Azalea sangat menyukai novel, terkadang dia selalu ingin mengubah jalan cerita jika alur atau endingnya tidaks sesuai dengan ekspektasinya. Terkadang dia juga ingin masuk ke dunia novel supaya bisa merasakan pengalaman menjadi tokoh utama, apalagi jika tokoh utama yang di deskripsikan di kelilingi oleh pria-pria tampan. Dan keinginan Azalea menjadi kenyataan, seperti sebuah mimpi dia masuk ke dalam salah satu novel yang dia baca. Sayangnya tokoh yang dia perankan adalah gadis cantik yang malang. Akankah Azalea mampu menjalani kehidupan barunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
Senyum kecil masih tersisa di bibir Nayla saat jemari lentiknya kembali mengelus bulu halus kucing kecil itu. Mochi nama yang baru saja ia berikan tampak nyaman berada di pangkuannya, sesekali mengeong pelan seperti mengerti bahwa ia baru saja menemukan tempat pulang.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, kamar Nayla tidak terasa sesunyi biasanya.
Untuk pertama kalinya, hatinya tidak terasa seberat sebelumnya. Dan untuk pertama kalinya juga Nayla merasa tidak benar-benar sendirian. Namun perasaan hangat itu tidak bertahan lama. Karena hidup Nayla tidak pernah memberi ruang terlalu lama untuk bahagia.
—
Jevan masih berdiri di hadapan Nayla, memperhatikan adiknya dengan tatapan yang sulit diartikan. Tatapan itu tidak lagi dingin seperti dulu, tapi juga belum sepenuhnya hangat. Ada sesuatu di sana sesuatu yang selama ini tersembunyi.
Penyesalan.
Atau mungkin rasa bersalah.
“Lo harus jaga dia baik-baik,” ucap Jevan pelan, menatap Mochi yang kini meringkuk di pangkuan Nayla.
Nayla mengangguk cepat. “Iya. Gue bakal jaga dia.”
“Jangan kayak lo jaga diri lo sendiri.”
Kalimat itu membuat Nayla terdiam. Tangannya yang sedang mengelus Mochi berhenti. Perlahan, ia mengangkat wajahnya menatap Jevan.
“Maksud lo?”
Jevan tidak langsung menjawab. Ia justru mengalihkan pandangan, rahangnya mengeras.
“Lo tahu maksud gue.”
Nayla menelan ludah.
Tentu saja dia tahu.
Dia tahu apa yang dimaksud Jevan.
Tentang bagaimana dia membiarkan dirinya disakiti baik oleh Endra maupun oleh papanya sendiri.
Tentang bagaimana dia diam.
Tentang bagaimana dia bertahan.
Dan tentang bagaimana dia tidak pernah benar-benar melawan.
“Gue kuat,” ucap Nayla pelan, tapi suaranya terdengar rapuh bahkan untuk dirinya sendiri.
Jevan tersenyum tipis. Bukan senyum bahagia, tapi lebih ke arah pahit. “Lo itu bukan kuat, Nay.”
Nayla terdiam lagi.
“Lo cuma… terlalu terbiasa disakitin.”
Deg.
Kalimat itu seperti menamparnya.
Keras.
Dan tanpa peringatan.
Nayla menunduk, menggigit bibirnya sendiri. Air matanya hampir jatuh lagi.
“Gue gak tahu harus gimana…” bisiknya lirih.
Dan untuk kedua kalinya malam itu, Jevan kembali mendekat. Namun kali ini, bukan pelukan yang ia berikan. Melainkan sesuatu yang lebih berat.
Kebenaran.
—
“Lo pernah nanya kan siapa lo sebenarnya?”
Tubuh Nayla menegang.
Tangannya refleks mencengkeram baju Mochi yang ada di pangkuannya.
Ia tidak berani menatap Jevan.
“Jawab gue, Kak…”
Suaranya nyaris tidak terdengar.
Jevan menarik napas panjang.
Seakan kalimat berikutnya adalah sesuatu yang sudah lama ia simpan tapi terlalu menyakitkan untuk diucapkan.
“Lo. memang bukan anak kandung papah.”
Dan dunia Nayla runtuh lagi.
Air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan.
Ia sudah menduga.
Ia sudah merasa.
Tapi mendengar kebenaran itu secara langsung tetap saja menyakitkan.
Sangat menyakitkan.
“Terus gue anak siapa?” tanyanya dengan suara bergetar.
Jevan menatapnya lama.
Lalu perlahan duduk di tepi ranjang.
“Lo anak dari laki-laki yang paling papah benci.”
Nayla mengangkat wajahnya.
Matanya merah.
Penuh luka.
“Kenapa…?”
“Karena laki-laki itu adalah orang yang dulu hampir menghancurkan hidup papah.”
Nayla mengernyit.
Ia tidak mengerti.
“Dan mamah memilih dia.”
Deg.
Napas Nayla tercekat.
“Ma-maksud lo mamah selingkuh?”
Jevan tidak langsung menjawab.
Tapi diamnya sudah cukup menjawab semuanya..Air mata Nayla jatuh semakin deras. Tangannya gemetar.
“Jadi… gue ini… anak hasil kesalahan?”
“Jangan bilang gitu,” potong Jevan cepat.
“Tapi itu kenyataannya kan?!”
Suara Nayla meninggi.
Emosinya meledak.
“Makanya papah benci gue! Makanya dia selalu nyakitin gue! Karena gue… bukan anak yang dia mau!”
“Nayla!”
Jevan menggenggam bahu adiknya.
“Kamu bukan kesalahan.”
“Tapi gue diperlakukan kayak kesalahan!”
Tangis Nayla pecah.
