Aulia dipaksa ayah & ibu tirinya dijual ke Alexandra, mafia kejam seharga 1 miliar. Terperangkap di dunia gelap sang penguasa, bisakah cinta tumbuh di tengah rantai, bahaya, dan obsesi gila itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana L., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah Tegas
Pagi di Los Angeles menyingsing dengan langit yang cerah, namun di balik kemegahan vila tempat Alex dan Aulia tinggal, udara terasa lebih dingin dari biasanya. Kabar tentang adanya penyadapan di saluran komunikasi Surya Corp telah mengubah cara mereka bergerak sepenuhnya. Tidak ada lagi pesan yang dikirim secara sembarangan, tidak ada lagi percakapan penting yang dilakukan melalui telepon biasa. Segala sesuatu kini berjalan melalui jalur rahasia yang hanya diketahui oleh lingkaran terdekat Alex.
Di ruang kerja yang kini terasa lebih penuh dengan peta dan data yang tersebar di mana-mana, Rio berdiri di depan meja dengan wajah serius. Ia baru saja kembali dari pengintaian semalaman, matanya terlihat lelah namun tajam. Aulia duduk di sisi lain meja, buku sketsanya terbuka, namun perhatiannya sepenuhnya tertuju pada diskusi yang sedang berlangsung. Meski tugas utamanya adalah desain, ia sadar betul bahwa keamanan mereka adalah fondasi dari segala rencana yang ingin mereka bangun.
“Bos, hasil penyelidikan mengenai Ramon Salazar sudah keluar,” lapor Rio sambil meletakkan setumpuk foto dan dokumen di atas meja. “Seperti dugaan Victor, dia memang pemilik jaringan hotel dan kasino besar di wilayah selatan kota, bahkan sampai ke perbatasan negara bagian. Tapi di balik itu semua, catatan kami menunjukkan dia mengelola jalur penyelundupan barang selundupan dan senjata. Dia adalah orang yang sangat berpengaruh, dan lebih berbahaya dari Carter Vance.”
Alex mengambil salah satu foto gambar seorang pria paruh baya dengan wajah keras, mengenakan jas mahal namun dengan tatapan mata yang tajam dan dingin. “Dan hubungannya dengan El Halcón? Apakah ada bukti keterkaitan?”
“Belum ada bukti tertulis yang pasti,” jawab Rio sambil menunjuk sebuah grafik aliran dana. “Tapi pola transaksinya sama persis dengan yang kami temukan pada catatan Carter. Uang berputar, berpindah akun berkali-kali, lalu berakhir di tempat yang sama. Saya yakin Salazar adalah tangan kanan atau mungkin mitra dekat El Halcón. Dia adalah orang yang ditugaskan untuk meneruskan apa yang gagal dilakukan Carter.”
Aulia mencondongkan tubuh ke depan, menatap data itu dengan saksama. “Jadi selama ini kita hanya memotong ujung ekor ularnya saja. Kepalanya masih ada, dan dia mengirimkan orang-orang yang lebih kuat untuk melawan kita.”
“Benar,” sahut Alex, suaranya rendah dan berat, nada kejam yang biasa ia gunakan saat berhadapan dengan musuh mulai terdengar. “Mereka berpikir bahwa dengan menyerang dari luar dan menyusup dari dalam, mereka bisa membuatku jatuh. Mereka lupa satu hal: aku tidak pernah membangun kerajaanku dengan cara yang lemah. Aku tumbuh di dunia di mana kau harus membunuh atau dibunuh.”
Aulia menelan ludah sedikit. Ia tahu sisi Alex yang ini sisi pemimpin mafia yang ditakuti banyak orang, pria yang tidak ragu menghancurkan siapa saja yang berani mengancam apa yang menjadi miliknya. Namun, di saat yang sama, ia tahu bahwa kekejaman itu selalu ditujukan untuk melindungi orang-orang yang ia sayangi, termasuk dirinya sendiri.
“Lalu apa rencanamu sekarang?” tanya Aulia pelan. “Kita tidak bisa menyerang secara terbuka, itu akan merusak citra perusahaan dan proyek film kita yang sedang berjalan.”
