NovelToon NovelToon
PERNIKAHAN KONTRAK IDOLA

PERNIKAHAN KONTRAK IDOLA

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / Tamat
Popularitas:692
Nilai: 5
Nama Author: Zhao Eunbi

Zee Chou, atau yang dikenal dengan nama panggung Choi Heesung, adalah idola K-Pop paling populer dan dicintai jutaan penggemar. Di atas panggung, ia bersinar sempurna, tampan, dan memiliki citra bersih yang dijaga sangat ketat. Namun di balik kemegahan itu, ia menyembunyikan satu kenyataan pahit: warisan perusahaan keluarga yang terancam bangkrut. Demi menyelamatkan segalanya, Zee terpaksa menyetujui pernikahan yang tidak pernah ia bayangkan—menikahi Park Hye-ri, gadis biasa dan sederhana, putri sahabat orang tuanya yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan dunia hiburan.

Pernikahan ini hanyalah sebuah kesepakatan di atas kertas, rahasia yang harus dijaga mati-matian dari publik dan penggemar. Tidak ada cinta, tidak ada perasaan, hanya kewajiban dan aturan ketat. Bagi Zee, Hye-ri hanyalah kewajiban yang mengganggu karir cemerlangnya. Bagi Hye-ri, Zee hanyalah idola dingin, angkuh

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao Eunbi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kepergian yang Membunuh dan Ledakan Hati

Malam itu, langit kembali menangis. Hujan turun begitu deras, seolah alam pun ikut berduka atas keputusan yang diambil Park Hye-ri.

Di dalam kamarnya, Hye-ri mengemas sedikit barang miliknya ke dalam satu koper kecil. Tangannya bergerak lambat, berat, seolah setiap pakaian yang ia lipat terbuat dari timah panas. Matanya bengkak dan kering, air matanya rasanya sudah habis tumpah selama berhari-hari ini, namun rasa sakit di dadanya masih berdenyut perih, nyeri, dan menyesakkan.

Ia berhenti sejenak saat tangannya menyentuh sebuah benda kecil di laci meja rias. Sebuah foto polaroid. Foto yang diambil diam-diam di pasar hari itu. Di situ terlihat Heesung yang sedang berjongkok mengumpulkan belanjaan, dan Hye-ri yang tertawa di sebelahnya. Foto buram, tidak jelas, tapi di dalam sana tersimpan kebahagiaan yang paling nyata yang pernah mereka miliki.

Hye-ri mengambil foto itu, menatapnya lama sekali, lalu mencium permukaannya perlahan dengan bibir yang gemetar.

"Maaf, Heesung. Aku tidak kuat lagi. Aku tidak sanggup menjadi alasan kenapa kau terus menderita dalam kebohongan ini. Aku tidak sanggup menjadi beban yang menghalangi karirmu. Dan aku... aku tidak sanggup lagi melihatmu bersamanya."

Ia melipat foto itu kecil-kecil, lalu menyelipkannya di saku bagian dalam tasnya. Setelah itu, ia mengeluarkan secarik kertas surat. Surat perpisahan. Surat yang ditulisnya dengan tinta air mata dan rasa sakit yang mendalam.

Isinya singkat, namun setiap kata di dalamnya terasa seperti belati yang menancap dalam:

"Heesung,

Aku pergi. Jangan mencariku. Jangan khawatirkan aku.

Mungkin benar apa kata semua orang. Kita memang berasal dari dunia yang berbeda. Aku hanya gadis biasa, kau adalah bintang yang bersinar terang. Aku tidak pantas berdiri di sampingmu, apalagi menjadi milikmu.

Terima kasih untuk semuanya. Terima kasih untuk momen singkat di mana kau membuatku merasa menjadi wanita paling bahagia di dunia. Terima kasih karena pernah mencintaiku, walau hanya sesaat.

Sekarang, kembalilah pada duniamu. Kembalilah pada kesuksesanmu. Dan kembalilah pada wanita yang memang ditakdirkan untuk bersanding denganmu.