“Dari kecil gue disakitin! Dihina! Dianggap gak ada! Sekarang gue tahu kenapa!”
Jevan terdiam.
Ia tidak punya jawaban untuk itu.
Karena Nayla benar.
Semua yang Nayla rasakan adalah kenyataan.
Dan itu tidak adil.
Sangat tidak adil.
—
Di luar kamar, langkah kaki terdengar mendekat. Dan tanpa peringatan pintu kamar Nayla terbuka.
BRAK!
“JEVAN!”
Suara berat itu menggema.
Nayla langsung membeku.
Jevan berdiri.
Tatapannya berubah dingin seketika.
“Keluar dari kamar itu sekarang.”
Papanya berdiri di ambang pintu.
Dengan aura yang menekan.
Dengan mata penuh amarah.
Dan dengan kebencian yang tidak pernah benar-benar hilang.
“Aku lagi ngomong sama adik aku,” jawab Jevan datar.
“Dia bukan adik kamu.”
Kalimat itu membuat Nayla kembali tersentak.
Sakitnya datang lagi.
Lebih dalam.
Lebih tajam.
“Dia tetap adik aku, pah ,” balas Jevan tegas.
Papanya melangkah masuk.
“Jangan buat saya ulangi perintah saya.”
Suasana langsung menegang.
Nayla menunduk.
Tangannya gemetar.
Mochi mengeong pelan di pangkuannya, seakan ikut merasakan ketegangan itu.
Jevan menatap papanya lurus.
Tidak mundur.
Tidak takut.
Untuk pertama kalinya ia melawan.
“Kalau papah mau nyakitin dia lagi… lewatin aku dulu.”
Sunyi.
Hening.
Dan menegangkan.
Nayla mengangkat wajahnya perlahan.
Ia tidak percaya.
Jevan membelanya?
Papanya tertawa kecil.
Sinis.
“Berani sekali kamu sekarang.”
“Aku cuma capek diam.”
Tatapan keduanya saling beradu.
Penuh emosi.
Penuh luka.
Dan penuh rahasia yang belum terungkap.
“Keluar,” ulang papanya.
Jevan diam.
Lalu menoleh ke arah Nayla.
Tatapannya melembut.
“Gue di luar. Kalau lo butuh gue… panggil.”
Nayla hanya bisa mengangguk pelan.
Air matanya belum berhenti.
Jevan pun berjalan keluar.
Meninggalkan Nayla… sendirian bersama pria yang paling ia takuti.
—
Pintu kembali tertutup.
Dan kini hanya ada Nayla dan papanya. Suasana terasa mencekik. Nayla tidak berani mengangkat kepala. Ia tahu badai belum selesai.
“Jadi kamu sudah tahu semuanya?”
Suara papanya terdengar dingin.
Sangat dingin.
Nayla menggigit bibirnya.
“Iya…”
“Bagus.”
Jawaban itu membuat Nayla terkejut.
Ia perlahan mengangkat wajahnya.
“Dengan begitu kamu juga tahu posisi kamu di rumah ini.”
Nayla menatapnya.
Matanya berkaca-kaca.
“Aku bukan siapa-siapa ya, Pa?”
Papanya tidak menjawab.
Tapi diamnya lebih menyakitkan dari jawaban apapun.
Nayla tersenyum pahit.
Air matanya jatuh lagi.
“Kalau gitu… kenapa Papa masih mempertahankan Nayla di sini?”
Sunyi.
Tidak ada jawaban.
Hanya tatapan dingin.
Yang perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam. Sesuatu yang tidak Nayla mengerti.
“Apa Papa… sebenarnya masih punya sedikit rasa sayang?”
Pertanyaan itu keluar begitu saja.
Tanpa filter.
Tanpa pikir panjang. Dan untuk pertama kalinya papanya terlihat goyah.
Hanya sesaat.
Sangat singkat.
Tapi Nayla melihatnya dengan jelas.
Namun detik berikutnya, ekspresi itu menghilang.
Digantikan oleh wajah dingin yang sama.
“Kamu terlalu banyak berharap.”
Hancur.
Seketika.
Harapan kecil itu hancur lagi.
Nayla menunduk.
Tangannya mencengkeram selimut.
“Kalau Nayla pergi… Papa bakal lebih bahagia ya?”
Pertanyaan itu lirih.
Tapi cukup jelas untuk didengar.
Dan kali ini papanya menjawab.
“Iya.”
Satu kata.
Yang menghancurkan segalanya.
—
Air mata Nayla berhenti.
Bukan karena ia tidak ingin menangis tapi karena ia sudah terlalu lelah.
Ia mengangguk pelan.
“Baik…”
Papanya menatapnya.
Mengerutkan kening.
“Maksud kamu?”
Nayla mengangkat wajahnya. Untuk pertama kalinya tatapannya tidak lagi penuh ketakutan.
“Kalau keberadaan Nayla cuma jadi beban… Nayla bakal pergi.”
Sunyi.
Tidak ada yang berbicara.
Hanya detak jantung yang terdengar.
Cepat.
Kacau.
Dan menyakitkan.
“Jangan main-main.”
“Aku serius.”
Nayla berdiri.
Tubuhnya masih lemah tapi tekadnya tidak.
“Selama ini Nayla bertahan karena mikir… ini rumah Nayla.”
Air matanya jatuh lagi.
“Tapi ternyata bukan.”
Papanya diam menatapnya tanpa ekspresi.
“Atau mungkin… Nayla yang terlalu maksa jadi bagian dari keluarga ini.”
Nayla tersenyum kecil.
Pahit.
“Maaf ya, Pa… kalau selama ini Nayla ganggu hidup Papa.”
Dan kalimat itu menjadi penutup dari semua luka yang selama ini ia simpan.