Alex menoleh ke arahnya, dan seketika itu juga, sorot matanya yang tajam melembut saat bertemu dengan manik mata Aulia. Ia berjalan mengelilingi meja, berdiri tepat di samping kursi wanita itu, lalu meletakkan tangan beratnya di bahu Aulia tegas namun penuh kasih sayang.
“Kau benar. Bisnis dan citra publik adalah tameng kita. Kita tidak akan bergerak dengan kekerasan terbuka dulu. Kita akan bermain di tanah mereka, dengan aturan mereka, tapi kita yang akan menentukan akhirnya,” ucap Alex pelan. “Rio, kau akan terus memantau pergerakan Salazar. Cari tahu kelemahan terbesarnya. Setiap orang punya titik lemah, dan aku akan memastikan aku menekan tepat di sana sampai dia tidak bisa bernapas.”
“Siap, Bos,” jawab Rio tegas, lalu segera bergegas keluar ruangan untuk melaksanakan perintah.
Setelah pintu tertutup, keheningan sejenak menyelimuti ruangan. Aulia memutar kursinya hingga berhadapan sepenuhnya dengan Alex. Ia mengangkat wajahnya, menatap pria tinggi besar di hadapannya ini.
“Kau akan melakukan hal berbahaya lagi, kan?” tanyanya, suaranya sedikit bergetar namun matanya tetap berani menatap lurus. “Aku tahu kau kuat, Alex. Tapi musuhmu ini banyak, dan mereka bersembunyi di mana-mana.”
Alex tersenyum tipis, senyum dingin yang sering membuat orang lain gemetar ketakutan, namun bagi Aulia, senyum itu adalah tanda bahwa ia sedang tenang dan yakin. Ia berjongkok di depan kursi itu, meraih kedua tangan Aulia dan menggenggamnya erat.
“Aku sudah berjalan di jalan ini seumur hidupku, Sayang. Bahaya adalah makanan sehari-hariku. Tapi sejak kau masuk ke dalam hidupku, aku punya alasan untuk tidak hanya bertahan hidup, tapi juga untuk menang,” ucapnya rendah, penuh penekanan. “Tidak ada satu pun dari mereka yang akan menyentuh sehelai rambutmu. Demi Tuhan, Aulia, aku akan membakar seluruh kota ini menjadi abu sebelum membiarkan siapa pun menyakitimu.”
Kata-kata itu diucapkan dengan nada yang begitu dingin dan mengerikan, namun Aulia justru merasakan kehangatan yang luar biasa. Ia tahu, di balik ancaman pembakaran kota itu, ada janji setia yang tak tergoyahkan. Ia meremas tangan Alex sebagai balasan, lalu mengusap pipi pria itu dengan lembut.
“Aku tidak takut bahaya, Alex. Aku hanya takut kehilanganmu,” jawabnya jujur. “Dan ingat, kita adalah tim. Jangan pernah mencoba menanggung semuanya sendirian lagi.”
Alex mengangguk pelan, lalu mendekatkan wajahnya, mencium punggung tangan Aulia dengan penuh hormat dan cinta. “Aku ingat. Selalu.”
Beberapa hari berlalu, dan kesibukan produksi film semakin memuncak. Meskipun di balik layar perseteruan semakin panas, di permukaan segalanya tampak berjalan sangat mulus. Proyek ini bukan sekadar film bagi Alex dan Aulia; ini adalah senjata bisnis mereka untuk memperkuat posisi di industri hiburan sekaligus menutupi pergerakan operasi rahasia mereka.
Siang itu, di lokasi syuting yang telah disiapkan megah di sebuah gedung bersejarah di pusat kota, Aulia sibuk mengawasi penataan set dan kostum. Sebagai kepala desainer sekaligus mahasiswa yang sedang mengembangkan bakatnya, ia bekerja dengan sangat teliti, memastikan setiap detail sesuai dengan konsep yang ia rancang. Alex hadir di sana sebagai investor utama, namun kehadirannya lebih terasa seperti bayangan pelindung yang mengawasi segala sesuatu dari kejauhan.
