Randy, mahasiswa Teknik Mesin semester dua, punya segalanya: tinggi menjulang, senyum manis, motor Kawasaki Ninja yang gagah, dan kamera DSLR yang setia menemaninya berburu foto di sudut-sudut kota. Tapi di balik pesona itu, Randy tetap jomblo—lebih suka memotret penjual cilok atau suasana kumuh daripada nongkrong romantis. Cewek-cewek kampus gemas, tapi Randy selalu jaim, seolah menutup pintu hatinya.
Suatu malam, hidupnya berubah. Dalam mimpi yang terasa terlalu nyata, ia bertemu Ki Suromenggolo—kakek buyut tabib sakti yang mewariskan ilmu penyembuhan legendaris. Randy bangun dengan dada hangat dan perasaan aneh, seakan membawa kekuatan baru.
Di tengah hiruk-pikuk kota, persahabatan, godaan cinta, dan bahaya yang mengintai, Randy akan belajar bahwa menjadi “tabib tampan” bukan sekadar gelar. Ini adalah perjalanan tentang keberanian, tanggung jawab, dan hati yang selalu diuji oleh banyak perempuan yang diam-diam jatuh hati padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jeffc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga Pintu Jebakan untuk Randy
“Han, bagaimana soal Randy,” tanya Pak Cokro ke Handoko, tangan kanannya di kantor.
“Saya sudah suruh anak buah menguntit dia 24 jam, Pak,” jawab Pak Handoko dengan tenang.
“Bagus,” kata Pak Cokro membetulkan lengan batik lengan panjangnya. “Dan ada kabar?”
“Randy sekarang menjalin hubungan asmara dengan anak seorang pedagang kue di Petak Sembilan, Pak,” jawab Pak Handoko.
“Wah, bagaimana ceritanya itu?” Pak Cokro agak kepo juga tentang perkenalan Randy dengan Mulan.
“Menurut informasi anak buah saya, Randy berhasil menyembuhkan ibu cewek itu, dan hubungan mereka makin dekat, dan akhirnya jadilah mereka,” ujar Pak Handoko.
“Hum, kisah yang menarik,” gumam Pak Cokro. “Berarti semakin terbukti bahwa anak itu memang memiliki kemampuan khusus, kalau tidak mau dibilang kemampuan supranatural.”
“Betul, Pak.” Pak Handoko mendukung keyakinan bosnya itu.
Pak Cokro tersenyum lebar ke arah Pak Handoko sambil menjentikkan jarinya. “Aku sekarang punya ide menarik, Han.”
Pak Handoko diam saja namun memandang wajah bosnya itu dengan mata berbinar.
“Rencanaku, kita tidak akan menyodorkan kontrak medis kepada Randy, itu terlalu kasar dan Randy pasti akan menolaknya.”
“Terus bagaimana, Pak?” Pak Handoko ingin tahu selanjutnya.
“Kita akan bermain halus melalui tiga pintu,” gumam Pak Cokro pelan.
“Maksudnya, Pak?”
“Pintu pertama, kita bisa memanfaatkan keluarga kekasih Randy itu,” Pak Cokro mulai menjelaskan idenya yang licik namun brilian itu. “Gunakan perusahaan cangkang. Kamu dirikan sebuah yayasan filantropi, dan beli sebuah ruko di Petak Sembilan atas nama yayasan, dan berikan kepada keluarga Mulan dengan alasan sebagai program pemberdayaan UMKM yang berprestasi.”
“Jenius, Pak,” kata Pak Handoko tersenyum lebar.
“Tapi kamu yang bergerak sebagai ujung tombak, aku di belakang layar saja,” ujar Pak Cokro lebih lanjut. “Karena dia telah mengenalku dan pernah bertemu denganku, takutnya dia curiga aku yang bermain.”
“Siap, Pak,” jawab Pak Handoko. “Lantas apa hubungannya dengan Randy, Pak?”
“Itu pintu keduanya,” terang Pak Cokro. “Kita rekrut Randy bukan sebagai tabib atau penyembuh, tapi sebagai konsultan riset di yayasan yang kamu dirikan tersebut.”
Pak Handoko dengan serius mendengarkan apa yang diutarakan Pak Cokro sambil sesekali minum teh yang ada di hadapannya dan mencatat semua pembicaraan dengan Pak Cokro di tabletnya.
“Dia tidak perlu diberikan fasilitas kamar praktik untuk menyembuhkan orang,” kata Pak Cokro dengan perlahan tapi penuh keyakinan. “Tugasnya di rumah sakit milikku yang berafiliasi dengan yayasan yang kamu dirikan itu hanya mendampingi para dokter riset kita untuk ‘mengamati’ kasus-kasus langka sebagai konsultan.”
Tanpa bicara sepatah pun, Pak Handoko terus mencatat di tabletnya.
“Bayarannya kita ambilkan dari pos dana hibah pengabdian di yayasan yang kamu dirikan itu, bukan dari pos gaji, dan tugaskan ke salah satu rumah sakit milikku. Dengan begitu, nuraninya tetap bersih karena dia merasa sedang melakukan penelitian, bukan praktik komersial.”
“Semakin menarik, Pak,” jawab Pak Handoko yang berhenti mencatat sejenak. “Dan pintu ketiganya, Pak?”
