tapi kelihatan jelas ia bahkan lebih fokus dari siapapun.
"Jadi, lo masih punya orang tua?" tanya Micin pelan, hampir hati-hati.
Dena mengangguk kecil. Nyaris tak terasa jika itu adalah bentuk anggukan kepala.
"Iya, Mi..."
Micin tertegun, "Astaga! Gue kira lo beneran hidup sebatang kara!"
"Iya, taunya masih punya ibu tiri! Mana masih muda banget lagi!" seloroh Rola.
"Waktu itu dia dinikahin bokap gue umur 25..."
"Dan semenjak papa meninggal setahun lalu, gue sengaja kabur dari rumah karena males tinggal bareng dia," ungkapnya baru sekarang, setelah hampir setengah tahun lamanya ia bersahabat dengan mereka.
Tak lama Rola langsung mengerinyit. Dia kaget, Micin apalagi.
"Males tinggal bareng dia?" tanya Rola, kali ini nggak pakai nada bercanda. Serius!
Dena menunduk.
"Iya..."
"Kenapa?"
"Warisan." Satu kata itu keluar pelan, tapi sukses membuat suasana di tempat itu jadi agak canggung.
"Maksudnya?"
Dena menghela napas berat.
"Intinya gini..."
"Warisan papa semuanya buat gue, tapi si bangsat itu, pengen ambil semuanya!" imbuhnya.
"Dan karena gue nggak rela dia dapet itu semua, gue terpaksa kabur dari rumah!"
Hening datang untuk sejenak mencerna.
"Oh, jadi lo sengaja kabur demi menjaga warisan bokap lo yang diatasnamakan nama lo?" Rola sedikit mulai mengerti.
Dena ngangguk lagi. "Iya... karena kalau gue nggak kabur... mungkin gue udah dia paksa buat tanda tangan ini-itu."
"Intinya supaya warisan almarhum bokap, jatuh ke tangan dia, gitu!" sambung Dena.
"Ya walaupun sekarang emang udah ada di tangan dia juga sih, sedangkan gue yang dikasih warisan, malah nggak pegang apa-apa," tambahnya.
Micin spontan mendelik. "Jadi, lo yang selama ini selalu nggak punya duit, nggak punya kendaraan, tinggal di kosan, sampai-sampai buat makan aja susah! Itu bukan karena lo yatim piatu, tapi gara-gara keserakahan orang itu?" cerocosnya.
Dena cuma mengangkat bahu.
"Mungkin bisa dibilang gitu, Mi."
Micin langsung gondok.
"Bangsat juga tuh orang! Tau gitu semalam kita sikat aja!" geramnya.
"Ck! Sikat mata lo! Yang ada malah kita duluan yang mampus digiles ama dua preman itu!" decak Rola sambil menjitak Micin.
Sementara Elsa sontak menatap Dena lebih dalam.
"Lo mau menghindar terus, Den?" tanyanya pelan.
Dena terdiam lagi. Seolah mau jawab, tapi udah terlanjur males. Atau mungkin... lagi nggak punya energi buat ngomong panjang.
"Nggak tau, Ca..."
"Lagian pun gue nggak pengen mikirin itu sekarang!" kata Dena buang muka.
"Udah ya, bahas yang lain aja!" sambungnya.
Nada suaranya nggak tinggi, tapi cukup jelas mengharapkan topik itu agar berakhir.
Rola langsung angkat tangan, "Oke, stop. Nggak usah dibahas, kita tau ini privasi!"
"Lo berdua, jangan ada yang nanya-nanya lagi!" ujarnya.
Micin mengangguk, Elsa juga.
Sedangkan Dena langsung tersenyum.
Tapi senyum itu... seolah nggak pernah sampai ke mata.
Senyum palsu.
...***...
Beberapa detik kemudian, suasana kembali jatuh ke lubang keheningan yang hakiki.
Saat para sahabatnya itu sepakat untuk tidak lagi membahas masalah keluarga Dena.
Pelan-pelan Dena membuka tasnya.
Sangat pelan. Tangannya lalu menggenggam ponsel—layar kemudian menyala.
Tapi...
Sama saja, sampai sekarang Dyo masih belum ada kabarnya.
"Eh...lo bertiga," ucap Dena lirih.
"Hari ini ada yang udah lihat atau ketemu Dyo belum?" gumamnya nyaris nggak kedengaran.
Rola yang duduk paling dekat dengannya langsung noleh.
"Ngilang lagi?" tanyanya jenuh, seolah perkara ini sudah kerap terjadi.
Dena ngangguk-ngangguk, "Iya Rol...dari pagi, dia nggak ada kabar, ditelpon juga nggak diangkat. Kemana ya..." katanya.
"Kenapa nggak lo cek ke kelasnya aja! Mungkin di sana," ujar Elsa.
"Udah, Ca...tapi di sana ada guru, jadinya ya gue nggak masuk, cuma ngintip dari jendela," sahutnya.
"Tapi Dyo ada kan?" sela Micin yang nggak lama dari itu langsung mendapat lirikan tajam dari ketiganya.
"Lo gimana sih, Mi!" sembur Rola.
"Kalau sekarang aja Dena masih nyariin dia, artinya Dyo ya nggak ada!"
"Oh..."
Micin langsung nyengir, "Kalau nggak ada ya berarti bolos," lanjutnya masih saja.
Rola spontan menjitak kepala Micin. Kesel!
Sementara Dena menghela napas panjang, "Iya bolos, tapi masalahnya gue sendiri juga nggak tau dia bolos karena apa!"
"Dan sekarang gue khawatir, gue takut dia kenapa-kenapa..."
"Gimana dong?"