Dikhianati... Kemudian dibunuh...
Siapa sangka, kematian menjadi awal bagi Lea La Bertha- seorang ahli racun- mengetahui kebenaran yang selama ini ditutupi sang kekasih.
Kehidupan kedua yang ia dapatkan membuat dirinya memilih jalan berbeda dengan bergabung dalam lingkaran dunia mafia.
"Jika aku memintamu membunuh seseorang, apa kau akan melakukannya?" Angkasa.
"Jadikan aku sebagai tangan kananmu. Maka, aku akan lakukan semua perintahmu tanpa terkecuali," Lea.
Dengan ingatan dari kehidupan sebelumnya yang ia bawa, Lea bertekad mengubah takdirnya. Tetapi ia tidak pernah menyangka, perubahan itu justru membuka rahasia besar dari kedua orang tuanya yang sudah tiada.
Lalu, bagaimana jika cinta hadir diantara mereka? Akankah Lea percaya pada 'Cinta'?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Surat Perjanjian.
Suara sol sepatu yang beradu dengan lantai marmer menggema di seluruh ruang tamu, bersahutan dengan suara langkah lain yang mengikuti langkah Angkasa di belakangnya. Aroma musk cedar yang melekat di tubuh Angkasa menguar memenuhi ruangan, menabrak aroma whisky bercampur rokok yang menempel di tubuh pria yang berusia lebih tua dari Angkasa.
Luwis. Pria yang berusia lima tahun lebih tua dari Angkasa sekaligus sosok yang menjadi kakak tiri Angkasa. Sosok yang pernah berdiri berdampingan dengan Angkasa di dunia mafia itu kini duduk dengan menyilangkan kaki, satu tanganya menjepit cerutu yang sesekali ia hisap.
Di belakang Luwis, dua pria berbadan besar berdiri dengan postur tegap. Pandangan keduanya lurus ke depan, namun tajam. Dan di seluruh penjuru ruangan, ada lebih banyak pria berpostur sama berdiri di titik tertentu, tidak menatap tapi siap bertindak. Pemandangan yang tak mengherankan bagi Angkasa
"Selamat datang kembali di rumah, Angkasa," sambut Luwis dengan satu tangan terangkat seolah sedang menyambut sahabat lama. "Duduklah."
Angkasa menurut duduk dalam diam, wajahnya datar tanpa ekspresi, ia membiarkan kakak tirinya itu kembali berbicara. Di samping Angkasa, Marco duduk dengan sikap sama.
"Tampaknya, kau sangat menikmati harimu menjadi seorang pimpinan perusahaan dalam beberapa hari terakhir hingga kau melupakan siapa dirimu sebenarnya," ucap Luwis penuh dengan sindiran.
"Santai dan menikmati hidup ..." dia menghisap cerutu di tangannya, menyesap whisky dari gelasnya dan kembali menatap Angkasa. "Dua hal yang tidak pernah masuk ke dalam daftar 'layak' bagi kita seorang mafia."
"Hidupku bukan kau yang tentukan," jawab Angkasa datar.
"Kau sudah terlalu lama berada di dalam zona nyamanmu, Angkasa. Sekarang, sudah saatnya kau keluar. Kau dipilih sebagai bos mafia bukan untuk bersantai, tapi untuk melanjutkan tugas," kata Luwis tegas, penuh penekanan di setiap kata. "Selama empat tahun terakhir aku hanya diam, tapi bukan berarti aku setuju dengan jalan pikiranmu."
"Aku tidak memintamu untuk setuju." Angkasa menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa. "Kau bisa keluar dari keluarga Costa jika kau ingin. Kau bisa bebas."
Luwis menekan cerutunya ke dalam ashtray, satu tangannya terkepal erat. "Aku kakakmu Angkasa!"
"Tiri," koreksi Angkasa tanpa nada seolah pria di depannya adalah seorang bawahan.
"Tahan ..." Luwis mengucapkan satu kata itu dalam hati seolah mengucpkan mantra.
Luwis menggerakkan dua jemarinya, meminta pelayan di rumahnya menuangkan minuman untuk Angkasa juga untuk dirinya sendiri, dan segera menyesapnya.
"Minumlah. Aku memintamu datang bukan untuk berseteru denganmu, tapi untuk menyampaikan pesan dari ayah kita," kata Luwis lagi.
Angkasa menatap gelas minumannya, mengamati, menilai, adakah sesuatu dalam minuman itu atau tidak.