Pak Cokro memandang lurus ke arah Pak Handoko, dan matanya berbinar tanda dia sudah mendapatkan ide brilian. “Pintu ketiga adalah kuncinya. Kita akan dirikan klinik khusus di dalam rumah sakit yang statusnya pro bono, alias gratis total untuk rakyat miskin. Randy akan ditempatkan di sana. Dan dia pasti akan merasa senang karena bisa menolong orang susah tanpa memungut biaya sedikit pun.”
“Saya akui ini memang ide jenius, Pak,” kata Pak Handoko sambil mengernyitkan kening. “Tapi kalau gratis, dari mana profit bagi perusahaan, Pak?”
Pak Cokro hanya tertawa renyah. “Berpikirlah sebagai businessman, Han.”
Pak Cokro diam sejenak untuk meminum tehnya, lalu melanjutkan, ‘Yang gratis itu justru paling mahal, Han. Dan dari titik itulah orang-orang besar mulai percaya.”
Pak Handoko masih belum memahami, tapi dia diam saja tanpa banyak tanya, dan terus mendengarkan bosnya melanjutkan bicara.
“Begitu semua tahu dan viral bahwa rumah sakit kita punya ‘tangan miracle’ yang bisa menyembuhkan semua penyakit kronis, saham perusahaan kita akan melesat, dan pasien VIP dari seluruh Asia, bahkan sedunia akan mengantre di lantai atas untuk ditangani dokter-dokter biasa kita dengan iklan ‘hasil didikan Randy’, dengan tarif sepuluh kali lipat.”
“Saya mulai mengerti ide Bapak,” ujar Pak Handoko. “Benar-benar ide yang jenius dan out of the box.”
“Sekali lagi, Randy adalah magnetnya, Han,” kata Pak Cokro pelan. “Dia tidak perlu tahu bahwa kehadirannya adalah iklan berjalan yang paling efektif di abad ini.”
Handoko mengangguk dengan penuh rasa kagum. “Sangat luar biasa, Pak. Dengan begini, Randy tetap merasa menjadi orang yang dekat dengan rakyat kecil, sementara Bapak tetap menjadi pengusaha paling sukses dengan mendatangkan profit yang besar bagi perusahaan.”
“Persis,” bisik Pak Cokro. “Ikuti pergerakan Randy terus, dan kamu mulai dengan mendirikan yayasan tersebut.”
Hari-hari berikutnya, Pak Handoko mulai mendirikan yayasan yang bernama Yayasan Global Health & Micro-Finance Initiative dan mulai mensosialisasikan bahwa yayasannya akan menyediakan ruko bagi UMKM yang berprestasi.
Di kiosnya di Petak Sembilan, saat sepi pembeli, Cu Niang dan istrinya sedang berdiskusi serius.
“Siang, bulan depan kios ini harus memperpanjang sewa,” kata Cu Niang dengan pelan. “Pemilik ruko tega sekali, untuk kios sekecil ini dia mau menaikkan harga sewa setahunnya tiga puluh juta.”
“Ya ampun. Tiga puluh juta?” Mulan ikut nyeletuk. “Itu namanya pemerasan.”
“Itulah, Lan. Tahun lalu cuma lima belas juta,” kata Cu Niang nyaris berbisik. “Kabarnya ada pedagang yang bersedia membayar sewa tiga puluh juta setahun.”
“Dunia sungguh tidak adil,” ucap istri Cu Niang lirih.
“Rencana Papa apa?” tanya Mulan.
“Belum bisa mikir,” jawab Cu Niang dengan sedih. “Papa mana ada segitu, lagian mana nutup kalau sewanya saja sudah tiga puluh juta sendiri.”
“Mulan dengar kabar sebuah yayasan filantropi di bidang kesehatan dan UMKM akan menyediakan ruko gratis bagi UMKM di Petak Sembilan ini yang terpilih, Pa,” kata Mulan.
“Jangan berharap begitu-begitu, Lan,” ujar papanya. “Pasti syarat-syaratnya berat.”
“Kayaknya nggak berat kok, pah,” ujar Mulan semangat. “Cuma asal bisa membuktikan usahanya sudah jalan dan bersedia disurvei oleh mereka.”
“Coba bantu papamu, Lan,” potong mama Mulan. “Cari tahu lebih lanjut tentang yayasan itu dan bagaimana mendaftarnya.”
“Oke, Ma, nanti Mulan cari-cari informasi lebih detail,” kata Mulan.
Mulan teringat iklan di Instagram-nya dan brosur mengilap yang baru saja diletakkan seorang petugas berseragam di meja kios mereka. Syaratnya tidak terlalu sulit, hanya pas foto, KTP, KK, dan foto tentang usaha yang sekarang berjalan.
Dengan segera, Mulan mendaftarkan usaha papanya itu ke website Yayasan Global Health & Micro-Finance Initiative.
Yang Mulan tidak tahu bahwa kenaikan harga sewa kios adalah kerjaan Pak Cokro dan Pak Handoko, dan brosur yayasan itu memang sengaja disebarkan ke kios Cu Niang alias Papa Mulan agar mereka mendaftar program tersebut.
Mulan tidak sadar, bahwa sejak ia menekan tombol daftar itu, permainan sudah dimulai.