NovelToon NovelToon
DUDA PEMILIK MALAMKU

DUDA PEMILIK MALAMKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / CEO / One Night Stand / Ibu Pengganti
Popularitas:10.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ditaa

"Saya menikahimu karena saya bertanggung jawab telah menidurimu, kamu jangan berharap apapun dalam pernikahan ini." ~Reno Mahesa.
-
-
Deana benci saat Reno memaksanya untuk menikah dengannya. Bukan karena cinta, tapi karena Reno takut Deana mengandung benihnya dan meruntuhkan karirnya saat anaknya lahir nanti.
-
-
Bagaimana kelanjutan kisah mereka? ayo klik tanda baca dan ikuti alur ceritanya✨️‼️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ditaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32: Mencium Bau Tubuh Reno

Beberapa saat kemudian, datanglah Reno yang dituntun oleh Lena memasuki kamarnya.

"Cepat tidur, ini sudah malam. Besok, jadwal Lena les kan?" Reno mengangkat tubuh Lena dan menidurkannya di kasur berukuran sedang itu.

Deana bingung ingin melakukan apa karena keduanya sudah merebahkan tubuhnya di sana.

"Mommy ayo sini!" ajak Lena melambaikan tangannya ke atas, karena Deana masih terdiam di depan pintu kamar mandi.

"Mommy Deana cepat, ini sudah malam." ucap Reno menatap Deana. Ia sudah malas berdebat, malam ini pekerjaannya sudah menunggu dan ingin sistem kebut semalam.

"Ah i...iya." Deana tergagap dan mengangguk setuju.

Baru saja beberapa langkah, tiba-tiba bau yang tidak enak itu kembali tercium di hidungnya, Deana sampai pusing mendengarnya.

Deana menutup hidungnya, ia menghembuskan napasnya pelan. Beberapa detik saja menahannya, hidungnya sudah memerah.

"Sepertinya ada masalah dengan indra penciumanmu." ucap Reno datar. Ia malas sekali melihat Deana seperti itu. Seolah drama yang sedang dilakukannya.

"Mommy sakit?" Lena merangkat mendekati Deana.

Deana menggeleng, ia berlari ke arah kamar mandi lagi, Lena mengikutinya dan ikut masuk ke dalam karena Deana tidak mengunci pintu kamar mandinya.

Reno kesal sekali melihatnya, ia mengepalkan tangannya pelan, "Lena, cepat tidur. Daddy bacakan dongeng." seru Reno.

Lena menyembulkan kepalanya keluar, "Daddy... Mommy seperti mau pingsan." ucapnya memberitahu.

Sudah nyaman dengan posisi tidurnya di bawah balutan selimut itu, Reno berdecak pelan karena mau tak mau ia harus melihat kondisi Deana.

Reno masuk ke dalam kamar mandi. Dilihatnya wajah Deana sudah memerah, matanya terpejam dan tangannya memegang tembok.

"Apa kamu sakit Dea?" Reno menghela napasnya berat.

"Kalau sakit seharusnya bisa minta antar Pak Abas untuk mengantarkanmu ke rumah sakit." lanjut Reno lagi.

Deana menggeleng pelan, "Tuan... Jangan mendekat. Huwekk!!" Deana berani berkata lancang seperti itu karena memang ia sudah tahu darimana asal bau asam itu. Ia sudah tidak kuat untuk mencium bau busuk itu lebih lama lagi.

Deana sempat memikirkannya sesaat dan benar dugaannya jika itu memang bau yang berasal dari tubuh suaminya.

Sudah menahan-nahan agar tidak muntah, akhirnya pertahannya runtuh, Deana memuntahkan isi perutnya di depan wastafel berukuran besar itu.

Reno frustasi, apa iya tubuhnya sebau itu, padahal Lena juga tidak sampai bereaksi seperti itu.

"Lena temani Mommy di sini, Daddy panggilkan Suster Ina dan pelayan." Reno yang kesal, akhirnya kelur dari dalam kamar dan memanggil seluruh asistennya.

Bukannya tenang, Lena justru menangis melihat keadaan Deana yang seperti itu.

Deana membasuh mulutnya, ia mencuci kedua tangannya, "Lena sayang, Mommy tidak apa-apa. Ayo Mommy temani Len tidur. Maafkan Mommy ya, sepertinya Mommy sedang tidak enak badan." Deana menuntun Lena dan membawanya ke atas kasur. Deana menyelimuti Lena dan memeluknya.

"Kalau Mommy sakit, Mommy harus periksa ke Dokter biar sehat." Lena meraba-raba wajah Deana dengan tangan kecilnya.

"Iya sayang." Deana tersenyum manis mendengar perhatian kecil dari Lena, Deana juga menyisir rambut Lena dengan jari-jarinya.

Dan benar saja, tidak ada Reno di sana, perutnya seperti biasa dan hidungnya tidak lagi mencium bau yang asam seperti bau telur busuk itu.

Ceklek~

Beberapa menit kemudian, datanglah dua pelayan bersama Suster Ina ke kamar, mereka semua diperintahkan Reno untuk merawat Deana yang sakit. Jadilah pelayan itu membawa obat-obatan serta air hangat untuk Deana.

"Lena bisa tidur dengan Daddy di kamar Daddy, come on girl." Reno dari arah pintu menatap Lena yang sedang memeluk Deana.

"Lena sudah tidur." balas Deana dengan pelan.

Reno mendengus kasar, "Suster Ina, tolong angkat tubuh Lena dan bawa ke kamarku saja. Aku ke ruang kerja dulu, tolong temani Lena sampai aku selesai bekerja." ujar Reno pada Suster Ina.

