Rela menunggu kepulangan seorang lelaki selama 5 tahun. Alisa harus dihadapkan dengan kenyataan pahit bahwa gadis yang akan Gus Hafidz nikahi, bukanlah dirinya.
Sebagai salam perpisahan terakhir, Alisa rela menjadi bridesmaid pengantin wanita sebelum ia memilih untuk pergi dari pesantren.
Namun ternyata, kakaknya, Zefano. Pria yang baru pulang dari luar negeri itu jatuh cinta pada Alisa pada pandangan pertama. Dan berusaha menjerat Alisa agar menjadi miliknya. Hingga melakukan hal diluar nalar demi menjadikan Alisa istri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mur Diyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masak Soto untuk suami
Alisa terjingkit kaget, "Kak...geli!" cicitnya meringis.
"Mas, sayang."
"I-iya, mas!"
Namun Zefano semakin menjadi saja. Pelukannya semakin erat, semakin menuntut. Namun ia tak sampai berlaku lebih. Sadar istrinya masih belum siap.
Ia pun melepas pelukannya. Berdiri di samping Alisa sembari menatap maha karya istrinya itu.
Netranya langsung membulat, nyaris mual saat melihat irisan daun bawang diantara toping kuah. Namun segera ia tahan.
"Ke-kenapa ada daun bawang?" tanyanya, wajahnya langsung pucat.
Anisa tatap Zefano heran, "Itu pelengkap nya mas, kuah belum mantep kalo ngga dikasi daun bawang, Alisa mau bikin soto, mas belum pernah nyoba bukan?"
Zefano memalingkan wajah cepat, sial! Daun bawang adalah sayuran yang paling tidak ia sukai. Jenis apapun, asal jangan daun bawang!
Namun ia tidak mungkin memprotes masakan Alisa bukan? Alhasil ia hanya menelan ludah sambil menatap nanar daun bawang yang di taburkan ke dalam kuah soto.
"Sial! Apa aku bisa menelannya?!" batin Zefano, menelan ludah susah payah.
Alisa mengaduk kuah soto sembari bersenda gurau, sesekali mencicipi untuk meng tes rasa.
Ia teteskan satu tetes di tangannya, lalu menyodorkan sendok makan ke arah Zefano, "Nih mas, cicipi dulu. Sapa tau ada yang kurang." ucapnya tersenyum.
Bukannya menyesap di sendoknya, Zefano justru menarik tangan bekas jilatan Alisa, lalu menjilatnya ulang dengan lidahnya. Membuat pipi Alisa langsung memerah.
"Kyaaa!!!"
Kuah di sendok melayang ke udara, jatuh masuk ke dalam panci kuah. Sementara dirinya yang nyaris terhuyung kebelakang langsung Zefano raih pinggangnya panik.
"Alisa... hati-hati! Mas tidak mau kamu kenapa-kenapa!" omelnya.
Alisa tatap cemberut manusia yang juga menatapnya cemberut itu, "Mas yang kenapa! Kenapa jilat tangan Alisa coba!" decaknya menggerutu.
Zefano yang tersadar itu terkekeh, "Hehe...emang gaboleh?"
"Kaget mas astaghfirullah!" imbuhnya, bibirnya memanyun lima senti.
"Astaghfirullah...bibirmu Alisa, aku jadi ingin mencicipinya."
"Mass!!"
***
Akhirnya, soto khas kampungnya berhasil Alisa buat. Ia pun menuangkan aneka macam toping seperti kubis yang di iris tipis, mie bihun, ayam suwir, potongan seledri, bawang goreng, dan aneka macam pelengkap.
Lalu terakhir ia tuangkan kuah soto ke dalam mangkok. Menyajikannya ke hadapan suaminya yang entah sedari kapan sudah memegang sendok dan garpu, menatap penuh binar hasil masakan Alisa.
"Mas ngga sabar pengen nyicipin." ucapnya, nyaris ngences.
Alisa tersenyum menggeleng pelan, meletakkan mangkok itu di hadapan suaminya.
"Nih, sambal sama kecapnya, Mas." balas Alisa, yang langsung di sambar oleh Zefano.
Alisa pun ikut duduk di kursi depan suaminya. Juga dengan mangkok berisi soto miliknya. Bergantian menuangkan kecap setelah Zefano.
Saat Zefano melahap satu sendok. Netranya langsung berbinar, tatapannya berubah kosong, pergerakannya langsung terhenti, beralih mengunyah soto miliknya perlahan-lahan.
Ia sontak merunduk, menatap soto buatan istrinya yang baru pertama kali ini dia makan.
"Masyaallah Alisa! Kamu mas daftarin di master chef yah?!" pekik Zefano, melahap cepat untuk kedua kali.
Alisa mengulum senyum tipis. Entah mengapa, melihat suaminya makan dengan lahap ia sudah kenyang. Seolah puas karena akhirnya Zefano menyukainya.
