Taqi Bassami, hanya karena ia seorang anak angkat, pria itu harus mengorbankan hidup selamanya. Taqi menukar kebebasannya demi membayar balas budi. Berkat sang ayah angkat, hidupnya yang terpuruk di jalan, kini menjadi sukses.
Bila balas budi bisa dibayar dengan uang, Taqi pasti melakukan hal itu. Tapi bagaimana, jika Taqi harus menikahi wanita pilihan keluarga angkatnya itu untuk membalas jasa. Belum lagi latar belakang Taqi yang perlahan mencuat ke permukaan. Siapa sebenarnya Taqi? Ketika banyak pihak mengincar nyawanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gak Fokus (Puasa Skip)
Bagian 34
Oleh Sept
Kalau lagi puasa, mending skip. Menghindar dari pikiran-pikiran yang pintarnya luar biasa bila diajak traveling.
***
Usai berbisik pada Nada, Taqi menyentuh pipi istrinya itu dengan lembut. Baru menyentuh pipinya saja, hati Taqi kembali berdesir. Ada sebuah rasa yang tidak biasa, sebuah naluri yang ingin memiliki sepenuhnya.
Sama seperti Taqi, jantung Nada memacu kencang lebih cepat dari pada biasanya. Sentuhan tangan Taqi, membuatnya terlihat gelisah. Belum juga bajunya dibuka, keringat dingin sudah membasahi dahinya.
"Aku matikan lampunya, ya?" tanya Taqi. Barangkali Nada merasa malu. Padahal, ia sendiri yang merasa tidak percaya diri. Mungkin takut Nada nanti shock melihat dirinya tanpa perisai.
"Hemm!"
CEKLEK
Seketika lampu kamar langsung padam, diganti dengan lampu tidur di atas nakas. Hal ini menambah suasana romantis yang semakin memicu Taqi untuk lebih berani menjamah Nada, istri sahnya.
Tidak butuh waktu lama bagi Taqi untuk menanggalkan semua yang melekat pada tubuhnya. Di balik cahaya nan temaram, Taqi sudah siap mengarap ladangnya.
Meski merasa gerogi dan canggung, Nada berusaha tenang. Meski detak jantungnya tidak bisa ditipu, berdegup kencang seperti habis balapan. Apalagi saat Taqi mulai menyentuh kancing bajunya. Rasanya Nada sudah tidak punya muka. Malu sekali, untung cahaya di sana remang-remang. Alhasil, ia bisa menyembunyikan rasa malunya itu.
"Kamu baik-baik saja kan, Nada?" bisik Taqi yang melihat tubuh Nada kaku seperti batu beton. Nada kelihatan tegang sekali.
"Maaf, Mas ... Nada malu!" jawab Nada jujur. Kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
Dalam gelap, Taqi tersenyum. Pria itu kemudian menyusul Nada masuk dalam selimut.
"Ya sudah, di dalam sini saja."
DEG ...
Hampir saja Nada kehilangan jantungnya. Tapi karena sentuhan kulit tangan Taqi yang mengusap perutnya dengan lembut, hal itu membuat Nada rileks dan mulai bisa merasa tenang.
"Aku paham, kita belum saling mencintai ... tapi Nada ... Aku suamimu. Malam ini, kita akan mencobanya. Jika kamu keberatan ... aku tidak memaksa."
Nada menahan napas, apalagi saat ia merasakan sesuatu yang hangat menyentuh kulitnya.
'Jika aku menolak, maka sangat berdosa!' batin Nada. Apalagi dia bisa merasakan bahwa suaminya itu sudah dalam mode on fire.
"Lakukan saja, Mas. Insyaallah Nada siap." Suara Nada sangat lirih. Kelihatan sekali kalau dia sedang menahan malu.
Cup
'Aduh!' batin Nada yang kaget. Karena Taqi kembali memberikan serangan dadakan. Seperti tersengat aliran listrik yang tiba-tiba membuatnya tersentak.
Tapi kali ini suaminya itu tidak menarik wajahnya, lama sekali Taqi menempelkan bibirnya. Membuat Nada gelisah.
Barulah saat sebuah lidah memaksa masuk, Nada menyambut dengan kikuk. Ini adalah tautan bibir pertama yang sampai masuk ke dalam.
Masih dengan degupan jantung yang semakin cepat, keduanya menikmati firs kissss mereka. Berjalan sesuai nalurinya masing-masing. Entah ke mana rasa itu akan membawa mereka berlayar ke samudera cinta yang dipenuhi ombak yang bergejolak.
Puas bermain-main, Taqi melepaskan Nada. Membiarkan istrinya itu untuk bernapas sejenak. Kemudian kembali bermain di ring tinju mereka yang empuk tersebut.
***
Bukkk ....
Taqi tergeletak di samping Nada, dahinya sudah dipenuhi banyak keringat. Ibadah barusan, cukup membuat mandi keringat. Ini adalah pengalaman pertama bagi Taqi, pengalaman yang cukup membuatnya spot jantung.
"Mau ke kamar mandi?" tanya Taqi mengusir sepi dan kecanggungan di tengah mereka setelah duet kalem barusan.
"Hemmm!"
Taqi kemudian langsung turun, dan sontak membuat Nada kaget kembali. Pasalnya pria itu belum pakai apapun.
"Ayo ... aku bopong seperti Naqi!" ucap Taqi.
Mungkin karena jarang melucu, melihat suaminya seperti itu, Nada tidak bisa menyembunyikan senyumnya.
"Makasih, Mas. Nada bisa jalan sendiri!" tolak Nada karena super malu.
"Tidak apa-apa!" ucap Taqi langsung membopong tubuh istrinya yang tertutup kain selimut.
"Eh!"
"Bersihkan tubuhmu dulu, sepertinya tadi ada yang tumpah," ujar Taqi datar. Mungkin juga karena effect kikuk.
'Aduh!' pekik Nada dalam hati. Pipinya sudah sangat merah karena menahan malu.
***
Setelah membersihkan diri, Nada muncul dengan handuk kimono. Setelah itu membangunkan Taqi yang ternyata tertidur di sofa saat menunggu dirinya.
"Mandi, Mas?"
Taqi perlahan menata posisinya. Ia duduk sambil mengusap wajah. Begitu sadar betul, malah melihat Nada yang memperhatikan dirinya.
"Oh ... iya."
"Ini handuknya." Nada memberikan handuk pada pria yang kini hanya memakai celana pendek tersebut.
"Makasih!" ucap Taqi kemudian bangkit dan menuju kamar mandi.
Sesaat kemudian, Taqi sudah segar kembali. Dilihatnya Nada rebahan sambil memberikan ASI. Rupanya Naqiyyah terbangun minta minum.
Entah mungkin efek habis merasakan puncak gunung jaya wijaya. Kini melihat Naqiyyah minum, kepalanya malah memikirkan hal yang bukan-bukan.
"Astaghfirullahaladzim!" gumam Taqi.
"Ada apa, Mas?" Nada menatap suaminya yang terlihat segar habis mandi. Ia sepertinya mendegar suaminya mengatakan sesuatu.
"Bukan apa-apa, hemm ... bangun lagi si Naqi?" tanya Taqi kemudian tidur di sebelah Naqiyyah. Alhasil, saat ia bicara pada Nada, maka ia pun melihat tempat ASI. Wah, kacau! Otak Taqi sudah terkontaminasi dengan tempat minum Naqiyyah. BERSAMBUNG
jawab iya salah jawab tidak juga berat
😭😭😭