Lupakan saja ada aku dalam hidupmu. Anggap pernikahan kontrak ini sudah selesai sejak detik aku melangkah keluar dari pintu ini.

Selamat tinggal, Zee Chou. Semoga kau bahagia selamanya."

Hye-ri melipat surat itu, lalu meletakkannya di tengah tempat tidur, tepat di atas dokumen pernikahan mereka yang masih tersimpan rapi di sana. Dokumen yang dulu menjadi penjara, lalu menjadi surga, dan kini menjadi kenangan masa lalu.

Ia menatap sekeliling kamar itu untuk terakhir kalinya. Kamar tempat di mana ia jatuh hati, tempat di mana ia menangis, tempat di mana ia menyimpan seluruh rasa cintanya.

Dengan langkah gontai dan kaki gemetar, Hye-ri membuka pintu kamarnya perlahan. Koridor sepi dan gelap. Dari lantai bawah, samar terdengar suara tawa Soo-ah. Heesung... mungkin sedang bersamanya, menjadi kekasih yang sempurna sesuai peran yang dipaksakan.

Hye-ri berjalan menyusuri lorong dengan langkah pelan agar tidak terdengar. Ia turun lewat tangga darurat di sisi belakang rumah, jalan yang jarang dilewati siapa pun. Jalan keluar menuju kebebasan... atau menuju neraka yang lebih sepi.

Saat ia membuka pintu belakang yang berat itu, angin basah dan dingin langsung menerpa wajahnya. Hujan deras membasahi tubuhnya dalam sekejap. Hye-ri tidak peduli. Ia berjalan keluar, menundukkan kepalanya, bergegas menjauh dari rumah besar itu, menjauh dari pria yang dicintainya, menjauh dari segalanya.

Ia tidak tahu, dari balik jendela di lantai dua, sepasang mata sedang menatapnya dengan pandangan yang hampir copot dari tempatnya.

 

Di kamar utama, di balik tirai jendela yang sedikit tersibak, Heesung berdiri kaku, gemetar hebat seolah tersambar petir.

Ia tidak tidur. Ia tidak bisa tidur sejak malam. Ia sengaja berdiri di sana, diam-diam mengawasi kamar Hye-ri dari jauh, hanya untuk memastikan wanitanya aman, hanya untuk merasa sedikit tenang karena tahu Hye-ri ada di sana, di bawah atap yang sama.

Dan detik itu... detik di mana ia melihat sosok kecil berpayung itu berjalan keluar pagar dan menghilang ke dalam kegelapan hujan... dunia Heesung seolah runtuh seketika.

"TIDAK!!"

Teriakan itu meledak dari tenggorokannya, kasar, parau, dan penuh kepanikan yang tak terlukiskan. Tanpa mempedulikan apa pun, tanpa mempedulikan Soo-ah yang sedang tidur di kasur belakangnya, Heesung berlari keluar kamar, berlari secepat kilat menuruni tangga, berlari seolah nyawanya dipertaruhkan.

"Heesung?! Kau mau ke mana?! Heesung!!" teriakan Soo-ah terdengar dari belakang, kaget dan marah melihat tingkah laku pria itu yang gila.

Heesung tidak mendengar. Ia tidak mendengar apa pun selain suara meraung di kepalanya: Dia pergi! Dia meninggalkanku! Dia hilang!

Pintu belakang terbanting terbuka. Heesung berlari menerobos hujan deras, pakaiannya basah kuyup dalam sekejap, kakinya tergelincir di tanah basah, tapi ia bangkit lagi, terus berlari ke arah gerbang.

"HYE-RI!!" teriaknya sekuat tenaga, suaranya memecah keheningan malam dan suara hujan. "HYE-RI, BERHENTI!! JANGAN PERGI!!"

Di ujung jalan, di bawah sorot lampu jalan yang redup, sosok Hye-ri berhenti melangkah. Tubuhnya menegang mendengar suara itu. Suara yang begitu ia rindukan dan begitu ia takuti.

