Diselingkuhi saat hamil besar, ia hampir kehilangan segalanya, termasuk anak yang belum sempat ia peluk.
Di titik terendah hidupnya, seorang pria asing menyelamatkannya.
Berbahaya. Dingin. Dan tidak pernah memberi tanpa imbalan.
Satu syarat.
Satu ikatan yang tak bisa ia tolak.
Demi bertahan… demi anaknya, ia menerima.
Lima tahun berlalu.
Hidup yang ia bangun perlahan terasa utuh, hingga masa lalu datang kembali, menuntut apa yang dulu ia abaikan.
Namun kali ini, ia bukan wanita yang sama.
Dan pria di sisinya…
bukan seseorang yang bisa disentuh tanpa konsekuensi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Malam hari...
Suasana ruang makan keluarga Fan terasa hangat dan tenang.
Lampu kristal di atas meja makan memancarkan cahaya lembut.
Lucien duduk di samping Alyysa sambil mengambilkan lauk ke piring istrinya yang sedang menuangkan air putih ke gelas suaminya.
"Papa, aku mau ikan!" pinta Kael sambil mengangkat tangannya kecil.
Lucien tersenyum tipis melihat wajah anak itu.
"Baiklah," jawabnya tenang.
Pria itu mengambil daging ikan tanpa duri lalu meletakkannya ke piring Kael bersama beberapa potong sayur.
"Tapi Kael juga harus makan sayur."
Seketika wajah tampan anak itu langsung berubah tidak bahagia.
"Aku tidak suka sayur..." gumamnya pelan.
"Kael," tegur Alyysa lembut. "Jangan pilih-pilih makanan. Sayur bagus untukmu."
"Iya, Ma..." jawab Kael menurut, meskipun wajahnya masih murung.
Lucien menatap reaksi anak itu sambil tersenyum kecil.
Beberapa saat kemudian Lucien kembali membuka suara.
"Alyysa, hari ini kami mendapatkan informasi tentang orang yang selama ini kucari."
Gerakan tangan Alyysa sedikit berhenti. "Bagaimana?" tanyanya pelan. "Sudah dipastikan?"
Lucien mengangguk tenang.
"Kami sudah mengambil sampel DNA anak itu. Sekarang tinggal menunggu hasil tes."
Alyysa menunduk sesaat sebelum kembali tersenyum tipis.
"Baguslah kalau begitu."
Tetapi beberapa detik kemudian wanita itu kembali bertanya,
"Kalau anak itu memang anakmu... apa ibunya tidak keberatan kau membawanya pulang?"
Lucien menyantap makanannya dengan tenang sebelum menjawab, "Aku akan memberinya sejumlah uang sebagai tanggung jawab dan ganti rugi."
Tatapan Alyysa langsung berubah.
"Kau ingin memisahkan mereka?" tanyanya pelan.
Lucien mengangkat matanya.
"Kalau anak itu memang darah dagingku, maka dia harus kembali ke keluarga Fan."
"Lucien..." suaranya melemah sedikit. "Seorang ibu tidak akan mudah melepaskan anak yang sudah dilahirkannya.Dan seorang anak juga tidak mungkin mudah berpisah dari ibunya."
Lucien menatap istrinya beberapa detik.
"Kau akan menjadi ibunya," jawabnya tenang. "Ibunya hanya kamu."
Alyysa terdiam.
Sementara di sisi lain Kael masih sibuk makan dengan serius tanpa peduli percakapan orang tuanya.
Anak itu bahkan diam-diam menyisihkan sayur ke pinggir piring.
Beberapa jam kemudian...
Lucien berada di ruang kerjanya sambil memeriksa dokumen perusahaan.
Lampu meja menyinari wajah tampannya yang serius.
Pintu perlahan terbuka.
Alyysa masuk sambil membawa camilan malam dan secangkir kopi hangat.
"Lucien, jangan bekerja terlalu malam," ucapnya lembut.
Lucien mengangkat matanya lalu tersenyum tipis.
