Demi melunasi utang almarhum ayahnya dan membiayai sekolah adiknya, Andra (23 tahun), seorang pemuda desa yang tampan dan bersahaja, nekat merantau ke Jakarta. Berbekal kejujuran dan ijazah SMK, ia diterima sebagai asisten administrasi di Apex Media, sebuah agensi periklanan papan atas yang gemerlap di kawasan Sudirman.
Di sana, Andra berhadapan langsung dengan sang bos besar, Nadia (32 tahun), seorang wanita karier sukses yang perfeksionis. Di balik kemewahan hidupnya, Nadia menyimpan kesepian mendalam karena pernikahannya dengan seorang pengusaha kaya telah lama mendingin dan hambar.
Di tengah belantara Jakarta yang penuh kepalsuan, ketulusan dan kepolosan Andra perlahan mencuri perhatian Nadia. Intensitas kerja hingga larut malam membuat batas profesional di antara atasan dan bawahan ini perlahan mengabur. Andra kini dihadapkan pada dilema moral terbesar dalam hidupnya: bertahan pada ketulusan prinsipnya demi keluarga di desa, atau menyerah pada godaan sang bos yang menawarkan keh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Argo Sujendro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Konfrontasi di Ruang Pleno
Pintu ganda ruang rapat utama yang terbuat dari kayu jati berlapis peredam suara itu terbuka perlahan. Suasana di dalam ruangan berkapasitas tiga puluh orang itu terasa sangat mencekik. Hawa dingin dari pendingin ruangan sentral seolah bercampur dengan ketegangan yang pekat. Di tengah meja oval raksasa, beberapa direktur divisi dan perwakilan investor dari Bali sudah duduk dengan wajah kaku, menghadap ke arah ujung meja tempat di mana kekuasaan Apex Media terbelah.
Nadia duduk di kursi utamanya dengan posisi tegak, mengenakan setelan blazer berwarna hitam pekat yang memberikan kesan formal yang dingin. Wajah cantiknya tampak tenang bagai telaga, namun Andra yang sudah hafal setiap detail gerak-gerik wanita itu bisa melihat cengkeraman erat jemari Nadia pada pulpen peraknya.
Tepat di seberang Nadia, duduk Gunawan. Pria itu menyandarkan punggungnya dengan angkuh, mengenakan kemeja desainer abu-abu tanpa dasi dengan dua kancing atas terbuka. Di sampingnya, dua orang pria paruh baya berkacamata dengan setelan jas rapi—tim audit pribadi yang dibawa langsung dari Bali—sedang sibuk membuka laptop masing-masing.
Andra Bayu melangkah masuk dengan langkah kaki yang teratur dan mantap. Langkahnya tidak lagi ragu seperti saat ia menjadi staf administrasi biasa. Postur tubuhnya yang tegap, bahunya yang bidang di balik kemeja biru navy, serta sorot matanya yang tenang memberikan impresi kuat bahwa pria muda ini siap menghadapi badai apa pun.
(Selamat siang, Bapak dan Ibu Direksi,) sapa Andra dengan suara bariton yang berat dan bergema di penjuru ruangan. Ia berjalan menuju kursi kosong di sebelah kiri Nadia, lalu meletakkan map tebal proyek SCBD di atas meja.
Gunawan langsung menegakkan posisi duduknya begitu melihat kehadiran Andra. Sepasang matanya menyipit, memancarkan kilatan kebencian dan penghinaan yang mendalam. (Jadi, ini dia yang namanya Andra Bayu? Account Executive baru kita yang fenomenal itu?) Gunawan terkekeh sinis, suaranya sengaja dikencangkan agar didengar oleh seluruh peserta rapat. (Luar biasa sekali Apex Media sekarang. Seorang buruh meja depan yang belum genap dua bulan bekerja, tiba-tiba bisa memegang proyek kerja sama bernilai miliaran dengan SCBD. Saya jadi penasaran, kualifikasi apa yang dilihat oleh Managing Director kita sampai berani mengambil risiko sebesar ini?)
Beberapa direktur di sekitar meja mulai berbisik-bisik, saling melempar pandangan curiga. Ketegangan di dalam ruangan meningkat satu tingkat.
Nadia langsung mengetukkan pulpennya ke atas meja dengan bunyi ketukan yang tegas, memotong bisik-bisik tersebut. (Pak Gunawan, kita di sini untuk membahas laporan kuartal pertama dan pengesahan amandemen kontrak eksternal, bukan untuk membahas urusan personalia yang sudah disetujui oleh Direksi SDM secara sah. Jika Anda ingin mempertanyakan kebijakan saya, silakan bawa ke forum yang berbeda.)
