【Tina gadis yang tangguh×Andry pengusaha kaya penyayang+Cinta Pandangan Pertama+Keluarga, Komedi Romantis】
Rumah yang seharusnya menjadi tempat bernaung justru menjadi sumber beban batin bagi Tina. Ia terjebak dalam dinamika keluarga yang timpangKehidupan Tina mulai terusik oleh kehadiran seorang pemuda kota kaya yang diam-diam kagum akan ketangguhan dan ketulusannya. Tanpa diduga, pemuda tersebut datang membawa rombongan besar untuk melamar Tina.Bagi orang lain, pernikahan ini mungkin dianggap sebagai tiket emas untuk lolos dari penderitaan. Namun, sebagai wanita dewasa yang realistis, Tina tidak langsung mengiyakan. Ia tahu pernikahan bukanlah pelarian, melainkan babak baru yang penuh tanggung jawab. Di hadapan lamaran itu, Tina berdiri dengan sejuta tanya: apakah ini awal dari kebahagiaannya, atau justru awal dari badai yang baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
Di balik selimutnya yang tebal, Tina masih terpaku memandangi dinding kamarnya yang kokoh. Kegelapan malam yang kian pekat seolah menjadi kanvas besar yang memutar kembali ingatan tentang kejadian tadi siang di kantor guru. Kalimat demi kalimat yang mengalir dari bibir Andry terus berdengung di telinganya, menciptakan getaran aneh yang tak kunjung usai di ulu hatinya. Ia benar-benar tidak menyangka, di balik sikap dingin dan angkuh pria kota itu di masa lalu, ternyata ada sepasang mata yang sudah memperhatikannya sejak cukup lama—sejak lima tahun lalu, di saat ia masih menjadi mahasiswi baru yang penuh dengan kepolosan dan keterbatasan di kota besar.
Walau ada rasa haru yang membuncah, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Tina masih merasakan kebingungan yang teramat sangat untuk menerimanya secara instan. Ada rasa takut yang terus membayangi isi pikirannya.
Bayang-bayang tentang perbedaan status sosial mereka yang terbentang bagai langit dan bumi, trauma akan perlakuan sinis orang-orang kota, hingga cemoohan Tante Ros pagi tadi, kembali berputar-putar di kepalanya. Menikah adalah gerbang seumur hidup, dan Tina tidak ingin salah melangkah hanya karena rasa kagum yang sesaat.
Tepat pukul dua dini hari, saat seluruh dunia seolah sedang berada dalam puncak tidurnya dan kesunyian desa mencapai titik paling sunyi, Tina mendadak terbangun. Kelopak matanya terbuka lambat, menatap langit-langit kamar yang gelap. Rasa bimbang yang berkecamuk di dalam dadanya membuat matanya enggan untuk terpejam lagi. Merasa jiwanya membutuhkan sandaran, ia menyibak selimut, menurunkan kakinya perlahan ke atas lantai semen yang sedingin es.
Tina melangkah pelan menuju kamar mandi di bagian belakang rumah batu tua itu. Ia mengambil air wudhu dengan perlahan, merasakan setiap tetesan air yang dinginnya menusuk hingga ke tulang, seolah meluruhkan seluruh kepenatan yang mengikat jiwanya semalaman. Setelah membersihkan diri, ia kembali ke kamar dengan langkah kaki yang seringan kapas agar tidak membangunkan Lisa yang masih mendengkur halus.
Dengan khusyuk, Tina menggelar sajadah beludru berwarna biru tua miliknya di sudut kamar, menghadap kiblat. Di bawah temaram lampu teplok kecil yang apinya menari-nari ditiup angin malam dari celah ventilasi, ia memakai mukena putihnya. Setelah menenangkan hatinya sejenak, ia mengangkat kedua tangannya, bertakbir untuk menunaikan shalat istikharah. Di keheningan sepertiga malam itu, Tina bersimpuh pasrah, mencari sandaran tertinggi atas segala keraguan dan kabut bimbang yang selama ini menggelayuti jiwanya.
