NovelToon NovelToon
Huang Shen: Penguasa Seratus Alam

Huang Shen: Penguasa Seratus Alam

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Action / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

Di Alam Bawah Sembilan Langit, hanya satu hukum yang berlaku, yaitu yang kuat berkuasa, sedangkan yang lemah akan mati.

Seorang pemuda enam belas tahun membuktikannya setiap hari. Yatim piatu sejak Sekte Iblis membantai desanya empat tahun lalu, hidupnya kini hanya memungut ampas pil di selokan dan tidur di kolong jembatan. Setiap hari direndahkan, dipukuli, dianggap sampah oleh para kultivator.

Sampai suatu malam, ketika sekarat di selokan setelah dipukuli hampir mati, sebuah warisan kuno terbangun di dadanya.

Gerbang Iblis dalam Darah. Peninggalan dari 66.000 tahun lalu yang memberinya kemampuan mengerikan untuk menyerap darah musuh demi memulihkan luka dan menaikkan level kultivasi.

Dari pemulung jadi pemburu. Dari korban jadi ancaman.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35: Paviliun Bunga Tidur

Lentera-lentera merah mulai menyala di sepanjang jalanan timur, namun hati Yue Xin tetap gelap gulita. Gadis itu melangkah tanpa arah, tungkainya menapaki trotoar batu dengan gusar, seolah sedang menghukum bumi atas kekesalan yang tak berujung.

Semua ini karena pikirannya yang masih terperangkap pada bayang-bayang Huang Shen. Wajah sedingin es itu. Suara sedatar liang lahat itu. Hingga cara pria itu menepis tangannya seolah ia hanyalah pengganggu. Tentu saja ada amarah yang membara di dadanya, namun di balik itu, terselip rasa getir yang tak mampu ia definisikan, lebih seperti sesuatu yang menggelitik sanubarinya bagai sembilu yang dibungkus sutra.

Akibat nalar yang berkelana, ujung sepatunya menghantam sebuah ember kayu dengan keras. Benda itu terpental, menumpahkan air keruh yang seketika membasahi ujung celananya.

“Hei! Apa matamu dipasang di tumit?” Seorang pedagang kaki lima memaki sembari mengacungkan tinju. Wajahnya merah padam, urat-urat di lehernya menonjol bak akar pohon. “Kau tahu berapa banyak peluh yang kukeluarkan untuk menimba air itu?”

Yue Xin pun membungkuk dalam saat rona merah menjalar di pipinya. “Maafkan kekhilafanku, Paman. Aku akan menggantinya. Berapa keping tembaga untuk menebusnya?”

Si pedagang masih mendengus, namun melihat Yue Xin yang tertunduk lesu tanpa perlawanan, ia hanya menggerutu panjang sembari memungut embernya yang telah penyok.

Sementara Yue Xin berdiri terpaku di tengah hiruk-pikuk yang mulai mereda. Beberapa pejalan kaki melewatinya dengan tatapan abai. Di dunia yang keras ini, kemalangan kecil seorang gadis bukanlah tontonan yang menarik.

Sampai dirinya baru saja hendak memutar langkah menuju penginapan kumuh, sesosok bayangan familiar melintas di ujung pandangannya. Jubah hitam pekat. Rambut legam yang tergerai liar. Langkah kaki yang tenang namun menyimpan tekanan batin yang kuat.

Tidak salah lagi itu Huang Shen.

Pria itu berjalan menuju distrik timur, kawasan yang dikenal sebagai pusat kesenangan duniawi, di mana wangi alkohol berpadu dengan aroma parfum wanita penghibur. Tempat di mana lentera merah tak pernah padam hingga fajar menyingsing.

Lantas Yue Xin menyipitkan mata. Rasa ingin tahunya mendadak mengalahkan harga dirinya. Ia mulai membuntuti dari kejauhan, merayap di balik bayang-bayang bangunan bak seekor kucing yang tengah mengincar buruannya.

Sementara Paviliun Bunga Tidur dibangun dengan arsitektur dua lantai yang provokatif. Suara petikan kecapi mengalun dari balik dindingnya, bersahutan dengan tawa wanita yang kadang melengking, menggoda nafsu para lelaki yang haus akan sentuhan.

Begitu Huang Shen melangkahkan kaki ke dalam, seorang pria pendek dengan kumis yang dipilin rapi segera menyambutnya. Matanya yang licik dengan cepat menaksir harga jubah dan pedang yang dibawa sang tamu.

“Selamat datang, Tuan Muda!” Suaranya terdengar semanis madu. “Sendirian di malam yang dingin ini? Kami memiliki koleksi bunga-bunga terindah. Ada yang seputih salju dari daratan tinggi, ada pula yang bermata biru sedalam samudra barat.”

Huang Shen sendiri tak menanggapi. Tatapannya lebih dulu menyapu barisan wanita yang duduk bersandar di kursi-kursi panjang. Pakaian mereka tipis, nyaris transparan, menonjolkan lekuk tubuh yang sengaja dipamerkan, meski Huang Shen hanya melihat kekosongan di mata mereka.

“Tunjukkan semuanya padaku,” ucap Huang Shen dengan datar.

Si mucikari mengernyit heran, namun senyumnya tetap merekah. “Tentu, Tuan. Silakan pilih sesuka hati.”

Huang Shen berjalan perlahan di hadapan barisan wanita itu. Ia mengamati satu per satu wajah mereka dengan ketelitian seorang pendekar yang sedang memeriksa kualitas senjata di pasar gelap.

“Berapa harga wanita ini?”

“Dua keping emas, Tuan. Suaranya semerdu burung bulbul.”

“Lalu yang ini?”

