Takdir membawa seorang gadis yang polos harus mengorbankan masa mudanya demi kesembuhan sang nenek.
Tawaran dari majikan tempat ia bekerja sangat menggoda. Dengan berbagi pertimbangan gadis itu menyetujui tawaran majikanya.
"Lahirkan seorang cucu buat saya."
"Cucu, bagaiman caranya nyonya?" tanya gadis yang bernama Laras.
"Meniakh dengan putra saya."
"Tapi tuan muda bukanya sudah punya istri nyonya, harusnya yang melahirkan seirang anak itu istrinya." sanggah Laras.
"Kalau dia mau saya tidak akan menawari kamu."
Laras yang sangat membutuhkan uang untuk biaya pengobatan neneknya menandatangi kontrak dari majikanya.
Apakah hidup Lars akan bahagia atau sebaliknya.
Di tunggu komentar dari kk² semua😘😘🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ima susanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Di tempat yang jauh, setelah perceraiannya resmi dengan Dafa. Mila memulai hidup dengan membuka lembaran baru. Memang tak mudah memulai sesuatu yang baru apalagi dulu ia hidup enak. Mau apa aja tinggal tunjuk dan sudah ada yang melayani semua kebutuhannya. Kini ia di paksa agar bisa hidup mandiri.
Dia memang bukan terlahir dari keluarga kaya. Ia sudah terbiasa hidup sederhana bahkan susah sekalipun. Tapi hidupnya beberapa tahun ini selalu di manjakan oleh kemewahan oleh Dafa yang dulu jadi suaminya sehingga agak kaget dengan kehidupan yang jauh berbanding terbalik.
Kenyataan pahit hidupnya harus berakhir ditempat seperti ini. Jika saja dirinya tak mementingkan ego tentu sampai saat ini ia masih berada disamping Dafa dan menikmati hidup mewah. Tapi nasi sudah jadi bubur, ia harus menerima dengan lapang dada.
"Pagi mbak." sapa seorang pemuda yang umurnya tak jauh berbeda dari Mila.
"Pagi mas. Mau beli apa?" tanya Luna sopan dan ramah.
"Rokok sebungkus. Berapa?" tanya lelaki itu.
"Yang ini empat puluh ribu mas."
"Itu aja." lelaki itu menyerahkan selembar uang bewarna biru kehadapan Mila.
"Ini kembalinya, mas." Mila menyerahkan kembaliannya kepada lelaki itu.
"Ga usah mbak, buat mbaknya aja."
"Tapi mas....." ucap Mila merasa tak enak hati.
"Ga apa - apa, hitung - hiting perkenalan. Ngomong - ngomong nama mbaknya siapa?" tanya lelaki itu.
"Saya Mila mas."
"Nama yang cantik sama seperti orangnya."
"Bisa aja mas." Mila tersipu malu mendengar pujian lelaki itu.
"Saya Rudy, ampe lupa ngenalin diri sendiri. Habisnya mbaknya cantik membuat orang lupa segalanya."
"Gombal." Mila pura - pura merapikan dagangannya dan mengacuhkan Rudy. Ia takut nanti menimbulkan maslah baru, apalagi ia juga oramg baru di sini.
"Mbaknya sendirian?."
"Ga."
"Tinggal sama suaminya?"
"Ga."
"Saudara. "
"Ga."
"Lantas sama siapa?" tanya Rudy penasaran.
"Tuh banyak tetangga, mas juga ada. Rame toh." kekeh Mila.
"Mbaknya suka bercanda juga rupanya. Berarti singel dong?"
"Bisa di bilang begitu lah."
"Mbak Mila, beli gula seperempat sama teh sasetan satu." ujar seorang gadis berbaju sekolah putih biru.
"Ini Dona."
"Bayarnya nanti sore ya, mbak."
"Ok."
"Kamu ga takut diutangi gitu?" tanya Rudy yang masih belum beranjak dari tempat duduknya.
"Ada sih, tapi aku ga tega mas."
"Hati - hati nanti kamu di manfaatin. " pesan Rudy.
"Eh iya, mas. Makasih sudah mengingatkan. Saya permisi dulu mas, mau rapi - rapi. " pamit Mila yang merasa tak nyaman dengan kehadiran Rudy yang terlalu di warungnya. Ia takut nanti menimbulkan gosip apalagi mereka baru juga kenalan.
"Perlu bantuan?" tawar Rudy.
Ga usah mas, aku bisa sendiri kok." Mila meninggalkan Rudy di depan warungnya. Wanita itu masuk kedalam rumah dan mengawasi dari balik jendela gerak gerik Rudy.
Rupanya lelaki itu memilih pergi karna di tinggal sendirian. Mila baru bisa bernafas lega saat Rudy sudah menjauh dan tak terlihat lagi. Mila baru kembali duduk manis di dalam warungnya sembari menunggu pembeli.
Sudah hampir tuga bulan lamanya ia tinggal di desa ini. Meski belum mengenal masyarakat semuanya tapi sudah sebagian besar ia kenal saat mereka berbelanja di warungnya.
Tak semua ia bertemu orang baik, ada juga yang tidak suka dengan kehadirannya di sana. Mila berusaha sabar selagi tak merugikan orang lain.
Terkadang ada yang terang - terangan menghujatnya sebagai perempuan penggoda karna suami mereka rajin mendatangi warungnya.
"Dasar perempuan penggoda, ga usah sok pamer kecantikan sini?"
"Maksud ibu apa ya?"
"Munafik.... bilang aja, mau merayu suami saya agar bisa hidup enak kan?" tuduh ibu itu.
"Suami ibu yang mana aja saya ga tau. Jangan asal nuduh aja bu kalau ga ada buktinya." tepis Mila.
"Mau bukti macam mana? kenyataan suami saya tiap hari ke sini mulu, ada saja yang ingin dia beli. Pasti kamu pake jampe - jampe, ngaku kamu!" bentak ibu itu.
"Ini ada apa? Kenapa ribut - ribut?" tegur pak RT.
"Ini orang baru pak, pake jampe - jampe buat menarik perhatian suami orang. " adu ibu itu berapi - api.
"Masa sih, bener begitu dek?" tanya pak RT.
"Maaf pak RT, saya aja ga tau yang mana suami ibu ini. Ibu ini marah - marah sama saya, yang datang ke warung saya banyak pak bukan cuma suaminya ibu ini." jelas Mila jujur.
"Suaminya aja yang gatal pak."celetuk seorang ibu yang sedari tadi ikut menyaksikan keributan dengan Mila.
"Apa kamu bilang, dia yang gatel bukan suami saya. Suami saya mah setia." bela ibu itu.
"Aalah, semua juga tau kelakuan suami situ. Sudah pak RT ga usah di perpanjang kasihan mbak Mila, orang nyari rezeki pake di fitnah." Semua orang mengiyakan perkataan ibu itu membuat si ibuk tadi jadi kesal karan tak ada yang membela dirinya yang jelas - jelas warga asli.
Pertikaian antara Mila dan ibu tadi berkahir begitu saja tanpa ada penyelesaian. Ibu tadi pergi berkata sepatah katapun. Semua warga yang ikut menyaksikan perseteruan itu dibubarkan oelh pak RT.
Semenjak kejadian itulah Mila mulai membatasi interaksi dengan kaum bapak - bapak.
...****************...
Assalamualaikum kk terimakasih supportnya dan jangan lupa tinggalkan jejak berupa like dan komen serta vote yang banyak biar thor semakin semangat untuk melanjutkannya bab berikutnya 💪🙏🙏😘