Dalam sujudnya yang terakhir dan teramat panjang, pertahanan Tina benar-benar runtuh. Di hadapan Sang Pencipta, ia menumpahkan segala keluh kesah yang selama ini ia sembunyikan di balik senyuman tegapnya. Air matanya mengalir tanpa suara, membasahi kain sajadah beludrunya. Dalam diam, ia mengadukan rasa takutnya akan masa lalu Andry yang sempat berbuat tidak baik, kekhawatirannya akan masa depan, sekaligus rasa bersyukurnya yang teramat sangat atas perubahan drastis pria itu yang sekarang menjadi begitu tulus dan menghormati keluarganya.
Setelah mengucapkan salam, Tina tidak langsung beranjak. Ia duduk bersila, kedua telapak tangannya terbuka menengadah ke atas, memulai untaian doa dengan suara yang bergetar menahan tangis.
"Ya Allah, Penguasa setiap sekeping hati manusia..." bisik Tina dalam doanya, menatap lurus ke arah jemarinya yang bergetar. "Jika pria yang bernama Andry itu adalah orang yang memang Engkau takdirkan untuk menjadi imam dalam sisa hidupku, sosok yang mampu membimbingku menuju jalan-Mu dan menyayangi keluargaku yang penuh kekurangan ini, maka condongkanlah hatiku padanya.
Lapangkanlah jalannya untuk menemuiku, dan hilangkanlah sisa-sisa rasa takut serta ragu yang masih tersisa di dalam dadaku."
Tina menarik napas pendek, air matanya menetes lagi melewati pipinya. "Namun, ya Allah... jika dia bukanlah takdir terbaik yang Engkau ridhai untukku, jika bersamanya hanya akan membawa luka bagi keluargaku, maka cabutlah rasa ini dari dalam dadaku dengan cara yang paling baik, dan gantilah dengan ketetapan-Mu yang jauh lebih indah..."
Setelah menutup untaian doanya yang panjang dengan usapan kedua tangan di wajah, Tina terdiam beberapa saat di atas sajadahnya. Ia memejamkan mata, membiarkan dadanya naik turun dengan teratur. Entah mengapa, sesaat setelah doa itu terucap, sebuah kedamaian yang teramat sangat, yang belum pernah ia rasakan selama sebulan terakhir ini, mendadak menjalar memenuhi setiap rongga dadanya.
Rasa sesak, cemas, dan bimbang yang berhari-hari mengikat pikirannya seolah menguap lenyap tak berbekas ke udara malam, digantikan oleh sebuah kemantapan hati yang begitu sejuk dan menenangkan. Tina membuka matanya perlahan lalu tersenyum tipis. Di tengah kesunyian kamar itu, ia tahu dan sangat yakin, bahwa Allah baru saja memberikan jawaban yang indah atas ketukan doanya di sepertiga malam ini.
Keesokan paginya, fajar baru saja menyingsing, membawa semburat warna jingga yang hangat di ufuk timur. Suasana di bagian dapur rumah batu tua itu sudah sibuk seperti biasanya. Udara pagi yang segar bercampur dengan aroma gurih masakan rumahan. Bu Aminah sedang duduk di bangku kayu sembari memotong sayur-mayur dengan telaten, sementara Lisa bertugas menjaga kayu bakar dan menanak nasi di atas tungku.
Tina melangkah keluar dari kamar tidurnya dengan langkah kaki yang mantap. Pagi ini, wajah manisnya tampak jauh lebih segar, bersih, dan berseri-seri seolah memancarkan aura kebahagiaan yang baru. Rika yang saat itu sedang berjalan di ruang tengah sembari menggendong Ali langsung menghentikan langkahnya, menatap adiknya dengan tatapan heran sekaligus takjub.
"Wah, Kak Tina pagi ini kok mukanya cerah sekali? Seperti tidak punya beban utang atau pikiran sama sekali, ya," suara Lisa jahil, melirik kakaknya dari balik bahu sambil terus memegang centong nasi di depan tungku.
