Blurb:
Dikhianati dan diledakkan di dalam mobilnya sendiri, Kara, algojo terbaik Aegis Syndicate, lolos dari kematian. Enam bulan kemudian, dia menyamar sebagai Riana. Bukan membawa peluru, dia datang membawa kacamata tebal, buku pedoman karyawan, dan kartu pengenal Manajer HRD.
Aegis Corp adalah kedok pencucian uang raksasa yang sangat takut pada audit pajak negara. Riana memanfaatkan celah itu untuk menghancurkan mereka dari dalam. Algojo menolak rotasi kerja? Pecat. Petinggi mafia mangkir tugas? Cabut asuransinya. Bos mafia mau kabur bawa uang perusahaan? Blokir rekeningnya dengan alasan belum mengembalikan laptop kantor!
Balas dendamnya berjalan mulus, sampai Jace bergabung menjadi petugas kebersihan. Pewaris sindikat musuh yang sedang menyusup itu malah salah fokus. Bukannya meretas data server Aegis, Jace keasyikan menonton HRD culun itu membuat para monster dunia bawah tanah menangis memohon ampun hanya lewat selembar Surat Peringatan Ketiga.
"Welcome to the real hell."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Lolos dari Lubang Jarum
"Dorong terus ke bawah! Jangan sampai kita mandek di tengah tangga!"
Teriakan panik dari seorang staf laki-laki di barisan belakang menggemuruh, memicu gelombang desakan yang semakin gila. Riana sengaja membiarkan tubuhnya terdorong ke depan, memanfaatkan kepanikan massal itu untuk memandu langkah Jace menuruni undakan terakhir tangga darurat yang langsung bermuara ke arah lobi utama lantai dasar.
"Tetap di belakang gue, jangan angkat kepala lo sedikit pun," bisik Riana sangat lirih tanpa menoleh. Bibirnya nyaris tidak bergerak di tengah kepulan uap sisa busa yang terbawa dari lantai atas.
"Gue tahu. Gerombolan jas hitam di depan sudah siap siaga," sahut Jace dari balik helm kaca gelapnya. Suaranya terdengar sangat teredam, tersamarkan oleh riuh rendah jeritan ratusan pegawai yang berhamburan keluar dari pintu darurat.
Lobi utama markas Aegis Corp yang biasanya rapi kini mendadak berubah mencekam. Barisan pengawal pribadi berjas hitam berdiri berjajar ketat, membentuk barikade pagar betis manusia yang memanjang tepat di depan pintu keluar kaca utama. Mereka memegang senjata laras panjang dengan posisi siaga satu, memandang tajam ke arah setiap kepala staf yang lari-lari ketakutan.
Di titik paling tengah barikade, berdiri sang CEO, Bramantyo.
Pria raksasa itu memegang sebuah senapan taktis hitam yang larasnya masih memancarkan hawa panas. Wajah penuh bekas luka sayatan miliknya terlihat sangat dingin, memancarkan hawa membunuh yang membuat beberapa staf perempuan langsung menjerit tertahan begitu bertatapan mata dengannya. Bramantyo menatap satu per satu wajah pegawai yang melintas, mencari target utamanya.
"Periksa semuanya! Jangan biarkan ada satu orang pun lewat tanpa lo lihat wajahnya!" bentak Bramantyo kepada komandan pengawalnya, suaranya menggelegar mengalahkan kebisingan alarm kebakaran.
Riana melangkah keluar dari pintu darurat dengan kemeja putih yang basah kuyup akibat busa kimia. Rambut panjangnya berantakan, dan pipinya sengaja dia coret dengan noda jelaga hitam. Dia sengaja memasang ekspresi syok yang sangat meyakinkan. Di belakangnya, Jace berjalan dengan langkah kaku yang dibuat-buat, memikul tas ransel perlengkapan darurat seolah-olah dia adalah petugas teknisi yang kewalahan.
"Ibu Riana! Sini, Bu!" teriak Siska yang sudah lebih dulu sampai di lobi dengan tubuh gemetar, melambaikan tangannya dari sudut barisan evakuasi.
Riana mengabaikan panggilan Siska. Dia terus melangkah maju memimpin jalur, mengarahkan gerombolan stafnya untuk melewati titik barikade yang dijaga langsung oleh Bramantyo. Ini adalah taktik paling ekstrem: bersembunyi di tempat yang paling terang.
Jarak mereka dengan moncong senapan Bramantyo kini hanya tersisa tiga meter. Dua meter. Satu meter.
"Tundukkan kepala lo, Jace. Sekarang," desis Riana di sela napasnya yang memburu.
Jace menurunkan pandangan helm kaca gelapnya lurus ke arah lantai aspal, mengatur ritme napasnya agar tidak memicu kecurigaan. Langkahnya yang berlapis sepatu bot pemadam kebakaran tebal terasa sangat berat di atas lantai marmer lobi.
Tepat saat mereka berdua melintasi titik tengah, arus desakan dari ratusan staf di belakang mendadak mendorong tubuh Jace ke sisi kanan. Postur tubuh Jace yang tinggi besar refleks bersenggolan langsung dengan lengan kekar Bramantyo.
