NovelToon NovelToon
Jurig Jarian

Jurig Jarian

Status: sedang berlangsung
Genre:Roh Supernatural / Horor
Popularitas:392
Nilai: 5
Nama Author: Pena Lullaby

Di sebuah kampung tua di pinggiran Jawa Barat, muncul teror mengerikan dari sosok makhluk yang dipercaya sebagai Jurig Jarian — hantu penghuni tempat sampah yang lahir dari kebencian, keserakahan, dan sampah manusia yang menumpuk selama puluhan tahun. Siapa pun yang membuang sesuatu sembarangan pada malam tertentu akan mendengar suara garukan dari tong sampah… sebelum akhirnya menghilang tanpa jejak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Lullaby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gangguan Tanah Jarian

"Aku bakal cari tahu apa yang sebenarnya terjadi di sini, Gas. Kamu di sana tetap tenang, jaga diri baik-baik. Jangan biarkan pikiran mu kosong. Aku kabari lagi nanti," kata Adrian dengan nada mendesak namun berusaha tetap tegap. Setelah Bagas mengangguk lemah di seberang sana, Adrian memutus sambungan telepon.

Keheningan malam Jakarta kembali menyergap kamar itu, menyisakan suara deru napas Arya yang masih pingsan dalam dekapan Dinda.

Adrian menurunkan ponselnya, lalu berbalik menatap istrinya. Wajah Dinda tampak begitu pias, air matanya mengalir tanpa suara, membasahi pipi dan pucuk kepala sikecil Arya.

Adrian berlutut di depan Dinda, menggenggam kedua tangan istrinya yang terasa sedingin es.

"Din. Bagas mimpi hal yang sama di Jerman. Di waktu yang persis sama dengan saat Arya bangun tadi," panggil Adrian lembut, mencoba menyalurkan sisa kekuatan yang dia miliki.

Dinda mendongak, matanya yang sembap menyiratkan ketakutan yang luar biasa.

"Artinya, monster dari Jarian itu beneran kembali, Mas? Tapi kenapa harus Arya? Dia masih kecil, dia enggak tahu apa-apa tentang masa lalu kita!" Suara Dinda bergetar, menahan tangis agar tidak membangunkan putranya.

"Aku tahu, Din. Kutukan itu mungkin sudah putus, tapi seperti kata Aki Sukra dulu, tanah Jarian punya ingatan. Kegelapan di sana sedang mencari inang baru, dan entah bagaimana, mereka bisa mencari sampai ke anak kita," Adrian mengusap air mata di pipi Dinda dengan ibu jarinya.

Adrian menatap lekat-lekat wajah Arya yang tampak gelisah dalam tidurnya, lalu kembali menatap Dinda dengan pandangan mata yang berubah tajam dan penuh tekad. Keberanian yang dulu dia pelajari di Jarian kini bangkit kembali, kali ini dipicu oleh insting seorang ayah yang ingin melindungi keluarganya.

"Kita enggak bisa diam saja di Jakarta dan menunggu mereka datang menggangu Arya. Besok pagi, aku bakal telepon Kang Kosim. Kita harus tahu gimana kondisi Desa Jarian sekarang, dan kalau perlu, kita harus balik ke sana untuk menyelesaikan ini sampai ke akarnya. Aku enggak akan biarkan masa lalu merusak masa depan anak kita, Din. Enggak akan pernah."ucap Adrian tegas. "

Mentari pagi Jakarta bersinar cerah, menembus sela-sela gorden ruang makan. Suara kicau burung gereja dan deru halus kendaraan di kejauhan seharusnya memberikan rasa aman. Namun, bagi Dinda, kehangatan itu terasa semu.

Sejak pukul enam pagi, dia memaksakan diri bergerak, beraktivitas seperti biasa untuk mengusir rasa cemas yang menggelayut sejak sepertiga malam tadi. Adrian sedang berada di ruang kerja, sibuk mencoba menghubungi Kang Kosim di Desa Jarian, sementara Arya masih tertidur lelap di kamarnya akibat kelelahan kejadian semalam.

Dinda berdiri di depan kompor, mengocok telur di dalam mangkuk untuk membuat sarapan. Namun, fokusnya pecah. Setiap kali matanya melirik ke arah koridor menuju kamar Arya, dadanya berdesir ngilu. Rasa takut itu mulai mewujud menjadi teror yang nyata.

