NovelToon NovelToon
THE UNOFFICIAL HOUSEMATE

THE UNOFFICIAL HOUSEMATE

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:920
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

Nala hanya ingin memulai hidup baru, bukan malah terjebak satu atap dengan Saga—arsitek dingin yang memperlakukan apartemennya seperti museum suci. Akibat ditipu agen properti, keduanya terpaksa berbagi unit 402 dengan satu garis imajiner sebagai batas perang.
Nala yang berantakan adalah "polusi" bagi hidup Saga yang simetris. Mereka saling benci, saling mengusir, namun dipaksa bernapas di ruang yang sama setiap hari. Tapi, saat jarak hanya sebatas dinding tipis dan rahasia mulai bocor, garis pembatas itu tak lagi cukup untuk menahan debaran yang salah alamat.
Di Unit 402, aturan nomor satu sangat jelas: Jangan sampai jatuh cinta. Tapi di antara mereka, siapa yang akan melanggar kontrak itu lebih dulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5. Barak Militer Saga

Setelah keberhasilan "Bom Sayang" yang meledak tepat di depan wajah Bu Sofia, suasana di Unit 402 berubah menjadi barak militer berbalut kemewahan.

Garis hitam di lantai masih ada, namun fungsinya kini bukan lagi sekadar pembatas wilayah, melainkan garis start bagi Nala untuk memulai transformasinya dari "Gadis Daster Ayam" menjadi "Wanita Berkelas Sejagat Raya".

Nala duduk di atas koper merah mudanya—yang kini sudah diizinkan parkir di wilayah ruang tamu sebagai imbalan atas keberanian aktingnya.

Ia sedang asyik mengunyah keripik pedas dengan suara krak-kruk yang nyaring, suara yang biasanya sanggup membuat urat saraf di dahi Saga berdenyut hebat.

Namun, sore ini, Saga hanya bisa berdiri di depan meja kerjanya dengan tangan terlipat di dada, menatap Nala seperti seorang jenderal yang sedang menimbang-nimbang apakah prajurit di depannya ini layak dikirim ke medan perang atau langsung dipensiunkan dini.

"Mas, jangan miring-miring gitu mukanya. Jelek. Nanti kalau Mama Mas lihat Mas mukanya kayak ubin pecah gitu, dia malah makin curiga," celetuk Nala tanpa dosa, sambil menjilat sisa bumbu keripik di jarinya.

Saga membuang napas berat, suara embusan napasnya terdengar sangat frustrasi.

"Nala, berhenti menjilat jarimu. Itu adalah pelanggaran etiket nomor satu. Kamu baru saja menawarkan ide gila untuk menjadi pacar sandiwara saya demi menghindari perjodohan Siti Nurbaya, tapi jika kelakuanmu masih seperti anak kosan yang baru menang kuis, sandiwara ini akan runtuh bahkan sebelum kita sampai di lobi rumah Mama."

Nala langsung tegak, ia mengusap tangannya ke daster (yang langsung membuat Saga meringis ngeri).

"Inget ya, Mas Saga Adiputra yang terhormat. Ide 'pacaran' ini dari saya. Saya yang pasang badan pas Mama Mas dateng. Kalau bukan karena saya, Mas sekarang sudah ditarik paksa buat tunangan sama Clarissa-si-paling-simetris itu. Jadi, anggap aja saya ini penyelamat hidup Mas."

Saga melangkah mendekat, auranya mendadak sangat serius.

"Penyelamat ya... Hemm..Oke, saya terima tawaranmu. Kita akan bersandiwara selama tiga bulan sampai Mama berhenti menjodohkan saya. Tapi ingat, Mama saya punya radar pendeteksi kebohongan yang lebih tajam dari penggaris laser saya. Dia bisa mencium bau kemiskinan dan ketidakjujuran dari cara seseorang bernapas."

Saga mengambil sebuah tablet dari meja kerjanya, lalu menyalakan layar besar di ruang tamu yang kini menampilkan sebuah presentasi PowerPoint dengan judul yang sangat intimidatif: OPERASI TRANSFORMASI NALA: MENUJU MENANTU IDAMAN.

"Mas... Mas serius bikin presentasi ginian?" Nala melongo, keripik di mulutnya hampir jatuh.

"Saya arsitek, Nala. Segala sesuatu harus memiliki rencana dan struktur yang jelas," balas Saga dingin. Ia memencet tombol remote, menampilkan slide pertama: TATA CARA BERJALAN DAN POSTUR.

"Misi pertama: Kita harus menghilangkan gaya jalan 'preman pasar' dalam dirimu. Berdiri!" perintah Saga tegas.

Nala berdiri dengan malas. Saga langsung menghampirinya, memegang bahu Nala dan menariknya ke belakang dengan paksa.