(Tentu saja ini urusan rapat, Nadia,) balas Gunawan dengan nada yang kian meninggi, matanya beralih menatap tajam ke arah istrinya sebelum kembali mengunci pandangan pada Andra. (Sebagai salah satu pemegang saham terbesar, saya berhak memastikan bahwa uang investor tidak dikelola oleh bocah ingusan yang modalnya hanya tampang dan pakaian necis. Tim audit saya menemukan beberapa kejanggalan dalam draf awal pasal distribusi hukum proyek kosmetik ini yang berpotensi merugikan kita hingga tiga puluh persen jika pihak SCBD wanprestasi.)
Gunawan memberi isyarat kepada salah satu auditornya. Pria berkacamata itu langsung membalikkan layar laptopnya ke arah peserta rapat, menampilkan draf awal yang memang sempat bermasalah sebelum direvisi.
(Ini adalah draf yang dikerjakan oleh tim kreatif lama seminggu yang lalu, Pak Gunawan,) Andra akhirnya membuka suara, memotong penjelasan sang auditor dengan nada yang sangat tenang namun sarat akan ketegasan. Ia tidak menunjukkan ketakutan sedikit pun di hadapan intimidasi Gunawan. (Jika Anda bersedia membuka map yang baru saja saya bawa, dokumen di hadapan Anda adalah draf final yang sudah ditandatangan sah oleh Ibu Diana, Direktur Hukum SCBD, sore kemarin.)
Andra membuka lembaran mapnya, lalu menyodorkannya ke tengah meja. (Terkait kekhawatiran Anda mengenai risiko kerugian distribusi, silakan periksa halaman dua belas, pada pasal pengecualian darurat ayat empat.)
Mendengar instruksi Andra yang begitu spesifik, Gunawan mengerutkan keningnya. Salah satu auditornya dengan cepat menarik map tersebut dan membalik halamannya ke nomor dua belas.
Andra melanjutkan kalimatnya, mengingat dengan jelas peluru rahasia yang dikirimkan Diana lewat pesan singkat tadi siang. (Di sana tertulis dengan jelas bahwa pihak SCBD memberikan jaminan aset likuid senilai empat puluh persen dari total nilai kontrak sebagai jaminan hukum mutlak jika terjadi kegagalan distribusi dari pihak mereka. Pasal pengecualian ini dimasukkan secara khusus atas kesepakatan bersama antara saya dan Ibu Diana di bawah pengawasan hukum formal.)
Ruang rapat mendadak sunyi senyap. Sang auditor berbisik setengah panik ke telinga Gunawan setelah membaca klausul tersebut. (Ini... ini benar, Pak. Klausul ini justru sangat menguntungkan pihak kita dan hampir tidak pernah diberikan oleh SCBD kepada agensi lain.)
Wajah Gunawan seketika berubah menjadi merah padam karena menahan malu dan amarah. Rencana besarnya untuk menjatuhkan Andra di depan seluruh direksi justru berbalik menjadi panggung pembuktian bagi kecerdasan sang Account Executive muda.
Nadia yang melihat kemenangan telak itu tidak bisa menyembunyikan binar kebanggaan dan kebahagiaan di sepasang mata indahnya. Ia menatap Andra dengan pandangan yang penuh rasa terima kasih dan cinta yang kian mendalam.
(Jika tidak ada lagi yang perlu dipertanyakan dari dokumen yang sudah sah ini, saya rasa rapat pleno bisa kita akhiri dengan pengesahan mutlak,) ucap Nadia dengan nada suara yang penuh kemenangan, mengetukkan palu sidang kecil di hadapannya.
Rapat dibubarkan. Satu per satu direktur meninggalkan ruangan sambil memberikan anggukan hormat kepada Andra, mengakui kapabilitas pria muda yang mereka kira hanya modal keberuntungan tersebut.
Gunawan tetap bergeming di kursinya, mencengkeram pinggiran meja jati hingga buku-buku jarinya memutih. Setelah ruang rapat hanya menyisakan dirinya, Nadia, dan Andra, Gunawan bangkit berdiri. Ia melangkah mendekati Andra, menatap wajah sawo matang pemuda desa itu dengan jarak yang sangat dekat, menyisakan hawa permusuhan yang kian membara.
(Jangan senang dulu, bocah desa,) bisik Gunawan dengan suara yang bergetar rendah karena amarah yang tertahan. (Kamu mungkin bisa memanfaatkan celah kontrak dan perlindungan dari Diana hari ini. Tapi permainan di Jakarta ini sangat panjang. Aku akan mencari tahu apa yang kamu lakukan di belakangku dengan istriku, dan saat aku menemukan buktinya, aku sendiri yang akan memastikan kamu merangkak kembali ke kampungmu tanpa membawa apa-apa.)
Gunawan berbalik dengan kasar dan melangkah keluar dari ruangan, membanting pintu jati tersebut hingga menimbulkan dentuman keras yang menggema di dalam kesunyian ruang pleno, menjadi tanda bahwa perang terbuka di antara mereka kini telah resmi genderangnya ditabuh.