NovelToon NovelToon
JANJI TANPA CINTA

JANJI TANPA CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / CEO / Percintaan Konglomerat / Romantis / Diam-Diam Cinta / Balas Dendam
Popularitas:8.4k
Nilai: 5
Nama Author: Malolo

Nara Setianingrum, guru SMA berusia 25 tahun yang cantik, anggun, dan teguh berprinsip, menghadapi murid bermasalah bernama Karin Setiawan. Karin adalah adik dari Danu Setiawan, seorang CEO muda berusia 28 tahun yang berpengaruh di dunia bisnis. Karena dimanjakan, Karin tumbuh sombong, seenaknya, dan sering membuat kekacauan di sekolah bersama gengnya: bolos, membully, hingga berkelahi. Banyak guru tak sanggup menghadapi Karin, karena masalah selalu diselesaikan dengan uang atau campur tangan Danu yang dingin dan berkuasa. Namun, Nara berbeda—ia menolak kompromi dan sogokan. Merasa dipermalukan, Karin melapor pada kakaknya. Danu pun bersekongkol menjebak Nara agar malu, namun rencana itu justru terbongkar oleh orang tua Danu. Mereka memaksa Danu menikahi Nara. Dari pernikahan penuh intrik ini, lahirlah perjalanan emosional: keteguhan hati Nara, usaha Danu menemukan cinta sejati, dan akhirnya kesadaran Karin yang berbalik menyayangi kakak iparnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Malolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30: Fitnah di Atas Tanah Air

Pesawat Boeing 777 yang membawa rombongan Danu dan Nara menyentuh landasan pacu Bandara Soekarno-Hatta dengan mulus.

Namun, ketenangan batin yang mereka bawa dari Makkah seolah menguap saat roda pesawat berhenti berputar.

Biasanya, Danu akan disambut oleh protokol VIP yang tenang. Namun kali ini, saat mereka melewati pintu Arrival, suasana berubah menjadi medan perang. Puluhan lampu flash kamera menyambar wajah mereka secara brutal. Mikrofon-mikrofon dari berbagai media massa disodorkan paksa ke arah Nara, nyaris mengenai wajahnya yang tertutup hijab.

"Nyonya Nara! Benarkah Yayasan Cahaya Setianingrum menyalurkan dana bantuan ke rekening pribadi Anda untuk biaya Umrah mewah ini?"

"Tuan Danu! Apakah Setiawan Group terlibat dalam pencucian uang yang dibalut kegiatan amal?"

"Ibu Nara, bagaimana tanggapan Anda mengenai bukti transfer 50 Miliar yang ditemukan di laci meja kerja Anda?"

Nara mematung. Kepalanya mendadak pening. Suara-suara itu seperti ribuan lebah yang menyengat harga dirinya. Bapak Rahardi yang masih di kursi roda tampak gemetar, wajahnya kembali pucat melihat wartawan yang begitu beringas.

Danu, dengan mata yang memancarkan kilat amarah, segera menarik Nara ke balik punggungnya. Ia merangkul bahu istrinya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya mendorong kasar mikrofon yang terlalu dekat.

"Minggir! Atau saya pastikan kantor media kalian tutup besok pagi!" bentak Danu. Suaranya yang menggelegar sempat membuat kerumunan itu mundur sesaat karena takut.

Andra muncul dari arah samping bersama tim keamanan berseragam hitam, membentuk pagar hidup untuk membawa mereka keluar dari bandara. Di dalam mobil yang melaju kencang, Danu menggenggam tangan Nara yang sedingin es.

"Mas... apa yang mereka katakan tadi? 50 Miliar? Aku tidak pernah menyentuh uang sebanyak itu," bisik Nara dengan bibir bergetar.

Sesampainya di kantor Yayasan, jantung Nara serasa diremas. Garis polisi berwarna kuning melingkari gerbang kayu yang biasanya selalu terbuka untuk anak-anak yatim dan dhuafa. Ruang kerjanya berantakan; laci-laci ditarik paksa, dokumen-dokumen berserakan di lantai, dan komputer-komputer disita.

"Mereka datang tiga hari yang lalu, Nyonya," lapor salah satu pengurus yayasan yang menangis tersedu-sedu.

"Mereka bilang ada laporan penggelapan dana. Dan yang paling parah... mereka menemukan bukti transfer palsu atas nama Nyonya yang dikirim dari perusahaan cangkang milik keluarga Vanya."

Andra mendekati Danu dengan tablet di tangannya. "Tuan, ini lebih sistematis dari yang kita kira. Reza tidak hanya menyabotase secara fisik. Dia meretas sistem keuangan yayasan dan menanamkan 'bom waktu' digital. Secara sistem, seolah-olah Nara mencuri dana pendidikan anak-anak untuk kepentingan pribadinya."