"Tegak! Dada dibusungkan, tapi jangan sampai terlihat seperti mau menantang berkelahi. Bayangkan ada seutas benang yang menarik puncak kepalamu ke langit. Dan ini..." Saga mengambil tiga buah buku tebal berjudul The History of World Architecture dari raknya, lalu menaruhnya tepat di atas kepala Nala.

"Mas! Ini berat banget! Ini buku atau batu nisan?!" protes Nala, lehernya langsung terasa kaku.

"Itu pengetahuan. Biar otakmu nggak cuma isinya drakor dan diskon Shopee," sahut Saga tanpa ampun.

"Sekarang, jalan mengikuti garis hitam itu. Dari ujung pintu sampai ke balkon. Bolak-balik sepuluh kali. Jika satu buku jatuh, masa tinggal gratis kamu saya potong dua puluh empat jam."

Nala mulai melangkah. Satu langkah... dua langkah... badannya goyah.

"Aduh, Mas! Garisnya sempit banget, saya berasa lagi main sirkus!"

"Anggun, Nala! Wanita berkelas tidak mengeluh. Mereka meluncur di atas lantai, bukan menyeret kaki seperti zombie!" teriak Saga sambil memantau dengan penggaris laser di tangannya.

Dua jam kemudian, Nala sudah berkeringat dingin, tapi ia berhasil berjalan tanpa menjatuhkan buku. Pelatihan berlanjut ke babak yang lebih kejam: ETIKA MAKAN FORMAL.

Saga menyulap meja makan menjadi medan perang peralatan perak. Ada lima jenis garpu, tiga jenis sendok, dan empat buah gelas yang tertata dengan simetri yang sangat mengerikan. Nala menatap deretan benda mengilat itu dengan wajah pucat.

"Sebutkan fungsi garpu terkecil di sebelah kiri," tuntut Saga, kali ini ia sudah memegang buku panduan etiket kerajaan Inggris.

"Itu... buat ambil kotoran yang nyangkut di gigi kalau lagi makan?" jawab Nala polos.

Saga memejamkan mata, memegang pelipisnya seolah-olah ia baru saja mendengar bahwa dunia akan kiamat.

"Itu garpu tiram, Nala! Tiram! Dan tolong, demi kewarasan saya, jangan pernah menyeruput sup sampai bunyinya terdengar ke unit sebelah. Sendok digerakkan dari arah dalam ke luar, lalu masukkan ke mulut tanpa menyentuh bibir sendok dengan gigimu. Jangan ada suara sruuup!"

"Ribet banget sih orang kaya kalau makan. Padahal kan tujuannya biar kenyang, bukan biar estetik!" gerutu Nala.

"Tujuannya adalah menunjukkan kelas! Jika Mama saya melihatmu makan seperti orang yang tidak pernah makan selama tiga hari, dia akan langsung tahu kamu adalah impostor!" Saga kemudian menyodorkan sepotong roti kecil. "Coba makan ini sesuai etiket."

Nala mengambil roti itu, mencoba mengirisnya dengan pisau mentega dengan gerakan sangat lambat dan kaku. Tangannya gemetar karena ditatap tajam oleh Saga.

"Kenapa tanganmu gemetar? Kamu sedang makan roti, bukan sedang menjinakkan bom!"

"Habisnya Mas liatinnya kayak mau nerkam! Saya kan jadi grogi!"

Malam semakin larut, dan Unit 402 kini dipenuhi dengan suara perdebatan tentang bagaimana cara tertawa yang "elegan".

Saga memaksa Nala berlatih tertawa kecil yang hanya memperlihatkan sedikit gigi, bukan tertawa terbahak-bahak sampai matanya berair seperti yang biasa Nala lakukan saat menonton variety show.

Terakhir, Saga memberikan sebuah map tebal berisi identitas baru untuk Nala.

"Hafalkan. Latar belakangmu. Lulusan Desain Interior dari universitas ternama. Kita bertemu di sebuah pameran seni kontemporer setahun yang lalu. Kamu menyukai musik klasik, pandai bermain biola—walaupun sedikit saja—dan makanan favoritmu adalah salad organik dengan saus lemon vinaigrette."

Nala membaca map itu dengan dahi berkerut-kerut. "Mas, bohongnya nggak kejauhan? musik klasik? Saya kalau denger itu malah ngantuk, Mas! Dan apa ini? Makanan favorit salad organik? Saya kalau nggak ketemu sambal terasi dalam sehari bisa meriang, Mas!"

"Itu sebabnya ini disebut sandiwara, Nala! Kamu yang menawarkan diri masuk ke dalam lubang ini, jadi kamu harus menari di dalamnya!" Saga menunjuk Nala dengan tegas, matanya berkilat penuh tekad.

Nala terdiam. Ia menatap Saga yang kini sibuk membereskan alat-alat makan tadi, kembali ke mode perfeksionisnya dengan menyemprotkan cairan disinfektan ke meja. Nala menyadari sesuatu.