Perlahan, Hye-ri berbalik badan.

Dan di situlah mereka.

Berjarak sekitar sepuluh meter, dipisahkan oleh tirai hujan yang tebal dan dingin.

Heesung berdiri di sana, napasnya tersengal berat, dadanya naik turun hebat. Wajahnya basah kuyup, campuran air hujan dan air mata yang mengalir deras tanpa bisa ia sembunyikan. Matanya merah padam, menatap Hye-ri dengan pandangan hancur, pandangan yang memohon, pandangan yang penuh ketakutan terbesar dalam hidupnya.

"Kau mau pergi ke mana?" tanya Heesung parau, suaranya bergetar hebat. Ia melangkah mendekat, satu langkah demi satu langkah, kakinya gemetar. "Kau bilang kau akan bertahan? Kau bilang kau akan menungguku?! Kenapa kau pergi?! Kenapa kau tinggalkan aku sendiri di neraka ini?!"

Hye-ri memeluk tubuhnya sendiri yang kedinginan. Ia menundukkan wajahnya, tidak sanggup menatap mata itu lebih lama.

"Aku tidak ada hubungannya lagi denganmu, Tuan Choi," jawabnya dingin, meski hatinya hancur lebur. "Aku hanya istri kontrak. Dan kontrak itu sudah selesai. Aku tidak berguna lagi di sini. Kau sudah punya wanita yang tepat di sisimu. Biarkan aku pergi."

BRUK!

Heesung berlutut. Di tengah jalan berlumpur, di tengah hujan deras, di depan umum... Heesung berlutut.

Tindakan itu begitu mengejutkan hingga Hye-ri hampir menjatuhkan payungnya. Ia—idola terbesar, pria yang dipuja jutaan orang, pria yang selalu angkuh dan sempurna—berlutut di lumpur demi dirinya.

"Jangan bicara begitu..." isak Heesung, kepalanya tertunduk, kedua tangannya mencengkeram tanah basah di samping kakinya. "Jangan katakan kau tidak berguna. Kau adalah segalanya bagiku. Kau adalah satu-satunya alasanku bernapas setiap hari. Kau bilang aku bintang? Kau salah, Hye-ri... akulah yang gelap dan kosong. Kaulah bintangku. Kaulah satu-satunya cahaya yang kumiliki."

Heesung mengangkat wajahnya, menatap Hye-ri dengan air mata yang terus mengalir.

"Semua yang kau lihat... semua kebersamaanku dengan Soo-ah... semua kata-kata jahat yang kuucapkan... itu semua bohong! Itu semua akting sialan ini demi melindungimu! Demi memastikan kau aman! Kau pikir aku bahagia melihatnya? Kau pikir aku tenang saat bersamanya? Setiap detik bersamanya rasanya aku sedang disiksa mati! Setiap detik aku ingin berlari kepadamu dan berteriak bahwa aku mencintaimu lebih dari nyawaku!"

Hye-ri menangis tersedu-sedu, tangannya menutup mulutnya agar tidak menjerit.

"Kalau begitu kenapa?!" Hye-ri akhirnya berteriak juga, rasa sakit yang dipendamnya meledak keluar. "Kalau kau mencintaiku, kenapa kau buat aku merasa seperti sampah?! Kenapa kau biarkan dia menghinaku?! Kenapa kau biarkan dia mengancamku?! Kau tahu tidak rasanya apa? Rasanya aku mati setiap detiknya, Heesung! Aku mati rasa sakitnya melihatmu bersamanya!"

"Aku tahu!!" Heesung menggebrak tanah dengan kepalan tangannya, rasa bersalahnya membakar dirinya sendiri. "Aku tahu dan aku membenciku sendiri karenanya! Tapi aku tidak punya pilihan! Soo-ah memegang bukti pernikahan kita! Dia mengancam akan menghancurkanmu, akan membuatmu dicemooh seluruh negeri, akan membunuhmu secara batin! Aku rela dibenci! Aku rela dianggap pengkhianat! Asalkan kau tetap hidup dan aman di sini! Asalkan aku masih bisa melihatmu setiap hari dari jauh!"

