----
"Ugh ..."
Nayra tersentak bangun dari mimpi buruknya ... sebuah mimpi tentang seorang wanita yang di khianati oleh orang-orang terdekatnya.
Namun sialnya, mimpi buruk itu ternyata menimpa dirinya sendiri!
Dia di khianati oleh orang-orang terdekat yang dia percaya, termasuk suaminya sendiri.
Setelah dia mengalami keguguran dan kehilangan bayi yang ada di dalam kandungannya, dia bertekad untuk membalaskan semua rasa sakit yang dia terima.
"Kalian akan merasakan, apa yang aku rasakan! Tunggulah pembalasanku!"
Spin-off dari Novel : Tolong Rebut Suamiku Dan Ambil Takdirku.
Bagaimana mana kisahnya....
Yuk baca kisah lengkapnya....
Jangan lupa like, komen dan kasih rating 5.
Follow Ig : Hans_Sejin13.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. PERTENGKARAN
BRAKKK...
Suamiku menggebrak meja dengan kuatnya. Tangannya kali ini tidak menamparku.
"HAAA!!!" aku berteriak, diriku terkejut sekaligus ada sedikit rasa takut di dalam hatiku.
"Sudah... Aku tidak nafsu makan gara-gara kamu!" ucap suamiku, suaranya mengerang dan naik satu oktaf.
Ayah mertuaku dan adik ipar ku juga pergi dari meja makan. Meninggalkan aku dan suamiku di ruangan ini.
"Pah! Aku juga tidak mau makan!" ucap Karin adik ipar ku, matanya melihat sinis wajah ku.
Tak... Tak... Tak...
Langkah kaki ayah mertua ku dan adik ipar ku, terdengar jelas meninggalkan ruangan ini dengan wajah yang datar.
Suamiku mengerutkan alisnya. Tatapannya tajam melihat diriku seakan ingin melahap ku, rasanya aku ingin menangis tersedu-sedu saat ini juga.
"Nayra! Kenapa kamu selalu membuat masalah di rumah ini? Apa kamu tidak capek setiap hari harus aku dan keluargaku marahi tiap hari... Hah!" ucap suamiku menunjuk wajahku dengan jari telunjuknya.
"Mas! Apa kamu menyalahkan ku, mas? Aku salah apa mas? Aku sudah berusaha untuk mendapatkan perhatian kalian semua! Tapi apa? Kalian sama sekali tidak pernah menganggap ku ada... Hiks... Hiks... Hiks..." ucap ku kepada suamiku dengan suaraku yang tercekik dan terisak-isak.
Suamiku menatap dalam wajah ku. Setelah aku mengatakan apa yang ada di dalam hatiku terhadap keluarga ini.
"Apa? Kamu menyalahkan keluarga ku?" tanya suamiku dengan tangannya yang mengepal kuat dan sedikit bergetar.
"Mas! Bukan itu maksud ku-"
"Lalu apa? Apa yang kamu maksud! Aku capek melihat mu seperti ini terus!" potong suamiku.
"Aku capek mas! Aku capek... Setiap hari aku harus mengurus semuanya sendiri. Mulai dari mencuci baju, memasak, cuci piring, menyetrika baju semuanya aku kerjakan sendiri... Setiap hari mas!" ucap ku mengeluh kepada suamiku dengan suara yang sedikit meninggi.
"Capek! Kamu bilang capek! Aku juga capek Nay.! Setiap hari aku harus kerja. Aku yang menanggung keuangan keluarga ini. Ya' memang benar! Aku berkerja di perusahaan ayah mu. Tapi apakah aku di anggap menantu oleh keluarga mu! Tidak... Mereka memandang rendah diriku Nay!"
Suamiku juga mengeluh kepada ku dengan statusnya sebagai menantu di keluarga ku. Hanya karena perbedaan status di antara kedua keluarga ini.
"Mas! Bukan itu maksud ku! Hiks... Aku ingin setidaknya, kalian semua menghargai usaha ku. Aku sudah capek-capek masak untuk kalian semua. Tapi apa? Kalian selalu menghina masakan ku. Aku ingin setidaknya kalian semua menghargai ku, walaupun hanya sedikit. Hiks..." suara ku semakin tercekik dengan mataku yang berkaca-kaca dan air mata menetes dengan sendirinya.
"Apa kalian pernah sekali saja menghargai usaha ku, semenjak aku tinggal di sini, mas! Tidak... Aku yang harus mengalah selama ini mas. Aku! Aku mas... Hiks... Hiks... Hiks..."
Pagi ini seharusnya adalah pagi yang membahagiakan bagi ku dan suamiku. Namun apa yang terjadi? Aku justru bertengkar dengan suami saat ini.
"Sudah CUKUP!!!" teriak suamiku.
"Aku tidak ingin bertengkar dengan mu! Kamu tahu Nay? Aku sudah lama menahan ini. Aku tidak tahu harus apa sama kamu?"
"Apa mas! Kamu ingin bilang apa mas? Aku sudah cukup lama bersabar, dengan sikap mu selama ini."
"HE-YAH!!! Aku pusing sekarang!"
