Lampu kristal yang menggantung di ruang tengah kediaman keluarga Arkatama tidak pernah benar benar mampu menghangatkan dingin yang membeku di antara Kyna dan Julian. Lima tahun pernikahan seharusnya menjadi perayaan tentang kesetiaan namun bagi Kyna itu adalah lima tahun pengabdian dalam sunyi yang mencekam. Tepat pada malam peringatan pernikahan mereka sebuah kebenaran pahit terkuak melalui celah pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Di sana di bawah kucuran air yang menderu Kyna mendengar suaminya menggumamkan satu nama yang selama ini menjadi hantu tak kasat mata dalam hidup mereka yakni Elara sang cinta pertama yang baru saja menginjakkan kaki kembali di tanah air.
Julian adalah pria yang membangun tembok es di sekeliling hatinya namun bagi Elara pria itu bersedia menjadi api yang menghangatkan. Setiap kali Julian pergi dengan alasan membantu seorang teman yang sedang kesulitan Kyna hanya mampu menjawab dengan seulas senyum tipis dan kata kata pendek yang menyembunyikan luka...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Tulus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 34
"Mau nikah, tapi tidak punya modal?" Kyna melempar senyum sinis yang sarat akan rasa muak, matanya menatap tajam ke arah Robert. "Kalau tidak punya modal, tidak usah sok-sokan menikah, Robert! Kenapa setiap kali kamu atau keluarga ini butuh sesuatu, selalu Aldrian yang harus menanggungnya? Apa dia bank pribadi kalian?!"
"Kyna! Jaga bicaramu!" Raka kembali berteriak, wajahnya memerah sempurna karena pengaruh alkohol dan amarah yang memuncak. "Robert itu adikmu! Wajar kalau iparnya membantu! Lagi pula, Aldrian saja tidak keberatan, kenapa kamu yang sibuk berlagak seperti pemilik uang?!"
"Iya, Kiki, kamu ini keterlaluan sekali," timpal Amelia dengan wajah cemberut, tangannya masih menahan lengan Raka agar tidak benar-benar melempar piring. "Aldrian itu menantu yang berbakti. Dia tahu bagaimana cara menghargai orang tua, tidak seperti kamu yang tidak punya hati!"
Mendengar kata "berbakti" dan "menghargai" keluar dari mulut ibunya, Kyna merasa ingin muntah saat itu juga. Dia melirik Aldrian yang masih duduk di sampingnya. Pria itu mempertahankan ekspresi tenangnya yang biasa, namun cengkeraman tangannya di bawah meja makan—yang kini meremas lututnya sendiri—menandakan bahwa dia pun sebenarnya berada di batas kesabaran menghadapi kemunafikan ini.
"Menantu berbakti?" Kyna terkekeh hambar, air mata kemarahan mulai menggenang di pelupuk matanya. "Dia melakukan semua ini bukan karena dia menghargai kalian, Ibu! Dia melakukan ini karena—"
"Kyna, cukup. Kita pulang sekarang," potong Aldrian tiba-tiba. Suaranya rendah, berat, dan sarat akan perintah yang tidak boleh dibantah. Pria itu berdiri, mengancingkan kembali jasnya dengan gerakan mekanis, lalu menatap Raka dan Amelia dengan senyum sopan buatan yang sangat tipis. "Ayah, Ibu, kami pamit dulu. Mengenai rumah Robert, nanti biar sekretarisku yang memeriksa pasaran harganya."
"Ah, iya, iya! Hati-hati di jalan ya, Aldrian. Terima kasih banyak, menantuku yang baik!" seru Amelia, wajahnya seketika cerah seolah-olah baru saja memenangkan lotre.
Robert pun ikut tersenyum puas, memberikan tatapan mengejek ke arah Kyna yang berdiri gemetar menahan amarah.
Kyna tidak mengatakan sepatah kata pun lagi. Dengan langkah pincangnya yang terburu-buru, dia berbalik dan berjalan keluar dari rumah itu, mengabaikan panggilan ibunya yang berpura-pura manis di ambang pintu. Setiap detik yang dia habiskan di bawah atap rumah itu terasa seperti racun yang perlahan mengikis habis sisa harga dirinya.
Di dalam lift yang bergerak turun menuju parkiran bawah tanah, keheningan yang mencekam langsung menguar. Kyna berdiri di sudut terjauh, memeluk tubuhnya sendiri karena merasa dingin, sementara Aldrian berdiri tegap di dekat pintu dengan rahang yang mengeras.
Begitu pintu lift terbuka, Kyna langsung melangkah keluar terlebih dahulu, membiarkan bunyi ketukan sepatunya bergema di area parkir yang sepi. Namun, baru beberapa langkah, Aldrian meraih pergelangan tangannya dan memaksanya untuk berbalik.
"Kyna, sampai kapan kamu mau mempermalukan dirimu dan aku di depan orang tuamu?" tanya Aldrian dengan nada menahan geram. "Aku mencoba menyelesaikan masalah dengan tenang, tapi kamu terus-menerus memancing keributan!"
Kyna menyentak tangannya dengan kasar hingga cengkeraman Aldrian terlepas. Dia menatap lurus ke dalam manik mata gelap suaminya dengan kilatan benci yang begitu pekat.
"Mempermalukanmu?" Kyna mencibir, air matanya akhirnya luruh membasahi pipinya. "Yang mempermalukan aku di sini adalah kamu, Aldrian! Kamu terus-menerus menyuapi keserakahan mereka dengan uangmu! Kamu membuatku terlihat seperti barang gadaian yang cicilannya tidak pernah lunas selama lima tahun ini! Kamu tahu betapa menjijikkannya posisiku di tengah-tengah kalian?!"
Aldrian menghela napas frustrasi, meraup wajahnya dengan kasar. "Aku melakukan semua itu untukmu, Kyna! Agar orang tuamu tidak mempersulit hidupmu, agar mereka memperlakukanmu dengan baik! Kenapa kamu tidak pernah bisa melihat niat baikku?!"
Kyna melepaskan tawa hambar yang terdengar begitu mengerikan di dalam keheningan parkiran bawah tanah itu. Sambil menghapus air matanya dengan kasar, dia melangkah maju hingga jarak di antara mereka mengikis, lalu berbisik dengan nada suara yang teramat dingin namun tajam menusuk: "Untukku? Berhentilah menggunakan namaku sebagai tameng atas rasa bersalahmu, Pak Aldrian! Kamu memberikan semua uang itu bukan untuk melindungiku, tapi karena kamu ketakutan, 'kan? Kamu takut jika kamu berhenti memberi mereka makan, ayahku akan membongkar ke media tentang apa yang sebenarnya terjadi di malam kecelakaan lima tahun lalu... tentang bagaimana mobilmu sengaja memotong jalur jalanku demi mengalihkan kejaran musuh bisnismu dari mobil Anara!"