Berada di tengah laut jawa, Pulau Koriyaksa dihuni para siluman dalam segala bentuk, dipimpin oleh siluman tanpa nama berwujud menakutkan. Akhirnya setelah 50 tahun berperang, sebuah perjanjian damai ditandatangani.
Setiap malam satu suro, bangsa manusia wajib mengirim tumbal untuk dipersembahkan pada Sang Raja.
Namun Sura mahasiswa yang terlempar ke dalam buku harus menjadi tumbal ke-100, anehnya dia justru berhasil merebut hati Sang Penguasa. WARNING! HATI-HATI DALAM MEMILIH BACAAN!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Darah pemurnian
"Apa itu berarti... darahku bisa memurnikan tanah di luar?"
Sura bergumam, matanya terpaku pada hamparan tanah pecah-pecah yang seolah haus akan nyawa. Jika firasatnya benar, ia bukan sekadar pengungsi di dunia ini. Tubuhnya mungkin adalah kunci kesuburan yang bisa menyelamatkan wilayah siluman,
"Tentu saja. Darahmu mengandung esensi pemurnian tingkat tinggi. Cobalah jika tidak percaya." jawab Sistem, suaranya bergema di kepala, terdengan datar namun memprovokasi.
Sura menarik napas panjang, lalu berjalan melewati pembatas. Ia berdiri dan menghunuskan gunting, menyayat ujung jarinya, membiarkan setetes cairan merah kental jatuh ke tanah.
CESSS...
Tanah itu seolah mendesis. Sura segera bergerak memetik satu batang tanaman, menancapkan tepat di atas bekas tetesan darahnya.
Ajaib. Batang rapuh itu tidak mengering. Tanah tercemar yang mampu menghisap kering seluruh tanaman, kini menampilkan wujud baru.
Batang itu tetap tegak, bahkan kelopaknya perlahan terbuka, menantang udara beracun yang mengepungnya.
"Lihat, ini berhasil! Kamu lihat, kan?!" suara Sura memecah keheningan.
Dua siluman kalong yang sedari tadi berputar-putar di langit langsung menukik tajam. Kepakan sayap mereka berhenti dan bertengger di pundak Sura,
"Sura, kamu berhasil membuat keajaiban!" seru Lawar terbelalak. "Tanah penuh miasma ini... menerima bunga yang kamu tanam! Kita harus segera melapor pada Raja. Dia pasti akan senang!"
"Cepat, Sura! Ikut kami ke istana!" desak Kele, tampak bersemangat hingga taringnya menyembul keluar.
"Tunggu!" imbuh Sura sedikit ragu,
Tidak beranjak dari tempatnya. Ia menatap bibit bunga itu dengan dahi berkerut.
"Sistem, apa setetes darahku sudah cukup membuat bunga ini tumbuh?" Sura bertanya dalam hati.
"Bunga yang baru kamu tanam masih membutuhkan perawatan bertahap. Miasma adalah nyawa bangsa siluman, udara di wilayah ini akan terus mencemari tanaman di setiap detiknya. Tanpa suplai darah pemurni, tanaman itu akan layu dalam waktu kurang dari 24 jam."
Sura terdiam. Wajahnya memucat.
"Yang benar saja?! Jadi aku harus rutin menyiraminya dengan darahku?"
"Iya," Sistem menjawab singkat.
"Kalau aku harus menetesi setiap jengkal tanah di sini setiap harinya, bisa-bisa aku mati kehabisan darah sebelum tanaman itu tumbuh," pikirnya getir.
Sura berbalik, melangkah kembali masuk ke dalam pembatas ilahi, wilayah aman yang diciptakan oleh skillnya. Di sana, udara terasa segar dan murni.
"Bukankah kamu ingin menghijaukan wilayah siluman? Sekarang apa rencanamu?"
Sura berjongkok, memetik banyak batang tanaman menjalar. Matanya berkilat dengan tekad baru.
"Aku bukan kantong darah yang bisa menyirami tanah setiap saat," jawab Sura pelan. "Kalau miasma menyerang dari luar, maka benihnya harus kuat dari dalam. Aku akan merendam tanaman ini ke dalam darahku semalaman. Agar esensi pemurni itu meresap hingga ke inti sel mereka."