Suamiku mengambil sebuah gelas lalu membanting gelas itu kelantai.
PRANG...
Suara gelas yang pecah dan hancur berkeping-keping di lantai. Serpihan gelas itu menjetrik ke-arah ku dan menggores lengan kiri ku.
"HAAA..." teriakku sambil menangis saat suamiku membanting gelas itu kelantai.
"Aku pergi sekarang!" ucap suamiku, ia langsung pergi meninggalkan ku.
Tak... Tak... Tak...
Langkah kaki suamiku sangat cepat meninggalkan ku di sini. Aku melihat wajahnya begitu marah kepada ku.
"Mas! Kenapa kamu tidak pernah peduli dengan ku lagi setelah kita menikah mas! Kenapa mas! Hik... Hiks... Hiks..." aku berkata di dalam hati ku dengan perasaan ku yang begitu sedih.
Hatiku terasa sangat sakit bagaikan tersayat pisau yang begitu tajam menembus hatiku. Rasanya ingin aku pergi jauh. Namun aku tidak bisa melakukan itu semua.
Aku hanya bisa berharap suatu saat nanti mereka akan menerimaku dan aku berharap agar aku bisa hidup bahagia bersama dengan suamiku yang sangat aku cintai.
Aku membereskan serpihan gelas yang berserakan di lantai. Sembari mengeluarkan air mata aku tetap percaya bahwa suatu hari nanti suamiku bisa kembali seperti dulu lagi.
Setelah selesai aku menyimpan kembali semua masakan ku yang sama sekali tidak mereka makan.
...══════ஜ▲ஜ══════...
Di dalam rumah keluarga Atmadja. Seluruh keluarga makan bersama pagi itu.
"Mah! Pah! Apakah aku cantik?" tanya Aqila kepada kedua orang tuanya.
"Tentu saja kamu cantik Aqila! Kamu kan anak Mama! Iya kan Pah?"
"Iyaa! Kamu anak papa yang paling cantik!"
"Ada apa sayang! Kenapa tiba-tiba sekali kamu bertanya seperti?" tanya sang ayah.
Aqila menunjukkan sifat manjanya kepada kedua orang tuanya. Ia menginginkan sesuatu kepada mereka jika sudah seperti itu.
"Pah! Aku boleh minta sesuatu gak?" ucap Aqila dengan suara manjanya.
"Kamu mau minta apa sayang? Bilang aja, pasti papah kasih buat kamu." jawab sang ayah.
"Serius Pah!"
"Iya sayang! Apa sih yang enggak buat anak Mamah yang cantik ini." ucap sang Mamah.
Aqila memutar jari-jari telunjuknya. Ia sedikit ragu untuk memberi tahu keinginan nya kepada kedua orang tuanya.
"Pah! Mah! Kalian bisa gak jodohin aku sama Adriansyah." ucap Aqila penuh keraguan.
"APA? Adriansyah! Kamu serius Aqila?" tanya sang ayah dengan suara yang sangat terkejut.
"Kamu serius Aqila?" sang Mamah juga terkejut mendengarnya langsung dari mulut anaknya.
"Kamu tahu Aqila? Adriansyah bukan orang sembarangan. Dia adalah pewaris perusahaan saingan Papah!" ucap ayahnya.
"Justru itu Pah! Jika aku berhasil mendapatkannya, bukannya itu lebih bagus bagi papah dan perusahaan." jawab Aqila dengan lugasnya ia mengatakan itu di hadapan orang tuanya.
"Aqila! Apa yang kamu pikirkan? Dia itu adalah musuh perusahaan ayah mu." ucap sang Mamah.
"Pah! Mah! Aku suka sama dia... Kalian bisa kan bantu aku untuk dekat dengannya. Hmmm..." ucap Aqila dengan manjanya ia memegang tangan ayahnya.
"Tidak! Papah tidak setuju kali ini." ucap sang ayah tegas melarang Aqila.
Aqila bangkit dari tempat duduknya. Ia merajuk kepada sang ayah dan masuk ke dalam kamarnya.
BRAKKK...
Aqila menutup pintu kamarnya dengan kencangnya hingga terdengar keras di telinga sang ayah yang sedang duduk di meja makan.
Sang ibu mencoba membujuk suaminya untuk menuruti permintaan Aqila. Agar suaminya menuruti permintaan anak mereka.
"Pah! Kita turuti saja keinginan Aqila! Bukannya itu bagus bagi kamu dan perusahaan." bujuk sang istri.
"TIDAK!!!" sang ayah mengepalkan tangannya lalu menggebrak meja.
BRAKKK....
"Pah!" ucap sang istri.
Suaminya pergi meninggalkan meja makan dengan suasana hati yang kacau. Ia sama sekali tidak menyetujui permintaan dari Aqila untuk membantunya agar bisa dekat dengan Adriansyah.
...══════ஜ▲ஜ══════...
...𝐁𝐄𝐑𝐒𝐀𝐌𝐁𝐔𝐍𝐆...
...•...
baca nya
kalau aku yang jadi istri mu, wes tak tinggal pergi