Di balik semua tuntutan gila ini, Saga sebenarnya sedang sangat ketakutan. Ia takut kehilangan satu-satunya tempat di mana ia bisa menjadi dirinya sendiri tanpa diatur oleh ibunya.

"Saga," panggil Nala pelan.

Saga menoleh, sedikit terkejut karena Nala memanggil namanya tanpa embel-embel mas.

"Apa?"

"Saya bakal lakuin yang terbaik. Saya janji. Besok malam, di depan Mama Mas, saya nggak bakal bikin Mas malu,"

Nala memberikan senyum tulus, sebuah senyuman yang tidak mengandung kelicikan atau maksud tersembunyi.

Saga tertegun sejenak. Cahaya lampu gantung yang artistik di ruangan itu memantul di mata Nala, memberikan kesan lembut yang belum pernah Saga lihat sebelumnya. Untuk sesaat, Saga lupa bahwa wanita di depannya ini adalah orang yang pernah menyemprotnya dengan air bidet.

"Ehem," Saga langsung membuang muka, berdeham keras untuk menutupi detak jantungnya yang mendadak sedikit tidak beraturan.

"Bagus kalau kamu sadar. Sekarang, hafalkan daftar nama sepuluh kolega bisnis Papa saya di halaman terakhir. Kamu harus tahu siapa mereka jika Mama menyinggung nama mereka."

Namun, detik berikutnya Nala berdiri, menatap Saga dengan berani.

"Tapi, satu kebohongan itu butuh seribu kebohongan lain buat nutupinnya. Saya nggak mau hidup tiga bulan dalam ketakutan kalau-kalau saya salah sebut nama kampus atau lupa judul lagu klasik yang Mas karang itu. Sekali ketahuan, Mama Mas bakal benci saya, dan Mas bakal makin susah. Saya mau tampil apa adanya."

"Apa adanya?!" Saga menunjuk daster ayam jago yang masih dipakai Nala. Ia langsung memijat pelipisnya, baru saja beberapa detik yang lalu ia memuji gadis ini, sekarang sudah bikin naik darah lagi.

"Kamu mau datang ke rumah Mama saya pakai daster ini dan bilang kalau kamu adalah orang yang nggak sengaja masuk ke apartemen saya karena ditipu agen properti?!"

"Ya nggak pakai daster juga, Mas! Saya masih punya otak," balas Nala sengit. "Maksud saya, saya nggak mau bohong soal profesi atau latar belakang. Biar saya jadi Nala yang pengangguran kreatif, yang suka makan mi instan, tapi punya harga diri. Mas bilang aja saya ini... pacar Mas yang Mas temuin di jalan dan Mas suka karena saya unik."

Saga memijat pangkal hidungnya, merasa migrainnya kambuh. "Mama saya itu selektif, Nala. Dia butuh standar!"

"Standar itu buatan manusia, Mas. Tapi ketulusan itu... ah sudahlah, intinya saya nggak mau bohong soal identitas. Kalau Mas mau saya latihan etiket makan atau cara duduk biar nggak memalukan, oke saya ikut. Tapi kalau soal jati diri? No way. Lagian saya ga bego-bego amat ko. Gini-gini saya memang lulusan desain interior. Cuman bukan dari univ ternama yang mas cantumkan tadi."

Saga akhirnya menyerah. Ia tahu Nala punya keras kepala yang setingkat dengan beton cor.

"Kalau Mama tanya kamu kerja apa, kamu jawab apa?" tanya Saga menguji.

"Saya jawab: 'Saya sedang dalam masa transisi karir, Tante. Mencari sesuatu yang benar-benar bisa saya kerjakan dengan hati, bukan cuma karena uang'. Keren kan? Puitis tapi jujur," jawab Nala bangga.

Saga terdiam. Jawaban itu sebenarnya adalah cara halus untuk bilang "pengangguran", tapi entah kenapa terdengar sangat... bermartabat saat diucapkan Nala.

Malam harinya, Saga menatap Nala yang kelelahan dan tertidur di sofa wilayahnya (yang sekarang sudah makin luas karena Nala berhasil "menjajah" wilayah Saga inci demi inci). Nala tidak lagi terlihat seperti ancaman atau polusi.

Saga berjalan pelan, mengambil selimut, dan menyelimuti Nala. Ia melihat daster ayam jago itu dan tersenyum tipis. "Mungkin... kejujuran kamu ini yang sebenarnya saya butuhin buat ngadepin Mama," bisiknya pelan.

Namun, ketenangan itu terusik saat ponsel Saga berdering. Sebuah pesan dari Mamanya:

"Saga, Mama ajak Clarissa juga ya. Dia baru pulang dari London. Mama ingin dia menilai calon istrimu itu."

Saga menelan ludah. Clarissa adalah kurator seni yang bisa melihat kepalsuan bahkan dalam sebuah garis lurus. Strategi "Apa Adanya" milik Nala benar-benar akan diuji di level yang mematikan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!