Luwis tertawa. "Ayolah Angkasa. Aku bahkan sudah meminum air dari botol yang sama, dan aku baik-baik saja bukan? Kau terlalu waspada."
"Biarkan saya yang mencobanya lebih dulu, Tuan," bisik Marco seraya meraih gelas di depannya, kemudian menyesap isinya.
Tidak ada yang terjadi. Semua normal.
Luwis kembali tertawa. "Mau sampai kapan kau menjadikan orang lain sebagai tameng untuk nyawamu, Angkasa?" ujarnya mengejek.
Angkasa tetap diam, tidak terpancing, tapi netranya mengamati Marco yang tetap baik-baik saja. Satu tangannya terulur, mengangkat gelas dan mendekatkan ke mulutnya, menghirup aromanya sejenak, kemudian menyesapnya.
"Baiklah." Luwis meletakan gelas ke meja, tubuhnya condong ke depan dengan kedua tangan bertumpu pada pahanya sendiri.
"Ayah menginginkan kita menikah. Itu pesan yang perlu kau dengar. Dan kali ini, Ayah mempersingkat waktunya."
Hening...
Angkasa tetap diam, wajahny datar dan tenang, tetapi tidak dengan hatinya.
"Enam bulan. Tepat di hari ulang tahun Ayah. Siapapun di antara kita yang bisa mendapatkan istri lebih cepat, dialah yang akan benar-benar menjadi pemimpinnya. Andai aku bisa mendapatkannya sedangkan kamu belum sampai batas waktu, maka posisimu digeser."
"Tapi, jika kau dan aku sama-sama mendapatkan istri, Ayah akan menentukan dari apa yang sudah kita capai."
Suasana kembali hening. Bukan karena Angkasa tidak mendengar, juga bukan karena ia merasa takut, melainkan karena dirinya sudah terikat janji. Kalimat yang luwis katakan justru membuat dirinya terjebak dalam situasi dimana ia tidak ingin berada di dalamnya. Namun, ia juga tidak bisa membiarkan kekuasaan Costa jatuh ke tangan kakak tirinya.
"Ada lagi yang ingin kau katakan?" tanya Angkasa.
Luwis menatap Angkasa lekat, mencari gurat emosi yang tidak bisa ia temukan. Ia mendengus kesal, tapi berusaha menahan emosinya sendiri.
"Untuk saat ini tidak ada. Tapi ..." Luwis mengangkat satu tangannya, dan salah satu pria di belakangnya dengan sigap memberikan map hitam padanya.
"Aku ingin memberikan ini." Luwis melanjutkan sambil meletakkan map itu ke meja, lalu mendorongnya mendekat ke sisi Angkasa duduk.
"Surat perjanjian, salah satu poin di dalamnya adalah pernikahan."
Angkasa meraih map itu, membukanya, membaca sekilas, kemudian menutupnya dengan satu hentakan.
"Kalau begitu aku pamit." kata Angkasa seraya berdiri.
Luwis diam. Tetapi netranya mengamati setiap gerak-gerik Angkasa.
"Angkasa!" seru Luwis setelah Angkasa berada dalam jarak beberapa langkah dari tempat ia duduk.
Angkasa berhenti melangkah, berdiri diam tanpa membalikan badan.
"Kau bodoh jika masih menunggu wanita tidak jelas kapan dia akan datang. Karena kali ini, posisimu yang akan menjadi taruhannya," teriak Luwis lantang.
Angkasa menoleh tanpa berbalik, tersenyum. "Kau tidak perlu mengkhawatirkan hal remeh, Luwis. Urus saja dirimu sendiri."
Selesai dengan kalimat itu, Angkasa kembali melangkah meninggalkan mansion tempat Luwis tinggal. Melangkah menuju mobilnya.
Dalam gerakan pelan -yang menjadi kebiasaan tidak di sadari oleh Angkasa-, ia menggenggam kalung berliontin cincin dengan batu safir di tengahnya yang tersembunyi di balik pakaiannya, kalung yang selalu ia pakai dan tak pernah ia biarkan sampai terlepas.
Marco tidak mengatakan apapun, tetapi ia memahami tindakan di luar kesadaran yang Angkasa lakukan. Suasana hati Angkasa sedang tidak baik-baik saja.
Di saat yang sama, Luwis menatap kepergian Angkasa, beralih ke gelas minuman yang Angkasa gunakan, kemudian tersenyum.
"Kena kau, Angkasa."
. . . .
. . ..
To be continued...
smangaat