Nara jatuh terduduk di kursi kayu tua di pojok ruangan. Ia melihat foto anak-anak didikannya yang jatuh ke lantai dan terinjak jejak sepatu petugas. Air matanya jatuh. Inilah titik terendah baginya: Difitnah sebagai pencuri uang dari mulut orang-orang yang paling membutuhkan.

"Mereka menghancurkan mimpi anak-anak itu, Mas," suara Nara serak. "Mereka boleh menghinaku, tapi jangan jadikan yayasan ini sebagai korban."

Danu berlutut di depan Nara. "Dengarkan aku, Sayang. Ini adalah perang kotor. Reza ingin menghancurkan moralitasmu karena dia tahu itu adalah napasmu. Tapi dia lupa... dia sedang berhadapan dengan suamimu."

Sore itu, Danu memutuskan untuk membawa Nara langsung ke kantor polisi untuk memberikan klarifikasi, alih-alih bersembunyi. Namun, di sana, mereka sudah ditunggu oleh sesosok pria perlente yang tampak sangat puas dengan kekacauan ini.

Dia adalah Tio, tangan kanan Reza yang selama ini bersembunyi. Tio adalah seorang ahli

manipulasi data dan hukum yang licin.

"Tuan Danu, selamat datang kembali dari ibadah," sapa Tio dengan senyum sinis yang menggemaskan bagi siapa pun yang ingin menamparnya.

"Sayang sekali, kepulangan Anda harus disambut dengan berita buruk. Istri Anda... ternyata punya bakat terpendam dalam bidang akuntansi kreatif."

Danu melangkah maju, mencengkeram kerah baju Tio hingga pria itu sedikit berjinjit.

"Jangan berani-berani menyebut nama istriku dengan mulut kotor itu, Tio. Aku tahu Reza ada di balik ini."

"Bukti bicara lebih keras daripada gertakan, Tuan CEO," Tio tertawa meremehkan. "Rekening yayasan sudah dibekukan. Besok, seluruh donatur akan menarik dana mereka. Yayasan itu akan mati, dan istri Anda akan masuk ke sel yang sama dengan Vanya. Adil, bukan?"

Nara melangkah maju, mencoba menenangkan Danu. Ia menatap Tio dengan ketenangan yang aneh ketenangan yang ia dapatkan dari tawaf terakhirnya di Ka'bah.

"Tuan Tio," suara Nara lembut namun tegas. "Anda bisa memalsukan angka, Anda bisa merusak sistem, tapi Anda tidak bisa memalsukan doa orang-orang yang selama ini terbantu oleh yayasan ini. Harta bisa dicuri, tapi keberkahan tidak bisa dimanipulasi."

Tio hanya mendengus. "Simpan khutbahmu untuk di pengadilan, Nara."

Malam itu di Mansion, Danu mengumpulkan seluruh tim IT dan legal terbaiknya. Namun, sebuah fakta pahit terungkap. Sabotase sistem keuangan yayasan tidak mungkin dilakukan dari luar tanpa bantuan 'kunci' orang dalam.

"Siapa yang memegang password cadangan server yayasan, Nara?" tanya Danu serius.

Nara terdiam. Hanya ada tiga orang. Dirinya, Danu, dan... Maya, sekretaris kepercayaannya yang sudah dianggap seperti adik sendiri. Maya adalah orang yang Nara selamatkan dari jalanan lima tahun lalu.

Danu segera memerintahkan tim keamanannya mencari Maya. Ternyata, Maya sudah menghilang. Di apartemennya, ditemukan sebuah tas penuh uang tunai dan tiket pesawat atas nama Maya dengan tujuan Singapura yang dipesan oleh perusahaan milik Reza.

"Maya..." gumam Nara tak percaya. Dadanya sesak. Pengkhianatan dari orang yang disayang jauh lebih menyakitkan daripada fitnah dari musuh.

"Inilah cara Reza bekerja, Nara," ucap Danu sambil memeluk istrinya yang mulai goyah. "Dia menyerangmu dari segala sisi. Dia ingin kamu merasa sendirian."

Danu menyadari bahwa ia tidak bisa hanya menggunakan hukum formal. Ia harus menggunakan cara "Danu Setiawan".

"Andra, siapkan konferensi pers besok pagi jam 9 tepat di depan gedung yayasan yang disegel," perintah Danu.

"Tapi Tuan, suasana masih panas. Wartawan akan menyerang Nyonya Nara," jawab Andra cemas.