Victor Hale juga ada di sana, kini benar-benar menjadi sekutu setia. Ia berjalan mendekati Aulia saat ia sedang memeriksa kain-kain indah yang akan digunakan untuk adegan penting.
“Nona Aulia, karya Anda sungguh luar biasa,” puji Victor dengan tulus. “Saya sudah berkarier lama di dunia ini, tapi jarang sekali melihat visi seni yang seindah dan sekuat milik Anda. Sangat pasangan yang serasi Anda dengan keindahan dan kehalusan, dan Tuan Alex dengan kekuatan dan ketegasan.”
Aulia tersenyum ramah. “Terima kasih, Tuan Victor. Kami hanya berusaha menciptakan sesuatu yang bermakna, sesuatu yang bisa diingat orang lama setelah film ini selesai ditonton.”
“Dan saya dengar persiapan untuk pesta penampilan perdana dalam dua minggu ke depan sudah hampir selesai,” lanjut Victor. “Itu akan menjadi momen besar. Banyak orang penting, investor, dan tokoh masyarakat yang akan hadir. Termasuk… mungkin saja, orang-orang yang sedang Anda cari.”
Aulia menghentikan gerakannya sejenak, matanya berkilat tertarik. “Maksud Anda?”
Victor menurunkan suaranya, memastikan tidak ada orang lain yang mendengar. “Ramon Salazar sering menghadiri acara-acara besar seperti ini. Dia suka menampakkan kekuasaannya di depan umum. Kemungkinan besar dia akan datang ke pesta itu, entah sebagai tamu undangan atau sekadar penonton yang ingin tahu. Jika Anda dan Tuan Alex ingin bertatap muka dengannya secara resmi, itu adalah kesempatan terbaik.”
Informasi itu sangat berharga. Aulia segera menyampaikan hal itu kepada Alex tak lama kemudian, saat mereka sedang beristirahat di ruang khusus yang disediakan.
“Dia akan datang ke pesta perdana itu?” tanya Alex, matanya menyala dengan minat yang berbahaya. “Kalau begitu, kita akan memastikan pesta itu menjadi malam yang tidak akan pernah dia lupakan sampai kapan pun.”
“Kau berencana melakukan sesuatu di sana?” tanya Aulia hati-hati. “Itu tempat umum, Alex. Banyak saksi.”
Alex berdiri, merapikan jasnya dengan tenang, namun senyum licik dan kejam kembali terbit di bibirnya. “Tentu saja tidak ada darah yang tumpah di lantai pesta, Sayang. Aku bukan orang bodoh yang membuat kekacauan di depan kamera dan orang penting. Tapi… kita bisa memulai permainan kita di sana. Kita akan membuat Salazar merasa aman, membuatnya percaya bahwa dia berada di atas angin, sementara sebenarnya dia sedang berjalan masuk ke dalam jaring laba-laba yang sudah kita siapkan.”
Ia berjalan mendekati Aulia, memegang pinggang gadis itu dengan satu tangan, menariknya mendekat hingga tubuh mereka saling bersentuhan.
“Kau akan menjadi bintang malam itu, Aulia. Kau akan memakai gaun terindah buatan tanganmu sendiri, bersinar lebih terang dari siapa pun. Kau akan berdiri di sampingku, dan kita akan menunjukkan kepada semua musuh kita termasuk Ramon Salazar bahwa tidak ada kekuatan apa pun yang bisa memisahkan kita atau menghancurkan apa yang kita bangun bersama.”
Jantung Aulia berdebar kencang, bukan karena takut, melainkan karena rasa bangga dan cinta yang meluap-luap. Ia mengangguk mantap. “Aku akan melakukannya. Aku akan menjadi tamengmu di dunia terang, sama seperti kau adalah pelindungku di dunia gelap.”
Namun, musuh tidak pernah tidur. Sore itu, saat sebagian besar tim sudah pulang dan hanya tersisa sedikit orang yang membereskan lokasi syuting, kejadian tak terduga terjadi.
Saat Aulia berjalan menuju mobilnya, seorang pria yang berpura-pura menjadi petugas keamanan mendekat dengan langkah cepat, wajahnya tertutup topeng sederhana. Di tangannya tergenggam sebuah pisau di bawah sinar matahari sore.