Ia mendongak, menatap dua siluman kalong yang masih menunggu bingung di luar.
"Kele, Lawar, tolong carikan wadah besar untukku!"
Kele, Lawar saling memandang. Mereka tidak tahu apa yang ingin Sura lakukan, tapi tanpa bertanya mereka patuh dan bergegas terbang mencari benda yang diperlukan.
Sura tersenyum puas. "Aku akan membuat bibit-bibit ini menjadi kebal sepertiku! Bagaimana menurutmu?"
"Jujur saja, aku tidak pernah terpikirkan cara itu. Tidak tahu apakah ini akan berhasil atau tidak. Tapi tidak ada salahnya mencoba daripada kamu harus mati konyol demi menumbuhkan beberapa tanaman." jawab Sistem memberi dukungan,
Mendengarnya Sura semakin bersemangat.
Sura berlutut setelah menerima pemberian kalong. Sebuah wadah pipih lebar berbahan perunggu, di depannya dua siluman kalong itu mendarat dan memandangi dari luar.
Sura tidak ragu. Ia menggores telapak tangannya, kali ini lebih dalam. Cairan merah mulai mengalir, memenuhi dasar wadah hingga membentuk genangan yang berkilau.
"Sura! Apa yang kamu lakukan?!" pekik Kele. "Bisa gawat kalau Raja tahu. Jika kamu mati, maka kami juga akan dikubur hidup-hidup!"
Mereka panik. Tindakan Sura terlihat seperti ritual bunuh diri bagi keduanya,
"Diam dan lihat saja," sahut Sura singkat. Wajahnya sedikit pucat karena harus mengeluarkan banyak darah, namun matanya tetap fokus.
Diambilnya segenggam batang tanaman yang telah dipetik tadi dan membenamkan ke dalam kolam darah. Sura mengatur posisi setiap batang agar terendam sempurna, seolah sedang menyemai harapan di dalam cairan kehidupan.
Keheningan menyergap. Sura menahan napas, menunggu semacam respons yang mungkin terlihat.
"Sistem, bantu aku memastikannya."
"Analisis dimulai," lugas Sistem menerima perintah.
"Menganalisis struktur sel tanaman... Ditemukan perubahan. Sel-sel tanaman mulai melakukan regenarasi paksa."
Mata Sura berbinar saat melihat semburat kemerahan halus yang muncul di sepanjang serat batang.
"Analisis selesai. Eksperimen ini memiliki tingkat keberhasilan 95%. Batang tanaman perlahan menyerap esensi darahmu. Mereka tidak lagi ditahap bertahan, tapi mulai bermutasi untuk memproses miasma menjadi energi pertumbuhan."
"Berhasil..." bisik Sura. Senyum lebar berkembang di wajahnya yang letih. Ceria yang tulus menyapu rasa sakit di telapak tangannya.
Sura berdiri, melangkah keluar pembatas. Udara miasma yang berat langsung menyambut kulitnya. Ia menatap dua siluman kalong yang masih gemetar karena ngeri.
"Dengarkan aku baik-baik," ujar Sura dengan nada yang tiba-tiba berwibawa. "Jangan katakan soal ini pada siapa pun, termasuk pada Raja sampai aku selesai menumbuhkan tanaman di luar pembatasku."
Kedua kalong itu saling lirik, sayap mereka bergetar gelisah.
"Tapi, Raja pasti akan sangat senang jika tahu---"
"Kalau semua siluman tahu darahku bisa menumbuhkan tanaman, mereka pasti akan datang untuk memeras habis darahku," potong Sura dingin. "Apa kalian mau melihatku mati?"
Mendengarnya, mereka langsung menunduk diam, melipat sayap sebagai tanda persetujuan.
"Jika kamu mati, Raja pasti menyalahkan kami. Kami tidak mau itu terjadi. Tenang saja, Sura---masalah ini akan kami rahasiakan dari siapa pun."
"Baguslah! Sekarang, lebih baik kalian membantuku latihan untuk pertandingan besok."