"Biarkan mereka menyerang. Aku akan membiarkan Reza merasa menang malam ini. Biarkan dia mengeluarkan semua kartu as-nya. Besok pagi, kita akan melakukan Checkmate."

Danu menatap Nara. "Nara, besok aku butuh kamu menjadi wanita paling kuat. Jangan menangis di depan mereka. Tunjukkan bahwa cahaya yang kamu bawa tidak akan bisa padam hanya karena embusan angin kotor dari seorang pecundang."

Keesokan paginya, ratusan wartawan sudah berkumpul. Tio juga hadir di sana, berdiri di barisan depan dengan wajah penuh kemenangan, siap menyaksikan kejatuhan sang "Istri Suci" CEO Setiawan.

Nara keluar dari mobil dengan anggun. Ia mengenakan gamis hitam sederhana dengan jilbab lebar berwarna abu-abu. Wajahnya tenang, memancarkan aura spiritual yang tak tergoyahkan. Danu berdiri di sampingnya seperti gunung karang.

Saat wartawan mulai melontarkan pertanyaan tajam, Danu tidak menjawab dengan kata-kata. Ia memberi isyarat pada Andra untuk menyalakan sebuah layar besar yang sudah disiapkan di atas truk LED.

"Sebelum kalian menghakimi istri saya," suara Danu terdengar dingin melalui pengeras suara. "Mari kita lihat siapa pencuri sebenarnya."

Layar itu menampilkan rekaman CCTV rahasia yang dipasang Danu di kantor yayasan sebulan lalu (sebuah langkah preventif yang selalu dilakukan Danu). Di sana terlihat jelas Maya sedang masuk ke ruangan Nara pada jam 2 pagi, memasukkan amplop berisi dokumen palsu ke laci meja Nara, dan melakukan akses ke server utama menggunakan alat peretas yang diberikan oleh seseorang yang wajahnya terlihat jelas di layar: Tio.

Tak hanya itu, Andra juga menampilkan bukti aliran dana balik. Ternyata 50 Miliar itu bukan keluar dari yayasan, melainkan masuk dari rekening gelap Reza untuk kemudian "dicuci" dan ditarik kembali guna menjebak Nara.

"Itu... itu manipulasi! Rekaman itu palsu!" teriak Tio, wajahnya mendadak pucat pasi.

"Palsu?" Danu tersenyum miring. "Coba cek ponselmu, Tio. Polisi baru saja mendapatkan akses ke percakapanmu dengan Maya tentang bagaimana kalian akan berbagi uang dari Reza."

Tiba-tiba, beberapa mobil polisi datang dengan sirine menyalak. Kali ini bukan untuk menyegel yayasan, melainkan untuk menjemput Tio.

Kerumunan wartawan yang tadinya beringas mendadak bungkam. Beberapa dari mereka mulai merasa malu. Nara melangkah maju ke mikrofon.

"Saya memaafkan Maya, dan saya memaafkan mereka yang merancang fitnah ini," ucap Nara tenang. Suaranya bergema di jalanan yang mendadak sunyi. "Yayasan ini bukan milik saya. Ini milik anak-anak yang membutuhkan masa depan. Jika kalian ingin menyerang, seranglah saya, tapi jangan sakiti mereka."

Beberapa anak yatim dari yayasan yang berdiri di kejauhan tiba-tiba berlari menembus garis polisi, memeluk kaki Nara sambil menangis.

"Ibu Nara bukan pencuri! Ibu Nara orang baik!"

Momen itu tertangkap kamera dan seketika menjadi viral secara nasional. Kebencian publik berbalik menjadi dukungan masif.

Danu merangkul Nara, membawanya masuk ke dalam gedung yayasan yang kini segelnya mulai dibuka oleh petugas.

"Mas..." bisik Nara di dalam ruangan yang masih berantakan. "Terima kasih."

"Ini baru permulaan, Nara. Reza sudah melakukan kesalahan fatal. Dia mencoba membakar rumahku, dan sekarang, aku akan memastikan dia tidak punya tempat lagi untuk bersembunyi di dunia ini."

Namun, di tengah kelegaan itu, Nara mendadak merasa pandangannya kabur. Rasa mual yang sejak di pesawat ia tahan, kini tak terbendung lagi. Ia limbung di pelukan Danu.

"Nara! Sayang!" teriak Danu panik.

Nara pingsan di pelukan suaminya, tepat saat sebuah pesan masuk ke ponsel Danu dari laboratorium kesehatan yang mereka kunjungi sebelum ke bandara.

"Selamat Tuan Danu, Nyonya Nara positif hamil 6 minggu."

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!