"Mas kira daun bawang itu ngga enak, baunya nyengat, tapi pas di campur di kuah, rasanya justru jadi punya ciri khas tersendiri, dan tidak bau nyengat. Mas suka, Alisa. Ini benar-benar masakan terbaik yang pernah mas makan seumur hidup, Mas!" ucap Zefano tak pura-pura dengan ucapannya, terlihat ia begitu lahap memakan hingga pipinya mengembung.
Melihat Zefano makan selahap itu, hati Alisa langsung ngilu. Bayang-bayang dulu Zefano makan sesukanya. Tidak ada yang menegur atau menyediakan makanan sehat untuknya membuat hatinya merasa trenyuh.
"Mas, apa dulu mas ga dimasakin sesuatu?" tanya Alisa, menatap Zefano tanpa berkedip.
Zefano terus melahapnya, "Ngga, dulu Mas cuma makan sisahan Hafidz."
DEG!
Air mata Alisa langsung luruh. Tidak pernah terbayangkan dalam benaknya. Zefano yang terlihat seram dan sangar itu, dulunya adalah anak kecil yang keberadaannya tidak di inginkan, bahkan makan pun harus setelah Hafidz selesai makan. Tidak pernah terbayangkan dalam diri Alisa bertahan hidup dalam lingkungan setidak adil itu.
"Pelan-pelan saja, Mas. Sisanya masih banyak." lirih Alisa lembut.
Zefano yang sadar tidak ada pergerakan tangan Alisa sontak mendongak, "Kamu kenapa tidak mak—Lho, kenapa nangis?"
Zefano yang panik langsung menghentikan makannya, beralih menghampiri Alisa. Namun gadis itu segera menyeka air matanya. Menggeleng lemah.
"Ngga papa, Mas. Alisa cuma trenyuh aja lihat mas baru pertama kali ini makan soto, sampe selahap ini pula. memangnya sedari dulu mas makannya apa?"
Zefano langsung terdiam, ia baru faham isi fikiran Alisa. Dan menyadari dirinya dikhawatirkan segitunya oleh istrinya. Zefano seperti mendapatkan kehadiran sosok wanita yang keibuan, memberikan kesan ibu yang dulu belum puas ia dapatkan.
"Dah, jangan di fikirkan. Mari makan, sudah dapat kenangan indah ngapain kenangan pahit diingat-ingat." balas Zefano mengelus bahu Alisa, lalu duduk di kursi samping istrinya. Makan bersama-sama.
Setelah selesai makan, Zefano lekas berdiri. Menyambar blazer miliknya, hendak keluar dari rumah.
"Mas, mau kemana?" tanya Alisa diatas tangga.
Zefano sontak menoleh, wajahnya terlihat pucat. Namun buru-buru tersenyum, "Mas mau ketemu teman, Alisa. Ngga papa kan? Bahas kerjaan. Nanti jam-jam 9 Mas sudah pulang." izinnya.
Kening Alisa mengerut, meski begitu ia tak memprotes, dan mengangguki saja tanpa menaruh curiga sama sekali.
Alisa beranjak turun, menyalami tangan suaminya penuh khidmat.
"Hati-hati, Mas." ucapnya lembut, yang diangguki oleh suaminya.
"Mas pergi dulu, Asalamualaikum." beranjak keluar dari apartemen.
Lagi-lagi Alisa dibuat penasaran, difikir-fikir ia juga belum tau apa pekerjaan Zefano disini. Dia baru saja pulang dari luar negeri, yang itu artinya. Pekerjaannya di luar negeri terhenti.
"Difikir-fikir, Mas gaada cerita pekerjaannya sih. Mas Zefano kan baru pulang dari luar negeri, yang itu artinya, pekerjaan aslinya ada di luar negeri. Sampe Indonesia udah beli apartement dan juga mobil mewah. Aku penasaran sebenarnya pekerjaan apa Mas Zefano yah?"
Karena penasaran, Alisa beranjak mengambil tas, memasukkan handphone ke dalamnya sebelum akhirnya ikut turun, membuntuti Zefano.
Bukannya lancang, namun ia juga berhak tau. Melihat wajah Zefano pucat saat ia menanyainya tadi jadi makin bikin penasaran.
"Pak, ikutin mobil di depan." serunya, segera masuk, yang langsung diangguki oleh sang sopir.
Dalam hati, Alisa merasa was-was, kerap kali Zefano mengendarainya dengan kecepatan tinggi.
"Apa....ada sesuatu yang mendesak?"
Akhirnya mereka sampai di sebuah perusahaan yang cukup besar, makin mengerut lah kening Alisa.
"Serius Mas Zefano kerja disini?!"
Ia keluar dari mobil taksi dengan tatapan melongo. Segera berjalan masuk untuk bersembunyi di tempat aman.
Tak berselang lama Zefano keluar dari parkiran basement, masuk lewat pintu depan. Alangkah terkejutnya ia saat melihat beberapa karyawan langsung membungkukkan badan mereka 90°
"Selamat datang kembali, Tuan!"