"Kalian berdua bisa masuk dan menemani Deana." Reno menatap kedua pelayan yang membawa nampan dan obat-obatan itu. Pelayan itu masih terbengong di depan pintu.

"Baik Tuan." balas semuanya mengangguk paham.

Reno bergegas berjalan menuju ruangan kerjanya. Malam ini ia akan lembur untuk menyelesaikan pekerjaan hari ini yang belum sempat terselesaikan di kantornya.

"Biarkan Lena tidur denganku, kasihan dia sudah pulas." ujar Deana. Tangan kecil Lena juga masih memegang erat perutnya.

Suster Ina terkekeh, "Nyonya, akan kasihan lagi jika Nona Lena ikut sakit." ucap Suster Ina sambil membantu melepaskan tangan Lena dari tubuh Deana.

Deana menggelengkan kepalanya pelan, "Deana tidak sakit kok Sus. Hanya saja tadi sempat lemas dan hampir pingsan karena mencium bau aneh dari tubuh Tuan Reno. Apa kalian tidak menciumnya juga saat berdekatan dengan Tuan Reno tadi?" tanyanya.

Suster Ina dan kedua pelayan itu nampak berpikir. Mereka sama-sama menggeleng bersamaan, karena mereka mencium bau harum yang sangat wangi dari tubuh Reno. Sangat tidak mungkin jika Tuannya itu bau badan. Parfumnya saja harganya jutaan.

"Jadi... Nyonya ingin minum obat tidak? Tapi Tuan Reno menyuruh Mbak Sri untuk memberikan obat pada Nyonya." ucap pelayan yang bernama Mbak Sri.

"Mbak Sri, Dea sehat kok... Dea tidak perlu minum obat." Deana menolak.

"Nyonya Dea, saya bawa Nona Lena dulu ke kamar sebelah." pamit Suster Ina yang menggendong Lena dengan kedua tangannya itu.

Mbak Sri menatap Mbak Yan untuk meminta pendapat.

Mbak Yan mengulurkan air minumnya, "Nyonya, minum dulu supaya perutnya lebih enak lagi." ucap Mbak Yan mempersilahkan.

Deana mengangguk, "Terima kasih, Mbak." ucapnya lalu mengambil gelas itu dan meminumnya sampai habis. Perutnya kembali terasa hangat dan biasa saja seperti tidak terjadi apa-apa.

"Nyonya, kami akan temani Nyonya di sini sampai pagi." ucap Mbak Yan pada Deana. Mbak Sri hanya mengangguk menyetujui pendapat Mbak Yan. Karena memang itu tujuan mereka kemari, yaitu untuk menemani Deana di malam hari.

"Mbak-mbak istirahat saja, ini sudah malam, kan besok kalian harus bangun pagi untuk menyiapkan sarapan. Aku tidak apa-apa kok." ucap Deana meyakinkan keduanya.

Mbak Sri menggeleng, "Tidak Nyonya, kami akan dimarahi Tuan jika tidak mematuhi perintahnya." ucapnya sembari tersenyum.

"Iya Nyonya. Apa Nyonya ingin dipijat?" tawar Mbak Yan.

Deana menggaruk kepalanya, ternyata jadi Nyonya kaya raya sangat enak, semua pelayan patuh dan tunduk pada ucapannya. Tapi, walaupun Deana juga tercap sebagai Nyonya, Deana tidak berani mengatur ini dan itu, Deana lebih senang jika ia mengerjakannya sendiri.

"Tidak perlu... Kalian juga istirahat saja ya, sini tidur bersama di kasur... bertiga juga masih muat kok." Deana menepuk kasur sebelahnya yang kosong.

Deana bisa melihat mata kedua pelayannya itu sudah memerah dan Deana bisa menebak jika keduanya itu sudah tertidur.

"Tidak Nyonya, kami duduk di sofa saja. Nyonya kalau butuh apa-apa langsung bilang saja ya. Maaf kalau kami ketiduran." ucap Mbak Sri lagi lalu membantu menyelimuti Deana.

Deana mengangguk, "Tidak masalah, malam ini kalian tidur saja ya...."

Kedua pelayan itu mengangguk bersamaan.

***

Sementara itu di ruang kerja, Reno uring-uringan dengan pemikirannya sendiri.

"Arghh si*al! Kenapa aku jadi memikirkan Deana dan sempat mengkhawatirkan kondisinya?! Itu sangat tidak penting." dengus Reno sedikit meremas tangannya.

Reno kesal pada dirinya sendiri karena menunjukkan rasa khawatir dan cemas pada Deana. Padahal itu hal yang wajar jika panik melihat seseorang yang sakit dan hampir pingsan.

Reno mengusap hidungnya dengan ibu jarinya sekilas, "Sepertinya dia memang sengaja membuat drama untuk memancing rasa simpatiku. Enak saja!" gumamnya lagi.

Reno kembali fokus dengan pekerjaannya lagi walaupun Deana terkulai lemas masih terekam jelas di pikirannya.

1
Milla
next min
Ahmad Sutrisno
bukan mau menjatuhkan atau membuat mental author nya down,,, cerita kayak gini sudah banyak,, jadi tolong bikin konflik yg berbeda aja,, terus pemeran utama wanita nya jgn di buat bodoh gini kayak si dea,, kebanyakan para pembaca juga males bacanya, kalo dari karakter pemeran nya bgini,, pelan2 coba di ubah karakter nya si dea ini,,, tetep semangat berkarya 💪💪💪🙏🙏🙏👍👍👍👍
🇧🇬
tau hamil kabur aja nanti ya..
Herlina Susanty
lanjut thor smgt 😍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!