"Perusahaan akan menerima karyawan baru," jawabnya. "Aku harus memeriksa semua pengalaman kerja dan data mereka."
Alyysa meletakkan camilan di meja. "Kalau begitu aku kembali ke kamar dulu."
Baru saja wanita itu hendak berbalik...Tangan Lucien tiba-tiba menarik pinggangnya.
"A-ah..."
Tubuh Alyysa langsung jatuh ke dalam pelukan suaminya.
Lucien mengangkat tubuh istrinya ringan lalu mendudukkannya di atas meja kerja.
"Lucien..." wajah Alyysa langsung memerah.
Tatapan pria itu perlahan berubah dalam.
"Di mana anak kita?" tanyanya rendah sambil menyentuh bibir istrinya perlahan.
"Sudah tidur," jawab Alyysa pelan. "Dia bermain seharian bersama pengawalmu sampai kelelahan."
Lucien tersenyum tipis.
"Kalau begitu..." bisiknya dekat di telinga Alyysa, "malam ini kau harus menemaniku sampai pagi."
Setelah itu Lucien kembali mencium bibir istrinya lembut di tengah sunyinya ruang kerja malam itu.
Seketika Alyysa melepaskan ciuman mereka lalu menatap Lucien dalam.
"Lucien..." suaranya pelan. "Bagaimana kalau wanita itu memintamu menikahinya?"
Tatapan Lucien sedikit berubah.
"Anak tidak bisa berpisah dari orang tuanya," lanjut Alyysa lirih. "Apa kau akan melakukannya demi anakmu?"
Lucien langsung menjawab tanpa ragu.
"Tidak akan."
Tangannya masih memegang pinggang istrinya erat.."Wanita itu hanya ibu dari anakku. Tidak akan ada hubungan lain di antara kami."
Tatapan pria itu terlihat dingin dan tegas.
"Kejadian malam itu juga terjadi tanpa sengaja," lanjutnya rendah. "Aku bahkan menyesal cukup lama."
Alyysa menunduk sesaat sebelum kembali menatap suaminya.
"Kalau suatu hari perasaanmu berubah..." ucapnya pelan, "beritahu aku. Jangan membuatku menjadi orang terakhir yang mengetahui keputusanmu."
Lucien terdiam beberapa detik sambil menatap wajah istrinya.
"Di mata Alyysa terlihat begitu tenang. Ingatan tentang pengkhianatan Darius masih meninggalkan luka di hatinya. Alyysa pernah diselingkuhi bajingan itu. Tidak heran dia merasa tidak aman, "batin Lucien.
Pria itu lalu mengangkat dagu istrinya perlahan.
"Alyysa," ucapnya rendah, "kau hanya perlu percaya padaku."
Tangannya menyentuh wajah Alyysa lembut. "Aku tidak akan menyakitimu demi anak itu."
Tatapan Lucien begitu dalam.
"Karena hanya dirimu yang bisa menjadi ibunya."
Alyysa tersenyum tipis mendengar ucapan tersebut.
Tetapi di dalam hatinya. Keraguan itu masih ada.
"Saat ini kau bisa berkata seperti itu karena kalian belum dekat. Kalau seorang pria dan wanita terus bersama... apa pun bisa terjadi. Apa lagi wanita itu sangat cantik," batin Alyysa.
Lucien dan Alyysa melanjutkan ciumannya dengan mesra.
Beberapa saat kemudian.
Keduanya melanjutkan ciuman panas mereka di atas kasur yang empuk.
Tangan Lucien mengenggam telapak tangan istrinya dan ciumannya menurun ke leher. Pasangan itu kini menghabiskan sepanjang malam di ruangan pribadi.
Di luar jendela, bulan purnama menggantung tinggi di langit malam.
Cahayanya masuk melalui celah tirai dan menerangi ruangan pribadi itu dengan sinar keperakan yang lembut.
Keesokan paginya.
Fan Group.
Lucas membawa sebuah map dan berjalan cepat menuju ruangan kantor Lucien.