“Nona Aulia!” seru orang itu rendah, langsung menyerbu ke arahnya dengan niat buruk.
Aulia terkejut, tubuhnya membeku sesaat karena kaget, namun sebelum pisau itu sempat menyentuhnya, sebuah sosok bergerak sangat cepat secepat kilat. Alex yang sejak tadi mengawasi dari kejauhan sudah melompat maju, menangkap pergelangan tangan penyerang itu dengan cengkeraman yang begitu kuat hingga terdengar bunyi retak tulang yang mengerikan.
Pria itu meringis kesakitan, namun Alex tidak memberinya ampun. Dengan satu gerakan kasar, ia memutar lengan pria itu, menendang belakang lututnya hingga jatuh berlutut ke tanah, lalu menekan wajah orang itu ke aspal dengan kekuatan penuh.
“Siapa yang mengutusmu?” desis Alex, suaranya begitu dingin dan mengerikan hingga membuat siapa saja yang mendengarnya merinding. Urat-urat di lehernya menonjol, amarahnya meledak seketika. “Kau berani menyentuh milikku? Kau berani mengarahkan senjatamu padanya?”
Pria itu berusaha meronta, tapi cengkeraman Alex seperti penjepit besi yang tidak bisa dilepaskan. Mata Alex berubah gelap, penuh dengan pembunuhan yang tertahan. Ia mengangkat kepala orang itu sedikit, lalu membenturkannya kembali ke tanah dengan keras.
“Jawab! Atau aku akan memastikan kau tidak pernah bisa berjalan lagi, bahkan tidak bisa bernapas lagi!” ancam Alex, tangannya kini mencekik leher pria itu perlahan namun pasti.
“Alex! Cukup!” seru Aulia yang sudah pulih dari keterkejutannya. Ia berlari mendekat, memegang lengan Alex yang kekar dan tegang. “Jangan bunuh dia di sini. Kita butuh tahu siapa di balik ini.”
Mendengar suara Aulia, amarah Alex sedikit mereda, namun tatapannya tetap mematikan. Ia melepaskan cekikannya sedikit, namun tetap menindih tubuh pria itu. Rio dan beberapa pengawal lainnya datang berlarian, segera mengamankan penyerang itu dan membawanya pergi untuk diinterogasi di tempat yang lebih aman.
Alex berdiri tegak, napasnya masih memburu karena emosi yang meluap. Ia berbalik menghadap Aulia, memeriksa seluruh tubuh wanita itu dengan pandangan panik dan cemas.
“Apakah kau terluka? Apakah dia menyentuhmu?” tanyanya berulang kali, tangannya gemetar saat menyentuh bahu dan wajah Aulia. Kekejaman yang baru saja ia tunjukkan hilang seketika, digantikan oleh ketakutan terbesar dalam hidupnya ketakutan kehilangan Aulia.
“Aku tidak apa-apa, Alex. Aku baik-baik saja,” ucap Aulia lembut, meletakkan kedua tangannya di pipi pria itu, menatap lurus ke dalam mata hitamnya yang bergejolak. “Kau datang tepat waktu. Kau selalu datang tepat waktu.”
Alex menariknya masuk ke dalam pelukan yang sangat erat, seolah takut jika ia melepaskannya sedikit saja, wanita itu akan hilang dari sisinya. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Aulia, menghirup napasnya dengan cepat untuk menenangkan dirinya sendiri.
“Mereka semakin nekat,” bisik Alex dengan suara berat. “Mereka berani menyerang di siang bolong, di tempat terbuka. Ramon Salazar benar-benar ingin bermain api. Baiklah… kalau begitu, aku akan membakar seluruh permainannya sampai habis.”
Aulia memeluk balik pria itu dengan sama eratnya, menyadari bahwa batas antara dunia terang dan dunia gelap semakin menipis, dan perang ini baru saja masuk ke babak yang lebih berbahaya. Namun, di dalam pelukan itu, ia tahu satu hal pasti: selama mereka berdiri berdampingan, tidak ada ancaman yang terlalu besar, tidak ada musuh yang terlalu kuat.