Tina hanya tersenyum misterius, sama sekali tidak membalas kejahilan adik bungsunya yang biasanya langsung ia sahuti dengan omelan. Ia berjalan lurus mendekati ibunya, lalu dengan manja memeluk pinggang Bu Aminah dari belakang, menyandarkan dagunya di bahu sang ibu yang terasa hangat.
"Ma... hari ini Tina mau main ke rumah Tante Yuna sebentar, boleh?" tanya Tina dengan nada suara yang lembut dan renyah.
Bu Aminah seketika menghentikan gerakan pisau pemotongnya di atas talenan. Ia menolehkan kepalanya, menatap putri keduanya itu dengan tatapan menyelidik yang dalam, namun sarat akan kelembutan dan kasih sayang seorang ibu yang tahu betul apa yang sedang bergolak di dalam dada anaknya.
"Mau main ke rumah Ibu Yuna?" tanya Bu Aminah pelan, meletakkan pisaunya. "Ada perlu apa sepagi ini, Nak?
Tina melepaskan pelukannya, menarik napas panjang untuk mengumpulkan seluruh kemantapan jiwanya. Sebuah senyuman tipis namun sangat indah terukir dengan sempurna di bibirnya. "Ada hal penting yang harus Tina sampaikan kepada Tante Yuna, Ma. Ini... tentang Andry."
Mendengar nama pria kota itu disebut dengan begitu lugas oleh Tina, seisi ruangan dapur seketika mendadak hening. Suara pisau dan gesekan kayu bakar langsung berhenti. Lisa yang sedang memegang centong bahkan hampir saja menjatuhkan alat masak itu ke lantai karena terkejut. Rika yang berdiri di ambang pintu dapur langsung tersenyum penuh arti, sementara Bu Aminah perlahan mengelap tangannya yang basah dengan kain lap, lalu berbalik sepenuhnya untuk memeluk kedua pundak Tina dengan erat.
"Apakah... apakah hatimu sudah menemukan jawaban terbaiknya, Tina?" tanya Bu Aminah dengan suara yang sedikit bergetar menahan gejolak harap-harap cemas di dalam dadanya.
Tina menatap lurus ke dalam sepasang mata ibunya yang mulai berkaca-kaca. Ia mengangguk dengan sangat mantap tanpa ada lagi keraguan sedikit pun, matanya berbinar cerah di bawah pantulan cahaya fajar pagi yang masuk melalui celah jendela dapur.
"Iya, Ma. Alhamdulillah, setelah bersujud dan meminta petunjuk langsung dari-Nya, hati Tina sudah siap dan mantap," jawab Tina dengan suara yang jernih. "Tina ingin menyampaikan kepada Tante Yuna, agar dia bisa meneruskannya kepada Andry... bahwa Tina menerima niat baiknya untuk melamar Tina menjadi istrinya."
"Alhamdulillah ya Allah! Alhamdulillah!" seru Bu Aminah spontan dengan suara keras. Air mata kebahagiaan seketika menetes deras membasahi pipi wanita tua itu, dan ia langsung menarik tubuh anak perempuannya ke dalam pelukan yang sangat erat, mendekapnya dengan rasa syukur yang tak terhingga karena putri yang mengorbankan masa depannya dulu kini akan segera menemukan kebahagiaannya sendiri.
Lisa yang mendengar pengakuan itu langsung berteriak kegirangan dengan heboh. Ia meletakkan centong nasinya asal, lalu melonjak-lonjak gembira di atas lantai dapur sembari bertepuk tangan. "Horeee! Kak Tina mau nikah! Akhirnya!" serunya kegirangan, membuat Ali yang ada di gendongan Rika sempat mengerjap kaget.
Sementara itu, Rika yang berdiri bersandar di dinding hanya bisa mengucap syukur berkali-kali kepada Yang Maha Kuasa sembari mengusap dadanya dengan perasaan lega yang teramat sangat. Kabut tebal yang selama seminggu ini menyelimuti rumah batu tua mereka kini telah sepenuhnya sirna, digantikan oleh pancaran sinar kebahagiaan yang siap menyambut hari baru.