Heesung bangkit berdiri dengan susah payah, lalu berjalan mendekat, menangkap kedua bahu Hye-ri dengan kedua tangannya yang dingin dan gemetar.

"Tapi kalau kau pergi... kalau kau hilang... maka semua pengorbanan ini sia-sia! Semua rasa sakit ini percuma! Kalau kau tidak ada di sini... lalu untuk siapa aku bertahan hidup?! Untuk siapa aku menjadi bintang?! Hancur saja semuanya! Biar karirku hancur! Biar perusahaan bangkrut! Biar namaku kotor! Aku tidak peduli lagi!"

Heesung meremas bahu Hye-ri, menatapnya lekat-lekat dengan tekad baja yang baru saja lahir dari keputusasaannya.

"Kau bilang kontrak sudah selesai? Baiklah! Mulai detik ini, aku membatalkan semua perjanjian sialan itu! Aku tidak peduli agensi! Aku tidak peduli ayahku! Aku tidak peduli Soo-ah! Aku hanya peduli kamu! Aku hanya peduli Park Hye-ri, wanitaku, istriku, nyawaku!"

Tiba-tiba, sorot lampu mobil menyala terang dari arah gerbang rumah. Sebuah mobil mewah melaju cepat dan berhenti tepat di belakang mereka. Pintu terbuka, dan keluar sosok Jung Soo-ah dengan wajah merah padam karena marah dan malu.

Ia melihat semuanya. Ia melihat Heesung berlutut. Ia melihat Heesung menangis. Ia melihat Heesung memohon pada wanita biasa itu.

"Heesung!! Apa yang kau lakukan?! Kau gila?!" teriak Soo-ah histeris. Ia berlari mendekat, menunjuk wajah Heesung dengan jari gemetar. "Kau lupa perjanjian kita?! Kau lupa apa risikonya?! Kau mau menghancurkan semuanya demi wanita rendahan ini?!"

Heesung perlahan berbalik badan. Ia melepaskan cengkeramannya di bahu Hye-ri, lalu berdiri tegak di depan istrinya, seolah menjadi perisai hidup. Wajahnya yang tadi penuh air mata dan kesedihan kini berubah mengerikan. Matanya menyala dengan amarah yang sedemikian besar, amarah yang selama ini ia pendam mati-matian.

Ia melangkah mendekati Soo-ah, langkah demi langkah, membuat wanita itu mundur ketakutan.

"Jangan pernah..." suara Heesung rendah, dingin, dan mengerikan, jauh lebih mengerikan daripada saat ia marah di pasar dulu. "Jangan pernah kau panggil istriku dengan sebutan hina lagi. Dan jangan pernah kau berpikir kau punya kuasa atasku lagi."

Heesung mengeluarkan ponselnya dari saku jasnya yang basah, lalu menekan satu tombol rekaman suara yang sudah ia simpan diam-diam sejak hari Soo-ah mengancamnya.

Suara Soo-ah terdengar jelas dari ponsel itu:

"Kalau kau tidak menurutiku, aku akan menyebarkan bukti pernikahan kotor itu. Aku akan membuat Park Hye-ri mati dihujat orang. Aku akan membuatnya menyesal dilahirkan..."

Wajah Soo-ri memucat pasi. Ia menatap Heesung tak percaya.

"Kau... kau merekamnya?!"

"Aku bukan bodoh seperti yang kau pikir, Soo-ah," ucap Heesung tajam. "Aku diam selama ini bukan karena aku takut padamu, tapi karena aku takut ancamanmu pada Hye-ri. Tapi kau salah satu hal... hal yang paling tidak boleh kau lakukan adalah membuat Hye-ri pergi. Saat kau membuatnya pergi... kau membangkitkan iblis dalam diriku."

Heesung memasukkan kembali ponselnya, lalu menatap Soo-ah dengan pandangan penuh kebencian.