Bahu mereka beradu keras.
Jace menahan napasnya dalam-dalam di balik helm. Jantungnya berdegup sangat kencang, memicu adrenalin yang membuat seluruh otot tubuhnya siap meledak untuk melakukan serangan balasan jika penyamarannya terbongkar detik itu juga.
Bramantyo seketika menolehkan kepalanya yang plontos. Mata elang sang CEO menyipit tajam, menatap curiga ke arah helm kaca gelap tertutup milik Jace. Setelan perak anti-api itu membuat Jace terlihat asing di antara kerumunan staf kantoran.
"Hei, lo! Staf teknisi dari divisi mana lo?!" bentak Bramantyo, tangan kirinya bergerak cepat hendak mencengkeram bahu perak Jace.
"Bapak CEO! Tolong bantu tim kami di lantai lima belas! Panel server utama meledak parah dan apinya mulai merembet ke ruang arsip logistik milik Pak Gideon!" potong Riana tiba-tiba, sengaja menabrakkan tubuh basah kuyupnya ke depan Bramantyo untuk mengalihkan perhatian penuh sang bos besar.
Taktik pengalihan isu Riana berhasil seratus persen. Bramantyo menghentikan gerakan tangannya, beralih menatap Riana dengan sorot mata yang penuh amarah berapi-api.
"Gideon ada di atas?! Apa dia berhasil menangkap anak Diwantara itu?!" tanya Bramantyo kasar, mencengkeram pundak Riana hingga perempuan itu sedikit meringis.
"Saya tidak tahu, Pak! Ruangan di atas penuh busa beracun dan semua orang lari-lari menyelamatkan nyawa! Petugas teknisi ini harus segera membawa tabung gas darurat ke luar sebelum meledak!" seru Riana panik, memberikan isyarat mata yang sangat samar kepada Jace untuk terus berjalan maju.
Jace tidak menyia-nyiakan celah emas tersebut. Dia melangkah lebar melewati barisan pengawal jas hitam, menerobos pintu kaca lobi yang terbuka, dan langsung membaur dengan kerumunan massa di jalan raya luar gedung. Dia berhasil lolos dari lubang jarum kematian tanpa terlacak sedikit pun.
Begitu ekor mata Riana memastikan punggung perak Jace sudah menghilang di balik kerumunan jalan raya, helaan napas leganya langsung tertahan di tenggorokan.
Cengkeraman tangan Bramantyo di pundak Riana mendadak mengencang dua kali lipat, terasa seperti jepitan besi panas yang siap meremukkan tulang belikatnya.
"Gis! Seret perempuan ini ke sudut ruangan sekarang juga!" perintah Bramantyo dingin kepada anak buahnya.
Bramantyo menarik tubuh Riana dengan sangat paksa dan kasar, menyeretnya menjauh dari jalur evakuasi staf menuju sudut lobi yang sepi di balik pilar beton besar. Tanpa ada peringatan apa pun, sang CEO mafia mengangkat senapan taktisnya.
KLIK!
Moncong laras senapan besi yang masih mengeluarkan hawa panas membara itu ditempelkan kuat-kuat tepat di tengah dahi Riana, menekan kulit perempuan itu hingga memerah. Aroma mesiu terbakar menyengat hidung Riana dalam jarak nol sentimeter.
"Jangan main-main sama gue, Riana," desis Bramantyo dengan suara yang sangat rendah, dipenuhi getaran murka absolut yang mengerikan. Matanya menatap lurus menembus lensa kacamata tebal Riana yang kotor. "Gue tahu lo pintar. Gue tahu lo Direktur Kepatuhan yang cerdas. Tapi foto semalam tidak bisa berbohong."
Riana tidak berkedip sedikit pun. Dia tetap berdiri tegak dengan punggung menempel di pilar beton, menatap lurus moncong senjata api yang siap meletuskan kepalanya dalam satu ketukan jari.
"Foto apa yang Bapak maksud? Saya murni mengurus administrasi evakuasi kebakaran lantai lima belas dari tadi. Saya nggak paham," jawab Riana, suaranya dibuat bergetar pelan agar terlihat seperti karyawan yang ketakutan, namun matanya tetap sedingin es.
"Tutup mulut lo! Gideon bawa foto pasangan lo semalam ke ruangan gue! Laki-laki berjas hitam yang lo bawa ke pesta lelang itu... dia adalah Jace, pewaris tunggal Diwantara Group!" bentak Bramantyo, menekan laras senapannya lebih keras ke dahi Riana hingga perempuan itu terpaksa mendongak. "Di mana anjing Diwantara itu bersembunyi sekarang, Riana?! Jawab gue atau gue hancurkan kepala lo detik ini juga!"
tp km lupa bos ,,
Riana tu cerdas ,, 🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣 ,,
pengen ketawa tp takut di dor ,,🤭🤭🤭
eeeeeh slah ,,
langsung meleleh aq ,, cosplay jdi air hujaan ,, 🤭🤭🤣🤣🤣🤣
semangat kak thor🥰
semoga aj mereka Selamat ,,
Semoga sehat dan tetap semangat 💪