Sreeess…

Dinda menuangkan kocokan telur ke atas teflon yang sudah panas. Suara minyak yang berdesis mendadak terdengar ganjil di telinganya. Desisan itu perlahan memanjang, berubah menyerupai suara bisikan sapu lidi yang menyapu daun-daun kering di pekuburan Jarian.

Dinda tersentak, tangannya gemetar hingga garpu di genggamannya terjatuh ke lantai keramik dengan bunyi berdenting keras.

"Enggak, Din. Itu cuma perasaan kamu," bisiknya pada diri sendiri, mencoba menenangkan jantungnya yang mulai berpacu cepat. Dia membungkuk untuk mengambil garpu.

Saat wajahnya mendekati lantai, indra penciumannya mendadak menangkap aroma lain. Bau harum mentega yang sedang dipanaskan lenyap dalam sekejap, digantikan oleh bau anyir yang pekat dan aroma tanah pekuburan yang basah setelah diguyur hujan. Bau yang sama yang menempel di kaki Arya semalam.

Dinda langsung berdiri tegak dengan memandangi sekeliling dapur. Semuanya tampak normal, tetapi hawa di ruangan itu mendadak berubah.

Mencoba mengalihkan kepanikannya, Dinda mematikan kompor dan berjalan menuju wastafel untuk mencuci mangkuk bekas telur. Wastafel itu menghadap langsung ke jendela kaca yang menampilkan halaman samping rumah mereka yang ditumbuhi rumput hias dan pohon mangga kecil.

Dinda menyalakan keran, membiarkan air dingin mengalir membasahi tangannya. Dia mulai menggosok mangkuk, matanya tanpa sengaja menatap pantulan dirinya di kaca jendela yang agak temaram karena tertutup bayangan pohon di luar.

Di dalam pantulan kaca itu, Dinda tidak sendiri.

Tepat di belakang bahu kirinya, berdiri sesosok perempuan dengan gaun putih yang dekil dan robek-robek. Rambutnya yang panjang dan basah tampak terurai kedepan, menutupi sebagian wajahnya yang membiru. Melalui pantulan kaca, sosok Sinta itu sedang menunduk, seolah ikut menatap air yang mengalir di wastafel.

Dinda membeku. Seluruh otot tubuhnya kaku seketika. Lidahnya kelu, bahkan untuk berteriak memanggil Adrian pun suaranya tertahan di tenggorokan.

Perlahan, sosok di dalam kaca itu mengangkat kepalanya. Rambut yang menutupi wajahnya tersibak sedikit, memperlihatkan satu mata yang melotot merah, menatap lurus ke arah mata Dinda. Bibir hantu perempuan itu bergerak lambat, membentuk seringai lebar yang mengerikan, memamerkan deretan gigi yang menghitam.

Byuur!

Dinda reflek melempar mangkuk di tangannya ke arah kaca jendela. Mangkuk plastik itu memantul keras, dan pada detik yang sama, bayangan Sinta lenyap tak berbekas. Yang tersisa hanyalah pantulan wajah Dinda sendiri yang pucat pasi dengan deru napas yang tersengal-sengal.

"Din? Ada apa?!" Adrian berlari cepat ke dapur begitu mendengar suara benda jatuh.

Dia langsung menghampiri Dinda yang berdiri gemetar memegangi pinggiran wastafel dengan kedua tangan yang basah. Dinda langsung berbalik dan menghambur ke pelukan Adrian, menangis sejadi-jadinya. Tubuhnya menggigil hebat seperti orang yang terserang demam tinggi.

"Dia di sini, Mas. Sinta, mereka udah sampai di sini. Aku liat dia di kaca. Bau tanah itu, aku enggak kuat, Mas. Kita harus lindungin Arya!", ucap Dinda di sela tangisnya, mencengkeram erat kemeja Adrian.

Adrian mendekap istrinya erat-erat, mengusap punggung Dinda mencoba memberikan ketenangan, meskipun tatapan matanya sendiri menyiratkan kemarahan dan kecemasan yang mendalam. Teror ini bukan lagi sekadar mimpi Bagas atau igauan Arya, kegelapan Jarian benar-benar telah melintasi batas kota dan mulai merayap di dalam rumah mereka.

1
Heriyansah
Terimkasih kak
Khodijah
bagus ceritanya semangat ya' Thor 👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!