Elfesya terjebak perjodohan paksa dengan Ravion Arshaka, CEO angkuh yang terus menghinanya. Luka semakin dalam saat Elfesya tahu ayah Ravionlah yang menghancurkan bisnis ayahnya. Ia melarikan diri ke pesisir, hidup nestapa sebagai buruh ikan demi harga diri.
Sadar akan dosanya, Ravion melepaskan kemewahan demi menyusul Elfesya ke gubuk reyot. Di tengah bau laut dan kemiskinan, ego sang CEO runtuh demi meraih kembali hati sang sekretaris. Ini adalah kisah tentang pengkhianatan korporasi, penebusan dosa yang perih, dan cinta yang akhirnya berlabuh di dermaga ketulusan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surat yang mengakhiri sandiwara
Pagi itu, langit tidak menunjukkan tanda-tanda mendung, namun suasana di kediaman utama Arshaka jauh lebih mencekam daripada badai mana pun. Elfesya berdiri di ruang tengah yang megah, tempat yang dulu ia anggap sebagai awal dari keberuntungannya. Di hadapannya, Nenek Lastri duduk di kursi goyang dengan wajah yang mendadak menua sepuluh tahun.
Elfesya meletakkan sebuah map cokelat dan kotak kayu kecil yang ia ambil dari ruang kerja Ravion ke atas meja marmer. Tangannya tidak lagi gemetar. Kesedihannya telah mengkristal menjadi tekad yang dingin.
"Aku ingin bercerai, Nek," ucap Elfesya. Suaranya lugas, tidak ada lagi nada ceria yang biasa ia gunakan untuk menghibur wanita tua itu.
Nenek Lastri memegang memo dari Winda Jaya Konstruksi itu dengan jemari yang bergetar. Air mata mulai menggenang di matanya yang mulai kabur. "Elfesya... Nenek... Nenek bermaksud menjelaskan ini padamu setelah kamu dan Ravion saling mencintai. Nenek ingin menebus dosa keluarga ini."
"Menebus dosa tidak dilakukan dengan cara membeli orang, Nek," potong Elfesya tajam. "Nenek menjodohkan aku dengan Ravion bukan karena aku 'malaikat' yang menolong Nenek di jalan. Nenek melakukannya karena Nenek merasa bersalah telah merampas segalanya dari ayahku. Nenek ingin menenangkan hati nurani Nenek dengan menjadikanku bagian dari keluarga yang menghancurkanku."
"Tidak, Nak... Nenek tulus menyayangimu," isak Nenek Lastri.
"Tulus?" Elfesya tersenyum getir. "Jika Nenek tulus, Nenek tidak akan membiarkan aku masuk ke rumah ini sebagai peminta-minta pekerjaan. Nenek akan mengembalikan apa yang menjadi hak ayahku tanpa harus menjadikanku istri kontrak dari cucu Nenek yang bahkan tidak bisa menghargai manusia."
Elfesya menarik napas panjang. Ia sudah mengemasi barang-barangnya dan barang-barang Elric tadi subuh. Semua hadiah mewah, perhiasan, dan pakaian mahal dari keluarga Arshaka ditinggalkannya di kamar, kecuali baju yang melekat di tubuhnya sekarang.
"Aku sudah menjemput Elric dari asrama sekolahnya sejam yang lalu. Kami akan pergi dari kota ini. Aku tidak butuh pesangon, aku tidak butuh rumah, dan aku tidak butuh nama Arshaka. Aku akan mengembalikan kehormatan ayahku dengan caraku sendiri, bukan dengan menjadi pajangan di rumah ini."
"Kamu mau ke mana, Elfesya? Kamu tidak punya siapa-siapa!" seru Nenek Lastri sambil mencoba berdiri.
"Aku punya harga diri, Nek. Sesuatu yang tidak bisa dibeli oleh saham Arshaka Group," sahut Elfesya. Ia berbalik, melangkah menuju pintu besar.
Tepat saat itu, pintu terbuka. Ravion masuk dengan wajah kacau, matanya merah karena kurang tidur dan sisa alkohol semalam. Ia tertegun melihat Elfesya berdiri di sana dengan tas ransel usang di bahunya, dan Elric yang berdiri ketakutan di belakangnya.
"Apa-apaan ini?" tanya Ravion, suaranya parau. Ia menatap Neneknya yang menangis, lalu menatap map di atas meja.
"Aku pergi, Ravion," ucap Elfesya tanpa menatap matanya. "Surat cerai akan dikirim oleh pengacaraku segera setelah aku menetap di tempat baru. Jangan cari aku, dan jangan berani-berani menyentuh adikku lagi."
Ravion melangkah maju, mencoba mencengkeram lengan Elfesya. "Kamu gila? Kita punya kontrak! Kamu tidak bisa pergi begitu saja!"
Elfesya menepis tangan Ravion dengan sentakan kasar. Matanya menyala karena amarah yang sudah mencapai puncaknya. "Kontrak itu batal saat aku tahu bahwa pria yang memberiku makan adalah putra dari pria yang membunuh orang tuaku secara perlahan lewat kebangkrutan! Baca memo itu, Ravion! Baca bagaimana ayahmu menghancurkan keluargaku!"
Ravion mematung. Ia menatap map di meja, lalu kembali menatap Elfesya. Kebingungan menyelimuti wajahnya. "Apa maksudmu? Ayahku hanya melakukan bisnis—"
"Bisnis yang membunuh, Ravion! Sekarang aku mengerti kenapa kamu begitu membenci senja. Karena keluargamu memang ditakdirkan untuk hidup dalam kegelapan dan membawa kegelapan bagi orang lain," ucap Elfesya telak.
Ia tidak menunggu jawaban lagi. Elfesya menarik tangan Elric, melangkah keluar melewati Ravion yang berdiri kaku seperti patung. Ia tidak menoleh lagi. Di luar, matahari pagi bersinar terik, namun bagi Elfesya, ini adalah pertama kalinya ia merasa benar-benar bebas dari bayang-bayang senja yang menyesakkan di Arshaka Group.
Ravion hanya bisa melihat taksi yang membawa Elfesya menjauh, menghilang di tikungan jalan. Di dalam kepalanya, kata-kata Elfesya bergema seperti lonceng kematian. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Ravion Arshaka merasakan sesuatu yang lebih menakutkan daripada senja: kehilangan satu-satunya cahaya yang pernah mencoba masuk ke dunianya yang gelap.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...