"Kau mau bermain kotor? Baiklah. Aku akan main denganmu. Tapi ingat... aku punya lebih banyak hal than yang bisa kuhancurkan daripadamu. Dan mulai detik ini... kau musuhku. Musuh terbesarku. Dan aku akan make sure kau tidak akan pernah bisa mengganggu hidupku dan istriku lagi, sampai kapan pun."

Heesung berbalik kembali menghadap Hye-ri. Tatapan mengerikan itu langsung berubah menjadi lembut, penuh cinta, dan penuh rasa takut kehilangan. Ia mengulurkan tangannya yang bergetar ke arah wanita itu.

"Hye-ri... aku tahu aku jahat. Aku tahu aku menyakitimu luar biasa. Aku tahu aku bodoh dan pengecut. Tapi aku mohon... jangan pergi. Jangan tinggalkan aku. Kalau kau harus pergi, bawalah aku bersamamu. Di mana pun kau berada, di situlah rumahku. Di mana pun kau berada, di situlah duniaku."

Di tengah hujan yang menderas, di hadapan Soo-ah yang berdiri kaku karena kaget dan marah, Hye-ri menatap tangan itu. Tangan yang dulu melindunginya, tangan yang dulu menyakitinya, tangan yang kini memohon dengan segala kerendahan hati.

Hati Hye-ri, yang sudah hancur berkeping-keping, perlahan menyatu kembali oleh ketulusan cinta pria itu. Ia sadar, ia tidak bisa pergi. Ia sadar, meninggalkan Heesung sama saja dengan membunuh pria itu. Dan ia pun sadar, ia tidak peduli lagi dengan dunia luar, tidak peduli dengan gosip, tidak peduli dengan ketenaran.

Karena di sini, di detik ini, pria itu baru saja melepaskan segalanya—harga dirinya, citranya, gengsinya—hanya demi memintanya tetap tinggal.

Perlahan, Hye-ri mengulurkan tangannya, menyentuh jemari Heesung yang dingin.

"Aku tidak akan pergi..." jawab Hye-ri lirih namun jelas, air matanya bercampur air hujan. "Aku akan tetap tinggal. Tapi ingat satu hal, Heesung... mulai sekarang, kita berjuang bersama. Tidak ada lagi rahasia. Tidak ada lagi perlindungan semu yang menyakiti. Kita hadapi semuanya berdua. Agensi, ayahmu, Soo-ah, dan seluruh dunia. Bersama-sama."

Senyum paling lega, paling bahagia, dan paling indah pun terbit di wajah Heesung. Ia langsung menarik tubuh istrinya masuk ke dalam pelukannya yang sangat erat, sangat kuat, seolah ingin menyatukan jiwa mereka menjadi satu agar tidak pernah terpisah lagi.

"Terima kasih... terima kasih..." bisik Heesung berulang kali di telinga Hye-ri, mencium kening, rambut, dan wajah istrinya tanpa peduli apa pun. "Bersama-sama. Ya, kita hadapi semuanya bersama-sama. Dan kali ini... aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi. Sekalipun dunia melawan kita."

Di belakang mereka, Soo-ah berdiri gemetar menahan amarah dan rasa malu. Ia tahu... permainannya berakhir. Ia kalah telak. Kalah bukan karena kekuasaan atau uang, tapi karena cinta yang begitu besar dan kuat yang dimiliki dua manusia itu.

Dan malam itu, di tengah badai hujan dan badai masalah yang mengintai... Choi Heesung dan Park Hye-ri membuat keputusan terbesar dalam hidup mereka: Menjadi tuan atas nasib mereka sendiri, bahkan jika itu berarti harus melawan seluruh dunia.

Karena cinta... ternyata jauh lebih kuat daripada sorakan jutaan penggemar, lebih kuat daripada kontrak apa pun, dan lebih kuat daripada rasa takut apa pun.

 

1
HAN EUNBI
🤭 menarik banget💪 tingkatkan
VOYAGE LEUER: 🤭terimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!