"Bos, hasil penyelidikan sudah keluar," ucapnya sambil menyerahkan berkas.
Lucien meletakkan dokumen yang sedang dibacanya lalu membuka map tersebut.
"Katakan."
Lucas segera menjelaskan.
"Wanita itu bernama Lin Xue. Saat ini dia bekerja sebagai pemilik sebuah studio desain."
Lucien mengangguk pelan.
"Bagaimana dengan anaknya?"
Lucas membuka halaman berikutnya. "Anak laki-laki itu bernama Tommy Lin."
Tatapan Lucien langsung tertuju pada foto seorang anak kecil yang terselip di dalam berkas.
Anak itu memiliki wajah tampan, kulit putih, dan penampilan yang bersih serta rapi.
Lucas melanjutkan,."Kami juga mendapatkan informasi bahwa beberapa hari lalu Tommy baru didaftarkan ke sekolah."
Lucien mengangkat alisnya.
"Di sekolah mana?"
Lucas tersenyum kecut.
"TK Internasional Bintang Timur."
Seketika Lucien mengenali nama sekolah itu. Karena Kael juga bersekolah di sana.
"Masih ada satu hal lagi, Bos."
"Katakan."
Lucas menarik napas pelan.
"Tommy ditempatkan di Kelas Bintang."
Lucien terdiam sesaat.
Kelas Bintang adalah kelas yang sama dengan Kael.
"Jadi mereka satu kelas?" tanya Lucien.
"Benar, Bos."
Lucas mengangguk.
"Mulai minggu ini Tommy dan Tuan Muda Kael akan belajar di kelas yang sama."
"Siapa saja keluarga atau kenalan Lin Xue?" tanya Lucien.
"Masih dalam penyelidikan, Bos. Tapi saya mendapat informasi baru. Wanita itu sedang mengikuti perekrutan karyawan tetap di Fan Group. Sepertinya dia membutuhkan banyak biaya untuk membesarkan anaknya," ujar Lucas.
"Fan Group?" tanya Lucien.
"Iya. Kalau dia bekerja di bawah Anda, bukankah akan lebih mudah mendapatkan informasi?" jawab Lucas.
Lucien mengerutkan kening.
"Sejak kapan aku perlu mendekati seseorang untuk mendapatkan informasi?"
Lucas langsung terdiam.
"Justru ini yang menjadi masalah," lanjut Lucien.
"Maksud Bos?" tanya Lucas.
"Kalau dia masuk Fan Group, cepat atau lambat Alyysa akan mengetahuinya."
Lucas mengangguk.
"Nyonya memang terlihat khawatir sejak mengetahui keberadaan wanita itu."
Lucien mengetuk meja dengan jarinya. "Alyysa baru saja keluar dari pernikahan yang gagal. Aku tidak ingin dia salah paham."
"Lalu bagaimana?" tanya Lucas.
"Biarkan proses perekrutan berjalan seperti biasa. Jangan ada perlakuan khusus."
"Baik, Bos."
"Setelah itu cari alasan keluarkan dia! Jangan sampai dia bekerja di perusahaanku!" perintah Lucien.
bagus kael. lawan dia yang bikin gara gara sama kamu aku mendukungmu.
selagi kau tidak bersalah jangan pernah tunduk sama siapapun kecuali sama ibumu.
ha ha ha ha
jangan jangan si kael ini adalah anak kandung dari lucien ya.
aku kok berharapnya seperti itu. bukan cuma sebagai anak sambung saja.
thor, bikinlah cerita seperti itu 😍😍🙏🙏🙏🙏🙏
jadilah wanita tangguh. selidiki anak itu tanpa sepengetahuan lucien. yaaah untuk berjaga jaga aja. karena aku iru curiga anak itu bukan anaknya lucien. aku curiga ini hanya jebakan untuk lucien.
thor, jangan di bikin orang lain yg tidur dgn lucien lima tahun lalu . buatlah yang tidur malam itu adalah allisyya.
mungkinkah itu alyssa sendiri. kau harus benar benar mencari tau ya. jangan gegabah.