“Tiga keping emas. Ia masih murni, belum pernah tersentuh tangan kasar mana pun.”

Huang Shen setengah menggeleng. Baginya mereka tak lebih dari tumpukan daging yang dibalut kain sutra. Tak ada satu pun yang mampu meresonansi gejolak energi Gerbang Iblis di dalam dadanya seperti halnya Mu Qingxue.

Akibatnya mucikari itu mulai gelisah. Jari-jarinya mengetuk-ngetuk meja kayu dengan tidak sabar, namun kantong uang yang menggembung di pinggang Huang Shen membuatnya tetap bertahan dalam keramahan yang dipaksakan.

“Tuan Muda sepertinya memiliki selera yang sangat tinggi. Mungkin pekan depan kami kedatangan kiriman baru dari ibukota—“

“Belum ada yang cocok,” koreksi Huang Shen.

Adapun di atas atap, Yue Xin mengintip melalui celah genteng yang renggang. Jemarinya mencengkeram kayu lantaran menahan geram.

“Dasar serigala mesum,” bisiknya tajam. Meski begitu, ia tak beranjak. Ada rasa lega yang ganjil saat melihat Huang Shen menolak satu per satu wanita itu. Ia merutuki dirinya sendiri atas reaksi konyol tersebut. Kenapa pula aku harus peduli?

Sampai tirai sutra di ujung ruangan tersingkap.

Seorang wanita melangkah keluar dengan keanggunan yang tidak lazim. Jubah panjang berwarna biru laut membungkus tubuhnya yang jenjang, sementara tudung kepalanya menutupi sebagian besar wajahnya. Hanya dagu yang runcing dan bibir pucat tanpa polesan yang terlihat.

Si mucikari sampai tertegun dibuatnya. Ia tak ingat pernah memiliki budak secantik ini di daftarnya, namun hawa dingin yang terpancar dari wanita itu membuatnya enggan bertanya.

Wanita berjubah biru itu berhenti tepat di hadapan Huang Shen, tidak menggoda, tidak pula menebar senyum murahan. Ia hanya berdiri, memancarkan wibawa yang membuat seisi paviliun mendadak senyap.

“Aku adalah pelayan baru di sini,” ucapnya dengan nada sopan yang berwibawa.

Huang Shen menatapnya lekat. “Buka tudungmu.”

Wanita itu menghela napas panjang, sebuah gestur keangkuhan yang tertahan. Perlahan, jemari putihnya yang lentik menyingkap kain penutup wajahnya.

Seketika, seisi ruangan seolah membeku. Wajah itu… seputih salju abadi. Sepasang matanya berwarna biru pucat, sedingin es yang menyelimuti puncak Gunung Kunlun. Sementara rambut hitamnya terurai jatuh bak air terjun di tengah malam yang sunyi. Kecantikan yang tidak ditujukan untuk menghangatkan ranjang, melainkan kecantikan yang mampu membekukan nyawa.

“Berapa hargamu untuk semalam?” tanya Huang Shen langsung tanpa basa-basi.

Wanita itu menatap tepat ke dalam manik mata Huang Shen. “Tak perlu emas. Cukup serahkan waktumu dan ikutlah denganku.”

Tanpa menunggu persetujuan si mucikari yang masih mangap, wanita itu berbalik. Jubah birunya berkibar pelan saat ia melangkah menuju tangga lantai dua. Sedangkan Huang Shen, tanpa keraguan sedikit pun, mulai mengikuti di belakangnya.

Di atas genteng, napas Yue Xin lantas tercekat mandek.

Darahnya seolah berhenti mengalir saat melihat wajah wanita itu. Kenangan pahit yang selama ini ia kubur di dasar sanubari mendadak bangkit, mencabik-cabik ketenangannya. Wajah itu adalah sumber dari segala mimpi buruknya selama bertahun-tahun.

“Liu… Yuyan…?” bisik Yue Xin dengan emosi.

Kepalan tangannya menghantam genting hingga retak. Rahangnya mengeras dengan gigi yang bergemeretak.

Liu Yuyan. Putri sulung dari Sekte Istana Salju Abadi. Wanita yang dengan fitnah kejamnya membuat Yue Xin terusir dari sekte, kehilangan kehormatan, dan terasing dari gurunya. Wanita yang telah merenggut segalanya.

Sedangkan kini, wanita itu sedang menggiring Huang Shen masuk ke dalam perangkapnya.

Yue Xin tak tahu harus meluapkan amarahnya kepada siapa. Kepada Liu Yuyan yang muncul bak iblis penagih janji? Kepada Huang Shen yang begitu mudah terpikat? Ataukah kepada dirinya sendiri yang hanya bisa membeku di atas genteng, terbakar oleh api dendam yang tak kunjung padam?

1
lily
Thor mau nanya levelnya kok gk ditampil?
lily: makasih Thor
total 2 replies
Tonton Sitohang
lanjutkan updet terus mase. mantap jiwa
DanaBrekker: Terima kasih atas dukungannya 👍
total 1 replies
Kecoa Laut
apakah ini tipe cerita yang mc-nya langsung op?
DanaBrekker: tipe Xianxia gelap dan tokoh utamanya memang op sejak awal, kelanjutannya belum tentu 😄
total 1 replies
Bg Gofar
manteb gan
DanaBrekker: Terima kasih 👍
total 1 replies
MuhFaza
menariknya novel ini sejauh yang aku baca ada sisi gelap dari fantasi timur, malah lebih mirip genre horor menurutku
Kecoa Laut: horor dengan bumbu ehem2 lebih tepatnya 🤭
total 2 replies
YunArdiYasha
coba baca karya bru. semangat
DanaBrekker: Terima kasih semoga menghibur 👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!